Posts filed under ‘Sosial NTT (Nikmat Tiada Tara)’

Potensi sumber daya dan keindahan alam P. FLORES NTT

Emas HIJAU vs Tambang EMAS di NTT

Potensi emas hijau sering terlupakan
Karena tidak mampu memberi fee

Beda dengan usaha pertambangan
Emas hijau spt Mahoni, Jati, Kelapa,
Mete, Aren, Asam, Cengkeh, Panili dll
Para petani dapat membibitkan sendiri

Kalau sepanjang jalan (kampung, desa dll), bukti gundul
ditanami mahoni semua, berapa dana yang dihasilkan petani ?

Kalau bukit tandus di NTT ditanami asam semua
Berapa dana yang diperoleh petani (milyaran rupiah) ?

Foto

Foto

 ASAM vs TAMBANG


Salah satu potensi yang ada di NTT yakni ASAM
Membuat petani tersenyum (tidak lagi berwajah masam)
Berkontribusi cukup baik untuk pendapatan petani
Sayangnya asam masih belum banyak dibudidayakan
Padahal sangat membantu kelestarian lingkungan
Di-bebatuan-pun, asam dapat tumbuh dan berbuah
Dan mampu menembus serta membelahnya
Dapat panen berkelanjutan puluhan tahun
Beda dengan tambang, tidak akan pernah bekelanjutan

Foto

Foto

Salah satu pantai di Flores

 Perkampungan rumah panggung nelayan di Wuring, Maumere, Flores, NTT (diambil dari Wailiti Beach, Maumere) (4 foto)

Foto

Foto

Juni 9, 2013 at 2:41 am Tinggalkan komentar

Kenangan mengunjungi Desa Adat Boti di Kab Timor Tengah Selatan (TTS) NTT

Kembali mengingat perjalanan hidup, pada 2009 tak terasa hampir satu tahun sudah aku berada di Kab TTS dalam upaya melanjutkan kehidupan berkecimpung di permasalahan sosial melalui wadah salah satu NGO yang focus pada permasalahan anak, khususnya dalam pemenuhan hak anak di Kab TTS, mulai dari mengurangi kebiasaan bullying di sekolah, mengurangi kebiasaan lama yang sering dianggap bukan masalah yakni kekerasan terhadap anak oleh orang tua maupun guru atas nama pendisiplinan dan mendidik anak, meningkatkan pemahaman akan undang-undang perlindungan anak (UUPA) terhadap para-pihak, peningkatan kualitas hidup anak melalui cara hidup sehat, pemenuhan asupan gizi yang cukup sehingga tidak terjadi malnutrisi, pertumbuhan anak yang harus dioptimalkan dalam masa emas (2 tahun) dll.

Kota Soe yang berhawa sejuk namun kadang dinginnya sampai menusuk tulang, memiliki panorama yang indah ketika kita melakukan perjalanan menuju kota Kapan, demikian pula pesona Gunung Mutis yang tidak asing lagi dan harumnya kayu cendana (haumeni) yang kini mendekati kepunahan merupakan kenangan indah tak terlupakan bagaimana kebesaran Tuhan selalu ditunjukkan melalui keindahan alam dan kemurahanNYA dalam penyediaan air, udara yang kita hirup dan solidaritas sebagai sesama yang saling membantu. Belum lagi banyak teman teman dari desa dampingan yang menjadi  mitra dalam mewujudkan impian bersama Kab TTS sebagai kabupaten layak/ramah  anak dimana anak anak dapat tumbuh menjadi cerdas, ceria dan terpenuhi haknya, yang diharapkan kedepan menjadi pemimpin negeri yang tidak cacat rohani, mau mengabdi penuh ketulusan bukan hanya retorika dan tidak memperkaya diri melalui jalan yang salah dengan mengorbankan rakyat yang dilayaninya. Pemimpin memang harus dibentuk sejak usia dini masa kanak kanak sehingga tumbuh menjadi manusia yang utuh, bermartabat dan manusiawi.

Ketika sebelum mengakhiri tugas, ada waktu untuk berkelana menuju sebuah daerah yang dikenal dengan Desa Adat Boti. Menyusuri jalanan aspal yang dilanjut dengan jalan tanah, sampailah pada sebuah pintu gerbang yang menunjukkan telah sampai di Desa Adat Boti. Memasuki pelataran sudah terasa nauansa yang lain dengan ketenangan yang menjurus ke kesunyian, saya bersama teman diterima oleh Raja Boti yang dengan penuh keramahan yang tulus dan juga suguhan minum dan makanan kecil yang diproduksi sendiri berupa keripik pisang yang terasa enak, kemudian kami meminta ijin untuk berkeliling ke seputaran komplek Desa Adat Boti. Melihat peradaban yang diyakini bersahabat dengan alam, maka di komplek ini tidak ada riuh suara radio, tv dan juga listrik. Kesederhanaan merupakan roh kehidupan, juga ketulusan dan persahabatan dengan alam menjadi bagian keseharian mereka. Anak anak yang memintal benang dari kapas, kemudian dilanjut dengan menenun, maka jadilah sebuah produk kain tenun tais yang selain indah juga bernuansa d tradisional dan eksotik.

Meski hanya sebentar berada di Desa Adat Boti, namun sangat menyentuh kalbu dan memberikan kenangan manis yang tak terlupakan. Kita kembali diajak untuk merefleksi diri hakekat kehidupan dan menjunjung nilai kejujuran, kesederhanaan, dan bersahabat dengan alam, jauh dari rasa tamak, serakah, iri hati dan dengki. Masih banyak yang dapat diceriterakan, namun keterbatasan kata tidak mampu menggambarkan kondisi yang sesungguhnya apabila kita tidak mengunjungi sendiri ke Desa Adat Boti.

Mei 2, 2013 at 7:13 am Tinggalkan komentar

NTT, miskin atau dimiskinkan ?

Nusa Tenggara Timur (NTT) telah sejak dari jaman penjajahan Belanda sampai jaman reformasi saat ini ( dialam kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia) masih tetap saja mengalami kemiskinan. Hal ini ditunjukkan oleh data statistik nasional yang memasukkan NTT sebagai propinsi termiskin kedua setelah Papua. Bahkan Kabupaten TTS berdasarkan data tahun 1998 ditetapkan menjadi kabupaten paling miskin di Indonesia . Demikian pula dari 14 kabupaten termiskin, 10 kabupaten diantaranya berada dalam wilayah administrasi Provinsi NTT. Ditinjau dari aspek keuangan, selama lima tahun berturut-turut provinsi ini menjadi provinsi termiskin di Indonesia berdasarkan total kegiatan ekonomi per kapita (PDRB per kapita). Menurut Dr. Deno Kamelus keadaan penduduk miskin NTT pada Juli 1999 tercatat 567.591 KK, dan jika setiap KK terdiri dari lima orang, maka jumlah penduduk miskin di NTT sekitar 2,83 juta jiwa atau 78,2 persen dari 3,62 juta jiwa penduduk NTT. Di bidang pendidikan ternyata masih menurut Kamelus, NTT terbilang miskin pendidikan, yang dapat dilihat dari 81,04 % penduduk NTT hanya berpendidikkan SD, bahkan tak tamat, 8,67 % berpendidikan SLTP, 8,64 % pendidikan SLTA dan hanya 1,65 % menamatkan pendidikan di perguruan tinggi (Kompas, 12/3/2001). Inilah sebagian potret buram wajah kita yang seharusnya membuat kita sebagai warga NTT tergugah untuk menggugat kemiskinan yang ada dan mencarikan solusi secara bersama-sama. Keprihatinan rakyat adalah keprihatinan anggota dewan terhormat (DPRD), para eksekutip, para penegak hukum, kaum agamawan nurani , intelektual kritis, LSM sejati , pers idealis, seniman rakyat, dan semua pihak yang peduli akan arti penderitaan hidup dalam gelimang kemiskinan.

Lingkaran setan kemiskinan

Ketika kita membicarakan kemiskinan, kita sering disibukkan dengan mencari arti dan definisi dari kata miskin itu sendiri. Di era pelaksanaan program IDT kita telah mengetahui bersama betapa repotnya pemerintah pusat maupun daerah memasukkan kriteria sebuah desa miskin. Demikian pula dengan BKKBN telah mencoba merumuskan kriteria miskin dan tidak miskin yang terbagi menjadi kelompok pra sejahtera, sejahtera 1, sejahtera 2, sejahtera 3 dan sejahtera 3 plus.

Menurut dokumen MASRI (Majelis Antar Serikat Religius Indonesia) tahun 1984 dilukiskan secara cukup luas apa yang dimaksud orang miskin dan kecil yakni antara lain orang yang tak berdaya karena mengalami aneka macam pemiskinan ….. yang membuat semakin banyak orang hidup semakin tidak manusiawi dan tidak menggambarkan bahwa dia adalah citra Allah yang bermartabat sebagai manusia (no 6) dan pada umumnya mereka hidup dibawah taraf kewajaran manusia (no 7) (Kemiskinan dan Pembebasan, hal 98).

Kemiskinan menjadi sebuah fenomena keseharian yang akrab dengan kehidupan rakyat kecil yang mencoba untuk terus bertahan dan mempertahankan sebuah kehidupan yang harus dilakoninya. Miskin itu sendiri dapat dalam bentuk jasmani maupun rohani. Hidup dalam kemiskinan sebenarnya tidak diharapkan dan tidak disukai setiap manusia karena identik dengan kehinaan, hidup dalam suasana tanpa ada pilihan dan penuh permasalahan. Mereka, kaum niskin selalu mencoba keluar dari lingkaran kemiskinan dan mencari dimana sebenarnya setannya berada ? Mereka, rakyat kecil meskipun hidup serba kekurangan dan terhisap secara sistematis oleh sebuah sistem yang mendunia yang kita kenal dengan kapitalisme, namun tetap berusaha dengan segala daya dan kemampuan yang dimiliki untuk tidak terus berkubang didalam lumpur kemiskinan. Meskipun prasarana dan sarana dasar untuk sebuah kehidupan yang layak belum terpenuhi, namun mereka tidak merengek seperti para pegawai negeri, para karyawan swasta maupun buruh yang meminta gajinya dinaikkan. Siapa yang peduli dengan besarnya pendapatan rakyat kecil ? Kalaupun rakyat kecil merasa pendapatannya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan fisik agar “ dapat bertahan dari kematian”, kepada siapa rakyat kecil yang miskin ini akan mengadu ? Memang kalau kita kembali pada UUD 45 disitu tertuang dalam pasal 34 yang berbunyi ‘Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara’, namun dalam realisasinya masih jauh dari kenyataan. Kemiskinan seolah –olah menjadi begitu akrab dalam kehidupan sebagian warga NTT sehingga sudah tidak lagi dirasakan sebagai sebuah masalah, karena pertunjukan sebuah lakon kehidupan harus terus berjalan ke depan (show must go on). Kehidupan tidak berjalan mundur, dan meratapi kemiskinan adalah aib bagi rakyat kecil. Dalam penderitaannya, mereka masih memegang nilai-nilai luhur warisan nenek moyang seperti kejujuran, tidak rakus, tidak merusak alam, solider dengan sesama dll. Jika demikian keadaannya, siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab terhadap adanya kemiskinan di NTT ? Atau kalau mau ditelusuri lebih jauh, siapa sebenarnya yang menjadi setan yang sesungguhnya dalam sebuah lingkaran kemiskinan?

Proses pemiskinan

Kemiskinan adalah akibat dari sebuah proses panjang yang terkait antara pengelolaan ketersediaan SDA yang mampu menjamin daya dukung terhadap manusia yang mendiami, kemampuan SDM dalam menyiasati hidup baik dalam hal budaya, pola pikir, ketrampilan teknis yang dimiliki (teknologi) maupun keterkaitannya dengan daerah lain yang saling bergantung (interdependensi). Kemiskinan dapat terjadi akibat rakyat tak berdaya dalam menghadapi berbagai macam proses pemiskinan yang disebabkan adanya ketidakadilan dalam berbagai aspek, baik sosial, ekonomi, budaya maupun politis.

Namun sampai saat ini masih banyak dari kita yang menganggap kemiskinan adalah akibat kesalahan orang miskin itu sendiri yang malas, suka judi, mabuk , tidak mau maju, tidak jujur/suka menipu dll. Memang didalam masyarakat masih dijumpai sebagain kecil kelompok rakyat miskin yang mempunyai sifat demikian, namun kita juga tidak memungkiri dan menutup mata adanya sebagian besar kaum miskin yang ada disekitar kita adalah para pekerja keras, ulet namun mereka tetap saja terpinggirkan menjadi kaum marginal/pinggiran yang tetap miskin.. Kita juga dapat melihat kehidupan petani kecil yang telah bersusah payah mengolah lahan untuk kemudian setelah panen dijual ke pasar. Mereka berangkat pagi hari menuju pasar sering hanya berjalan kaki dikegelapan pagi . Kemiskinan pedagang kaki lima dan petani kecil ini jelas tidak dapat ditimpakan kesalahannya pada para pedagang maupun petani itu sendiri, melainkan karena struktur ekonomi makro dan kebijakannya yang tidak memihak rakyat kecil yang miskin.seperti tidak disediakannya sarana yang memadai untuk tempat berdagang yang strategis bagi pedagang kecil, rendahnya Nilai Tukar Hasil Pertanian yang tidak sebanding dengan harga kebutuhan sehari-hari (dari hasil industri seperti sabun , minyak kelapa dll). Jika pegawai negeri maupun karyawan/ buruh swasta masih ada penyesuaian gaji terhadap inflasi, maka para petani ini tidak ada yang menyuarakan ketika pendapatannya tak mencukupi akibat harga jual hasil panennya sangat rendah, sementara harga sembako semakin melangit.

Proses pemiskinan yang lebih jelas terlihat dalam sebuah perkebunan maupun lingkungan kawasan industri. Upah buruh yang sangat rendah dengan jaminan/tunjangan kesehatan, asuransi maupun hari tua yang tidak memadai memaksa buruh terus hidup dalam kemiskinan, meskipun mereka bekerja keras dengan lembur dsb.

Kepemilikan asset/modal yang tidak terdistribusi dengan baik, seperti lahan yang dikuasai oleh tuan-tuan tanah di desa maupun petani berdasi diperkotaan , penguasaan HPH yang berlebihan oleh para konglomerat penipu, potensi tambang yang tidak dikelola oleh rakyat, teknologi tinggi yang hanya dikuasai oleh sekelopok elit pengusaha, ketidak adilan dalam pengalokasian dan penyaluran kredit untuk para pengusaha dibanding untuk rakyat /petani kecil dll merupakan faktor yang menyebabkan rakyat semakin miskin dalam kemiskinannya.

Kurang tersedianya pelayanan yang baik kepada publik (rakyat) oleh pemerintah daerah sejak jaman ORLA sampai saat ini telah ikut pula menyebabkan semakin derasnya proses pemiskinan yang dialami rakyat NTT. Akuntabilitas yang rendah kepada publik (rakyat) serta kurangnya profesionalisme dari aparat pemda, karyawan swasta, LSM dll dalam hal kinerja dan hasilnya , serta ketidakberdayaan rakyat dalam mengakses dan mengontrol kebijakan yang diambil DPRD bersama Pemda (yang sangat berpengaruh dalam kehidupannya), telah menyebabkan pelayanan yang diberikan aparat dinas-dinas yang terkait dengan usaha pemakmuran rakyat maupun pelayanan dari pihak swasta/LSM menjadi tidak signifikan dalam merubah nasib rakyat miskin. Kurangnya sarana dasar yang memadai untuk hidup layak, serta menunjang kegiatan ekonomi pedesaan seperti jalan beraspal/bersemen, ketiadaan sarana komunikasi, listrik, trasportasi yang murah (baik laut maupun darat) telah ikut membuat kemiskinan di desa terus melingkar-lingkar tak bertepi. Kebijakan yang merugikan rakyat namun tetap dilanjutkan seperti kasus pohon cendana di jaman ORBA, HTI, sentralisasi pembangunan sarana penunjang ekonomi yang hanya di pusat kota propinsi, kabupaten, maupun kecamatan, mentalitas KKN, pendekatan top down dan proyek, urbanisasi kaum muda ke kota , rendahnya nilai tukar hasil komoditi perkebunan seperti kemiri, jambu mete,dll telah ikut menyebabkan semakin terpuruknya kehidupan kaum petani miskin di pedesaan NTT.

Akar kemiskinan

Menjadi pertanyaan menarik adalah apakah NTT memang diciptakan untuk miskin atau ada sesuatu yang salah dalam mengelola pembangunan sehingga kita mengalami kemiskinan yang melingkar-lingkar ? Apakah kemiskinan yang dialami oleh saudara-saudara kita, benar karena SDA yang kurang mendukung terciptanya kemakmuran ? Atau kemiskinan itu sendiri terkait dengan budaya, adat –istiadat , pola pikir, etos kerja, ketrampilan yang dimiliki atau dengan kata lain karena keterbatasan kemampuan SDM nya ? Atau kemiskinan itu sendiri adalah hasil dari sebuah kebijakan pemerintah dimasa lalu yang sentralistik, penuh KKN dan kebijakan ekonominya secara makro tidak memihak pada rakyat kebanyakan ? Atau para intelektual, pegawai negeri, kaum agamawan, seniman dll menganggap bahwa kemiskinan memang sudah selayaknya terjadi dan tidak mungkin diubah menjadi sebuah kemakmuran ? Melihat dari terjadinya proses pemiskinan yang telah diuraikan sebelumnya, terlihat apa saja sebenarnya yang menjadi akar dari penyebab kemiskinan. Kita perlu menggugat keadaan ini untuk diubah menjadi kehidupan yang penuh dengan kemakmuran yang adil dan mensejahterakan rakyat NTT.

Solusi keluar dari kemiskinan

Memang tidak mudah mencari solusi untuk keluar dari permasalahan kemiskinan. Sudah begitu banyak para pakar / kaum intelektual dari berbagai disiplin ilmu di NTT maupun dari berbagai pihak seperti GEREJA, PEMDA, LSM, PERS dll berusaha menyelesaikan masalah kemiskinan di NTT melalui berbagai metode dan pendekatan.

Ada yang menghendaki kemiskinan di NTT diatasi lewat ; a) kebijakan pengembangan ekonomi rakyat melalui pembangunan pedesaan dalam bidang agro industri, peternakan, kelautan dan pariwisata, b)pencerdasan rakyat melalui pendidikan formal (SD, SLTP.SLTA, PT) dan non formal (pelatihan teknis pertanian, peternakan, berbisnis dll), c) pendidikan politik rakyat, otonomisasi, penegakan hukum (menghukum pelaku KKN, mengadakan land reform sesuai UU Agraria, penciptaan UU, Perda yang memihak rakyat dll), d) peningkatan profesionalisme para aparat pemda dalam melayani kepentingan publik (penempatan pejabat berdasar berprestasi, bukan berdasar primordialisme), e) melalui himbauan moral (seruan untuk pola hidup sederhana dll), pengumpulan dana masyarakat (melalui pola pendidikan GNOTA, pengumpulan dana lewat media massa dll), f) penyaluran bantuan untuk mengatasi kemiskinan (program BIMAS/ INMAS/ INSUS/ SUPRA INSUS, IDT, P4K, Kukesra/ Tukesra, P3DT, PPK, NTAADP, FIDRA, dll), g) khotbah keagamaan yang meminta umatnya untuk solider terhadap sesamanya yang miskin sebagai wujud kasih (derma, aksi puasa pembangunan/APP, persepuluhan , zakat dll) maupun usulan lainnya.

Menjadi pertanyaan yang menarik namun sangat retoris bagi kita adalah mengapa kemiskinan masih belum tergantikan dengan kemakmuran di NTT ? Bagaimana penanganan kemiskinan dapat menjadi komitmen kita semua warga NTT tanpa kecuali, untuk secara simultan sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya masing-masing menyatukan diri secara sinergis dalam sebuah tekad untuk bersama-sama dan bekerja sama mengurangi kemiskinan NTT dalam jangka waktu yang kita tentukan dan sepakati bersama. Apakah kita sebagai bagian dari kaum beriman akan tega membiarkan kemiskinan melilit sebagian besar saudara kita di NTT? Mungkin sebagian kecil dari kita dapat bersyukur karena sudah terlepas dari kemiskinan dan hidup dalam gelimang harta dan kemewahan, namun apakah ungkapan syukur dalam sebuah doa/ sembahyang hanya cukup sebatas mensyukuri apa yang sudah kita peroleh tanpa berbuat sesuatu meskipun sangat kecil bagi sesama kita yang kebetulan masih belum beruntung keluar dari kemiskinannya ? Mungkin kita dapat secara bersama-sama membuat sebuah forum yang peduli akan masalah kemiskinan yang dikoordinir oleh kaum agamawan sebagai sebuah wadah untuk dialog iman, dialog karya dan dialog kemanusiaan, karena kaum agamawan pasti lebih sangat peduli terhadap kemiskinan yang dihadapi umatnya. Bukankah keberadaan kita semua yang bekerja di NTT adalah untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya rakyat NTT ? Atau kita saat ini bekerja karena hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup dan memikirkan kepentingan kita saja ? Mari kita suarakan dan kita perjuangkan bersama program peduli untuk kepentingan kaum miskin di NTT supaya pemerdekaan Indonesia lepas dari penjajahan Belanda memberi arti tersendiri bagi warga yang kebetulan masih hidup dalam kemiskinan. Selamat melakukan refeleksi dan pertobatan sejati yang dapat ditunjukkan dengan semakin berkurangnya jumlah rakyat miskin di NTT. Semoga.

September 10, 2008 at 2:21 am Tinggalkan komentar

Quo Vadis Kota KUPANG sebagai Kota KASIH ?

(Beberapa catatan untuk Walikota yang dipilih langsung oleh rakyat)

Dalam perkembangan untuk mewujudkan sebuah “kemajuan”, Kota-Kupang seperti halnya ibu kota propinsi di seluruh Indonesia terus berbenah diri untuk layak disebut sebagai kota metropolitan atau kota yang modern alias maju.

Berbagai cara dan upaya ditempuh untuk memperlihatkan wajah gemerlap dan molek sebuah kota yang modern seperti halnya pembangunan beberapa monumen seperti patung Sonbai, Tirosa dibundaran PU, patung KB di Oebobo, patung perdamaian yang dilambangkan dengan burung merpati di Penfui dsb Tak pelak lagi ketika Kota Kupang terus bertumbuh menuju kota modern , sisi gelap sebuah realita tentang jorok dan kumuhnya kota coba ditutup tutupi dengan berbagai cara agar yang terlihat cuma sisi yang menawan dan gemerlap.
Mari kita tengok pengembangan mall seperti Flobamora yang menawarkan sejuta keindahan dan kemudahan dalam berbelanja, bank-bank papan atas yang memberi kemudahan layanan 24 jam, apotek yang buka selama 24 jam, dan berbagai kemudahan lainnya.

Tata ruang kota yang terabaikan

Sebagai kota yang sedang tumbuh, sudah seharusnya dan selayaknya apabila Pemkot Kupang berupaya untuk mensosialisasikan tata ruang kota melalui pemasangan peta rencana tata kota ditempat strategis seperti mall Flobamora, Kupang lama dll yang mudah diakses oleh warga kota sehingga dapat terhindar dari salah tata letak dan fungsinya dan ada kontrol dari warganya apabila ada penyimpangan peruntukan wilayah. Memang telah ada peta tersebut namun sayangnya ada yang dipasang di lokasi pariwisata Lasiana di dekat bak sampah dan banyak sampah berserakan disekitar peta tersebut sehingga membuat warga enggan membacanya.

Sudah sewajarnya jika sejak dini Pemkot Kupang sebagai fasilitator mensosialisasikan terus menerus area mana yang direncanakan untuk perkantoran, area untuk bisnis, area terbuka untuk publik, area terbuka hijau dll. Yang dirasakan selama ini begitu cepat perkembangan kota namun kelihatannya masih belum ditata dengan mempertimbangkan keberlanjutan kota ke depan. Contoh nyata, dimana-mana tumbuh dan dibangun ruko yang kadang justru berada di lokasi yang dapat menyebabkan kemacetan lalu lintas.

Terlihat ketika hujan besar di musim hujan, maka beberapa ruas jalan kota yang telah beraspal hotmix yang mahal terendam banjir dan sebagian sampah dari saluran pembuangan meluber ke jalan menambah jorok wajah kota.

Yang cukup urgen, kalau tidak boleh dikatakan terlambat adalah perlu dibangunnya hutan kota sebagai ajang rekreasi warga yang murah meriah bagi warga kota namun juga dapat meningkatkan tali silaturahmi dan kedekatan antar warga tanpa mengabaikan sisi keindahan kota.

Penggusuran yang tak manusiawi

Pembelajaran yang bisa dipetik dari perkembangan kota besar lainnya di Indonesia terutama di Jakarta dan Surabaya adalah bagaimana Satpol PP telah digunakan untuk menjadi alat kekerasan dalam menegakkan Perda tanpa solusi dan menimbulkan sakit hati dan kemiskinan baru bagi warga kecil yang tergusur.

Kita dapat menyaksikan ditayangan TV bagaimana kekerasan dipertontonkan layaknya negara yang tidak mengenal perikemanusiaan. Ibu-ibu pedagang kaki lima menjerit, menangis dan histeris sambil memeluk bayi digendongannya ketika berhadapan dengan penggusuran paksa oleh pasukan Satpol PP yang bertindak bagaikan robot yang tak berperasaan seolah tak ada solusi selain “kalah-menang” .

Tayangan tentang kios kaki lima yang diobrak abrik, pedagang yang berhamburan berlarian menyelamatkan diri seolah-olah bagaikan tikus yang dikejar kucing, rumah-rumah kumuh yang dirobohkan dan dibakar tanpa mau tahu para penghuninya mau tinggal dimana ? Para pedagang kaki lima yang telah memiliki jiwa bisnis namun tidak punya cukup modal untuk membeli tempat berjualan yang strategis di kota justru diperlakukan selayaknya para kriminal, padahal seharusnya Pemda bangga karena mereka tidak perlu mengemis menjadi pegawai negeri atau mengharapkan bantuan RASKIN ataupun BLT.

Pembelajaran yang perlu dilakukan adalah belajar dari kota Yogyakarta khususnya di sepajang Malioboro dimana pedagang kaki lima tetap diperbolehkan menggelar barang dagangannya tanpa merusak pemandangan kota , tetap mampu menjaga kebersihan dan tidak mengganggu toko-toko lainnya. Mereka mendirikan paguyuban dan koperasi PKL (Pedagang Kaki Lima) yang dijadikan ajang bagi anggotanya untuk menjaga kebersihan, melindungi diri dari ancaman pemerasan oleh preman dan saling menolong satu dengan lainnya.

Gagasan almarhum Romo Mangun sangat menarik untuk dipelajari mengenai penataan pedagang kaki lima terutama makanan di kampus biru UGM Bulaksumur dimana mereka dibantu dibuatkan tempat berjualan yang rapi, artistik dan dijaga kebersihannya oleh para pedagang itu sendiri sehingga tidak mengurangi keindahan kampus, namun mahasiswa dapat memperoleh makanan dengan mudah dan murah sesuai kemampuan kocek mereka.

Artinya perlu dipikirkan sejak awal oleh Pemkot Kupang pengalokasian yang cukup untuk ruang./tempat jualan dilokasi yang strategis bagi para pedagang kecil /kaki lima namun mereka perlu diedukasi secara terus menerus untuk dapat berkontribusi menjaga keindahan dan kebersihan kota.

Sebagai contoh tempat penjualan jagung bakar dan kelapa muda disepanjang jalan di kota Kupang dapat ditata dengan menyediakan tenda yang dihias secara artistik seturut budaya Flobamora dan diatur tempat parkirnya supaya tidak menggangu lalu lintas. Juga para pedagang diajak untuk menata sekitarnya dengan tanaman bunga dan selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya.

Kebijakan Pemkot Kupang kedepan sebaiknya lebih memberi ruang dan perkembangan pada pusat perbelanjaan tradisional namun modern dalam pengelolaannya. Kita dapat mencontoh Pemkab Bantul yang salah satu kebijakan yang diambil tidak memperbolehkan berdirinya mall/hypermarket melainkan Pemkab Bantul menfasilitasi dengan membangun pasar tradisional berstandar mall/ supermarket.

Memang tidak mudah, namun kalau mau sebenarnya Pasar Kasih Naikoten , Pasar Oebobo, Pasar Oeba bisa disulap menjadi pasar modern yang tidak becek, nyaman dan asri.

Demikian pula pasar ikan di Pasir Panjang dapat ditingkatkan layanannya dengan misalnya Pemkot menyediakan pasar dengan pendingin untuk ikan dan ditata secara asri sehingga dapat menambah lokasi masyarakat untuk mendapatkan makanan murah meriah namun bergizi, seperti halnya Pantai Losari di Makasar yang menjadi tempat rendevouz bagi warga kota.

Polusi yang kian “nendang”

Kota Kupang terasa menyesakkan apabila anda keluar rumah sekitar jam 6.30 pagi dimana polusi dari gas buangan motor dan mobil terasa sangat meyesakkan dada. Apalagi kalau anda berada dibelakang motor bermesin 2 tak dengan knalpot keatas yang menyemprotkan asapnya pas ke hidung kita, juga dibelakang mobil-mobil keluaran lama yang kadang tidak sempurna pembakarannya.

Belum lagi kebiasaan warga yang membakar sampah rumah tangga akan menambah emisi yang dibuang keudara yang berkontribusi pada meningkatnya pemanasan global.

Kita saat ini dapat melihat bagaimana sampah dibuang sembarang, misalnya dibeberapa tempat diseputaran kawasan Walikota Baru , karena belum ada pengelolaan sampah ditingkat RT/RW dibeberapa tempat, tidak ada tempat pembuangan sampah resmi yang tersedia dan tak ada mobil dari Dinas Kebersihan yang secara rutin mengangkut sampah warga.

Masih belum adanya pengelolaan sampah yang terdesentralisasi dan selama ini masih terpusat pembuangannya di Bolok telah menambah persoalan kedepan karena sampah yang dihasilkan warga dari tahun ke tahun akan semakin menumpuk, sehingga kalau kita mau belajar dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bantar Gebang yang penuh masalah, maka sudah sewajarnya Pemkot Kupang bekerja sama dengan para Akademisi mencari solusi bijak cara pengelolaan sampah (bukan pembuangan sampah) yang ramah lingkungan.

Edukasi terhadap warga sebagai produsen sampah perlu dilakukan dimana sampah sejak dari rumah tangga sudah mulai dipilah-pilah menjadi sampah yang dapat dikomposkan, sampah yang dapat didaur ulang dan sampah beracun.berbahaya. Melalui RT./RW Pemkot bisa menggalakkan pembuatan kompos dari sampah organik dengan bantuan alat dekomposer yang murah dan pemakaian reagent berupa bakteri pembusuk.

Selain itu, untuk mengurangi polusi, Pemkot bisa menyediakan sarana jalan khusus sepeda maupun moda angkutan tak bermesin lainnya seperti halnya yang ada jalan di Malioboro Yogyakarta sehingga banyak warga kota beralih bersepeda ria karena selain mengurangi polusi juga meningkatkan kesehatan.

Pengelolaan kawasan terbuka hijau sebagai paru-paru kota perlu ditingkatkan sehingga tercipta hutan kota yang dapat mengurangi polusi. Warga perlu dilibatkan dalam menghijaukan halaman rumah mereka dengan menanam pohon dan bunga sehingga menjadi lebih asri mengingat terbatasnya ruang terbuka hijau. Kantor-kantor pemerintah harus memberi contoh tentang bagaimana mengelola kantor yang ramah lingkungan.

Penghijauan dengan tanaman asli Nusa Tenggara Timur seperti Cendana, Gewang, Lontar dll perlu terus digalakkan. Mencontoh lokasi didekat bandara Ngurah Rai, tanaman kaktus besarpun juga dapat menambah hijaunya kota Kupang selain tahan terhadap kekeringan.

Solidaritas yang memudar

Tidak cukup tersedianya ruang publik sebagai tempat rekreasi, selain juga belum adanya panggung hiburan rakyat atau taman budaya serta gaya hidup orang kota yang cenderung individualis telah menyebabkan longgarnya kekerabatan antar tetangga, kecuali yang didasari oleh kesamaan suku, asal atau keyakinan. Hal ini jika terus dibiarkan akan mempersubur semangat eksklusif SARA dan kurang mendukung inklusivitas warga yang tumbuh dalam keberagaman. Perlu dipikirkan kegiatan yang dapat mempererat dan mempersatukan warga yang beragam sehingga tidak terjebak dalam kesempitan cara pandang serta mampu meningkatkan dialog antar suku, antar iman dan antar kaya-miskin.
Pola pemukiman yang cenderung berbasis suku perlu dikurangi dan diusahakan keanekaragaman dari SARA sehingga memudahkan warga dalam melakukan komunikasi lintas SARA dan mengurangi kemungkinan konflik berdasar SARA karena telah terbangun pemahaman yang baik dimana meski berbeda tetapi tetap satu kesatuan (Bhineka Tungal Ika) dan justru adanya keberagaman akan mampu memperkaya cara pandang warga kota Kupang dalam hidup keseharian serta tidak lagi terjebak dalam cara berpikir stereotip.

Kaum lemah yang terpinggirkan

Peradaban kota modern sering menyingkirkan para pendatang yang lemah baik dalam hal ketrampilan, modal dan jaringan kerja. Akibatnya mereka terpaksa memilih menjadi pekerja informal seperti berjualan ditepi jalan, menjajakan jasa sebagai pengangkut barang dagangan dipasar-pasar dan tak sedikit yang akhirnya berprofesi sebagai pemulung dan tinggal didaerah kumuh. Mereka sebenarnya sebagai pemulung sangat membantu dalam proses daur ulang, namun yang perlu dipikirkan adalah bagaimana tersedianya perumahan bagi warga kota yang lemah dan miskin sehingga sebagai bagian warga kota mereka tidak semakin dipinggirkan. Anaka-anak jalanan perlu dikelola secara manusiawi sehingga mereka dapat tetap memperoleh pendidikan dan ada rumah singgah bagi mereka.

Apakah tidak sebaiknya Pemkot mulai memperbanyak membangun rumah susun sederhana yang dapat disewa atau dicicil oleh mereka sehingga dapat mendiami tempat tinggal yang layak dan tak perlu terlunta-lunta.

Pemkot sebaiknya juga sudah melengkapi sarana umum untuk para penderita cacat sehingga merekapun dapat menikmati fasilitas publik dengan sebaik-baiknya.

Perlu tersedia Rumah Sakit Jiwa bagi para penderita gangguan jiwa sehingga selain memperoleh layanan medis yang layak untuk proses penyembuhan, juga tidak merepotkan bagi keluarganya.

Biaya hidup yang tinggi

Tingginya biaya hidup di kota dapat menyebabkan tingkat stres yang tinggi yang akan menjadi berbahaya jika mencapai tahap distress atau depresi jiwa. Pemkot perlu sejak dini memberikan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti biaya pendidikan yang murah apalagi gratis minimal sampai SLTP, asuransi kesehatan bagi seluruh warga kota, transportasi yang murah, air bersih yang mudah didapat dan murah serta berbagai kemudahan lainnya.
Pengurusan KTP gratis misalnya, gerakan penanaman sayuran dipot/polibag secara vertikultur (keatas) dll dapat dikenalkan Pemkot Kupang pada warganya.
Pelatihan ketrampuilan hidup dengan biaya murah atau gratis sangat dirasakan membantu bagi warga kota yang kebetulan belum memiliki ketrampilan sehingga mereka dapat memperoleh pendapatan dari ketrampilannya dan tidak perlu melakukan tindakan kriminal.

Pengembangan kota satelit

Kota Kupang perlu didukung dengan pengembangan kota satelit diseputaran Kupang sehingga bebannya dapat terbagi dan kepadatan penduduk dapat terkurangi.
Mungkin perlu dipikirkan pemindahan layanan bisnis di kota satelit sehingga tidak semua warga pelosok perlu datang ke Kupang. Kupang dapat menjadi kota induk bagi kota satelit lainnya dan perlu dikaji secara hati-hati tingkat kepadatan hunian yang dapat ditampung oleh Kota Kupang terkait keterbatasan dalam tersedianya ruang, pasokan air bersih, listrik, kemungkinan banjir dan kekeringan.

Bravo Kuta Kupang menuju kota KASIH yang benar-benar mencerminkan sifat KASIH itu sendiri yang rendah hati, tidak sombong, sabar hati …….dan bebas dari perilaku korupsi sehingga layanan publiknya benar-benar prima .

KUPANG diharapkan benar-benar menjadi cerminan kota yang bernafaskan iman kristiani yang solider dan mengasihi terhadap sesama, toleran terhadap perbedaan, inklusip dan menghargai keberagaman .

Pemkot Kupang diharapkan mampu melayani kebutuhan warga kotanya terutama pada mereka yang lemah, miskin dan terpinggirkan sehingga tidak perlu lagi ada Lazarus-lazarus modern yang mengharapkan jatuhnya remahan roti dari meja si kaya yang menjadi penghuni Kota Kupang..

YBT Suryo Kusumo

tony.suryokusumo@gmail.com

September 10, 2008 at 2:21 am Tinggalkan komentar

Membumikan” tekad NTT untuk keluar dari “ lingkaran kemiskinan.”

Akar permasalahan

Menarik tulisan teman kita, Ermi Ndoen yang berjudul “Google : Kekayaan”Kemiskinan” di NTT “ di blog “Kabar NTT” yang memaparkan secara jelas dan apik betapa besar dan banyaknya “kekayaan intelektual “ dari berbagai bidang profesi dan latar belakang berbeda yang dengan penuh antusias ingin membantu NTT keluar dari kemiskinan.

Berbagai penelitian , rekomendasi, usulan, ide, hasil workshop/seminar, tulisan di- media dll terkait kemiskinan, telah disampaikan kepada pemerintah daerah NTT dan publik melalui berbagai media yang ada, namun pertanyaannya “Kenapa Kemiskinan begitu akrab dan tak mau menjauh dari bumi Flobamora tercinta ?

Kalau dikatakan kita belum tahu akar masalahnya adalah mustahil atau patut dipertanyakan , karena begitu banyak cerdik pandai/ para cendekiawan , para birokrat profesional maupun para praktisi yang dimiliki NTT dan juga lengkapnya data dan informasi yang terkumpul dan tersedia terkait dengan penanggulangan kemiskinan dan yang tak boleh dilupakan betapa besar dana yang telah “digelontorkan” ke NTT untuk penangulangan kemiskinan.

Sesungguhnya kalau mau jujur kita bukannya tidak tahu akar masalah kemiskinan di NTT tetapi sebenarnya yang terjadi adalah “kita tidak mau tahu ” sehingga pendekatan melawan kemiskinan tidak dilakukan secara utuh/ komprehensif, multi sektor, sinergis dan bekerja sama sehingga seorang teman secara berseloroh dan penuh sarkastis mengatakan bahwa “kemiskinandi NTT memang dipelihara” karena ada yang diuntungkan dengan kondisi tersebut..

Kata koordinasi dalam rangka kerja sama sinergis yang sering diucapkan dan didengung-dengungkan dalam keseharian kita hanya menjadi hiasan bibir belaka ketika dikalahkan oleh kepentingan jangka pendek terkait dengan “pendapatan/ pemasukan ’ masing-masing pihak.

Dalam praksis, ternyata tidak mudah untuk melakukan kerja sama para -pihak (stakeholder) yang sinergis ketika yang mendasari kerja sama bukannya sebuah idealisme “bagaimana masyarakat miskin difasilitasi untuk membantu dirinya keluar dari kemiskinan” sehingga angka kemiskinan menurun tajam , tetapi lebih pada “berapa dana/ uang yang bisa saya dapat dari proyek”. Idealisme yang mendasari dan memotivasi tekad untuk “berbuat nyata bagi sesama yang miskin” menjadi barang langka dan mewah dalam kehidupan kita yang gemar memuja “kemewahan semu” dan mengalahkan nilai-nilai moralitas yang mendasari perbuatan keseharian kita.

Mengidentifikasi potensi dan fokus pada solusi

Pendekatan metode Appreciate Inquiry (AI) mendasarkan penyelesaian masalah pada potensi lokal yang ada / dipunyai saat ini dan dimotivasi oleh adanya “dream/impian” yang hendak diwujudkan, Kita sebaiknya mulai meninggalkan kebiasaan analisis mendasarkan pada “pohon masalah” yang membuat kita menjadi semakin fokus pada masalah dan bukannya solusi, tetapi sebaiknya mulai mendasarkan pada “pohon potensi lokal ” untuk membantu mewujudkan kehidupan lebih baik yang kita impikan kedepan . Dengan telah teridentifikasi potensi lokal, kita dapat memulai merancang strategi berbasis potensi lokal untuk mewujudkan “impian masa depan” melalui berbagai langkah pentahapan yang terencana, terukur dan realistik (SMART). Kita tidak lagi terjebak dengan alasan klasik dan klise seperti SDM yang rendah, SDA yang rendah, Curah hujan yang terbatas/sedikit , Lahan yang tidak subur dll, tetapi mari dengan apa yang ada kita mulai dari potensi lokal (SDA dan diri sendiri ) dan tidak perlu menunggu lagi alias sekarang juga.

Terkait dengan pendekatan AI , kami mencoba mengambil cuplikan beberapa alinea dalam tulisan menarik yang berjudul SWOT vs SOAR, oleh AB Susanto dari Managing Partner The Jakarta Consulting Group (yang termuat dalam Harian Bisnis Indonesia pada Kamis, 31 Mei 2007 yang dapat diakses dalam http://appreciativeorganization.wordpress.com/2007/06/08/swot-vs-soar/), dijelaskan bahwa pendekatan AI lebih menitikberatkan pada pengidentifikasian dan pembangunan kekuatan dan peluang ketimbang pada masalah, kelemahan, dan ancaman.. Dijelaskan penekanan pendekatan SOAR (Strengths, Opportunities, Aspirations, Results) terhadap rencana strategis memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan model tradisional.
Analisis SOAR memungkinkan anggota organisasi menciptakan masa depan yang mereka inginkan sendiri dalam keseluruhan proses dengan cara melakukan penyelidikan, imajinasi, inovasi, dan inspirasi. Fokus internal SOAR adalah kekuatan organisasi.
Keuntungan lainnya berkaitan dengan partisipasi. Pada banyak organisasi, perencanaan strategis hanya melibatkan orang-orang pada tingkatan tertinggi serta sekelompok stakeholder. Namun dalam kerangka kerja SOAR, sebanyak mungkin stakeholder dilibatkan, yang didasarkan pada integritas para anggotanya.
Analisis SOAR bagi perencanaan strategis dimulai dengan penyelidikan (inquiry) yang menggunakan pertanyaan positif guna mempelajari nilai-nilai inti, visi, kekuatan, dan peluang potensial. Dalam fase ini, pandangan-pandangan dari setiap anggota organisasi dihargai. Penyelidikan juga dilakukan guna memahami secara utuh nilai-nilai yang dimiliki oleh para anggota organisasi serta hal-hal terbaik yang pernah terjadi di masa lalu. Kemudian anggota organisasi dibawa masuk ke dalam fase imajinasi, memanfaatkan waktu untuk “bermimpi” dan merancang masa depan yang diharapkan. Dalam fase ini, nilai-nilai diperkuat, visi dan misi diciptakan. Sasaran jangka panjang dan alternatif strategis dan rekomendasi diumumkan. Fase ketiga adalah inovasi, yaitu dimulainya perancangan sasaran jangka pendek, rencana taktikal dan fungsional, program, sistem, dan struktur yang terintegrasi untuk mencapai tujuan masa depan yang diharapkan. Guna tercapainya hasil terbaik yang terukur, karyawan harus diberikan inspirasi melalui sistem.pengakuan dan penghargaan.
Salah satu contoh sukses dari pemanfaatan analisis SOAR ini adalah kisah Roadway Express, sebuah perusahaan transportasi yang berpusat di Akron, Ohio (AS), yang pada suatu saat menyelenggarakan sebuah meeting tentang perencanaan strategis di salah satu fasilitas ereka di Winston-Salem. Hampir 300 orang yang terdiri dari pekerja dan pengemudi berkumpul bersama-sama dengan manajemen dan pelanggan serta para stakeholder lain dari wilayah Winston-Salem guna mendiskusikan strategi menjadikan perusahaan sebagai pemimpin dalam industri transportasi (beberapa cuplikan dari tulisan AB Soesanto).

Sebagai gambaran lainnya, apabila kita mau disiplin nasional meningkat, maka kita tidak perlu harus menyalahkan pihak lain atau kita disiplin karena takut pada atasan, melainkan mulai dari diri kita sendiri untuk bertindak disiplin, lalu kita ajari anak kita dengan pemahaman dan keteladanan disiplin kemudian ajak teman maupun pihak lain untuk melakukan hal yang sama. Andai ini semua dilakukan secara terus menerus persisten dan konsisten maka akan tercipta sikap dan kebiasaan di masyarakat yang mulai menghargai kedisiplinan.

Demikian pula dalam pemberantasan korupsi, kita mulai dari diri sendiri untuk berkata dan bertindak jujur (satu kata satu perbuatan) , keluarga kita juga dinafkahi dari sumber pendapatan yang jujur, anak kita melihat keteladanan tentang kejujuran dari hidup keseharian orang tua dan keluarganya , kita menjadi malu apabila mau memberi persembahan kepada “ Tuhan Yang Maha Jujur dan Mengetahui “ yang bersumber dari hasil ketidak-jujuran .

Mungkin banyak pihak lain yang tidak dapat menerima metode/ cara ini dan mengatakan perlunya “penegakan hukum” untuk peningkatan disiplin nasional dan pemberantasan korupsi. Benar, memang diperlukan hal itu, namun kalau kita semua menunggu dan tidak memulai dari diri sendiri , kapan perubahan akan terjadi ?

Demikian pula dalam melawan kemiskinan, maka yang perlu disadari adalah apakah kaum miskin telah menyadari bahwa dirinya memiliki potensi yang dapat digunakan untuk “ harus keluar” dan bukannya “menunggu dikeluarkan” dari kubangan kemiskinan ?

Masih sangat sering kita mendengar apabila dalam masyarakat ditanyakan mengapa tidak mau melakukan “ini itu” dan jawabnya sebagian besar mengatakan “kami tidak punya modal berupa dana/uang”. Kadang secara pribadi merasa heran karena walaupun lokasi masyarakat yang ditanya berjauhan dan berlainan pulau namun jawabannya sama meski tidak ada yang mengajarinya.
Seolah-olah kalau disediakan “dana/uang” semua permasalahan kemiskinan akan beres. Apakah benar demikian ? Mari kita secara jernih menganalisa apakah “uang menjadi segala-galanya” dalam mengatasi kemiskinan ?

Padahal kalau kita mau belajar dari bagaimana kemerdekaan Indonesia terwujud bukan karena kita punya “dana/uang banyak untuk melawan penjajah” karena kita pasti tidak punya dana yang cukup apabila semua geriliyawan republik minta disediakan logistik yang memadai, minta uang rokok dan minta gaji untuk menafkahi keluarga yang ditinggalkan saat berjuang. Yang kita punyai adalah “ impian merdeka untuk bebas dari kesulitan hidup akibat penjajahan”. Kita punya impian untuk “merdeka dalam berbicara, merdeka dalam hal ekonomi (salah satunya keluar dari kemiskinan) , politik, budaya , menghargai HAM dll”. Justu impian untuk keluar dari belenggu penjajah yang menjadikan semangat juang para pejuang yang sangat tinggi dengan memanfaatkan apa yang dipunyai (logistik senjata yang hanya berupa bambu runcing, senjata rampasan dari penjajah, senjata rakitan sendiri , logistik makanan yang hanya berupa umbi-umbian dll). Artinya dari perhitungan nalar yang sehat pasti tidak akan berhasil untuk merdeka , namun dengan semangat juang yang tinggi dan pantang menyerah serta fokus pada mewujudkan impian untuk “merdeka” maka akhirnya kita menjadi bangsa yang merdeka (dari penjajahan) namun sayangnya belum merdeka dari kemiskinan.

Analogi yang sama dapat diterapkan untuk “perang melawan kemiskinan dan pemiskinan ” dimana apabila semua pihak mau bersama-sama berjuang atas dasar impian yang sama yakni “Mensejahterakan Rakyat Indonesia , khususnya bumi Flobamora” sesuai amanat Pembukaan UUD, maka kita semua akan merasa malu apabila kemiskinan masih terus bercokol dan tidak mengalami pengurangan di bumi Flobamora yang menandakan apa yang selama ini dilakukan atas nama pembangunan tidak mengubah banyak wajah NTT alias kontirbusi kita selama ini patut dipertanyakan.
Apa yang sebenarnya yang “masih belum pas “ dan perlu dibenahi dalam perang melawan kemiskinan dan pemiskinan ?.

Berpikir positip & “Asset based thinking”

Semua/ para-pihak dalam perang memerangi kemiskinan harus menyatukan energi positip berupa pikiran yang konstruktif, pengumpulan/penyatuan atau konsolidasi dana, relawan profesional yang mau berbagi dalam ide maupun masukan, dll.

Tidak perlu lagi ada intrik, gosip berbau SARA yang justru meningkatkan pikiran negatip yang menjauhkan dari sinergitas, tidak ada lagi yang mau menjadi korupstor karena kita sadar bahwa salah satu akar penyebab kemiskinan di NTT adalah korupsi berjamaah. Pemuka agama mulai secara selektip menerima dana dari pihak lain dan berani menolaknya apabila terindikasi hasil korupsi atau melalui cara-cara yang melawan nilai kemanusiaan itu sendiri. Semangat Gandhi dengan swadesi- nya harus mulai diterapkan di masyarakat kita dengan mengurangi gaya hidup yang konsumtip, melakukan investasi yang mampu menyerap lapangan kerja dan menghilangkan KKN.

Take action, miracle happen

Untuk terwujudnya impian “mengubah kemiskinan menjadi keberlimpahan” di NTT pasti tidak bisa hanya dengan “berpikir dan berkata saja ” (NATTO = No Action , Think and Talk Only ).
Banyak diantara kita yang “berpikir terus, namun belum sempat bertindak” dan sebagian lagi “Bertindak terus tanpa didasari pemikiran yag kuat “.
Kita membutuhkan “Team kerja perang melawan kemiskinan” yang mampu memadukan “Berpikir dan Bertindak” sehingga berubah/ terwujud menjadi “Keajaiban” NTT yang keberlimpahan alias Nikmat Tiada Tara .

Dalam melakukan aksi “melawan kemiskinan” , maka sudah seharusnya masing-masing dari para-pihak (stake holder) melakukan kerja sama yang sinergis dengan “ duduk bersama dlam posisi yang setara” untuk merumuskan program perang melawan kemiskinan yang didalamnya memuat peran, wewenang dan target yang akan dicapai oleh para-pihak.

Disini peran “Pemerintah” sebagai “penyelenggara negara” menjadi amat penting dalam memimpin perang melawan kemiskinan karena didalamnya melekat “kekuasaan yang berasal dari mandat untuk kepentingan kesejahteraan rakyat” yang mampu membuat regulasi/policy yang memihak kepentingan rakyat banyak, selain kemampuan memperoleh dana yang dihimpun baik melalui pajak , profit BUMN/BUMD , hibah dan bantuan/hutang dari luar negeri dll.
Namun tidak berarti kita mengabaikan peran strategis dari para pemuka agama, tokoh budaya, para jurnalis, para pendidik, para akademisi/ pemikir, para pembisnis/ pengusaha maupun aktivis Ornop/NGO baik lokal maupun internasional dll sebagai “pihak luar” yang mencoba mengurai benang kusut kemiskinan.

Kembali ke perang melawan kemiskinan, dibutuhkan sinergisme dan kebersamaan dalam menghitung amunisi/logistik , strategi yang digunakan, jumlah “prajurit”, teknologi yang digunakan dan tak kalah penting adalah “semangat juang yang tinggi untuk harus keluar dari belenggu kemiskinan”. Seperti halnya perang dalam militer, genderang “perang melawan kemiskinan” untuk menuju kemenangan harus mempunyai ; strategi yang baik, prajurit yang handal, pasokan logistik (termasuk teknologi) yang mencukupi dan yang terpenting “para jenderal perang alias para leader/ pemimpin NTT yang benar-benar cerdas, jujur, merakyat dan menjadikan jabatan sebagai amanat rakyat yang ingin keluar dari penderitaan akibat kemiskinan dan yang juga harus dipertanggungjawabkan kepada TUHAN YME, bukan membutuhkan pemimpin yang menjadikan kekuasaan sebagai “jalan pintas “memperkaya diri sendiri dan keluarganya.

Dalam rangka membantu implementasi perang mengatasi kemiskinan, Pemda NTT bersama Pemkab, Pemkot dan Para-pihak harus terlebih dahulu membangun “Kerangka Program Perang Melawan Kemiskinan “ yang didalamnya termuat paling tidak adalah Goal, Strategy Objective, Outputs dan Activities dengan indikator yang jelas serta pentahapan program yang jelas, sistematis dan terukur dan jangan lupa untuk mensosialisasikannya kepada seluruh masyarakat NTT sehingga semua paham dan dapat menjadi sebuah gerakan bersama.

Untuk strategy, sudah banyak sekali rekomendasi dan bentuk masukan lainnya yang disodorkan pada pemerintah, tinggal dilakukan list/daftar dan dikaji secara komprehensif mana yang paling sesuai dengan melibatkan para-pihak .

Semua potensi lokal dan non lokal harus dipetakan dan difokuskan untuk menunjang meraih kemenangan melawan kemiskinan. Semua pihak harus berpikir dan bertindak hemat/efisien dan efektip dengan dasar pemikiran “kalau bisa dihemat, untuk apa boros” sehingga tidak akan terjadi lagi penggelembungan/mark up dana proyek/program. Maka semua daya upaya yang sifatnya dapat diswadayakan oleh masyarakat , bahan lokal yang tersedia harus dimobilisasi dan yang lebih penting dana yang tersedia tidak lagi bisa dan boleh dikorupsi. Siapapun yang mengkorupnya berarti dia berpihak pada “ zona kemiskinan” dan menjadi “penjajah baru’ bagi warga miskin di NTT. Perang melawan kemiskinan bukan lagi hanya berupa “tulisan di-media-masa , peringatan, seminar, diskusi, penelitian, maupun program sektoral” tetapi benar-benar menjadi “gerakan bersama warga NTT”, dalam arti siapa saja yang tidak mendukung perang ini atau bahkan yang sebaliknya akan malu hati dan diharapkan oknum atau apapun namanya tidak bisa lagi “menetaskan dan menjual kemiskinan di NTT ”

Ybt Suryo Kusumo

Pengembang masayarakat perdesaan
Tony.suryokusumo@gmail.com

Tulisan diatas murni merupakan pikiran penulis
dan tidak terkait dengan tempat berkerja atau pihak lainnya

September 10, 2008 at 2:15 am Tinggalkan komentar

“NTT Bangkit” menuju “NTT baru” melalui pengembangan desa mandiri

Deraan krisis global terkait pangan, BBM dan ekonomi yang terjadi akhir-akhir ini seolah olah telah semakin meyakinkan kita akan penderitaan panjang warga miskin, khususnya di NTT.
Ketergantungan Pemda NTT dalam waktu yang relatip panjang terhadap pemerintah pusat baik dari segi pembiayaan dan penyediaan dana untuk APBD Tk Propinsi maupun Tk Kabupaten, ketergantungan dalam berbagai hal seperti BBM, sembako (beras khususnya) dll semakin memposisikan NTT yang terlihat lemah dan kurang mandiri.

Menjadi pertanyaan reflektip untuk kita yang mencintai NTT, mau sampai kapan keadaan ini dibiarkan berlangsung ? Tidak adakah pendekar rakyat dari NTT seperti halnya Mahatma Gandhi yang berani memprakarsai gerakan swadesi memakai kain sari buatan sendiri ?
Atau seperti halnya Mohamad Yunus dengan Gremeen Bank yang mau mempelopori pinjaman tanpa agunan bagi para ibu pengusaha dari kalangan miskin dan bahkan untuk mantan narapidana ?

Kapan akan bangkit menyala semangat para pejabat dari kalangan putra daerah NTT sendiri yang malu melihat keadaan ini dan mempunyai “dream/impian” untuk menjadikan “another NTT” yang bebas dari korupsi dengan layanan publiknya berkelas dunia, yang menjadikan NTT sebagai DTW (Daerah Tujuan Wisata) kelas dunia setelah Bali dan Lombok ?

NTT yang menjadi terkenal karena bau aroma asli cendana ada dimana-mana, yang menjadi sentra produsen daging sapi dengan karkas yang tinggi kualitasnya, menjadi sentra pembuatan produk yang berbahan dasar kulit karena banyaknya produksi kulit sapi yang merupakan limbah dari pemotongan sapi untuk ekspor daging skala dunia ?

NTT yang terkenal karena mengekspor rumah kayu eksotik (knock down) karena melimpahnya produksi hutan kayu untuk bahan dasar pembuatan rumah,

NTT yang terkenal karena melimpahnya para akademia yang cerdas, bermoral dan berpikir global,

NTT yang terkenal karena religiositas yang ditunjukkan dengan keramahan warganya, rasa solidaritas yang tinggi, warga yang toleran, rendahnya angka kriminalitas dll.

NTT butuh pemimpin yang visioner,berani, dan jujur

Keterpurukan NTT tidak dapat dilepaskan dari kualitas para pemimpinnya baik di pemerintahan, lembaga keagamaan, lembaga keilmuan, lembaga non pemerintah, dan juga lembaga budaya dll.

Banyak pemimpin yang kehilangan huruf terakhirnya berupa N sehingga hanya menjadi PEMIMPI (tanpa N) yang hanya mampu bermimpi dan dengan pandainya menina- bobokkan warga miskin dengan janji perubahan yang sebenarnya tak pernah terjadi.

Kasihan rakyat kecil yang miskin yang hanya dipakai sebagai obyek dalam PEMILU maupun PILKADA, dimana mereka hanya dijadikan alat legitimasi kepemimpinan para pejabat atas nama kedaulatan rakyat. Suara rakyat adalah suara TUHAN sudah hilang dari kamus mereka ketika para pimpinan ini menjabat . Mereka akan berusaha dengan segala cara dan tipu muslihat untuk memperkaya diri dan sanak keluarganya dengan tanpa rasa malu dan rasa bersalah.
KKN masih dianggap sebagai cara termudah dan termurah untuk mewujudkan impiannya kaya raya tanpa susah payah meski memakan korban rakyat yang telah menjadikan dirinya sebagai pejabat. Kita dapat melihat dengan mata telanjang betapa para koruptor baik kelas kakap maupun teri di NTT masih terus berkeliaran dengan segala jurus ampuhnya untuk terus mengelabuhi rakyat seolah olah rakyat NTT tidak bisa melihat segala kebobrokan moralnya.

Sudah saatnya untuk bertobat dan berbalik kembali memihak rakyat jika para pemimpin NTT ingin melihat perubahan rakyatnya menuju sejahtera, dan apakah ceritera tentang Lazarus yang memakan remah-remah roti yang terjatuh dari meja si kaya masih belum cukup untuk menyadarkan arti penting “berbagi” dengan sesama terutama yang miskin dan menderita ? Apakah kematian para balita karena busung lapar masih juga belum mampu menyentuh nurani para pejabat yang dimahkotai pangkat dan gelar untuk memperbaiki dan bahkan kalau perlu secara radikal merubah pendekatan pembangunan di NTT ? Apalah artinya para pejabat memiliki seluruh kekayaan dan kekuasaan dunia namun kehilangan kasih kepada sesama ? Apakah ajaran “dengan memberi akan mendapat” dirasa tidak relevan lagi saat ini ? Atau dibutuhkan tanda-tanda jaman seperti apalagi yang mampu menyadarkan para pejabat dan pemimpin NTT untuk mulai segera berubah dan berbenah sebelum krisis sosial benar-benar melanda kita ?

Saatnya para pemilih untuk secara cerdas dan bertanggung jawab memilih pemimpin yang mampu menjadi teladan dan sekaligus pendorong untuk perubahan di NTT.

Dibutuhkan pemimpin NTT yang visioner, mampu memnadang jauh kedepan dan tidak terhalang dengan segala kendala dan hambatan yang ada sekarang ini, pemimpin yang mempunyai mata, telinga, lidah , tangan , mulut dan kepala yang terberkati.

NTT membutuhkan pemimpin bak seekor elang yang berani terbang sendirian dan memiliki sepasang mata pemimpin yang tajam yang mampu mengendus dan kemudian memangsa ‘kawanan serigala berbulu domba yang senang ber KKN ria’ sehingga dana untuk kaum miskin tidak lagi disunat, digelapkan ataupun dirampok oleh mereka dan dana tersebut akhirnya benar-benar mampu membuat rakyat miskin berdaya karena diberdayakan bukan karena disuapi dengan berbagai subsidi. Pemimpin yang mampu menghasilkan kebijakan/ policy yang benar-benar memihak rakyat kecil untuk mewujudkan sila kelima Pancasila yakni Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

NTT membutuhkan telinga pemimpin yang mau dan mampu mendengarkan (bukan hanya sekedar pura-pura mendengar) rintihan dan jeritan kaum papa warga NTT yang ingin keluar dari kubangan kemiskinan.

NTT membutuhkan lidah pemimpin yang menurut Andrias Harefa ( seorang penulis , motivator dan pendiri/inisiator http://www.pembelajar.com/ ) mampu mengendalikan lidah-nya. Pemimpin yang melek mata hati dan mata budinya. Pemimpin yang tidak asal bicara, namun tak selalu diam membatu.
NTT membutuhkan tipe pemimpin seperti Soekarno yang dengan kemampuan kata-katanya mampu membakar dan menggelorakan semangat untuk merdeka . Bung Karno sebagai penyambung lidah rakyat mencoba memotivasi agar rakyat Indonesia berjuang keluar dari belenggu penjajahan. Kapan akan tampil seorang muda NTT mampu menyuarakan suara warga miskin di NTT yang telah jenuh dengan janji-janji pemimpin NTT terdahulu dan menyuarakan perasaan dan pesoalan mereka untuk memperoleh solusi menuju sejahtera dan keluar dari belenggu kemiskinan yang telah dalam waktu lama menderanya ? Kapan NTT menjadi akronim dari Nikmat Tiada Tara bagi seluruh warganya tanpa memandang SARA ?

NTT membutuhkan ‘tangan pemimpin’ yang mampu merengkuh seluruh warga miskin NTT kedalam dekapan kasih NYA melalui kegiatan dan program nyata yang terukur dan terencana (SMART) yang mampu mengubah kehidupan mereka yang miskin papa menjadi kehidupan yang penuh cinta dan berkelimpahan. Bukankah telah dijanjikan barang siapa yang hidup dijalan TUHAN akan hidup berkelimpahan. Artinya dibutuhkan pemimpin yang mampu menjadi ‘kepanjangan tangan TUHAN’, yang hidupnya penuh dengan kesalehan, mempunyai religiositas yang tinggi yang dapat terlihat dari hidup kesehariannya dan perilaku keluarganya.

NTT tidak membutuhkan ‘tangan pemimpin yang kotor dan penuh daki KKN’.
Yang dibutuhkan berupa pemimpin yang mampu meneladani Bunda Teresa atau Romo Mangun maupun teladan lainnya yang langsung terjun mengangkat para miskin papa dari lembah derita tanpa banyak pidato dan acara seremonial.
NTT membutuhkan tangan pemimpin yang kekar namun sekaligus lembut karena banyaknya kasus korupsi yang semakin memiskinkan NTT namun pelakunya selalu bebas berkeliaran dan menghirup darah kaum miskin seperti halnya perilaku para drakula.

NTT membutuhkan ‘kepala pemimpin’ yang cerdas dan melandaskan pada cara berpikir yang logis/nalar, yang mau belajar, mau berubah dan mempunyai wawasan bisnis yang kuat sehingga menjadikan NTT mampu link dengan para pembisnis dari luar NTT.

Dan semua itu harus dimulai dari membangun kemampuan desa-desa NTT menuju desa mandiri baik mandiri energi, pangan, ekonomi maupun kesehatan dan lainnya.

Pemimpin NTT harus berani menanamkan investasi pada infrastruktur dasar yang mendukung keterkaitan desa-desa dengan pusat-pusat bisnis, seperti misal mau membangun cold storage di berbagai daerah untuk menampung hasil sayuran, buah-buahan maupun ikan sehingga tidak cepat busuk.

Para pemimpin NTT harus mampu menggairahkan kegiatan ekonomi rakyat melalui penumbuhan jiwa wirausaha dikalangan rakyat sehingga dapat menangkap dan memanfaatkan peluang kredit tanpa agunan berupa Kredit Untuk Rakyat (KUR) yang telah digulirkan pemerintah untuk membantu para petani dan pelaku UKM.

Para pemimpin budaya NTT harus meniru apa yang telah dilakukan salah satu keluarga di Bajawa dalam rangka mengurangi beban biaya adat namun adat tetap lestari tanpa harus membebani

Para pemimpin yang mampu mendorong warga untuk menerapkan pola hidup hemat, berinvestasi dan mendorong rakyat NTT untuk berprofesi sebagai wirausaha serta mengembangkan pusat-pusat bisnis akan sangat membantu dalam mewujudkan NTT bangkit menuju mandiri.

Menyitir sebuah iklan, kalau bisa hemat, ngapain boros ? Jadi sudah selayaknya kita warga NTT melakukan gerakan penghematan dalam segala hal, terutama dimulai dari para pemimpinnya, termasuk didalamnya menghentikan segala bentuk praktek KKN, dan sebangsanya.

Selamat menyongsong NTT baru.

YBT Suryo Kusumo, tony.suryokusumo@gmail.com

September 9, 2008 at 7:53 am Tinggalkan komentar


Kategori

April 2014
S S R K J S M
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Tamu Adikarsa

  • 30,642 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.