Lahan kritis, siapa mau peduli ?

Juli 14, 2008 at 2:45 am Tinggalkan komentar

Menarik menyimak tayangan iklan salah satu produk shampo yang mengatakan “Ketombe, siapa takut ?”. Terlihat begitu percaya dirinya seseorang akan ketiadaan ketombe dalam rambut dikepalanya, apabila sudah menggunakan produk tersebut.
Jika terhadap ketombe saja, kita begitu peduli, lalu bagaimana kepedulian kita terhadap keberadaan lahan kritis yang menjadi asset dan tumpangan hidup bagi sebagian besar warga NTT? Alangkah ironisnya kita, apabila terhadap ketombe yang tidak terlalu membahayakan kehidupan, kita prioritaskan penanganannya, sementara proses perusakan lahan yang menopang kehidupan menuju terbentuknya lahan kritis yang tandus , kita menjadi tidak peduli.

Keberpihakan pada rakyat

Berbicara masalah lahan kritis, sebenarnya kita dapat menggugat kebijakan pembangunan dan hasil-hasilnya selama ini. Kalau kita memperhatikan sektor non pertanian,maka terlihat penanganannya akan lebih diprioritaskan , misal penyediaan kredit untuk usaha bisnis, akan lebih mudah didapatkan dan lebih besar jumlahnya dibanding kredit yang disediakan untuk petani. Demikian pula terkait dengan keuntungan yang diperoleh, terlihat bahwa mereka yang bergerak diluar sektor pertanian akan mendapatkan imbalan jerih payah yang lebih baik dalam hal keuntungan dibanding petani yang membanting tulang menghabiskan waktunya di kebun dengan kerja fisik yang melelahkan. Komoditas hasil pertanian harganya sangat fluktuatip / turun naik tidak tentu dan posisi tawar menawar petani sangat rendah di pasar, sehingga harga sangat ditentukan oleh pemain pasar yang nota bene bukan petani dan sebenarnya merekalah yang saat ini hidup layak menikmati cucuran keringat petani. Kebijakan pemerintahan Orde Baru yang menggunakan petani sebagai landasan/ pondasi pembangunan dan mengorbankan hak-hak petani menyebabkan semakin banyak masyarakat yang tidak mau menggantungkan hidupnya dari hasil bertani.

Kita masih ingat kasus BPPC yang menyebabkan kesengsaraan luar biasa bagi petani cengkeh sehingga membuat petani frustasi dengan cara menebang pohon cengkehnya hanya karena permainan harga oleh penggagas dan pengurus BPPC.

Demikian pula harga kopi yang pernah mencapai titik rendah dan tidak layak, menyebabkan sebagian petani menebang pohon kopinya. Padahal keberadaan tanaman cengkeh dan kopi mampu berfungsi mengurangi erosi yang terjadi di lahan, namun petani tidak terlalu peduli dengan masalah erosi dan kelestarian lingkungan. Yang utama bagi petani adalah adanya nilai ekonomis yang dianggap layak sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga mereka. Menjadi tantangan bagi pemerintahan transisi reformis saat ini untuk membuktikan keberpihakannya pada rakyat dengan mengatur tata niaga pertanian yang lebih berpihak dan menguntungkan petani sehingga petani akan melihat lahan/kebun sebagai asset dan kantor tempat keluarganya menggantungkan hidup dari hasil berkantor di kebun.
Siapa yang bertanggung jawab ?

Menyikapi keberadaan lahan kritis yang ada didepan mata kita, yang menjadi pertanyaan adalah siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab untuk menangani permasalahan lahan kritis tersebut ? Yang paling mudah pasti mengatakan bahwa itu adalah tanggung jawab petani sebagai pemilik lahan. Namun kita juga dapat mempertanyakan sampai sejauh mana pendampingan dari dinas-dinas terkait dan pihak –pihak lain yang peduli (Gereja, LSM, Perguruan tinggi, Intelektual, kalangan bisnis dll) ikut mengurangi terjadinya lahan kritis .
Kita tidak dapat dengan serta merta mebebankan semua itu pada pundak petani yang sudah sarat dengan penderitaan dan menyalahkan mereka yang bertani dengan cara tebas bakar dan berpindah-pindah dengan rotasi yang semakin pendek tanpa usaha konservasi lahan dan air sehingga menyebabkan semakin besarnya erosi yang menyebabkan terjadinya lahan kritis. Ketidaktahuan dan sedikitnya informasi yang sampai pada petani serta minimnya pelayanan dan pendampingan kepada mereka, sebenarnya mampu menjadikan kita lebih menyadari perlunya kepedulian kita semua pada kehidupan petani yang sebagian besar masih hidup susah. Meskipun banyak dari kita yang sudah “menjadi orang dan mapan” dengan biaya pendidikan yang didukung dari hasil bertani orang tua kita, namun sering kita lupa menyadari kesulitan yang dihadapi petani dan lebih baik menghindar dengan tidak memilih berprofesi menjadi petani. Maka akan sangat logis jika seorang anak ditanya cita-citanya, tidak akan dengan bangga menyatakan ingin menjadi petani, melainkan dengan bangganya akan mengatakan dirinya ingin menjadi dokter, insinyur dsb. Maka keberadaan lahan kitis sebenarnya menggambarkan coreng moreng kehidupan kita mewujudkan religiositas dan Pancasila dalam kehidupan yang nyata yakni memelihara ciptaan Tuhan YME yang pada awal mulanya baik adanya , dan merupakan titipan anak cucu, bukannya merupakan warisan nenek moyang yang dapat kita perlakukan semau kita.

Solusi alternatip penanganan lahan kritis

Penanganan lahan kritis mau tidak mau harus melibatkan semua pihak yang peduli pada keberlanjutan hidup kita yang bergantung pada hasil lahan untuk mencukupi kebutuhan hidup, terutama makanan kita sehari-hari.

Namun yang harus lebih berperan adalah penyelenggara negara yakni pemerintah dalam hal ini dinas-dinas yang terkait langsung dengan kehidupan petani, karena dinas-dinas inilah yang mempunyai kapasitas yang besar, dukungan yang kuat dan wewenang untuk melakukan pendampingan dan asistensi teknis kepada petani. Mari kita lihat dukungan yang dimiliki dinas seperti SDM , dana, peralatan, sumber informasi, manajemen dll, yang sebenarnya dapat didayagunakan secara maksimal untuk pendampingan pada petani dalam merubah pola pikir dan kebiasaan petani dari pertanian lahan berpindah-pindah , tebas bakar dan tanpa konservasi tanah dan air menuju pertanian lahan menetap, dengan menerapkan teknik konsernvasi lahan dan air, diversifikasi tanaman, penggunaan pupuk organik yang tidak perlu didatangkan dari luar dan harus dibeli, penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan memanfaatkan pestisida botanis sehingga dapat berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan dapat menjadi alternatip sistem pertanian yang dikembangkan dan menjadi pilihan petani.
Dalam makalahnya berjudul “Pengembangan Sistem Pertanian Berwasaan Lingkungan Dalam Meyongsong Pertanian Masa Depan”, DR. Ir. Rachman Sutanta MSc menjelaskan tentang Pertanian Berkelanjutan
Pertanian Berkelanjutan adalah keberhasilan mengelola sumber daya untuk pertanian dalam memenuhi perubahan kebutuhan manusia sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta konservasi sumber daya alam (TAC/CGIAR, 1988)
Tujuan Pertanian Berkelanjutan adalah ; Mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah, mempertahankan hasil pada tingkat optimal, mempertahankan dan meningkatkan keragaman hayati dan ekosistem, serta mempertahankan dan meningkatkan kesehatan penduduk dan mahluk lainnya
Menurut Diver dan Talbot, berkelanjutan dalam pembangunan pertanian adalah :membatasi ketergantungan pada energi yang tidak terbarukan senyawa kimia dan bahan mineral, mengurangi pencemaran udara tanah,dan air dari luar usaha tani, memelihara dan mempertahankan keadaan habitat untuk kehidupan alami, melakukan konservasi sumber genetik/plasma nuftah (keaneka ragaman hayati) tanaman maupun hewan yang diperlukan untuk pembangunan pertanian.
Untuk menjadikan lestari, sistem pertanian harus mampu mempertahankan produktivitas ditinjau dari segi ekologsi, sosial, dan tekanan ekonomi maupun sumber daya terbarukan tidak harus mengalami kerusakan ( Sinclair, 1987).
Prinsip-prinsip Pertanian Berkelanjutan adalah ; Aman menurut wawasan lingkungan, menguntungkan menurut pertimbangan ekonomi, diingini menurut pertimbangan social, tanggap beradaptasi terhadap semua bentuk kehidupandan mudah beradaptasi dengan perubahan
Pertanian Berkelanjutan lebih memilih masukan dari luar usaha tani rendah (LEISA = Low External Input Sustainable Agriculture)
Masukan dari luar usaha tani rendah berarti : memanfaatkan bahan lokal, benih lokal, teknologi lokal, kearifan lokal dll, memasukkan tanaman serbaguna (baik sebagai kayu bakar, pupuk, makanan ternak, tanaman penguat teras, tanaman pelindung dll, memakai pupuk organik ( kotoran ternak, kompos, pupuk hijau, humus dll)Melaksanakan Pengendalian Hama terpadu (PHT) dan penggunaan pestisida botanis

Dalam mengatasi lahan kritis, peranan para pemuka agama juga sangat diharapkan dalam meningkatkan spiritualitas petani untuk tidak hanya melihat profesi sebagai petani untuk mendapatkan uang semata, tetapi juga menyediakan bahan makanan untuk sesamanya sebagai perwujudan iman dalam perbuatan. Memberikan penyadaran kepada para petani bahwa membiarkan lahan menjadi kritis dan dibiarkan kosong/tidur berarti membiarkan lahan ciptaan Tuhan menjadi rusak adalah pasti tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan iman yang diyakininya, seperti halnya orang yang diberi talenta namun hanya disimpan saja.

Para pendidik ditantang untuk melakukan penyadaran akan pentingnya menjaga kesuburan dan daya dukung lahan kepada para siswa yang dapat dimulai dari pendidikan anak-anak di sekolah dasar dengan memasukkan pelajaran yang berupa muatan lokal yang materi pelajarannya terkait dengan teknik-tenik konservasi lahan dan air, pelestarian lingkungan yang dapat berupa bahan bacaan bergambar/komik.

Para intelektual ditantang untuk menghasilkan pemikiran yang dapat diterapkan di lahan petani, sehingga penelitian terapan yang dilakukan sebaiknya dilakukan secara partisipatip dengan melibatkan petani yang akan menikmati hasil penelitiannya , dan pada akhirnya hasil penelitian yang menghabiskan dana yang tidak sedikit menjadi tidak mubasir.

LSM-LSM ditantang untuk meningkatkan perannya dalam melakukan pemberdayaan pada tingkat petani sehingga petani siap untuk mengakses dan menerima informasi yang dapat meningkatkan kualitas hidup dan alam lingkungannya

Para pembisnis ditantang untuk membantu petani dalam membangun jaringan pemasaran bersama yang adil , sehingga harga komoditas petani tidak turun naik/ berfluktuasi dan pembagian keuntungan dapat adil dan seimbang. Dengan pembagian keuntungan yang adil serta harga yang layak, petani termotivasi untuk terus berproduksi, sehingga aliran pasokan komoditas pertanian akan lancar dan berkelanjutan yang pada gilirannya juga akan berpengaruh pada keberlanjutan kegiatan bisnis mereka.

Diharapkan dengan kebersamaan dan bergandengan tangannya semua pihak yang peduli pada penanganan lahan kritis dapat mensinergikan kekuatannya dan menjadi lebih berhasil guna dan berdaya guna, daripada saling hanya menyalahkan maupun saling mengaku dirinya yang paling berperan. Dan jika ada pertanyaan tentang lahan kritis, maka kita dengan bangga akan mengatakan siapa takut mengelola untuk kebaikan anak cucu kita ? Semoga Tuhan YME menganugerahkan berkat kepada semua pihak yang berkehendak baik.

Entry filed under: Gerakan "hijau". Tags: .

Pengendalian Hama Dengan Pestisida Alami, Mengapa Tidak ? Hutan NTT, mata air yang menjadi air mata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Juli 2008
S S R K J S M
    Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: