Quo vadis DPR ????
Mari kita saksikan drama haru biru DPR kita
Dari batalnya rencana bangun gedung baru super mewah
Yang telah menelan dana milyaran rupiah untuk persiapannya
Renovasi toilet, parkir, parfum, kalender, multivitamin dll
Yang selalu memakan biaya dengan nilai milyaran rupiah
Mari kita lihat berkelitnya orang pandai yang telah mati nurani
Pemborosan yang sudah sesuai prosedur dianggap tak salah
Menghamburkan milyaran rupiah yang tak menyentuh sama sekali
Upaya perbaikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat
Yang terus ditunggu dengan gelisah namun tak kunjung tiba
Pemborosan uang negara namun sesuai prosedur dianggap hal biasa
Hanya melanggar kepatutan atau halusnya kepantasan ????????
Kalau sudah tidak patut dan pantas dalam memakai uang rakyat
Masih patutkah mereka mewakili rakyat dan duduk di Senayan?
Quo vadis hati nurani ,kepekaan dan kepedulian anggota DPR
Masih patutkah anda menyebut diri Anggota Dewan yang TERHORMAT?
(Masih ingat ketika ORBA mau runtuh, selalu menyatakan ” Sudah sesuai prosedur dan tidak melanggar UUD 45)
UUPA tidak dijalankan, pemerintah melanggar undang-undang?
Di negeri kita terlalu banyak aturan yang telah dibuat baik berupa UU, PP maupun turunannya demi mengatur kehidupan masyarakat yang lebih harmonis, adil dan merata. Namun dalam praktek di kehidupan nyata, pemerintah sebagai pelaksana UU justru tidak patuh namun sementara disisi lain terus meminta rakyat untuk mematuhi UU, sungguh aneh bin nyata.
Ada 2 UU yang sangat menyolok untuk dibiarkan dilanggar alias tidak dilaksanakan yakni UU Lalu lintas yang mengharuskan pengendara sepeda motor menyalakan lampu di siang hari dan denda pelanggaran lalin sampai jutaan rupiah (tidak realistis) serta yang paling para adalah diabaikannya UUPA alias Undang-Undang Pokok Agraria.
Akar kekerasan atas nama negara
UUPA sebenarnya merupakan produk legislatif yang cerdas dan arif yang menunjukkan keberpihakan legislatif sebagai wakil rakyat pada rakyat yang diwakilinya alias pro rakyat dan pro poor yang dijiwai oleh Pancasila dalam upaya mewujudkan sila ke 5 yakni Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Produk hukum yang baik namun justru disimpan di laci lemari di jaman Orde Baru yang lebih memilih pro pemodal kuat yang mampu membayar pejabat untuk memperoleh luasan lahan sampai ribuan hektar, sementara dalam UUPA mengatur pembatasan kepemilikan tanah supaya rakyat memperoleh hak untuk memiliki lahan terutama mereka yang mengandalkan hidup dari pertanian. Ketika penguasa ORBA lebih memilih melayani pengusaha yang membutuhkan lahan untuk usahanya demi menarik investor dari luar, maka dengan berbagai cara termasuk menggunakan kekerasan yang keji dan melanggar HAM, pemerintah ORBA atas nama negara dan demi jargon pembangunan yang akan mensejahterakan rakyat telah tega mengusir rakyatnya sendiri dari lahan yang diincar pengusaha pemodal kuat. Maka tak terelakkan lagi benturan kekerasan dan perlawanan rakyat dengan keterbatasan alat bela diri yang dimilikinya melawan aparat keamanan yang dipersenjatai dengan senjata api dan berakhir dengan ketragisan karena justru memakan korban dari kalangan rakyat yang sebenarnya tuan atas negeri ini yang ingin disejahterakan melalui kemerdekaan Indonesia. Rakyat lalu dituduh anarkis karena membawa senjata tajam dan membakar, tanpa mau tahu mengapa rakyat marah dan menjadi anarkis. Persoalan sebenarnya terletak dari cara memandang yang salah oleh pemerintah yang berkuasa terhadap lahan dimana lahan dianggap komoditas yang dapat diperjualbelikan seenaknya, sementara rakyat menganggap lahan adalah sakral karena merupakan warisan dan modal pokok untuk melanjutkan kehidupan generasi berikutnya. Kekerasan atas nama negara terus berulang tidak hanya di jaman ORBA namun justru terus berlanjut terutama di era pemerintahan SBY yang telah menelan korban petani yang mati sia-sia ditembak aparat yang merasa tidak bersalah menembak rakyat sendiri karena telah sesuai protap, sungguh sangat ironis karena rakyatlah yang memberi mandat pada polisi untuk melindungi dirinya dari ancaman kekerasan di dalam negeri. (lagi…)
Makan gaji buta, ditengah matinya nurani ?
Masuk kerja, isi daftar hadir
Setor muka saja, habiskan waktu
Main catur, main mata dan main uang
Main-main dengan amanat rakyat
Tiap bulan terima gaji tepat waktu
Dari hasil kumpul pajak rakyat
Tapi masih juga tega lakukan
Peras rakyat kecil yang dilayani
Ketika urus surat yang diperlukan
Tiap tahun naik pangkat dan gaji
Dapat tunjangan dan pensiunan
Dapat askes dan berbagai fasilitas
Makan gaji buta sungguh nyata
Antara ada dan tiada di layanan publik
Masihkan kita punya nurani
Ketika rakyat yang seharusnya dilayani
Semakin sengsara dan sakit hati?
Indonesia, butuh banyak pemimpin bergelar MM dan HHH (bukan ha ha ha
Perbincangan yang riuh di milis, twitter, media tv dll terkait banyak masalah sosial dan politik di republik ini seakan terus berdengung ditelinga kita, bak ribuan tawon yang terus terbang mengelilingi bangsa ini. Kegaduhan politik yang memuakkan sekaligus menjijikkan telah mencapai ambang batas kesabaran rakyat. Mereka yang mengaku intelektual dan berpendidikan diatas rata-rata dan dipilih menjadi wakil rakyat maupun yang duduk di pemerintahan berperilaku setali tiga uang, mau menang sendiri, sok kuasa, sok benar sendiri dan terakhir sok tahu aspirasi rakyat.
Benar kata orang bijak, tong kosong berbunyi nyaring, politisi dan pemimpin republik yang terlalu banyak bicara dan pidato bagaikan tong kosong. Mari kita lihat pidato SBY yang katanya berperang alias jihad melawan koruptor, nyatanya duduk manis dan tenang-tenag saja melihat kebangkrutan negeri ini dihisap mafia para koruptor yang telah merasuk ketulang sumsum republik ini bagaikan kanker ganas stadium 4 namun penanganannya hanya dioles salep dibagian permukaan kulit dan berharap dapat sembuh, sungguh sangat naïf. Dan anehnya pemerintah sekarang justru hobi berhutang yang jumlahnya untuk tahun ini saja mencapai 250 trilyun sehingga total utang negeri ini mencapai 2000 trilyun lebih. (lagi…)
Dengan berbagi dan memberi, hidup akan berkelimpahan ?
Tidak mudah hidup di kota dibanding di alam pedesaan, karena hidup dan tinggal di kota ternyata lebih komplek permasalahannya. Kehidupan sehari-hari begitu keras dan ganas dan cenderung cuek, tak mau peduli pada sesama yang menderita dan membutuhkan pertolongan telah banyak mematikan suara hati nurani warganya. Kota yang semakin hari semakin maju secara kasat mata dengan berdirinya bangunan baru yang megah dan mewah seperti apartemen, hypermarket/mall, kondominium, perumahan mewah dll yang terus saja bertumbuh dan bertambah, ternyata juga menyisakan derita pilu warga kota di daerah kumuh dan bantaran sungai. Kota selain memberi harapan untuk hidup lebih baik, ternyata juga memerangkap banyak warga pendatang yang tak siap sehingga mereka terperosok dalam dunia hitam kelam yang tak berujung dan menumbuhkan gaya hidup yang jauh dari tuntunan iman berupa tindakan kriminal dan hedonisme seperti mngkonsumsi narkoba, minuman keras dll untuk melarikan diri dari dunia nyata.
Ajaran iman yang tak pernah usang.
Sebagai manusia yang beriman, pastilah kita telah berupaya untuk terus mempelajari ajaran agama sesuai iman yang diyakininya. Namun ditengah kehidupan yang plural baik mengenai suku, agama, ras dll ternyata tidak mudah menerapkan hidup yang harmonis, rukun dan damai. Kekerasan yang terus saja terjadi di berbagai daerah atas nama perbedaan (agama,suku,asal dll), kekerasan yang dilakukan oleh negara atas nama hukum (yang dianggap telah memenuhi rasa keadilan) dan juga kekerasan oleh pengusaha-pemodal kuat telah mampu memporak-porandakan kehidupan hamonis di bumi nusantara tercinta. Mimbar agama setiap pagi hampir ditayangkan di semua tv swasta untuk dapat dijadikan tuntunan hidup, ternyata hanya menjadi tontonan dan belum mampu terterap dalam kehidupan keseharian.
Manusia yang beragama ternyata tidak menjamin untuk hidup saleh, lurus dan jujur. Banyak yang rajin melakukan sembahyang namun tetap saja melakukan korupsi, melakukan kekerasan dan juga melakukan banyak kebohongan demi memperoleh kekayaan berlimpah meski tak halal. Padahal kita semua tahu, dan terus diajarkan berulang-ulang kepada umat beriman untuk tidak serakah dan mau berbagi dan memberi pada sesama yang membutuhkan. (lagi…)
POLRI, harus mawas diri dengan Kasus “Sandal jepit”
Semboyan Polri yang enak didengar dan perlu yakni “Melindungi dan melayani” masyarakat dan kemudian berubah menjadi “Kami siap melayani Anda” telah dipertanyakan perwujudannya di tengah masyarakat.
Kasus yang menimpa Polri pada 2011 telah membuat citra Polri sangat terpuruk kalau tidak mau dikatakan berada di titik nadir. Kasus kekerasan atas nama Negara yang dilakukan Polri telah menewaskan puluhan orang karena rakyat ditembak atas nama protap telah membuat masyarakat semakin menjauh dari Polri, institusi Negara yang diharapkan berpihak pada rakyat (yang seharusnya dilindungi) karena rakyat adalah pemilik Negara yang sesungguhnya dan pembayar pajak yang digunakan untuk mendanai Polri.
Roh dan filosofi bahwa Polri adalah pelindung rakyat telah ditinggalkan, dan Polri lebih dikenal dengan nama “Institusi centeng” seperti yang sering dikatakan para pengamat di media televisi nasional, meski terus dibantah Polri , namun rakyat sudah semakin cerdas untuk mengetahui yang senyatanya meski selalu dicoba ditutup-tutupi oleh Polri.
Jangan jadikan rakyat ATM
Polri di awal tahun baru 2012 seharusnya mawas diri untuk berbenah dan memperbaiki sistem pelayanannya pada rakyat. Semboyan Polri yang enak didengar seharusnya membuat masyarakat sebagai pengguna layanan Polri merasa nyaman ketika berurusan dengan Polri. Namun kita semua tahu, masih banyak penyimpangan dalam pelaksanaan, mulai dari pengurusan SKCK, pembuatan SIM, proses tilang lalu lintas sampai dengan pembuatan BAP dalam berbagai penanganan kasus judi dan kriminal.
Rakyat sangat berharap Polisi Republik Indonesia (POLRI) adalah polisinya rakyat dan tidak menjadikan rakyat sebagai ATM untuk menambah penghasilan yang tidak halal. (lagi…)
Refleksi akhir tahun, Indonesia-Negara GATOTKACA ( GAgal TOTal Kebanyakan Alasan & Cari Aman)
Di penghujung akhir tahun 2011, kesedihan terus merundung negeri ini yang tak lekang dirundung malang. Setelah kasus ”Bakar Diri ” yang memilukan dan sangat disayangkan yang dilakukan seorang mahasiswa idealis Sondang Hutagalung, dilanjutkan dengan Kasus Mesuji dkk dan terakhir kasus penembakan brutal polisi di Sape, serta kemarahan rakyat karena tidak didengar aspirasinya yang berujung pada pembakaran di Kalimantan dan Papua serta lemahnya aparat keamanan dalam melakukan kegiatan intelejen sehingga terjadi pembakaran sebuah pondok pesantren milik kalangan Syiah di Sampang Madura.
Belum lagi kalau kita rajin membaca koran daerah, betapa banyak kasus bunuh diri yang didahului dengan membunuh keluarganya karena tidak tahan akan deraan dan himpitan ekonomi. Meski secara makro memang pertumbuhan ekonomi cukup baik, namun yang terjadi senyatanya di kalangan rakyat biasa adalah semakin sulitnya memperoleh uang untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Harga sembako yang semakin merangkak naik, biaya pendidikan dan kesehatan yang tinggi terus mencekik dan membuat banyak rakyat menjadi tersengal dan sesak napas dalam melanjutkan kehidupannya yang biasa saja. Tidak terlalu muluk-muluk, mereka rakyat biasa hanya ingin bisa terpenuhi kebutuhan dasarnya seperti pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan, selain pasti diharapkan mampu memenuhi kebutuhan sekunder seperti rekreasi, punya motor, mobil dll,
Pemerintah (eksekutip), dimana kau berada?
Kesejahteraan rakyat yang didamba dan mendasari perjuangan rakyat Indonesia untuk merdeka yang mampu menghantar Rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan untuk menjadi bangsa yang cerdas, berjaya dan sejahtera dan ikut mendukung perdamaian dunia masih jauh dari harapan kalau tidak mau dikatakan menjauh. Sebenarnya untuk tujuan tersebut negara dibentuk dan hadir untuk mewujudkan cita-cita mulia menjadi negara merdeka yang dalam hal ini dijalankan oleh pemerintah sebagai penanggung jawab dan pelayan publik yang bertanggung jawab untuk mewujudkannya.
Namun sangat disayangkan Presiden SBY sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan yang dipilih rakyat secara demokratis ternyata banyak mengecewakan rakyat yang terlanjur memilihnya karena tidak mampu secara tegas, konsisten dan berani untuk memerangi korupsi yang menyebabkan kemiskinan yang semakin mendera dan menyengsarakan rakyat. Meski diawal pemerintahannya, SBY telah berkoar-koar akan memimpin sendiri pemberantasan korupsi namun dalam kenyataannya tidak terlaksana karena lebih memilih mencari jalan aman untuk tidak jatuh dari kursi kepresidenannya alias lebih mengutamakan jabatan daripada amanah. (lagi…)
Oknum aparat keamanan pelanggar HAM berat
Oknum aparat keamanan yang diperalat kaum pemodal
Akhirnya membuat rakyat sekarat dan terus melarat
Terusir dari tanah kelahirannya sendiri yang dicintainya
Bahkan senjata api dan tajam ikut berbicara & menyalak
Penggal kepala manusia tanpa ada rasa berdosa
Tembak jarak dekat sampai menembus raga rakyat
Apakah sudah saatnya rakyat bergerak bersama
Melakukan perlawanan terhadap oknum aparat
yang salah menggunakan kekuasaan yang dipercayakan
untuk menunjukkan bahwa kedaulatan masih tetap ada ditangan rakyat
NB; teriring doa, semoga rakyat yang menjadi korban diterima disisiNYA
Masihkah “TUAN” Tuli dan MAti nUrani ?
Sondang Sempat Dibantu Pernapasan, tetapi…
Sondang Hutagalung (22), aktivis mahasiswa yang melakukan aksi bakar diri di depan Istana Negara, Rabu (7/12/2011), akhirnya mengembuskan napas terakhir di ICU Unit Pelayanan Terpadu Luka Bakar RSCM, Sabtu (10/12/2011) pukul 17.45. Berita duka tersebut disampaikan Direktur RSCM Prof Dr Akmal Taher lewat sambungan telepon.
(kompas.com)
Ikut berduka cita atas meninggalnya Sodang Hutagalung
Kembali korban tidak langsung ulah para koruptor berjatuhan
Bakar diri yang tragis sekaligus memilukan akhirnya terjadi
Meski sangat disayangkan karena korban adalah harapan negeri ini
Namun lebih disayangkan respon dari pemerintah kita
Yang lamban bertindak melakukan perubahan melawan korupsi
Apakah memang negeri ini telah dikuasai para mafia koruptor
Disegala lini kehidupan ? (Eksekutip,Legislatip YudikatiP)
Berita mengejutkan yang terasa menyengat dan menyayat
Ah seandainya TUAN tidak lebih mengutamakan PENCITRAAN
Tetapi lebih memaknai jabatan sebagai AMANAH TUHAN
Pasti tak perlu lagi banyak korban mati sia-sia
NB ; teriring doa dan selamat jalan untuk Sondang Hutagalung
Komentar Terakhir