Menjadikan organisasi petani sebagai lembaga bisnis yang menguntungkan , sebuah keharusan ?

Januari 8, 2013 at 9:29 am Tinggalkan komentar

Negara kita terlalu banyak warganya yang berprofesi sebagai petani, namun sayangnya justru persepsi mengenai para petani masih sebatas sebagai produsen, tak paham teknologi, tak mengerti manajemen dll sehingga tak heran jarang anak muda yang bercita cita menjadi petani karena masa depannya tidak menjanjikan.

Apa yang salah dengan petani kita yang sebagian besar masih saja terbelenggu dalam hidup berkekurangan  (modal, teknologi, akses informasi dll) ?

Dulu ketika masih mempelajari ekonomi pertanian, selalu dikatakan oleh para pakar ekonomi bahwa masalah utama petani kita adalah kepemilikan lahan yang sempit, tidak dapat mengakses modal karena tidak ada agunan dll.

Memang hal itu menjadi masalah, namun yang tak kalah bermasalah adalah cara pikir/mindset petani sendiri yang menganggap dirinya merupakan kaum kelas bawah yang memang patut hidup menderita, tinggal di pelosok desa dan semua kesan negatip yang ditimpakan kalangan berada dan intelektual kota pada mereka dan sayangnya banyak dari para petani  yang mengamini dan menyakininya serta  dianggap sebuah takdir yang harus diterima.

Seringkali pendekatan yang dilakukan dalam pemberdayaan petani hanya melihat petani sebagai produsen saja sehingga intervensi program lebih difokuskan hanya dari sisi teknis produksi yakni bagaimana meningkatkan produksi sebagai bahan mentah (raw material) yang memang di pasaran jumlahnya membludak karena over supply di musim tertentu sehingga berakibat harga komoditi petani jatuh bebas dan petani menjadi merugi. Kita harusnya belajar dari Thailand dan China bagaimana upaya pemerintah dalam  mendukung secara penuh pada usaha pertanian dan menjadikan pertanian sebagai bisnis rakyatnya yang harus memberi keuntungan dan menjadi income/pendapatan  yang dapat mencukupi kebutuhan petani untuk hidup layak.

Pendekatan lain yang tak kalah mengherankan adalah ketika memperkuat institusi/organisasi petani baik melalui Gapoktan maupun Koperasi tani (Koptan), seringkali yang dilakukan hanya menyediakan modal usaha sampai ratusan juta rupiah tanpa ada tahapan sistematis yang harus dilakukan agar dana tersebut dapat dikelola dengan baik dan tidak menjadi rebutan/bancakan untuk dikorup. Seolah olah dengan memberi dana dalam jumlah banyak menurut ukuran petani, maka mereka akan terbebas dari permasalahan yang dihadapi. Demikian pula ketersediaan KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang sangat baik sebagai bagian upaya pemerintah mendekatkan akses petani pada permodalan karena tanpa agunan, ternyata juga banyak yang belum memahami cara mengakses KUR serta bagaimana meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola KUR agar dana tersebut bertambah jumlahnya.

Sebenarnya perlu dilakukan pentahapan yang harus diikuti dalam menfasilitasi pemberdayaan organisasi petani menajdi lembaga bisnis yang menguntungkan.

Yang pertama adalah bagaimana memfasilitasi petani untuk membangun solidaritas sejati melalui hidup berkelompok dan bekerja sama bergotong royong untuk memperkuat dan mempermudah mereka dalam mewujudkan impian bersama hidup sejahtera sebagai petani dengan berbagai kegiatan seperti bekerja bersama di lahan mereka, membangun UBSP (Usaha Bersama Simpan Pinjam) sebagai cikal bakal koperasi tani lintas desa, dan menjauhkan petani dari hidup berkelompok hanya untuk memenuhi persyaratan agar  mendapat bantuan. Dalam berkelompok, para petani harus diikat oleh rasa persaudaraan yang kuat dan kesadaran yang muncul kalau mereka bekerja sendiri akan dilindas dan digilas oleh perubahan yang cepat di era globalisasi. Mereka harus menyadari dan mau belajar dari sarang laba laba yang mampu melindungi diri sekaligus menjebak mangsanya sehingga walau para petani lemah secara perorangan, namun jika bersatu dalam jaringan bak laba laba mereka akan mempunyai kekeuatan yang dasyat untuk memperjuangkan hak dan kepentingannya.

Yang kedua, petani harus melihat usahanya sebagai bisnis yang harus menguntungkan, dan mau tak mau petani harus mempunyai jiwa bisnis yang kuat, mempunyai manajemen bisnis/usaha dan mampu melakukan analisis usaha taninya dengan baik sehingga diketahui apakah menguntungkan atau justru merugikan dan mampu memadukan potensi yang ada antara ketersediaan modal, teknologi yang tersedia dan  dimiliki, peluang pasar dan kekuatan mereka sebagai pemilik barang yang jika dipasarkan secara bersama akan mendapat harga yang lebih baik. Disini peran koperasi tani sangat menentukan, dimana beberapa petani dalam beberapa desa dapat bergabung mendirikan koperasi untuk membangun kesejahteraan bersama.Memang tidak mudah karena saat ini dikalangan petani sulit saling percaya satu dengan yang lain terkait pengelolaan uang karena pengalaman traumatik KUD pada masa silam, namun kita juga tak menutup mata ada beberapa KUD yang sampai kini masih tetap eksis dan  seksi serta terus bertumbuh menjadi koperasi besar , modern dan tangguh karena benar benar mendasarkan pada jati diri koperasi, membangun sistem kontrol yang kuat, dimotori oleh pengurus yang jujur, loyal dan mau berkorban untuk kepentingan kaum tani yang memberi kepercayaan kepadanya. Dalam hidup berkoperasi, para petani sebagai anggota mulai diajak untuk meningkatkan 3 K yakni Kualitas, Kuantitas dan Kontinyuitas/keberlanjutan produksi sehingga dapat dipercaya sebagai pemasok bahan mentah atau setengah jadi utnuk industri besar maupun pasar yang membutuhkan. Di dalam hidup berkoperasi para petani juga dapat terus menerus diedukasi untuk hidup hemat, rajin menabung/menyimpan, mengelola ekonomi rumah tangga dengan baik karena meningkatnya kecerdasan finansial. Dengan berkoperasi, maka petani mampu mengakses permodalan, mengakses teknologi pasca panen, teknologi prossesing dan pengemasan sehingga produknya mampu bertahan lama, mampu bersaing dengan kompetitor di pasaran dan mampu memenuhi selera konsumen dan yang tak kalah penting mampu memberikan nilai tambah (added value ).

Yang ketiga, yang tak kalah pentingnya adalah pemerintah baik pusat maupun daerah harus menggarap serius pembangunan infrastruktur yang memang dibutuhkan para petani  dan  mampu mempermudah dan mendukung komoditi maupun produk pertanian menuju pasar sehingga petani tidak dibebani ekonomi berbiaya tinggi hanya karena sulitnya transportasi karena akses jalan yang buruk, terbatasnya kapasitas alat transport, belum adanya dermaga peti kemas, terbatasnya landasan bandara sehingga tidak mampu membawa kargo dalam jumlah besar dll.

Pembangunan jangan hanya terpusat di ibukota kabupaten/kota dan APBD jangan hanya digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah dan kelihatan wah serta jangan banyak dianggarkan hanya unnuk perjalanan dinas keluar daerah. Saatnya di tahun baru 2013 jika pemerintah benar benar mau mensejahterakan rakyat yang sebagian besar petani, pembangunan harus diarahkan ke daerah dan desa dan saatnya para pemimpin baik nasional maupun daerah dengan rendah hati mau mencontoh cara kerja Jokowi-Ahok yang rela dengan berpanas panas mendatangi rakyatnya, mempunyai empati untuk mendengarkan keluhan dan permasalahan yang dihadapi dan dengan kekuasaan yang ada ditangannya dicarikan solusi yang pas dan langsung ditindak lanjuti serta dikontrol pelaksanaannya.

Rakyat, khususnya para petani akan sangat berterima kasih jika para pemimpin tidak hanya jadi pimpinan yang fasih memberi instruksi dan perintah saja, namun yang mau turun dan dengan hati terbuka dan kebeningan nurani mau menjadikan jabatan dan otoritas yang dimilikinya sebagai amanah untuk berbenah dan memberi harapan baru pada rakyat, terutama para petani yang selama ini dijadikan korban atas nama pembangunan nasional.

Saatnya pemerintah bertindak tegas mengembalikan lahan yang dikuasai para pengusaha pemodal kuat dengan cara yang tidak benar/melawan hukum kepada pemiliknya yakni para petani yang dirampas dan diambil paksa lahannya tanpa harus menambah lagi korban petani yang mati sia sia diterjang peluru para aparat dan ditebas parang para preman yang disewa para pemodal kuat untuk tetap menguasai lahan yang seharusnya dimiliki dan dikuasai petani. Semoga petani semakin berjaya dan menjadi tuan di negerinya sendiri melalui penguatan organisasi petani sebagai lembaga bisnis yang menguntungkan.

Entry filed under: Petani "mengakses pasar". Tags: .

Memasuki Tahun Baru, adakah yang benar-benar “BARU” dalam diri maupun negeri kita ? Mengapa pemimpin negeri ini suka sekali bercanda dengan bencana ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Januari 2013
S S R K J S M
« Des   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tamu Adikarsa

  • 32,699 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: