R I , Republik Indonesia atau Republik Ironi ?
Agustus 31, 2009 at 10:39 am 5 komentar
Dalam percakapan sehari hari kita kenal huruf RI merupakan singkatan dari Republik Indonesia, namun melihat kondisi nyata yang terjadi saat ini banyak orang yang memplesetkannya menjadi Republik Ironi.
Bagaimana tidak, negara dengan penduduk yang berjumlah hampir mendekati seperempat milyar orang, ternyata dalam perjalanan bangsa untuk mewujudkan impiannya harus berjalan dengan tertatih-tatih bagaikan balita yang sedang belajar berjalan, terhuyung-huyung bagaikan orang mabuk miras alias minuman beralkohol karena tersandung berbagai krisis baik politik maupun ekonomi, tersandera bagaikan orang yang hidup dipasung karena begitu besar sumber daya alamnya namun dikuras oleh bangsa lainnya, tergopoh-gopoh berlari bagaikan orang yang dikejar anjing karena harus segera melunasi cicilan mega hutangnya, dan tetap tersenyum penuh kesombongan menganggap diri sebagai bangsa besar meski negara tetangganya sendiri seperti Malaysia sering melecehkannya dengan berbagai cara.
Menjaga image, menuai mega hutang
Mari kita tengok besaran hutang negara yang telah mencapai lebih dari 1700 trilyun rupiah yang merupakan jumlah yang cukup fantastis dibanding jumlah APBN kita.
Masalah yang lebih krusial bukan terletak pada besaran hutang yang demikian menumpuk, melainkan lebih pada bagaimana peruntukkan dan pengelolaan dananya sehingga dapat mengembalikannya.
Kita tahu banyak dana hutang tidak diinvestasikan secara benar dan baik untuk dapat bertumbuh dan berkembang sehingga dapat menutup cicilan plus bunganya, melainkan untuk kegiatan yang sama sekali tidak produktip seperti BLT atau subsidi RASKIN, dana untuk pembangunan yang hanya mempercantik wajah kota namun sebenarnya lebih bersifat konsumtip seperti membuat tugu, patung, mempercantik trotoar dll.
Kita secara sengaja dan sistemik telah menjebak dan memerangkap diri kita sendiri kedalam mega hutang yang jika tidak hati-hati mengelolanya pasti tak akan berkesudahan .
Padahal kita dapat melihat pada berbagai pelosok Nusantara dan daerah terpencil, masih banyak infrastruktur yang sangat mendasar yang membutuhkan dana besar untuk membangunnya namun masih banyak yang tidak terjamah pembangunan seperti jalan antar desa yang masih tidak beraspal meski telah merdeka 64 tahun, pelabuhan /dermaga rakyat yang tidak layak berserta kapal Pelra yang juga tidak laik jalan karena terbatasnya peralatan untuk keselamatan, sarana irigasi yang belum dibangun atau hanya setengah teknis saja, air yang sebenarnya dapat dipergunakan untuk banyak hal namun dibiarkan mengalir ke laut karena tiadanya waduk/embung/ chek dam , sarana dasar seperti penerangan yang masih menjadi barang mewah diberbagai desa terpencil meski PLN dengan slogan 75/100 yang bertekad akan menerangi seluruh Nusantara pada usia kemerdekaan yang ke 75 sehingga tidak gelap lagi diseluruh Nusantara dll.
Inilah sebagian wajah ironi bangsa kita yang mencoba menjaga image, namun justru terjebak dalam penderitaan panjang, bangsa yang mudah tersenyum meski dalam kepahitan hidup yang begitu dalam.
Bangsa yang terkenal rajin beribadah meski korupsi terus merajalela dan ada dimana-mana, bangsa yang tayangan TV nya tak pernah lepas dari mimbar agama, namun sayang kebanyakan nasehat mulianya banyak tertinggal di mimbar sehingga menajdi STMJ alias Sembahyang Terus Mencuri/Maksiat tetap Jalan..
Bangsa yang diberi kemurahan alam yang luar biasa, namun berita tentang gizi buruk dan busung lapar terus tersebar melalui berbagai media, dimana seharusnya balita tersebut dapat hidup dalam usia panjang dan tidak perlu mati sia-sia sehingga dapat menikmati limpahan sinar matahari di bumi katulistiwa sebagai bentuk perwujudan rasa sayang dari Sang pencipta
Bangsa yang terkenal ramah namun telah berubah menjadi RAMAH (rajin menjamah dan menjarah ) , bangsa yang terkenal dengan gotong royong dan suka menolong sebagai bentuk kepedulian telah berubah menjadi individualis dan sulit menolong karena pendekatan proyek dalam pilihan strategi pembangunannya.
Mengubah ironi menjadi harmoni
Kita sebagai bangsa sudah seharusnya bergerak untuk berubah haluan jika arah kapal bangsa ini disadari semakin menjauh dari pelabuhan yakni terwujudnya Indonesia Raya yang adil, sejahtera ,aman dan damai.
Kondisi yang berbau ironi seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama, terlebih mereka yang mengklaim diri sebagai pemimpin bangsa dengan menjadikan ironi yang ada ini sebagai sebuah tantangan untuk diubah.
Memang tidak mudah untuk merubah wajah kemacetan kota-kota besar di Indonesia semisal Jakarta, atau Surabaya, tidak mudah untuk mendapatkan sungai yang bening, jernih dan bebas sampah mengalir ditengah kota besar, masih sulit memperoleh layanan yang ramah dan tanpa pungli dari layanan publik oleh pemerintah, sulit memperoleh rasa aman dihiruk pikuk kota meski disana-sini ada polisi yang berjaga , sulit memperoleh pangan yang cukup gizi untuk balita di nusantara yang diberkahi alam yang melimpah namun diberbagai daerah terjadi balita gizi buruk dan bahkan mati sia-sia.
Tantangan kedepan adalah bagaimana kita selalu terus optimis untuk mampu mengubah kondisi yang penuh ironi menjadi sebuah kehidupan yang penuh harmoni.
Kita tidak perlu terus menerus beternak kambing hitam alias cari siapa yang salah, kita tidak lagi perlu beternak SAPI alias saya pikir (hanya bersifat wacana secara terus menerus) tanpa ada tindakan nyata yang mampu merubah wajah Indonesia menjadi Indonesia yang LAIN, kita tak layak lagi beternak BABI alias banyak bicara seolah olah dengan berpolitik penuh kata dan tipu daya dapat membuat Indonesia MERDEKA dari keterpurukan, kemiskinan dan korupsi yang merajalela.
Mari kita satukan energi positip secara sinergi sehingga mereka yang mengaku cerdik pandai /intelektual tidak hanya berhenti berpikir tanpa sempat bertindak dan terus membiarkan masyarakat pada umumnya bertindak tanpa sempat berpikir. Saatnya para cendekiawan/wati, intelektual dan para pemikir mengkontribusikan secara maksimal buah pikiran dan berbagai penemuan buah karya intelektual yang mampu mengangkat masyarakat yang masih terjebak kemiskinan untuk dapat beralih ke lembah kemakmuran.
Mari kita buktikan kebesaran dan kejayaan negeri kita dengan tindakan kecil namun nyata seperti menjadi lebih mengedepankan kejujuran dan memberantas KKN , memberikan keteladanan dalam perwujudan iman melalui satu kata satu perbuatan, meningkatkan solidaritas dalam bentuk gotong royong, meningkatkan pendapatan dan mengurangi angka kemiskinan, memberikan layanan dasar yang murah dan bahkan gratis untuk pendidikan yang berkualitas sehingga amanat dalam pembukaan UUD 45 yakni ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dapat terwujud, negeri yang mampu melindungi warganya dari penyakit dengan pengobatan gratis, yang tidak ada lagi pemukiman di daerah yang kumuh, menjadikan Indonesia yang aman, damai dan sejahtera serta bebas dari terorisme yang menebar ketakutan dan maut, dan berbagai kontribusi positip lainnya demi kejayaan bangsa.
Entry filed under: Sosial. Tags: .
5 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
ismail | Agustus 31, 2009 pada 8:09 pm
kalo sya nagara aneh anehan,kanpa??? karena SDA dan SDM ada tp seperti g ada………..
2.
rifat haikal | September 6, 2009 pada 1:53 am
kita ini masih berdiri di negeri tercinta ini bro…
kita ini masih disebut sdm ga….?
3.
rifa haikal | September 1, 2009 pada 2:59 am
INGATLAH WAHAI SEMUA ANAK BANGSA BAHWA BAIK
BURUKNYA NEGERI INI TIDAK TERLETAK PADA SATU ORANG
TETAPI SECARA KOLEKTIF APAPUN PROFESI ANDA :
BERIKANLAH YANG TERBAIK UNTUK INDONESIA
4.
grosir baju | September 1, 2009 pada 3:11 am
saya dukung klo indonesia mengubah image ironi menjadi harmoni karena sekarang ini banyak sekali perpecahan antar warga dikarenakan hal sepele dan salah paham.
lanjutkan!!
5.
rifat haikal | September 4, 2009 pada 4:35 pm
ya dibutuhkan kesadaran bersama.. untuk mencapai semua tujuan itu bro…