Archive for November, 2011
Impian orang biasa
Pagi yang sangat cerah
Kutatap debur ombak di pantai
Kupandangi gugusan pulau nun jauh disana
Ternyata negeri ini memang elok nan kaya
Andai semua pemimpin dan rakyat negeri ini
Bersatu padu mengelola kekayaan alamnya
Tidak dirampok oleh perampok berdasi
Baik dari dalam maupun luar negeri
Maka ………………………………………..
Tidak akan ada lagi tangisan pilu menyayat hati
Para balita yang kurang gizi dan mati sia-sia
Tak ada lagi pengemis diperempatan jalan
Tak ada lagi kasus bunuh diri yang menyayat hati
Karena tak tahan dihimpit kesulitan ekonomi
Tak ada lagi kelaparan yang mendera
Dan sila kelima Pancasila pasti akan terwujud
Gemah ripah loh jinawi negeriku ini
Indonesia, tanah air siapa?
Ketika aku masih kecil dan belum banyak tahu
Aku diajari nyanyi lagu “Indonesia tanah air beta”
Dengan penuh semangat dan rasa yang meluap
Dan nasionalisme meletup-letup dalam jiwaku
Kunyanyikan dengan penuh perasaan dan segenap jiwa
Ketika beranjak dewasa dan mulai sedikit tahu
Aku kembali bertanya Indonesia tanah air siapa?
Karena hutan digunduli dan dibabat habis oleh cukong
Yang dikenal dengan istilah illegal logging
Akibatnya banjir terjadi dimana-mana
Sungaipun tak lagi bening airnya dan penuh lumpur
Ketika beranjak dewasa dan mulai sedikit tahu
Aku kembali bertanya Indonesia tanah air siapa?
Ketika tambang yang ada dieksploitasi habis-habisan
Oleh pihak asing dan kita hanya dapat royalti yang kecil
Dan yang lebih menyedihkan lagi,rakyat diseputar lokasi tambang
Hanya menjadi penonton proses penghancuran alam
Yang akibatnya akan ditanggung anak cucu mereka
Ketika beranjak dewasa dan mulai sedikit tahu
Aku kembali bertanya Indonesia tanah air siapa?
Ketika berkumandang lagu ”Padamu negeri”
Namun banyak elit politik yang tersandung korupsi
Katanya mereka mengabdi pada bangsa dan negara
Dan memperjuangkan kepentingan rakyat alias AMPERA
Untuk bisa mewujudkan sila kelima Pancasila
Namun ternyata mereka hanya memperkaya diri
Dan menjual negeri ini kepada para pemodal luar
Ketika beranjak dewasa dan mulai sedikit tahu
Aku kembali bertanya Indonesia tanah air siapa?
Dimana-mana terjadi pencemaran lingkungan
Polusi ada dimana-mana, baik di darat, laut dan udara
Kota-kota semakin panas , gersang dan tak aman
Sampah tak terkelola dengan baik dan dibuang sembrono
Kalaupun sampah dikumpulkan, hanya dibuang di TPA
Dan plastikpun semakin berserakan dimana-mana
Lambang kemajuan meski mencemari lingkungan
Plastik yang jenisnya tak mudah terurai masih saja terus dipakai
Ketika beranjak dewasa dan mulai sedikit tahu
Aku kembali bertanya Indonesia tanah air siapa?
Kita bersatu mendukung kesebelasan nasional kita
Saat bertanding melawan negara lainnya
Kita bersatu ketika merasa dihina Malaysia
Namun tetap saja terjadi tawuran yang tak henti
Antar warga, antar mahasiswa, antar pelajar, antar desa
Dan bentrok antar polisi dan mahasiswa & pendemo
Antar Satpol PP dan para PKL yang mencari sesuap nasi
Apakah benar kita masih mengakui dalam lubuk hati
”Indonesia Tanah air beta” ?
Romo Francisco Tan SJ; mewujudkan iman,harapan dan kasih melalui PUSLAWITA
Ketika diminta untuk menuliskan pengalaman selama berkarya bersama Romo Tan SJ selama 4 tahun , terus terang secara pribadi saya agak mengalami kesulitan karena rentang waktu yang telah lama dan terbatasnya ingatan yang semakin uzur termakan usia sehingga dengan segala upaya dicoba untuk kembali memutar rekaman lama dan membongkar dokumen tertulis yang masih ada dan pasti semuanya tak mudah. Namun sebagai bentuk rasa hormat dan penghargaan kepada beliau dalam peringatan 1000 hari wafatnya beliau dan bagaimana beliau telah menunjukkan keteladanan dalam hal ke-iman-an dan ke-imam-annya, dengan segala keterbatasan dan subyektivitas yang saya miliki , perkenankan untuk mencoba menuangkannya meski pasti tidak akan mampu memotret pribadi ,pikiran dan filosofi hidup serta karya Romo Tan SJ secara utuh dan penuh.
Melestarikan alam, melestarikan kehidupan
Tanah atau lebih tepatnya lahan merupakan penopang kehidupan rakyat Timor Timur, maka masa depan sebagian besar rakyat sangat tergantung dari kemampuan mengelola, serta mendayagunakan lahan pemberian Tuhan secara bertanggung jawab.
Kenyataan diatas menggerakkan Serikat Yesus Proponsi Indonesia (waktu itu) khususnya Romo Francisco Tan SJ untuk merintis berdirinya Pusat Latihan Wiraswasta Tani (PUSLAWITA) sebuah Lembaga Sosial Gereja yang bergerak dibidang pelayanan pendidikan atau pelatihan petanian di Dusun Laulara, Desa Dare, Dili Barat.
Tujuan lembaga yang dirintis sejak 1986 dibawah naungan Yayasan Wiraswasta Tani ini adalah untuk mencintai dan mempelajari alam termasuk didalamnya hewan atau ternak, tanaman dan tanah agar mampu menghasilkan dan menghidupi manusia.
Puslawita ingin mengajak kaum muda Timor Timur untuk mencintai alam melalui tanah dan menekuni pertanian karena dengan mengelola secara baik dan bertanggung jawab alam pemberian Tuhan, sebenarnya ikut melestarikan kehidupan yakni menyediakan pangan yang cukup dan seimbang kandungan gizinya, menyediakan kebutuhan bahan bangunan, bahan mentah untuk industri ,mencegah terjadinya bencana banjir, kekeringan, maupun kelaparan dll.
Di Puslawita, para siswa didik lebih diarahkan ke pertanian oganik atau alami dengan memanfaatkan sumber daya alam setempat sehingga diharapkan dapat tercipta pertanian menetap yang berkelanjutan dengan menerapkan sistem pengawetan tanah dan air terutama di lahan yang berlereng.
Dengan demikian diharapkan dalam jangka panjang pertanian organik atau alami dapat lebih menjamin keseimbangan ekologis, budaya dan ekonomis sehingga mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan meninggalkan sistem lama berupa pertanian berpindah dan tebas bakar (slash and burn) menjadi pertanian yang menetap dan lestari .
Tanpa banyak bicara, dengan semangat dan kerja diharapkan alumnus Puslawita dapat membangkitkan minat pada kaum muda sedesa sehingga terbentuk paguyuban kelompok tani muda yang maju dan mandiri tanpa harus bergantung pada lapangan kerja di bidang lain.
Puslawita ingin membantu manusia dan alam Timor Timur , dimana menurut data Umat Keuskupan Dili pada tahun 1989 berjumlah 580.674 orang atau 64 persen penduduk di Timor Timur sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian. Dan perkembangan Gereja Katolik tidak terlepas dari cara budidaya dan peningkatan hasil pertanian yang merupakan sumber pendapatan sebagian besar umat Katolik.
Puslawita sebagai bagian karya sosial Gereja di Keuskupan Dili melihat pentingnya menyediakan lapangan kerja bagi kaum muda gereja serta mampu meningkatkan pendapatan umat dengan mengajak kaum muda melatih diri dalam usaha tani terpadu. Diharapkan kaum muda yang tertarik di pertanian bisa menunjukkan peningkatan kehidupan secara berarti melalui kekayaan/asset yang dimiliki berupa lahan. Setelah memperoleh ketrampilan di Puslawita, mereka diharapkan menjadi kader penggerak masyarakat yang berpijak pada pertanian.Pertanian yang merupakan ladang kerja sebagian umat, menjadi salah satu solusi untuk pemecahan keterbelakangan umat akibat penjajahan berkepanjangan selama 450 tahun di bawah Portugis, serta dapat memberi lapangan kerja bagi kaum muda terdidik sehingga dapat mengurangi pengangguran yang semakin tinggi.
Puslawita sebagai pusat pengembangan kaum muda gereja
Tahun 1989 PUSLAWITA sebagai pusat pelatihan non formal di bidang pertanian mulai operasional dengan menerima peserta didik melalui seleksi dengan persyaratan pemuda pemudi asal Timor Timur, ulet dan suka bertani, serta bersedia kembali ke desa sebagai petani.
Materi yang diberikan meliputi Pendidikan Agama dan Ajaran Sosial Gereja, Masalah sosial, Pembangunan pedesaan, Kepemimpinan dan Kewiraswastaan, Dasar-dasar pertanian, Peternakan, Teknologi tepat guna, Pengolahan hasil pertanian dan industri rumah tangga. (lagi…)
Kacang Tanah Berubah Menjadi “SAPI”
Desa Fatusane masuk dalam wilayah kerja Kecamatan Miomafu Timur Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan salah satu desa dari keseluruhan 15 desa yang tergabung dalam Asosisasi BITUNA. Jarak desa Fatusene dari pusat kota Kefamenanu tidak terlalu jauh, namun jalan menuju Desa Fatusane dan desa-desa lain yang tergabung dalam Asosiasi BITUNA masih jalan berbatu dan belum beraspal dimana pada saat musim hujan sulit dilewati kendaraan.
Dalam suatu kunjungan yang dilakukan oleh DPRD ke Desa Fatusene, Bapak Ruben sebagai salah satu kader pemasaran pernah menyampaikan pada pihak DPRD soal jalan raya yang kondisinya sangat rusak. Semua masyarakat desa mengharapkan jalan raya yang baik sehingga mendukung kegiatan di desa dan harapan ini sudah sejak lama hanya saja belum terealisasi. Janji dan sejuta harapan lain selalu disampaikan pada saat kampanye tetapa tidak pernah terealisasi. Seperti kehidupan desa-desa lainnya di TTU yang terus berbenah mengejar ketertinggalan dan mmewujudkan impian untuk sejahtera seperti diamanatkan dalam Pembukaan UUD 45, maka semangat warga desa untuk terus meningkatkan pendapatan dan membangun sarana dan prasarana di desa terus dilakukan. Salah satu kegiatan yang tak lepas dari kehidupan masyarakat adalah bercocok tanam. Setiap desa memiliki komoditi unggulan dan untuk Desa Fatusene komoditi unggulan untuk dijual adalah kemiri, asam dan kacang tanah.
Namun seperti halnya nasib petani pada umumnya, petani di Desa Fatusane juga mengalami nasib yang sama ketika menjual hasil pertanian. Seperti ungkapan Mama Fenti seorang kader pemasaran Desa Fatusene, mengatakan sebelum ada Asosiasi yang melakukan pemasaran bersama, kami sangat tergantung pada pengusaha. Bahkan kadang komoditi seperti asam yang sudah dipetik tidak lagi berharga dan dibiarkan terbuang percuma. Lebih lanjut dikatakan oleh Bapak Beatus seorang kader pemasaran, seorang temannya pernah membuang asam sebanyak kira-kira 300 kg karena hanya dihargai Rp. 200/kg harga komoditi asam yang diterima tidak seimbang dengan pengorbanan yang diberikan. Ceritera lain datang dari Mama Be’a ,salah seorang anggota kelompok tani yang dengan sangat antusias menceriterakan pengalamannya terkait dengan pemasaran bersama. (lagi…)
Petani Sejahtera, Bangsa Berjaya, sekedar slogan atau benar-benar jadi kenyataan ?
Kalau anda termasuk orang yang gemar dan betah berlama-lama di depan layar kaca TV maka slogan tersebut hampir selalu muncul dengan berbagai varian iklannya hasil persembahan dari Departemen Pertanian. Sebuah iklan layanan masyarakat yang patut diapresiasi meski masih dipertanyakan perwujudannya,mengapa ?
Mari kita lihat kehidupan nyata kebanyakan petani diseputaran kita, apakah benar hasil jerih mereka dihargai dan peran mereka dalam menyediakan pangan bagi negeri ini dalam ikut serta mewujudkan kedaulatan pangan dianggap hal yang strategis? Belum hilang dari ingatan kita bagaimana kebijakan impor garam tetap dilakukan sementara pengrajin garam didalam negeri menjerit karena tak mampu memasarkannya, begitu pula dengan kasus impor sayuran berupa wortel dan kentang dari China yang membanjiri pasar di kota besar di Indonesia.
Begitu ironi ketika Indonesia mengklaim sebagai bangsa agraris namun justru tingkat kehidupan petaninya tidak semakin membaik namun justru semakin terpuruk, generasi muda dan bahkan anak petani sendiri tidak mau lagi jadi petani karena melihat kesengsaraan dan penderitaan orang tuanya ketika menghidupi keluarganya dari jerih payah bertani dan semakin banyak generasi muda yang memilih pergi ke kota maupun jadi TKI di sektor informal. Pedesaan semakin sunyi dan lahan-lahan mulai terlihat murung karena hanya disentuh tangan-tangan renta yang sudah tidak lagi bertenaga. Kalaupun mereka masih bertani, itu bukan merupakan pilihan bebas namun hanya terpaksa untuk sekedar menyambung hidup yang harus terus berputar meski mereka tahu bahwa bidang yang digelutinya tidak punya prospek masa depan kecuali untuk para petani tuan tanah yang memiliki lahan cukup untuk bertani dan menyewakan maupun menyakapkannya dengan bagi hasil.
Kebijakan yang tidak berpihak pada petani
Memang kita dapat terkecoh kalau melihat data hasil pertanian dalam artian luas termasuk didalamnya hasil perkebunan terutama kelapa sawit yang begitu mnggiurkan hasilnya namun sebenarnya lebih banyak dikelola pemodal besar dalam bentuk perkebunan besar dan padat modal. Andaikan ada petani sawit yang menjadi model iklan sebuah bank dan sukses dalam usaha sawitnya namun sebenarnya tidak mewakili sebagian besar petani kelapa sawit yang ada. Petani saat ini terus diburu oleh tingginya biaya utnuk penyediaan input sarana produksi yang terus naik sementara harga jual produk pertaniannya tidak menjamin akan memperoleh keuntungan yang dapat digunakan untuk memenuhi penghidupan yang layak. Kebijakan reforma agraria yang didalamnya termasuk land reform hanya sempat terjadi dan dilaksanakan di masa pemerintahan Gus Dur dan tidak berlanjut sampai saat ini. Kebijakan yang digulirkan pemerintah di bidang pertanian masih bagaikan pemadam kebakaran yang hanya mematikan api di permukaan tanpa menyentuh bara sekam yang masih terus ada dibawahnya. Penyelesaian yang cenderung setengah hati telah membuat pertanian semakin dijauhi dan semakin tidak punya prospek masa depan meski kita berharap akan semakin banyak generasi muda terdidik yang mau melanjutkan profesi orang tuanya sebagai petani yang sukses dan sejahtera. (lagi…)
Fund raising, salah satu jalan menuju kemandirian Organisasi Petani
Dalam membantu mewujudkan petani yang mampu mengakses pasar secara adil dan layak, dibutuhkan sebuah payung organisasi ditingkat petani yang mampu memperkuat posisi tawar petani dalam memasarkan hasilnya maupun dalam memperoleh hak-hak dasarnya. Keberadaan Organisasi Petani seperti Asosiasi Petani sebagai wadah pemersatu dan alat perjuangan untuk memenuhi hak dasar petani menjadi sangat strategis untuk menjaga independensi para petani terhadap intervensi dari luar yang merugikan.
Selama ini banyak diantara petani yang masih menjual secara individual yang berakibat melemahnya posisi petani dihadapkan pada kondisi nyata pasar yang penuh permainan baik dalam hal harga, permainan timbangan dll maupun ketika berhadapan dengan kebijakan pemegang layanan publik yakni Pemkab dan unit SKPD-nya.
Peran yang Asosiasi mainkan dalam penyadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara, dalam ikut serta melestarikan lingkungan, melakukan penguatan ekonomi kerakyatan dll telah mengantarkan Asosiasi Petani sebagai bagian tak terpisahkan dari setiap permasalahan yang muncul maupun dalam pencarian solusinya secara bersama.
Namun sangat disayangkan, Asosiasi Petani yang ada yang kebanyakan merupakan wadah kumpulan para petani aktivis kader desa sering mengalami permasalahan pendanaan dalam setiap kiprahnya serta masih lemah dalam kemampuan manajerialnya. Disamping itu kebiasaan “meminta” kepada pihak lain membuat para petani semakin tidak percaya pada kekuatannya sendiri yang sebenarnya apabila petani mau bergabung dalam sebuah jaringan akan dasyat dampaknya. Paradigma lama para petani yang sering menganggap kendala modal berupa dana yang tidak cukup untuk berusaha, mengakibatkan petani selalu terjerat dalam lingkaran setan yang tak berkesudahan, padahal kalau mau sedikit kreatif masih banyak cara untuk memperoleh dana sebagai modal awal Asosiasi. Yang lebih penting bagaimana semangat & jiwa wirausaha telah muncul untuk mengembangkan dari modal apa yang dipunyainya dan rasa saling percaya yang telah terbangun selama ini. Justru tantangannya bagi Asosiasi adalah bagaimana dengan apa yang dipunyainya mampu berkembang dan menjadi besar, bukan berpikir sebaliknya yakni ada modal besar dulu baru dapat memulai usaha.
Disamping itu, dukungan dana dari para penyandang dana (donor) ternyata sering kurang tepat sasaran dan sering masih sangat tergantung pada ‘selera’ mereka sehingga banyak hal yang seharusnya dapat dilakukan bersama Asosiasi Petani namun tidak terlaksana karena kekurangan dana. (lagi…)
Komentar Terakhir