Posts filed under ‘Petani "mengakses pasar"’

Kacang Tanah Berubah Menjadi “SAPI”

Desa Fatusane masuk dalam wilayah kerja Kecamatan Miomafu Timur Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan salah satu desa dari keseluruhan 15 desa yang tergabung dalam Asosisasi BITUNA. Jarak desa Fatusene dari pusat kota Kefamenanu tidak terlalu jauh, namun jalan menuju Desa Fatusane dan desa-desa lain yang tergabung dalam Asosiasi BITUNA masih jalan berbatu dan belum beraspal dimana pada saat musim hujan sulit dilewati kendaraan.

Dalam suatu kunjungan yang dilakukan oleh DPRD ke Desa Fatusene, Bapak Ruben sebagai salah satu kader pemasaran  pernah menyampaikan pada pihak DPRD  soal jalan raya yang kondisinya sangat rusak. Semua masyarakat desa mengharapkan jalan raya yang baik sehingga mendukung kegiatan  di desa dan harapan ini sudah sejak lama hanya saja belum terealisasi. Janji  dan sejuta harapan lain selalu disampaikan pada saat kampanye tetapa tidak pernah terealisasi. Seperti kehidupan desa-desa lainnya di TTU yang terus berbenah mengejar ketertinggalan dan mmewujudkan impian untuk sejahtera seperti diamanatkan dalam Pembukaan UUD 45, maka semangat warga desa untuk terus meningkatkan pendapatan dan membangun sarana dan prasarana di desa terus dilakukan. Salah satu kegiatan yang tak lepas dari kehidupan masyarakat adalah bercocok tanam. Setiap desa memiliki komoditi unggulan dan untuk Desa Fatusene komoditi unggulan untuk dijual adalah kemiri, asam dan kacang tanah.

Namun seperti halnya nasib petani pada umumnya, petani di Desa Fatusane juga mengalami nasib yang sama ketika menjual hasil pertanian. Seperti ungkapan Mama Fenti seorang kader pemasaran Desa Fatusene, mengatakan sebelum ada Asosiasi yang melakukan pemasaran bersama, kami sangat tergantung pada pengusaha. Bahkan kadang komoditi seperti asam yang sudah dipetik tidak lagi berharga dan dibiarkan terbuang percuma. Lebih lanjut dikatakan oleh Bapak Beatus seorang  kader pemasaran, seorang temannya pernah membuang asam sebanyak kira-kira 300 kg karena hanya dihargai Rp. 200/kg harga komoditi asam yang diterima tidak seimbang dengan pengorbanan yang diberikan. Ceritera lain datang dari Mama Be’a ,salah  seorang anggota kelompok tani yang dengan sangat antusias menceriterakan pengalamannya terkait dengan pemasaran bersama. (lagi…)

November 18, 2011 at 9:31 am Tinggalkan Komentar

Petani Sejahtera, Bangsa Berjaya, sekedar slogan atau benar-benar jadi kenyataan ?

Kalau anda termasuk orang yang gemar dan betah berlama-lama di depan layar kaca TV maka slogan tersebut hampir selalu muncul dengan berbagai varian iklannya hasil persembahan dari Departemen Pertanian. Sebuah iklan layanan masyarakat yang patut diapresiasi meski masih dipertanyakan perwujudannya,mengapa ?

Mari kita lihat kehidupan nyata kebanyakan petani diseputaran kita, apakah benar hasil jerih mereka dihargai dan peran mereka dalam menyediakan pangan bagi negeri ini dalam ikut serta mewujudkan kedaulatan pangan dianggap hal yang strategis? Belum hilang dari ingatan kita bagaimana kebijakan impor garam tetap dilakukan sementara pengrajin garam didalam negeri menjerit karena tak mampu memasarkannya, begitu pula dengan  kasus impor sayuran berupa wortel dan kentang dari China yang membanjiri pasar di kota besar di Indonesia.

Begitu ironi ketika Indonesia mengklaim sebagai bangsa agraris namun justru tingkat kehidupan petaninya tidak semakin membaik namun justru semakin terpuruk, generasi muda dan bahkan anak petani sendiri tidak mau lagi jadi petani karena melihat kesengsaraan dan penderitaan orang tuanya ketika menghidupi keluarganya dari jerih payah bertani dan semakin banyak generasi muda yang memilih pergi ke kota maupun jadi TKI di sektor informal. Pedesaan semakin sunyi dan lahan-lahan mulai terlihat murung karena hanya disentuh tangan-tangan renta yang sudah tidak lagi bertenaga. Kalaupun mereka masih bertani, itu bukan merupakan pilihan bebas namun hanya terpaksa untuk sekedar menyambung hidup yang harus terus berputar meski mereka tahu bahwa bidang yang digelutinya tidak punya prospek masa depan kecuali untuk para petani tuan tanah yang memiliki lahan cukup untuk bertani dan menyewakan maupun menyakapkannya dengan bagi hasil.

Kebijakan yang tidak berpihak pada petani

Memang kita dapat terkecoh kalau melihat data hasil pertanian dalam artian luas  termasuk didalamnya hasil perkebunan terutama kelapa sawit yang begitu mnggiurkan hasilnya namun sebenarnya lebih banyak dikelola pemodal besar dalam bentuk perkebunan besar dan padat modal. Andaikan ada petani sawit yang menjadi model iklan sebuah bank dan sukses dalam usaha sawitnya namun sebenarnya tidak mewakili sebagian besar petani kelapa sawit yang ada. Petani saat ini terus diburu oleh tingginya biaya utnuk penyediaan input sarana produksi yang terus naik sementara harga jual produk pertaniannya tidak menjamin akan memperoleh keuntungan yang dapat digunakan untuk memenuhi penghidupan yang layak. Kebijakan reforma agraria yang didalamnya termasuk land reform hanya sempat terjadi dan dilaksanakan di masa pemerintahan Gus Dur dan tidak berlanjut sampai saat ini. Kebijakan yang digulirkan pemerintah di bidang pertanian masih bagaikan pemadam kebakaran yang hanya mematikan api di permukaan tanpa menyentuh bara sekam yang masih terus ada dibawahnya. Penyelesaian yang cenderung setengah hati telah membuat pertanian semakin dijauhi dan semakin tidak punya prospek masa depan meski kita berharap akan semakin banyak generasi muda terdidik yang mau melanjutkan profesi orang tuanya sebagai petani yang sukses dan sejahtera. (lagi…)

November 14, 2011 at 12:50 pm Tinggalkan Komentar

Fund raising, salah satu jalan menuju kemandirian Organisasi Petani

Dalam membantu mewujudkan petani yang mampu mengakses pasar secara adil dan layak, dibutuhkan sebuah payung organisasi ditingkat petani yang mampu memperkuat posisi tawar petani dalam memasarkan hasilnya maupun dalam memperoleh hak-hak dasarnya. Keberadaan Organisasi Petani seperti Asosiasi Petani sebagai wadah pemersatu dan alat perjuangan untuk memenuhi hak dasar petani menjadi sangat strategis untuk menjaga independensi para petani terhadap intervensi dari luar yang merugikan.

Selama ini banyak diantara petani yang masih menjual secara individual yang berakibat melemahnya posisi petani dihadapkan pada kondisi nyata pasar yang penuh permainan baik dalam hal harga, permainan timbangan dll maupun ketika berhadapan dengan kebijakan pemegang layanan publik yakni Pemkab dan unit SKPD-nya.

Peran yang Asosiasi mainkan dalam penyadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara, dalam ikut serta melestarikan lingkungan, melakukan penguatan ekonomi kerakyatan dll telah mengantarkan Asosiasi Petani sebagai bagian tak terpisahkan dari setiap permasalahan yang muncul maupun  dalam pencarian solusinya secara bersama.

Namun sangat disayangkan, Asosiasi Petani yang ada yang kebanyakan merupakan wadah kumpulan para petani aktivis kader desa sering mengalami permasalahan pendanaan dalam setiap kiprahnya serta masih lemah dalam kemampuan manajerialnya. Disamping itu kebiasaan “meminta” kepada pihak lain membuat para petani semakin tidak percaya pada kekuatannya sendiri yang sebenarnya apabila petani  mau  bergabung dalam sebuah jaringan akan dasyat dampaknya. Paradigma lama para petani yang sering menganggap kendala modal berupa dana yang tidak cukup untuk berusaha, mengakibatkan petani selalu terjerat dalam lingkaran setan yang tak berkesudahan, padahal kalau mau sedikit kreatif masih banyak cara untuk memperoleh dana sebagai modal awal Asosiasi. Yang lebih penting bagaimana semangat & jiwa wirausaha telah muncul untuk mengembangkan dari modal apa yang dipunyainya dan rasa saling percaya yang telah terbangun selama ini. Justru tantangannya bagi Asosiasi adalah bagaimana dengan apa yang dipunyainya mampu berkembang dan menjadi besar, bukan berpikir sebaliknya yakni ada modal besar dulu baru dapat memulai usaha.

Disamping itu, dukungan dana dari para penyandang dana (donor) ternyata sering kurang tepat sasaran  dan sering masih sangat tergantung pada ‘selera’ mereka  sehingga banyak hal yang seharusnya dapat dilakukan bersama Asosiasi Petani namun tidak terlaksana karena kekurangan dana. (lagi…)

November 14, 2011 at 12:11 pm 1 komentar

Pengalaman YSLPP dalam menerapkan program RAeD di Kabupaten Sumbawa

Latar belakang.
YSLPP bekerja sama dengan CRS Indonesia sejak 1994-1995 untuk melaksanakan pilot proyek program Pertanian Lahan Kering, dan pada tahun 1998-1999 dilanjutkan kembali dengan pilot proyek untuk program Pertanian Berkelanjutan. Pada tahun 2000, YSLPP memulai program Pertanian berkelanjutan yang lebih menitik beratkan pada aspek teknis budidaya untuk meningkatkan hasil pertanian/produksi. Namun dalam perjalanan program, dijumpai adanya kendala ditingkat petani dalam memasarkan hasil pertaniannya secara individual, terutama menyangkut posisi tawar petani yang rendah untuk mendapatkan harga yang layak, penipuan dalam menimbang, mahalnya biaya pengangkutan menuju pasar , serta tidak terkontrolnya mutu produksi.
Sehingga setelah melalui refleksi bersama, dirasakan adanya kebutuhan akan tambahan layanan berupa pendampingan pada petani untuk mengakses pasar secara kolektip.
Pada tahun ke-empat program (Oktober 2003) CRS bersama mitra memulai program pemasaran bersama . (lagi…)

Juli 7, 2009 at 12:22 pm Tinggalkan Komentar

SMART + SKILL + SIKAP + SPIRIT = SUKSES (PETANI)

Berbagai hal yang telah dilakukan dalam rangka mengentaskan kemiskinan di kalangan Pemerintah,  Akademisi,  Pengusaha, penggiat NGO dll, termasuk salah satunya adalah bagaimana mendorong petani mampu mengakses pasar.

 

Kita telah mengetahui, sejak kecil paradigma petani kita kebanyakan dibentuk dalam pola subsisten dimana kebanyakan menganggap bertani adalah panggilan hidup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri,  baru kemudian sisanya dijual;  atau bisa pula karena keterpaksaan akibat  tiada pilihan profesi lainnya. Petani kebanyakan melakukan budidaya  berdasar pada ‘kebiasan turun temurun’ yang diwarisi dari orangtuanya baik dalam hal pilihan jenis komoditi yang ditanam, pilihan teknologi dll. Kebanyakan petani menjalankan usaha tani hanya berdasar naluri alamiah , dan kebanyakan masih belum berperilaku sebagai seorang wirausaha/enterpreneur. (lagi…)

Mei 24, 2009 at 1:18 pm 4 komentar

KISAH PANJANG MENEMBUS PASAR SURABAYA

I. Latar Belakang

Keberhasilan petani meningkatkan produksi tidak membuat wajah petani menjadi cerah, apalagi terjadi gagal panen petani hanya bisa menghela napas panjang. Persoalan demi persoaalan muncul yang tak pernah dapat terselesaikan dengan tuntas. Salah satu penyebab kemurungan wajah petani adalah harga produk petani yang tidak sesuai dengan biaya produksi yang telah mereka keluarkan. Secara turun temurun, produk yang dihasilkan dipasarkan secara sendiri-sendiri dengan prinsip yang penting cepat laku. Issu masalah pemasaran produk petani semakin mencuat dipermukaan ketika Program Pertanian Berkelanjutan mampu meningkatkan produksi, baik tanaman semusim maupun tanaman tahunan. Namun disisi lain ketika produksi meningkat, harga produk petani menurun.

Dari hasil penjajakan di lapangan dan cerita singkat dari beberapa petani yang ada di wilayah dampingan YSLPP, tergambar jelas bahwa persoalan utama dalam pemasaran produk pertanian adalah pada akses pasar ( yaitu peluang dan informasi pasar) dan mata rantai pemasaran. Semakin jauh dan panjang mata rantai pemasaran, semakin jauh harapan petani untuk mendapatkan harga yang layak, karena setiap simpul rantai akan mencari laba.

(lagi…)

Oktober 22, 2008 at 4:34 am Tinggalkan Komentar


Kategori

 

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tamu Adikarsa

  • 14,738 pengunjung
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.