Archive for Januari, 2012
NARKOBA, barang haram yang sangat berbahaya namun selalu didamba penggunanya
Belum lama berselang, Minggu, 23 Januari 2012 didekat Patung Tugu Tani di Jakarta Pusat telah terjadi tabrakan maut yang berujung 9 orang meninggal karena ditabrak mobil berkecepatan tinggi yang dikemudikan seorang perempuan yang ternyata habis mengkonsumsi MIRAS dan NARKOBA, maka kita menjadi terbelalak matanya karena ternyata bahaya narkoba tidak hanya menghancurkan kehidupan diri penggunanya namun juga mampu menghancurkan kehidupan orang lain yang tak tersangkut paut sama sekali dengan dirinya. Bahkan aksi perampokan di jaringan Alfamart di Jakarta dan sekitarnya ternyata juga dilakukan oleh sepasang kekasih pecandu narkoba.
Meski ada BNN (Badan Nasional Narkotika) yang bertugas memberantas peredaran dan penggunaan narkoba namun tanpa peran serta masyarakat tak akan ada hasil nyata yang dirasakan. Selain itu, yang juga sangat mencemaskan adalah ditangkapnya salah seorang pilot maskapai penerbangan murah ditanah air karena mengkonsumsi narkoba, dan bisa dibayangkan dengan kecepatan pesawat yang lebih dari 800 km/jam yang dikemudikan oleh seorang pengguna narkoba, maka bisa dibayangkan betapa berbahayanya tidak hanya bagi penumpang pesawat tetapi juga bagi pihak lain yang berada di jalur penerbangan karena pesawat bisa setiap saat bertabarakan atau jatuh ke permukaan bumi yang dihuni padat penduduk.
Pemberantasan yang parsial?
Kecenderungan masyarakat kita yang cenderung tidak peduli pada bahaya narkoba meski terus dilakukan kampanye terus menerus melalui berbagai cara menjadi tantangan bagi BNN (Badan Narkotika Nasional) untuk dapat mencari cara baru agar masyarakat mau sadar dan peduli untuk membuka mata betapa berbahayanya narkoba.Pelibatan masyarakat secara aktip dalam memerangi peredaran dan penggunaan narkoba melalui jalan budaya, agama dan juga pendidikan formal harus terus menerus dilakukan dan harus menarik bagi kalangan masyarakat luas. Pertunjukan band anak muda yang mengusung tema anti narkoba, produk budaya lainnya seperti sinetron bermutu, novel, puisi dll yang mengajak masyarakat memerangi dan menjauhi penggunaan narkoba perlu dijadwal secara baik dengan pendanaan yang pasti tidak sedikit, namun akan lebih baik mencegah daripada mengobati karena menjadi lebih mahal tidak hanya dari sisi biaya perawatan/rehabilitasi korban, namun yang lebih disayangkan ternyata pihak korban menjadi beban masyarakat terutama keluarganya. BNN tidak akan dapat efektip bekerja jika tidak berkoordinasi dan melibatkan semua pihak terutama jajaran Bea cukai yang menjadi penjaga utama dan pertama masuk dan beredarnya narkoba di Indonesia. Sayangnya semakin lama semakin canggih modus penyelundupan narkoba oleh mafia dan petugas Bea cukai kita juga manusia yang bisa saja sedikit lengah sehingga narkoba masuk, disamping harus diwaspadai juga narkoba yang diproduksi didalam negeri. BNN akan kewalahan menghadapi mafia narkoba jika tidak didukung aturan hukum yang membuat mereka para mafia jera, dan sayangnya hukuman kepada para anggota mafia narkoba sangat ringan dibanding negara tetangga Malasyia padahal kerusakan yang diakibatkannya sungguh dasyat dalam merusak sendi moralitas bangsa dan perekonomian bangsa kita, selain kasus korupsi yang juga tengah melanda negeri ini. Jadi bisa dibayangkan apabila perilaku korup petugas oknum aparat pemberantas narkoba bertemu dengan mafia narkoba maka dipastikan kecelakaan darat, laut dan udara akan semakin sering terjadi seiring dengan semakin banyaknya pengemudi baik di darat, laut dan udara yang mengendarai namun masih dalam pengaruh narkoba. (lagi…)
Quo vadis DPR ????
Mari kita saksikan drama haru biru DPR kita
Dari batalnya rencana bangun gedung baru super mewah
Yang telah menelan dana milyaran rupiah untuk persiapannya
Renovasi toilet, parkir, parfum, kalender, multivitamin dll
Yang selalu memakan biaya dengan nilai milyaran rupiah
Mari kita lihat berkelitnya orang pandai yang telah mati nurani
Pemborosan yang sudah sesuai prosedur dianggap tak salah
Menghamburkan milyaran rupiah yang tak menyentuh sama sekali
Upaya perbaikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat
Yang terus ditunggu dengan gelisah namun tak kunjung tiba
Pemborosan uang negara namun sesuai prosedur dianggap hal biasa
Hanya melanggar kepatutan atau halusnya kepantasan ????????
Kalau sudah tidak patut dan pantas dalam memakai uang rakyat
Masih patutkah mereka mewakili rakyat dan duduk di Senayan?
Quo vadis hati nurani ,kepekaan dan kepedulian anggota DPR
Masih patutkah anda menyebut diri Anggota Dewan yang TERHORMAT?
(Masih ingat ketika ORBA mau runtuh, selalu menyatakan ” Sudah sesuai prosedur dan tidak melanggar UUD 45)
UUPA tidak dijalankan, pemerintah melanggar undang-undang?
Di negeri kita terlalu banyak aturan yang telah dibuat baik berupa UU, PP maupun turunannya demi mengatur kehidupan masyarakat yang lebih harmonis, adil dan merata. Namun dalam praktek di kehidupan nyata, pemerintah sebagai pelaksana UU justru tidak patuh namun sementara disisi lain terus meminta rakyat untuk mematuhi UU, sungguh aneh bin nyata.
Ada 2 UU yang sangat menyolok untuk dibiarkan dilanggar alias tidak dilaksanakan yakni UU Lalu lintas yang mengharuskan pengendara sepeda motor menyalakan lampu di siang hari dan denda pelanggaran lalin sampai jutaan rupiah (tidak realistis) serta yang paling para adalah diabaikannya UUPA alias Undang-Undang Pokok Agraria.
Akar kekerasan atas nama negara
UUPA sebenarnya merupakan produk legislatif yang cerdas dan arif yang menunjukkan keberpihakan legislatif sebagai wakil rakyat pada rakyat yang diwakilinya alias pro rakyat dan pro poor yang dijiwai oleh Pancasila dalam upaya mewujudkan sila ke 5 yakni Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Produk hukum yang baik namun justru disimpan di laci lemari di jaman Orde Baru yang lebih memilih pro pemodal kuat yang mampu membayar pejabat untuk memperoleh luasan lahan sampai ribuan hektar, sementara dalam UUPA mengatur pembatasan kepemilikan tanah supaya rakyat memperoleh hak untuk memiliki lahan terutama mereka yang mengandalkan hidup dari pertanian. Ketika penguasa ORBA lebih memilih melayani pengusaha yang membutuhkan lahan untuk usahanya demi menarik investor dari luar, maka dengan berbagai cara termasuk menggunakan kekerasan yang keji dan melanggar HAM, pemerintah ORBA atas nama negara dan demi jargon pembangunan yang akan mensejahterakan rakyat telah tega mengusir rakyatnya sendiri dari lahan yang diincar pengusaha pemodal kuat. Maka tak terelakkan lagi benturan kekerasan dan perlawanan rakyat dengan keterbatasan alat bela diri yang dimilikinya melawan aparat keamanan yang dipersenjatai dengan senjata api dan berakhir dengan ketragisan karena justru memakan korban dari kalangan rakyat yang sebenarnya tuan atas negeri ini yang ingin disejahterakan melalui kemerdekaan Indonesia. Rakyat lalu dituduh anarkis karena membawa senjata tajam dan membakar, tanpa mau tahu mengapa rakyat marah dan menjadi anarkis. Persoalan sebenarnya terletak dari cara memandang yang salah oleh pemerintah yang berkuasa terhadap lahan dimana lahan dianggap komoditas yang dapat diperjualbelikan seenaknya, sementara rakyat menganggap lahan adalah sakral karena merupakan warisan dan modal pokok untuk melanjutkan kehidupan generasi berikutnya. Kekerasan atas nama negara terus berulang tidak hanya di jaman ORBA namun justru terus berlanjut terutama di era pemerintahan SBY yang telah menelan korban petani yang mati sia-sia ditembak aparat yang merasa tidak bersalah menembak rakyat sendiri karena telah sesuai protap, sungguh sangat ironis karena rakyatlah yang memberi mandat pada polisi untuk melindungi dirinya dari ancaman kekerasan di dalam negeri. (lagi…)
Makan gaji buta, ditengah matinya nurani ?
Masuk kerja, isi daftar hadir
Setor muka saja, habiskan waktu
Main catur, main mata dan main uang
Main-main dengan amanat rakyat
Tiap bulan terima gaji tepat waktu
Dari hasil kumpul pajak rakyat
Tapi masih juga tega lakukan
Peras rakyat kecil yang dilayani
Ketika urus surat yang diperlukan
Tiap tahun naik pangkat dan gaji
Dapat tunjangan dan pensiunan
Dapat askes dan berbagai fasilitas
Makan gaji buta sungguh nyata
Antara ada dan tiada di layanan publik
Masihkan kita punya nurani
Ketika rakyat yang seharusnya dilayani
Semakin sengsara dan sakit hati?
Indonesia, butuh banyak pemimpin bergelar MM dan HHH (bukan ha ha ha
Perbincangan yang riuh di milis, twitter, media tv dll terkait banyak masalah sosial dan politik di republik ini seakan terus berdengung ditelinga kita, bak ribuan tawon yang terus terbang mengelilingi bangsa ini. Kegaduhan politik yang memuakkan sekaligus menjijikkan telah mencapai ambang batas kesabaran rakyat. Mereka yang mengaku intelektual dan berpendidikan diatas rata-rata dan dipilih menjadi wakil rakyat maupun yang duduk di pemerintahan berperilaku setali tiga uang, mau menang sendiri, sok kuasa, sok benar sendiri dan terakhir sok tahu aspirasi rakyat.
Benar kata orang bijak, tong kosong berbunyi nyaring, politisi dan pemimpin republik yang terlalu banyak bicara dan pidato bagaikan tong kosong. Mari kita lihat pidato SBY yang katanya berperang alias jihad melawan koruptor, nyatanya duduk manis dan tenang-tenag saja melihat kebangkrutan negeri ini dihisap mafia para koruptor yang telah merasuk ketulang sumsum republik ini bagaikan kanker ganas stadium 4 namun penanganannya hanya dioles salep dibagian permukaan kulit dan berharap dapat sembuh, sungguh sangat naïf. Dan anehnya pemerintah sekarang justru hobi berhutang yang jumlahnya untuk tahun ini saja mencapai 250 trilyun sehingga total utang negeri ini mencapai 2000 trilyun lebih. (lagi…)
Dengan berbagi dan memberi, hidup akan berkelimpahan ?
Tidak mudah hidup di kota dibanding di alam pedesaan, karena hidup dan tinggal di kota ternyata lebih komplek permasalahannya. Kehidupan sehari-hari begitu keras dan ganas dan cenderung cuek, tak mau peduli pada sesama yang menderita dan membutuhkan pertolongan telah banyak mematikan suara hati nurani warganya. Kota yang semakin hari semakin maju secara kasat mata dengan berdirinya bangunan baru yang megah dan mewah seperti apartemen, hypermarket/mall, kondominium, perumahan mewah dll yang terus saja bertumbuh dan bertambah, ternyata juga menyisakan derita pilu warga kota di daerah kumuh dan bantaran sungai. Kota selain memberi harapan untuk hidup lebih baik, ternyata juga memerangkap banyak warga pendatang yang tak siap sehingga mereka terperosok dalam dunia hitam kelam yang tak berujung dan menumbuhkan gaya hidup yang jauh dari tuntunan iman berupa tindakan kriminal dan hedonisme seperti mngkonsumsi narkoba, minuman keras dll untuk melarikan diri dari dunia nyata.
Ajaran iman yang tak pernah usang.
Sebagai manusia yang beriman, pastilah kita telah berupaya untuk terus mempelajari ajaran agama sesuai iman yang diyakininya. Namun ditengah kehidupan yang plural baik mengenai suku, agama, ras dll ternyata tidak mudah menerapkan hidup yang harmonis, rukun dan damai. Kekerasan yang terus saja terjadi di berbagai daerah atas nama perbedaan (agama,suku,asal dll), kekerasan yang dilakukan oleh negara atas nama hukum (yang dianggap telah memenuhi rasa keadilan) dan juga kekerasan oleh pengusaha-pemodal kuat telah mampu memporak-porandakan kehidupan hamonis di bumi nusantara tercinta. Mimbar agama setiap pagi hampir ditayangkan di semua tv swasta untuk dapat dijadikan tuntunan hidup, ternyata hanya menjadi tontonan dan belum mampu terterap dalam kehidupan keseharian.
Manusia yang beragama ternyata tidak menjamin untuk hidup saleh, lurus dan jujur. Banyak yang rajin melakukan sembahyang namun tetap saja melakukan korupsi, melakukan kekerasan dan juga melakukan banyak kebohongan demi memperoleh kekayaan berlimpah meski tak halal. Padahal kita semua tahu, dan terus diajarkan berulang-ulang kepada umat beriman untuk tidak serakah dan mau berbagi dan memberi pada sesama yang membutuhkan. (lagi…)
POLRI, harus mawas diri dengan Kasus “Sandal jepit”
Semboyan Polri yang enak didengar dan perlu yakni “Melindungi dan melayani” masyarakat dan kemudian berubah menjadi “Kami siap melayani Anda” telah dipertanyakan perwujudannya di tengah masyarakat.
Kasus yang menimpa Polri pada 2011 telah membuat citra Polri sangat terpuruk kalau tidak mau dikatakan berada di titik nadir. Kasus kekerasan atas nama Negara yang dilakukan Polri telah menewaskan puluhan orang karena rakyat ditembak atas nama protap telah membuat masyarakat semakin menjauh dari Polri, institusi Negara yang diharapkan berpihak pada rakyat (yang seharusnya dilindungi) karena rakyat adalah pemilik Negara yang sesungguhnya dan pembayar pajak yang digunakan untuk mendanai Polri.
Roh dan filosofi bahwa Polri adalah pelindung rakyat telah ditinggalkan, dan Polri lebih dikenal dengan nama “Institusi centeng” seperti yang sering dikatakan para pengamat di media televisi nasional, meski terus dibantah Polri , namun rakyat sudah semakin cerdas untuk mengetahui yang senyatanya meski selalu dicoba ditutup-tutupi oleh Polri.
Jangan jadikan rakyat ATM
Polri di awal tahun baru 2012 seharusnya mawas diri untuk berbenah dan memperbaiki sistem pelayanannya pada rakyat. Semboyan Polri yang enak didengar seharusnya membuat masyarakat sebagai pengguna layanan Polri merasa nyaman ketika berurusan dengan Polri. Namun kita semua tahu, masih banyak penyimpangan dalam pelaksanaan, mulai dari pengurusan SKCK, pembuatan SIM, proses tilang lalu lintas sampai dengan pembuatan BAP dalam berbagai penanganan kasus judi dan kriminal.
Rakyat sangat berharap Polisi Republik Indonesia (POLRI) adalah polisinya rakyat dan tidak menjadikan rakyat sebagai ATM untuk menambah penghasilan yang tidak halal. (lagi…)
Komentar Terakhir