Balita Gizi buruk terjadi, mengapa harus “Buruk muka cermin dibelah?”

Maret 12, 2010 at 9:47 am 2 komentar

Lantunan tembang duka terus mengiang di telinga, ketika satu lagi balita berumur 9 bulan dari suatu desa di NTT  terpaksa harus dibawa ke TFC untuk ditangani dan dipulihkan kondisi kesehatannya sehingga terhindar dari kematian.

 

Trenyuh hati ini ketika ada lagi beberapa bayi yang terpaksa belum memperoleh perlakuan dan kesempatan yang baik untuk tumbuh optimal menjadi manusia Indonesia yang siap menghadapi globalisasi karena menderita gizi buruk.

 

Ada banyak penyebab antara lain karena pola asuh, terbatasnya asupan gizi karena kurangnya ketersediaan  pangan, atau juga karena permasalahan ekonomi orang tua terutama sang ibu yang harus merantau menjadi TKW dan tidak dapat memberikan ASI Eksklusive bayinya demi memenuhi kebutuhan hidup minimal yang ketika  berada dikampung halamannya tidak dapat terpenuhi.

 

Ironis memang diatas hamparan “mangan, marmer,emas” yang saat ini gencar ditambang, diantara kenangan tentang rimbunnya wangi pohon  kayu cendana , diantara lebatnya buah apel, diantara ribuan ternak sapi lepas , diantara hutan Lontar dan Gewang, dan sebentar lagi jeruk keprok yang sedang merana dan hampir punah terkena hama penyakit  ternyata masih ada generasi penerus yang siap secara berkelanjutan untuk jatuh ke jurang gizi buruk yang hanya tinggal satu langkah menuju kematian.

 

Apa yang salah dengan semua ini ?

 

Ketika Negara meletakkan Dasar Negara berupa Pancasila dengan UUD 45 , dan diwujudkan melalui tangan pemerintah sebagai penyelengara Negara, maka diharapkan sila ke-5 Pancasila dapat segera terwujud yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, dan penjabarannya salah satunya di pasal 34 UUD 45.

 

Namun dalam kenyataan 65 tahun bernegara, kita masih terjebak dalam kemiskinan yang tak berujung dan salah satunya ditandai dengan masih terjadinya kematian balita akibat gizi buruk yang tidak tertangani dengan baik akibat terbatasnya dana kesehatan yang ada

 

Tidak perlu kita menggunakan angka statistik sebagai dasar menentukan Kejadian Luar Biasa (KLB), karena sebenarnya atas dasar kemanusiaan, maka satu bayipun  yang meninggal akibat gizi buruk seharusnya sudah mampu mengusik nurani kita terutama para pejabat publik untuk  menggugat dan melihat kembali  sistem layanan publik di berbagai bidang baik  pertanian, kehutanan, sosial, kesehatan dll.

Apa sebenarnya yang salah  dengan layanan publik kita ?

Matinya seorang balita karena gizi buruk sebenarnya  mencerminkan masih lemahnya  layanan publik di lintas sektor, tidak hanya di bidang  kesehatan, tetapi hal ini merupakan resultate atau gabungan  dari lemahnya layanan di berbagai sektor.

Artinya kalau kita melihat kembali manajemen pembangunan nasional yang berwajah sektoral, seharusnya kondisi ini menjadikan pemerintah berefleksi dan  mempertanyakan kembali  apakah pilihan strategi dengan pendekatan sektoral ampuh untuk mengatasi ke miskinan ?

 

Selain itu, alokasi dana baik dalam APBN maupun APBD kebanyakan belum menceminkan anggaran yang dialokasikan dengan mengutamakan pada kepentingan rakyat, namun justru kue pembangunan yang ada lebih banyak dinikmati kelas menengah ke atas dengan berbagai trik dan modus operandi mengkadali rakyat yang menjadi customer atau pelanggannya.

 

Mari kita lihat, mobil dinas yang jumlahnya berjibun namun dengan layanan yang masih minim karena lebih banyak berada di kota  menunjukkan rendahnya empati para pelayan publik yang biasa disapa pejabat dengan rakyat yang dilayaninya, belum lagi banyaknya dana untuk studi banding dan kunjungan kerja yang ternyata tak banyak mengubah keadaan ketika mereka kembali.

 

Masih dominannya presentase anggaran dana pembangunan untuk membiayai operasional menyebabkan tidak tersedia dana yang cukup bagi pembangunan, belum lagi berbagai kepentingan yang masuk untuk memperoleh proyek, penggelembungan/mark up proyek dan berbagai trik lainnya dalam upaya memperkaya diri.

 

Balita gizi buruk tanda matinya nurani rakyat

 

Peristiwa meninggalnya balita karena gizi buruk sering hanya dipandang sebelah mata karena dianggap kejadian biasa dan tidak aneh. Namun jika kita cermati lebih dalam dan mendasar, adanya balita gizi buruk menjadi tanda peringatan dini adanya layanan publik  yang salah yang didelivery/disampaikan pada masyarakat.

Bukan saatnya lagi kita mencari kambing hitam, juga bukan saatnya membiarkan SAPI (Saya Pikir) berkeliaran dengan wacana yang begitu bagus dan cerdas namun sayangnya tak ada wujudnya, bukan saatnya  lagi kelompok BABI (Banyak Bicara) menjual mimpi kosong disiang bolong dan menina-bobokkan masyarakat dengan janji politik, sinetron dan bualan yang menyebalkan.

 

Sudah saatnya hati nurani para pelayan publik menjerit ketika ada balita gizi buruk diwilayahnya dan menjadikan masalah ini sebagai prioritas penanganan tanpa harus melihat jumlah penderitanya.

Harus dicari terobosan dan strategi baru agar permasalahan ini tidak berulang, misal salah satu contohnya adalah bagaimana adanya kesadaran bersama terutama dari para pejabat publik untuk menyelamatkan lingkungan dengan gerakan menanam pohon, menunda penambangan (emas, mangan, marmer dll) yang tidak ada amdalnya atau yang tidak terjamin kelestarian lingkungan dan hanya menguntungkan pengusaha saja.

Mengajak anak-anak peduli lingkungan juga perlu terus digalakkan dengan gerakan nyata menanam pohon.

Pihak pemuka agama perlu secara lebih berani dan strategis membumikan teologi lingkungan dikalangan umatnya, dimana membiarkan lahan rusak/longsor, menebang pohon sembarangan dll   merupakan tindakan dosa yang tak terampunkan.

 

Para wakil rakyat di berbagai tingkatan perlu melihat kembali alokasi dana pada berbagai SKPD lintas sektoral sehingga tersedia dana yang cukup untuk menangani problem gizi buruk dengan pendekatan integral/terpadu melalui revitalisasi Posyandu dengan jalan  memperkuat peran dan keberadaan Pokjanal Posyandu sehingga kita tidak lagi hanya fokus pada penanganan yang bersifat kuratip dengan menunggu jatuhnya balita ke status gizi buruk, tetapi lebih memperkuat peran Posyandu sebagai wujud keterlibatan masayarakat dengan filosofinya  dari, oleh dan untuk masyarakat.

Posyandu (penanganan hulu) sebagai media promosi dan prevektip diharapkan dapat menjadikan balita dapat tumbuh sehat dan optimal tumbuh kembangnya sehingga menjadi anak sehat, cerdas dan berbudi.

 

Usia emas (24 bulan) harus benar-benar dijaga untuk mendapatkan anak dengan prosesor yang cepat dalam otaknya  sehingga tidak menjadi Pentium 1 yang LOLA alias loading lambat.

Setiap desa harus berani mengalokasikan dana ADD yang cukup  untuk mendukung Posyandu sebagai media belajar, sharing pengalaman, media pelayanan kesehatan dan tumbuh kembang anak, media untuk meningkatkan pendapatan keluarga melalui layanan teknis yang langsung terkait dengan pekerjaan masyarakat.

 

Mari kita hidupkan kembali nurani yang merupakan anugerah kita sebagai manusia ciptaan Tuhan yang berharkat dan bermartabat sehingga membuat kemanusiaan kita semakin tajam dan bijaksana  karena terasah hati nurani kita.

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya wahai Balita Indonesia, jangan biarkan masa depanmu terenggut hanya karena semakin matinya nurani kita para orang tua maupun pelayan publik serta pemangku kepentingan lainnya.

 

Kita penuhi salah satu Hak Anak yakni Hak untuk Hidup lebih panjang dengan menjadi manusia Indonesia yang cerdas, berkelimpahan, berwawasan luas alias bagaimana menjadi kaya namun  tetap baik hati

 

Entry filed under: Dunia ANAK sehat,cerdas,ceria. Tags: .

Pansus Century, pertarungan hati nurani vs dagang sapi atau sekedar sandiwara politik ? Membangun CAFÉ Anak sebagai PUSAT PEMBELAJARAN ANAK Indonesia

2 Komentar Add your own

  • 1. DIANA NAITBOHO  |  Maret 12, 2010 pukul 4:39 pm

    LIKE this your paper about gizi buruk…
    moga2 saja mereka2 yang dipercayakan TYMK sdar akan tgas n tj alias tnggungjawab untk ttap prjuangkan ksjhteraan masyarkat khususx anak…
    a have a dream suatu saat NTT bsa jadi tladan dengan status gizi pada anak…”good”

    Balas
  • 2. sixtus bere  |  September 30, 2011 pukul 8:02 pm

    thanks.. tulisannya menarik. Semoga makin banyak anak yang lahit dari rahim bumi NTT diperhatikan dan cintai… Merawat kehidupan anak adalah merawat aset dan masa depan NTT itu sendiri, agar bisa sadar keluar dari kemelut kemiskinan tiada akhir itu.. Salam Perubahan!! kita kode ulang karakter kita menuju NTT yang makin jaya..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Maret 2010
S S R K J S M
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: