Unit Transfusi Darah PMI di NTT, dicibir namun sekaligus didamba ?

Juli 7, 2009 at 4:41 pm Tinggalkan komentar

Menarik mencermati upaya berbagai Pemkab di NTT dalam pelaksanaan penerapan otonomi daerah untuk menggenjot  PAD dalam rangka meningkatkan dana pembangunan sekaligus mempercepat pembangunan daerah .

Namun sayangnya  dalam rangka penerapan otonomi daerah seringkali Pemkab di NTT lebih mengedepankan penyediaan alokasi anggaran dana untuk unit SKPD yang dapat meningkatkan PAD tanpa melihat sebenarnya apa peran strategis yang harus dimainkan oleh unit tersebut.

Contoh menarik ketika unit transfusi darah PMI yang menjadi bagian dari tugas kemanusiaan untuk membantu menyiapkan darah bagi penyelamatan jiwa seseorang tanpa pandang bulu, justru seringkali dianaktirikan dalam penyediaan anggaran untuk dana operasional pelayanannya.

 

Masih banyak pengurus PMI di berbagai kabupaten mengeluh karena PMI yang mereka kelola belum mempunyai lokasi dan bangunan yang menetap dan terpaksa harus menumpang atau yang lebih tragis lagi harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya seperti halnya anak kost. Belum lagi untuk pencairan pendanaan operasional yang seringkali tertunggak pembayarannya karena harus mengikuti berbagai mekanisme pencairan yang tidak mudah dan sering berbelit-belit karena harus menunggu pembayaran dari dana SKPD  lainnya.

 

 

Setetes darah, dapat menyelamatkan nyawa , hanya sebuah slogan basi ?

 

Sering  kita mendengar atau membaca dalam berbagai tempat tempelan  poster atau tulisan yang mengingatkan kita akan pentingnya darah bagi kehidupan manusia.

Namun yang terjadi, ajakan untuk menjadi donor sukarela tetap tidak mudah dipenuhi dengan berbagai seribu alasan. Padahal kita sangat  tahu dan sadar betapa penting arti setetes darah bagi penyelamatan jiwa seseorang yang sedang berjuang melawan maut baik karena kecelakaan, operasi melahirkan maupun untuk operasi karena berbagai penyakit dll. Sebagai umat beriman kita diajak untuk solider dengan sesama yang membutuhkan pertolongan, dan mendonorkan darah adalah salah satu cara termudah dan tidak kehilangan apapun dari kita.

 

Mengapa demikian? Kita tahu jika darah seseorang tidak didonorkan dalam jangka waku minimal 90 hari (3 bulan) maka akan terbuang percuma karena digantikan dengan yang baru, sehingga alangkah sayangnya  jika darah yang harusnya dapat bermanfaat untuk orang lain yang sedang membutuhkan namun karena ketidak tahuan dan ketidakpedulian kita maka darah yang sangat berguna akan terbuang percuma.

 

Banyak alasan orang tidak mau mendonorkan darah , ada yang takut  karena ditusuk  jarum, ada yang takut karena nanti tertular penyakit, ada yang mengatakan takut badannya akan menjadi gemuk dan berbagai alasan lainnya.

Namun pengalaman selama menjadi donor darah, semua hal yang dikuatirkan ternyata tidak terjadi. Kalau hanya rasa sakit karena ditusuk jarum tentunya dapat dikalahkan dengan membayangkan alangkah sakitnya para penderita sakit yang membutuhkan donor darah apabila tidak tersedia darah untuk menolong nyawanya sehingga kesakitan yang kita tanggung yang tidak seberapa dan  hanya sebentar sebenarnya sangat tidak sebanding dengan kesakitan saudara atau teman atau bahkan seseorang yang tidak kita  kenal yang tidak  akan terbebas dari rasa sakit yang dideranya dalam waktu panjang apabila tidak tersedia darah.

Terkait dengan pelayanan publik oleh Pemkab, sudah seharusnya Pemkab menyediakan dana yang cukup  untuk memenuhi dana operasional pelayanan unit transfusi darah yang dikelola PMI  dan tidak boleh membiarkan PMI mengalami kesulitan dana operasional  maupun dana untuk melengkapi sarana penunjang lainnya seperti mobil ambulance, bangunan yang ber AC, sarana untuk pengolahan darah dst.

Jangan karena tidak menambah pemasukan PAD maka kemudian PMI dianaktirikan, dicibir namun ironisnya sekaligus didamba untuk selalu melayani dengan prima terkait dengan penyediaan darah.

 

Pemkab harus berani keluar dari kerangka berpikir “menambah PAD” untuk semua jenis layanan kemanusiaan karena  ini merupakan perwujudan dari  Sila Kedua Pancasila yakni Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

 

Sudah bukan jamannya lagi  membiarkan PMI terutama untuk Unit Transfusi Darah mengalami kebingungan sendiri dalam mengatasi masalahnya. Justru para pengurus PMI yang merupakan pendekar kemanusiaan di garda terdepan dalam layanan publik harus banyak memperoleh dukungan dan penghargaan serta berbagai kemudahan. Bahkan jika memungkinkan, para pendonor sukarela tetap, dapat diberikan kemudahan dalam berbagai pengurusan surat seperti Akte kelahiran anaknya, KTP dll meski mereka tidak memintanya.

 

Kita dapat bayangkan di sebuah kabupaten yang dekat Kota Kupang saja masih belum mampu berfungsi menyiapkan darah hanya karena belum ada aliran listrik yang diperlukan untuk pengoperasian alat penyimpan darah.

Alangkah indahnya jika PMI dapat didukung penuh dalam pelayanan kemanusiaan kepada masyarakat sehingga baik para pendonor darah maupun para pasien yang membutuhkan transfusi darah dapat sama-sama terlayani sehingga banyak nyawa yang tertolong dan tidak mati sia-sia.

 

Mari kita ajak warga masyarakat yang telah dewasa untuk mau berbagi dengan sesame mendonorkan darahnya secara periodik sebagai pendonor sukarela tetap sehingga banyak nyawa tertolong dan dapat mengurangi kesedihan yang tidak perlu karena ketiadaan darah.

Selamat mengabdi bagi para pengurus PMI  dan jajarannya, meski dengan ketulusan hati mengabdi bukan berarti mereka dibiarkan merana sendiri.

Ssisihkan dana untuk mendukung dana operasional PMI, bukankah janda miskin yang berkekurangan masih dapat memberi dari kekurangannya, mengapa kita tidak bisa? Sudah bukan saatnya untuk terus berkutat dengan berbagai alasan, tetapi ambil segera keputusan untuk menjadi pendonor darah bagi sesama karena  upahmu besar di surga.

 

 

YBT Suryo Kusumo

Tony.suryokusumo@gmail.com

 

Pengembang masyarakat dan pendonor sukarela tetap.

www.adikarsa.blogspot.com

www.adikarsagreennet.blogspot.com

https://adikarsa.wordpress.com

Entry filed under: Sosial. Tags: .

Pengalaman YSLPP dalam menerapkan program RAeD di Kabupaten Sumbawa “Meracuni Anak” sejak dini, mengapa dibiarkan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Juli 2009
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: