Mendidik anak menjadi kaya dan baik hati, mengapa tidak ?

Januari 19, 2010 at 10:40 am Tinggalkan komentar

Era informasi telah memasuki dan merasuki kehidupan masyarakat, baik di kota maupun di pedesaan meski tak diminta.

Pesatnya kemajuan Tehnologi Informasi (IT) telah banyak merubah paradigma dan berpengaruh sangat besar dalam membentuk pola hubungan antar individu maupun antar masyarakat yang berbeda SARA.

Dalam kehidupan rumah tangga, kehadiran perangkat audio visual  baik berupa TV, VCD, games , mobile phone/HP dan juga internet telah merubah secara total dan drastis pola relasi dalam keluarga.

 

Kebiasaan mendongeng sudah jarang dilakukan para orang tua, kebiasaan duduk bersama berceritera sambil menatap bulan yang sedang purnama atau taburan bintang di langit menjadi barang mahal, juga  bermain gundu maupun petak umpet sudah ditinggalkan, dan merupakan kemewahan tersendiri bagi anak kota .

 

Demikian pula dalam memandang dan memilih perkerjaan sebagai sumber penghasilan telah bergeser dengan cepatnya, dimana sebelumnya pekerjaan dianggap sebagai tempat mengabdi, mengaktualisasikan  diri, dan tidak dipungkiri juga untuk menaikkan status sosial, namun saat sekarang pekerjaan dimaknai sebagai jalan tercepat untuk mengumpulkan dan mempunyai asset/kekayaan yang mampu menunjang gaya hidupnya sehingga merasa aman secara finansial, tidak harus menunggu pensiun dihari tua , tetapi bagaimana dapat pensiun dini dengan asset yang berlimpah dan tersebar dibanyak tempat investasi yang mampu menopang dan memenuhi gaya hidupnya serta memberikan kenyamanan.

 

Keinginan anak muda menjadi pegawai negeri bagi generasi yang sudah tersetuh globalisasi sudah tidak menarik dan bukan jamannya lagi, apalagi keinginan menjadi tentara yang bertugas mulia menjaga keutuhan NKRI, atau menjadi polisi yang menjadi bayangkara Negara, atau pilihan menjadi pemuka agama yang menjaga benteng keimanan kita.

 

Anak muda sekarang lebih tertarik dengan pekerjaan yang menjanjikan penghasilan yang besar untuk memupuk kekayaan/asset dimana kemudian akan diinvestasikan dan  menjadi penghasilan yang tiada habisnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam jangka panjang. Mereka tidak lagi mau menunggu tua dulu baru menikmati pensiun, tetapi mau memiliki  kebebasan financial untuk mewujudkan kehiidupan yang mapan, aman, dan nyaman.

Salah satu buku Robert T Kyosaki berjudul Cash flow Quadran telah membuka pikiran banyak anak muda  untuk sebuah kehidupan yang mapan dan nyaman dan mempengaruhi wawasan  anak muda untuk tidak mau lagi berada dikuadran kiri, namun ingin berpindah  ke kuadran kanan.

Sebenarnya sangat baik jika semakin banyak anak muda yang tidak lagi mau menjadi PNS yang berarti semakin banyak yang mau terjun kedunia bisnis yang akan memberi masukan bagi Negara berupa pajak, serta memberi peluang lapangan kerja bagi para intelektual dan profesional sehingga tidak menjadi pengangguran terdidik. Semakin banyak anak muda yang mau berusaha, semakin besar potensi untuk perputaran keuangan yang semakin kencang berputar, apalagi jika disertai dengan penerapan teknologi mutakhir yang banyak meningkatkan nilai tambah daripada hanya menjual bahan baku mentah.

 

Maka melihat peluang demikian, sudah seharusnya dipikirkan sejak dini untuk lebih memanfaatkan  IT dalam pengembangan dunia pendidikan.

Pengajaran system kelas sebaiknya mulai digantikan system online, perpustakaan fisik harus dipikirkan untuk digantikan dengan perpustakaan elektronik  (E-library) .

Kantor layanan publik sebaiknya tidak diarahkan untuk memperluas dan menambah gedung tetapi diarahkan untuk bagaimana  pelayanan dilakukan secara online seperti halnya perbankan yang sudah menerapkan e-banking, atau dibeberapa daerah system tender sudah dilakukan secara online untuk menghindari praktek KKN. Penerapan perubahn  strategi seperti  halnya didunia penerbangan terkait  pemesanan tiket secara online selain mempermudah, juga mengurangi biaya tranpor, mengurangi kepadatan lalu lintas, mengurangi waktu yang terbuang jika harus memesan secara fisik, juga mengurangi penggunaan kertas sehingga dapat mengurangi penebangan pohon yang berarti menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi dampak pemanasan global.

 

Hemat pangkal kaya dan Rajin pangkal pandai.

 

Sejak kecil kita sudah diajarkan berbagai pepatah lama seperti Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai. Namun dalam kehidupan sekarang, berperilaku hemat saja ternyata tidak cukup sebagai strategi tunggal untuk menjadi kaya sebab saat ini dituntut cara berpikir yang tidak hanya linear tetapi juga literal.

 

Kerja keras saja tidak cukup, tetapi harus kerja cerdas  dengan jalan memanfaatkan jaringan (teman  kerja, teman sekolah, teman pergaulan sosial dll) dimana ibaratnya kita lebih baik punya 1.000 ekor sapi yang dipelihara oleh mitra kita sebanyak 1000 orang masing-masing 1 ekor daripada kita sendiri yang harus memelihara , karena selain ribet, banyak masalah, harus terus menerus mengawasinya sehingga tidak punya waktu untuk menikmati hidup, juga resiko kegagalan akan lebih besar.

Selain memanfaatkan jaringan, kita harus jeli melihat dan memanfaatkan temuan teknologi yang akan membantu kita dalam menjalankan usaha.

Kita juga harus banyak belajar terkait perubahan cepat yang terjadi diseputar kita, sehingga cara-cara lama harus ditinggalkan dan digantikan cara baru  yang lebih efisien dan efektip.

Purdi E Chandra pemilik PRIMA GAMA telah mengajarkan pada kita tentang BOTOL (Bisnis dengan Tenaga Orang Lain) dan juga BODOL (Bisnis dengan Dana Orang Lain).

Artinya keluhan klasik  seperti kita tidak punya waktu  maupun tidak punya modal sudah tidak jamannya lagi, karena yang dibutuhkan adalah kemauan yang kuat untuk memiliki usaha sendiri, pantang menyerah, tidak mudah putus asa, mau bekerja keras dan cerdas yang mampu mengeluarkan kita dari jebakan sebagai pekerja/buruh yang ada di posisi kuadran kiri.

 

Pengertian  Rajin pangkal pandai, saat ini harus dimaknai tidak hanya berpatokan pada pendidikan formal,yang telah kita lalui  tetapi bagaimana kita menjadi pembelajar seumur hidup meminjam isitilah Andreas Harefa untuk terus berusaha meningkatkan kualitas diri dan dalam rangka menyiasati perubahan yang begitu cepat sehingga tetap dapat bertahan dan justru memimpin di barisan terdepan bukannya terdepak maupun terjebak dalam perlombaan tikus (rate race).

Kecepatan dan ketepatan menjadi hal yang penting dalam ikut arus perubahan kedepan. Bangsa  kita masih hanya bisa menatap rembulan atau menjadikan bulan sebagai personifikasi dalam karya seni, sementara bangsa lain telah sampai di bulan.

 

Sudah saatnya ditengah arus pusaran globalisasi, kita harus membuka diri seluas-luasnya serta membangun jaringan sebanyak-banyaknya untuk hal yang positip tanpa harus kehilangan jati diri kita.

 

Anak sejak usia dini harus dikenalkan dengan bahasa internasional seperti Bahasa Ingris, Jepang dan China. Anak diberikan fasilitas sekolah internasional agar tidak hanya pandai dalam menuntut ilmu, tetapi juga mempunyai jaringan yang strategis dengan anak orang kaya sehingga belajar bagaimana kedepan menjadi kaya serta menjadi warga global namun tetap tidak tercerabut dari akar budayanya.

 

Namun yang harus diwaspadai adalah efek dari keterbukaan dan kemajuan IT  yang jika tidak dibentengi keimanan yang kuat akan terjebak dalam dunia hitam penuh maksiat seperti korupsi, kolusi, nepotisme, seks bebas, narkoba dll.

 

Tantangan kedepan adalah bagaimana dengan kekayaan dan kepintaran yang kita miliki  semakin banyak bisa berbuat baik untuk menolong sesama lainnya keluar dari lingkaran setan kemiskinan seperti yang telah dilakukan orang kaya di dunia seperti BillGates yang membantu melalui yayasannya kepada bangsa lainnya, juga keluarga Ford dengan Ford foundation-nya.

 

Memang tidak mudah tetapi bisa, seperti peringatan dini yang diungkapkan secara bijak yakni  “Lebih mudah seekor unta masuk ke lubang jarum, daripada orang kaya masuk kedalam kerajaan surga”.

 

Menjadi tantangan dalam gaya hidup yang memuja hedonisme dan konsumerisme untuk mendidik diri kita  maupun anak muda untuk bagaimana menjadi kaya namun tetap baik hati jauh dari sikap sombong, pelit dan serakah dan menjadikan hidup lebih hidup, bermakna dan menjadi penuh.

 

Semoga.

 

 

Entry filed under: Dunia ANAK sehat,cerdas,ceria. Tags: .

Bersikap TULUS (CICAK) atau TO LOSS (BUAYA)? Banjir dan longsor dimana-mana , kerusakan lingkungan yang sistemik ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Januari 2010
S S R K J S M
« Nov   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: