Surat terbuka untuk Para Pelaku Penyerangan Yogya (tanggapan untuk POLRI atas penyerangan terbaru di Yogyakarta)

Wahai saudara-ku sebangsa dan setanah air
Sebagai sesama anak bangsa Indonesia tercinta
Marilah kita menjauhkan dari tindakan anarkis
Menghentikan tindak kekerasan yang tak berujung
Mereka yang kau aniaya adalah manusia ciptaan-NYA
Sesama anak bangsa yang berdasar pada Panca sila
Bukan segolongan binatang atau sebangsa anjing
Untuk binatang-pun tak sepantasnya kau lakukan

 

Wahai saudara-ku sebangsa dan setanah air
Seandainya engkau ingin melawan kebatilan, maka;

Lawanlah mereka para mafia koruptor jahanam
Yang telah menyengsarakan banyak sekali warga
Yang membuat banyak balita mati sia sia kurang gizi
Yang membuat negeri ini semakin miskin dan berhutang

Lawanlah mereka para mafia bandar narkoba
Yang telah memupus harapan para kaum muda
Sehingga mereka terpaksa mati sia sia di usia muda

Lawanlah mereka para mafia peradilan kita
Yang telah menukar & menjual rasa keadilan
Dan menggantikannya dengan uang suap

Lawanlah mereka golongan para politisi busuk
Yang telah membusukkan harapan rakyat kecil
Dengan korupsi berjamaah untuk memperkaya diri
Dan plesiran ke luar negeri berkedok studi banding

Lawanlah mereka para mafia pertambangan
Yang menjadikan lahan gersang bagaikan tak bertuan
Dan membuat warga lokal merana dalam hidupnya
Karena lingkungan mereka rusak porak poranda

Lawanlah mereka para mafia pemusnah hutan/illegal loging
Karena mereka telah menghancurkan sumber kehidupan
Beberapa suku asli anak negeri yang menggantungkan hidupnya
Pada kelestarian hutan sebagai tempat habitat hidupnya
Yang menyebabkan banjir & longsor di pelosok nusantara

Lawanlah mereka para mafia perdagangan manusia
Yang telah merenggut kegadisan dan kemerdekaan
Para gadis muda desa yang tak tahu ganasnya mereka
Yang telah menyekap bagaikan para budak belian

Dan masih banyak lagi PR negeri yang harus diselesaikan
Mari kita stop jalan kekerasan dalam segala bentuknya
Kita gantikan dengan kelembutan hati & kebersamaan
Sebagai sesama anak negeri yang bernama INDONESIA

 

Iklan

Mei 30, 2014 at 6:44 pm Tinggalkan komentar

Kemerdekaan Indonesia jilid II

Untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia jilid I
Kita membutuhkan banyak pahlawan revolusi
Sehingga kita bebas dari penjajahan bangsa lain
Untuk mewujudkan Kemerdekaan Indonesia jiid II dari ;
Kemiskinan,kebodohan, kematian balita sia sia
Mencerdaskan bangsa, mejaga budaya luhur kita
Kita butuh banyak pahlawan revolusi mental bangsa
Karena ketika kita gegap gempita membangun fisik
Maka kita di jaman ORBA lupa membangun JIWA
Sehingga korupsi,kolusi dan nepotisme merajalela
Dalam lagu kebangsaan kita “Indonesia Raya”
Bangunlah JIWA-nya,baru Bangunlah BADAN-nya
Belum terlambat untuk lebih memilih ORANG BAIK
meminjam dari perkataan Bapak Anis Baswedan
Menjadi pemimpin negeri ini ke depan pada PILPRES
Untuk Indonesia yang LEBIH BAIK dan lebih baik lagi

 

Mei 28, 2014 at 2:59 pm Tinggalkan komentar

Pilih mana, Capres & Cawapres yang didukung “Koalisi Ramping Profesional- Merakyat atau Koalisi Tenda besar Merah Putih” ?

Pilpres sudah diambang pintu tinggal menghitung hari, sementara persaingan memperebutkan kursi kepresidenan sudah dimulai dengan berbagai cara yang dilakukan oleh timses masing masing untuk menyusun startegi pemenangan.
Berbagai analisa para pengamat semakin banyak dijumpai di media tv yang sayangnya juga tidak bisa netral karena masing masing koalisi memanfaatkan media yang dimilikinya untuk memenangkan koalisi yang didukungnya.
Tidak mudah bagi rakyat untuk memilih pasangan Capres & Cawapres karena masing masing pihak timses selalu mencari jalan untuk menyampaikan informasi yang menguntungkan pihak yang didukungnya, dan yang sangat disayangkan banyak partai politik kita yang terjebak dalam politik transaksional demi mengejar ambisi untuk dapat menduduki jabatan dan dapat terus berkuasa meski kita semua tahu bahwa kekuasaan yang ditangannya tidak lagi dipersembahkan untuk kesejahteraan rakyat, namun lebih bagaimana mengamankan kepentingannya serta menumpuk sebanyak banyaknya kekayaan/harta benda.
Sebenarnya dalam memilih Capres – Cawapres, kita harus mendasarkan pada kriteria yang diharapkan mampu mensejahterakan rakyat melalui visi, misi dan program kerja selama 5 tahun menjabat dan juga mendasarkan pada rekam jejak prestasinya yang menunjukkan cara pandangnya,kapabilitas,kompentensi, integritas pribadi serta untuk mengetahui apakah sebelumnya Capres &Cawapres mempunyai masalah terkait hukum baik berupa korupsi,nepotisme,kolusi atau juga pelanggaran hukum lainnya seperti tindak kriminal dsb.
Rakyat saat ini dihadapkan pada dua kubu yang sangat kontras yakni Koalisi Ramping Profesional-Merakyat versus Kolaisi Tenda Besar Merah Putih sehingga dengan pembedaan yang sangat nyata sebenarnya lebih memudahkan rakyat untuk menentukan pilihan, meski kedua pihak sama sama memakai baju warna putih namun beda jumlah saku.

Secara pribadi saya tetap memilih pemimpin dengan mendasarkan pada kriteria ;

 Kepribadian dan integritasnya yang tercermin dari sifat kejujurannya, kesederhanaannya yang tanpa polesan dan pencitraan serta apa adanya meski terlihat lugu dan kurang meyakinkan, tidak arogan tetapi dekat dan dapat disapa langsung oleh rakyat kebanyakan, yang terlihat ramah meski tidak terlihat gagah dll.
 Anti kekerasan terhadap rakyat sendiri melalui pembangunan yang mengedepankan kemanusiaan dan dilakukan secara partisipatip dengan solusi yang tak bikin emosi rakyat meledak, mampu melakukan rekonsialisi dan rujuk nasional, mampu menjadi penengah dalam berbagai konflik yang melanda negeri ini.
 Mau dan mampu membangun ekonomi kerakyatan melalui penataan PKL, pembangunan pasar tradisional berstandar mall/supermarket,menggunakan produk dalam negeri untuk mengurangi serta kedepan menghilangkan ketergantungan pada impor dalam memenuhi kebutuhan rakyat melalui kerja sama dengan propinsi lain untuk membeli produk bangsa sendiri karena kita merupakan negara yang berdaulat baik dalam hal pangan, energi,budaya, ekonomi dll.
 Mau berteman dengan siapa saja termasuk lawan politiknya, yang tidak mau membalas meski diejek dengan berbagai puisi yang menyakitkan, yang terbebas dari sikap diskriminasi SARA.
 Mau bekerja membangun negeri ini dengan ketulusan dengan mau datang ke berbagai pelosok nusantara meski membutuhkan waktu dan energi yang besar.
 Mampu bergaul dan diterima dikalangan internasional .

Saatnya rakyat berdaulat untuk menentukan pilihan memilih Presiden dan Wakil Presiden yang akan menjadi nahkoda bagi kapal bernama Indonesia dengan selalu menerapkan sila sila Panca Sila sebagai dasar negara untuk mampu menuju dan berlabuh di pelabuhan Indonesia RAYA yang adil, sejahtera dan damai.
Salam untuk sesama anak bangsa yang rindu perubahan mendasar.

Mei 24, 2014 at 6:18 am Tinggalkan komentar

Semoga rakyat bisa masuk ke “Rumah Indonesia”

Dalam pembukaan UUD 45 tertulis;
“Menghantar Rakyat indonesia kedepan
pintu gerbang kemerdekaan Indonesia ”

Semoga Pilpres kali ini setelah 69 tahun merdeka
Kunci “rumah Indonesia” sudah kembali ditemukan
sehingga Presiden dapat menghantar rakyat Indonesia
masuk ke dalam Rumah Indonesia Raya yang jaya

Tambang kita kelola sendiri oleh ahli2 muda
Hasil pertanian & sapi tidak perlu lagi impor
Hasil laut tidak lagi dicuri para nelayan asing
Hutan lestari hijau selalu ada dimana mana
Mata air mudah didapat dibumi pertiwi tercinta
Tiada lagi banjir, longsor dan kekeringan
Perumahan untuk rakyat mudah diperoleh
Bukan hanya rumah mewah seperti di iklan TV

April 19, 2014 at 5:03 am Tinggalkan komentar

Rencana Jokowi Tak Bagi-bagi Kursi Sulit Diterima Parpol (kompas.com)

Justru hal ini yang ditunggu oleh rakyat
Pilpres bukan untuk bagi bagi kursi menteri

Salut untuk Jokowi yang berani tampil beda
Berani mengubah waduk jadi taman rakyat
Mengubah bantaran jadi kampung yang elok
Mengubah Tanah Abang jadi daerah aman

Saatnya rakyatlah yang berdaulat di negeri ini
Memilih Presiden yang berani tampil beda
Sederhana, merakyat, jujur, tulus & peduli
Pada kesejahteraan rakyat melalui bukti nyata
Bukan yang hanya beteriak “AKAN, AKAN & AKAN”

April 19, 2014 at 5:01 am Tinggalkan komentar

Beberapa permasalahan ditingkat petani dalam pengembangan program Rantai Pertanian Berkelanjutan (PB) yang mampu mendukung terciptanya keadilan dan perdamaian, siapa yang mau peduli?

Dalam pengembangan dan pelaksanaan Program Rantai Pertanian Berkelanjutan tidak akan berkontribusi dalam mewujudkan rasa keadilan dan perdamaian bagi petani ketika petani sebagai peserta program rantai PB ada yang menjadi tuan tanah dengan luasan lahan yang sangat luas namun sementara sebagian besar petani peserta program lainnya hanya menjadi penggarap.

Maka menjadi tanggung jawab Pemkab, dan LSM Mitra dan pihak lain yang peduli untuk duduk bersama dengan tuan tanah dan penggarap membicarakan tentang status kepemilikan lahan, atau bahkan jika memerlukan reforma agraria/land reform maka Pemkab harus dapat menyediakan sejumlah dana APBD untuk penggantian pembelian tanah dari tuan tanah yang sangat luas lahannya dan dibagikan secara merata kepada petani penggarap sebelum program rantai PB dimulai sehingga tidak akan menimbulkan konflik dikemudian hari serta mampu mewujudkan keadilan bagi petani.

Pentingnya pelestarian lingkungan hidup dan keswadayaan petani dalam penyediaan input pertanian secara lokal.

Program Rantai Pertanian Berkelanjutan tidak akan berkelanjutan ketika kita melupakan pelestarian lingkungan hidup, karena manusia/petani sangat bergantung pada daya dukung dari lingkungan hidupnya dan kita sebenarnya juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari alam.

Perusakan dan pencemaran lingkungan hidup akibat ketidaktahuan petani maupun karena pengenalan program yang menganjurkan masukan energi dan teknologi tinggi seperti pestisida pabrik , pupuk buatan, mesin traktor, benih hibrida maupun benih transgenik dll selain menyebabkan ketergantungan petani yang lebih tinggi terhadap pihak luar, juga akan sangat membahayakan kelestarian lingkungan hidup baik bagi binatang, tumbuh-tumbuhan maupun petani  itu sendiri.

            Perladangan berpindah dan tebas bakar dengan rotasi yang semakin pendek atau bahkan tidak lagi pernah berpindah, telah menimbulkan masalah penurunan kesuburan tanah yang menyebabkan produksi terus menurun dimana sampai suatu saat tidak lagi mampu berproduksi.  Maka mewariskan lahan yang rusak karena erosi yang tidak mampu lagi mendukung kehidupan manusia kepada generasi penerus akan menimbulkan perasaan berdosa bagi generasi saat ini karena telah mewariskan setumpuk permasalahan yang dapat menyebabkan ketidak-damaian pada generasi penerus serta menyengsarakan hidupnya karena daya dukung lahan menjadi tidak mampu untuk menghasilkan untuk memenuhi bahan pangan dan kebutuhan lainnya.

Mengembangkan pertanian selaras alam/lestari/organik seharunya menjadi fokus dalam pembangunan pertanian bangsa kita. Meski sudah dicanangkan untuk “Go Organic” pada 2010, namun kenyatan di lapangan sangatlah berbeda.

Pengembangan pertanian yang mendasarkan pada revolusi hijau dengan masukan/input eksternal yang tinggi perlu ditinjau ulang dalam mencapai swasembada pangan nasional.

Pengembangan LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) sebaiknya didukung dengan kebijakan pemerintah untuk memberikan subsidi dalam pembuatan pupuk organik di tingkat petani, penggunaan dan pengembangan benih lokal unggul yang dilakukan sendiri oleh petani, pengembangan diversifikasi dalam pola tanam, pengembangan ternak sebagai salah satu mata rantai dalam rantai usaha tani berkelanjutan (untuk mendukung keterdiaan pupuk organik, pemanfaatan limbah hijauan pakan ternak serta ketersediaan daging bagi masyarakat) sebagai sebuah siklus yang berkelanjutan dalam mata rantai pengembangan usaha pertanian.

 Pestisida pabrikan selain menguntungkan karena mampu mengendalikan hama (dalam jangka pendek), namun yang tak kalah penting harus diwaspadai akan bahaya yang ditimbulkan akibat salah menggunakan, ketidak hati-hatian, maupun karena bahan aktif yang digunakan sangat beracun dan berbahaya bagi kelestarian karena dapat mencemari lingkungan.

Pupuk buatan, selain memerlukan dana/ biaya untuk membeli, juga membutuhkan bahan bakar untuk memproduksi maupun mendistribusikan sampai pada tingkat petani. Bahan bakar yang digunakan adalah BBM yang tidak terbarukan karena berasal dari fosil. Peningkatan penggunaan pupuk pabrikan dengan sendirinya juga akan meningkatkan penggunaan bahan bakar minyak yang tak terbarukan yang berarti boros energi dan menimbulkan pencemaran dari asap yang dihasilkan pabrik maupun angkutan dalam pendistribusiannya (mobil, kapal dll).

Selain itu, banyak keluhan petani ketika menggunakan pupuk buatan secara terus menerus dan dalam jumlah banyak, maka kondisi tanah menjadi kurang baik karena menjadi keras (bantat) dan sulit diolah.

Mesin pertanian seperti traktor, selain membutuhkan BBM, juga membutuhkan olie yang dapat mencemari lingkungan. Belum lagi kalau ada kerusakan, maka petani tidak mempunyai kemampuan untuk membeli maupun membuat suku cadang dan juga kadang-kadang tidak mampu memperbaiki apabila kerusakannya berat. Maka asset yang telah dibeli dengan susah payah karena harganya cukup tinggi akan menjadi barang rongsokan berupa besi tua yang menumpuk menjadi monumen dari sebuah kenyataan ketakberdayaan petani terhadap teknologi tinggi.

Benih hibrida maupun transgenik menyebabkan petani  selalu bergantung pada pihak luar karena tidak lagi mampu menyediakan benih secara mandiri, padahal ketika petani masih menggunakan benih lokal unggul, petani selalu mampu menyiapkan benih untuk musim tanam  berikutnya.  Ketergantungan pada perusahaan penyedia benih menjadikan ketidakadilan bagi petani ketika petani tidak diajak untuk berhitung mengenai harga sebuah benih, biaya yang dibutuhkan dalam memproduksi benih, berapa margin keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan penyedia benih tersebut, apa jaminan asuransi/ perlindungan terhadap para petani apabila mereka dirugikan  akibat dari penggunaan benih tersebut.

Pentingnya melakukan konservasi tanah dan air juga merupakan salah satu yang perlu diperhatikan dalam pengembangan Program Pertanian Berkelanjutan (PB). Melupakan kegiatan konservasi tanaha dan air terutama di daerah berlereng/miring akan menjadi fatal akibatnya bagi keberlanjutan usaha tani karena kesuburan lahan yang terus memnurun. Membiarkan lahan rusak karena tidak ada kegiatan pengawetan tanah dan air maupun karena lahan dikuras dengan tanaman monokultur yang rakus unsur hara seperti menanam ubi kayu secara terus menerus berarti membiarkan ketidakadilan terus berlangsung.

 Terbatasnya infastruktur yang mendukung bisnis petani

Kita semua telah mengetahui bahwa ketimpangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan pedesaan  sudah berlangsung lama dan menjadi persoalan klasik. Untuk pengembangan program Pertanian Berkelanjutan yang adil dan mendukung perdamaian, maka kebijakan pemerintah untuk pembangunan infrastruktur yang mendukung bisnis pertanian di pedesaan mutlak dilakukan, tidak cukup hanya menyediakan permodalan seperti dalam program PUAP (Pengembangan Usaha Agrobisnis Pedesaan). Dibangun dan tersedianya jalan usaha tani yang memudahkan petani mengangkut hasilnya, pembangunan jalan antar desa yang mulus menuju kota juga penting untuk menekan biaya transportasi dan menghemat waktu sehingga produk pertanian tidak rusak di perjalanan, tersedianya jaringan irigasi, waduk, embung dll yang memadai untuk menjamin pasokan air untuk kerbelanjutan usaha taninya, ketersediaan jaringan listrik yang mendukung dalam pengolahan lanjut komoditi pertanian dan juga jaringan komunikasi untuk memudahkan memperoleh akses informasi harga maupun dalam melakukan transaksi bisnis usaha taninya.

Pemasaran Bersama melalui Koperasi untuk mengatasi permainan harga

Membiarkan harga produk pertanian sangat rendah sementara para pedagang pengumpul hasil pertanian memperoleh keuntungan yang sangat besar berarti membiarkan penindasan dan ketidakadilan yang jelas jelas tidak mendukung perdamaian  karena petani telah bekerja keras dan susah payah dalam berusaha namun tetap saja mendapatkan penghasilan yang rendah akibat rendahnya posisi tawar petani karena ketidaktahuan informasi harga diluar desanya serta kebutuhan yang mendesak untuk didanai sehingga terjerat sistem ijon, sementara para pedagang yang dapat mengakses informasi harga secara cepat dan tepat akan memperoleh keuntungan yang besar. (lebih…)

Maret 19, 2014 at 2:39 pm Tinggalkan komentar

Panganku sehat, sehat hidupku, kuat pula negeriku

Kehidupan yang kita lakoni di jaman modern saat ini, ternyata semakin lama semakin dimudahkan dengan adanya perkembangan teknologi informasi untuk memperoleh sesuatu baik itu berupa informasi melalui pencarian lewat “Mbah Google”.

Dalam hal ketersediaan pangan, kita juga dimudahkan dengan adanya perkembangan teknologi pangan untuk memenuhi kebutuhan akan makanan dan minuman seperti tersedianya makanan kalengan siap saji, “junk food” dan beragam jajanan instan, maupun minuman instan dll.

Kita sering terlena oleh kemudahan, kecepatan  dan nikmatnya mengkonsumsi makanan &minuman  cepat saji dan awetan sehingga seringkali kita terjebak untuk kecanduan  makanan & minuman yang nikmat meski kita tahu pasti akan mengakibatkan datangnya penyakit di badan kita karena dalam makanan & minuman tersebut terkandung bahan  pengawet, pewarna, soda  dan penyedap rasa.

Kebiasaan pola makan kita ternyata secara tidak disadari juga telah mengabaikan kesehatan tubuh dan seringkali terjebak dalam kecanduan yang tak berujung. Kita mudah lupa untuk terus “JAMU” alias Jaga Mulut, dan harus mengkonsumsi makanan dan minuman yang “nikmat namun tanpa mengalahkan kesehatan”.

Harga makanan ringan alias jajajan/snack dan minuman pabrikan yang terjangkau dan murah dibanding mengkonsumsi buah rasa asli maupun jajanan “pasar” buatan tangan para ibu telah membuat banyak anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa terjebak dalam kecanduan makanan yang banyak mengandung bahan kimiawi berbahaya yang jika dikonsumsi secara terus menerus akan terakumulasi dan berakibat mendatangkan banyak penyakit dalam jangka panjang . Artinya secara sadar kita telah membiarkan satu generasi penerus bangsa kita yakni anak anak kita untuk diracuni sejak usia dini melalui jalan mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat.

Kebiasaan lama masyarakat seperti menumbuhkan sisa sisa biji dari buah buahan yang kita santap dan kemudian menanamnya, juga menanam sayuran di halaman sudah telah dilupakan serta dianggap kuno/ ketinggalan jaman, selain karena terbatasnya lahan di perkotaan, juga karena masyarakat kita telah berpindah dari masyarakat agraris yang lebih banyak berperilaku sebagai produsen menjadi masyarakat konsumtip yang hanya tinggal membeli produk pertanian yang dibutuhkan tanpa mau repot untuk menanamnya sendiri.

Akibatnya, ketika harga buah dan sayuran organik atau alami menjadi lebih mahal, maka sebagian besar masyarakat kita lebih tertarik untuk berpindah mengkonsumsi pangan dari budidaya revolusi hijau yang banyak mengunakan pupuk dan pestisida pabrikan yang sebenarnya jika tidak hati hati dalam memproduksinya dapat terpapar racun yang membahayakan konsumen.

Selain itu, kecenderungan akhir akhir ini  untuk mengkonsumsi buah dan sayuran impor karena murah harganya seharusnya patut diwaspadai, karena dalam proses produksi sampai pengemasannya pastilah banyak menggunakan pestisida untuk menjaga dari kerusakan dan menjadikannya lebih awet.

Kebiasaan masyarakat kita untuk mencari jalan pintas dengan mengkonsumsi buah dan sayur impor yang murah harga serta tampilan kemasannya yang menarik sebenarnya sangatlah tidak nasionalis karena berarti konsumen yang nota bene warga negara Indonesia sudah tidak lagi peduli pada kehidupan petani kita sendiri sebagai produsen buah dan sayuran yang menggantungkan hidupnya dari hasil pertaniannya.

Pola hidup sehat dengan mengkonsumsi pangan sehat seharusnya menjadi kepedulian kita semua, jika bangsa ini mau tetap sehat sehingga menjadi bangsa yang maju dan kuat dan keuntungan lainnya adalah pemerintah tidak lagi butuh banyak dana membiayai rakyatnya untuk penyembuhan dari penyakit dan derajat kesehatan masyarakat kita akan semakin tinggi sehingga berdampak pada semakin tingginya tingkat produktivitas rakyat Indonesia.

Pola pangan hidup sehat dan bersih harus terus disosialisasikan, meski kita tahu di tahun ini telah ada BPJS Kesehatan yang menjanjikan kemudahan karena adanya berobat gratis bagi masyarakat yang telah mendaftar. Meski demikian, alangkah baiknya jika yang diutamakan bukannya proses penyembuhan dari sakit, tetapi melakukan tindakan preventip untuk mencegah jatuh sakit, salah satunya dengan menerapkan pola konsumsi pangan sehat.

Mari kita terus menerus mengkonsumsi pangan yang sehat yang dihasilkan dari bumi tercinta Indonesia karena kemurahan alam negeri kita sendiri serta dedikasi yang luar biasa dari para petani yang telah mau dan mampu menyiapkan dan menjaga kedaulatan pangan kita yang sehat.

Dengan mengkonsumsi pangan sehat produksi negeri sendiri, kita secara tidak langsung telah meningkatkan ketahanan ekonomi bangsa kita, memberi harapan hidup pada petani untuk keberlanjutan hidup keluarganya serta tak kalah penting menjaga kelestarian lingkungan hidup dan lahan pertanian kita dari pencemaran bahan bahan kimia yang berbahaya bagi kelangsungan hidup kita sebagai sebuah bangsa dan negara yang kuat.

Mari terus mengkonsumsi pangan sehat, sehat hidupku dan kuat pula negeriku.

Maret 13, 2014 at 2:58 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kategori

September 2017
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Tamu Adikarsa

  • 53,619 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tidak ada