Anarkisme, brutalisme, premanisme, sadisme, mafia dan sebangsanya , buah terlarang dari dekadensi moral bangsa ?

April 5, 2010 at 1:15 pm Tinggalkan komentar

Aneh tapi nyata, ditengah gencarnya semangat pemberantasan korupsi, ditengah gencarnya syiar melalui mimbar agama dari berbagai agama untuk meningkatkan keimanan masyarakat Indonesia, ditengah hiruk pikuknya pembangunan fisik yang mampu dan telah mengubah wajah bangsa Indonesia, namun semuanya seolah tidak mampu merubah wajah bangsa yang tengah dirudung duka nestapa ini dengan berbagai bencana baik bencana alam (longsor, banjir,gempa dll), politik (kasus Bank Century, Markus Pajak dll)  maupun bencana merosotnya moralitas bangsa dengan  dijulukinya Indoensia sebagai  Negara terkorup di Asia.

Lihatlah  tayangan TV yang tidak pernah lepas dari kekerasan dalam segala bentuknya seolah wajah bangsa yang terkenal ramah tamah murah senyum serta tingginya rasa solidaritas melalui gotong royong ini  telah luluh lantak dengan aksi kekerasan yang anarkis secara fisik seperti tawuran, bentrokan maupun yang tak kalah ganasnya seperti mafia koruptor yang bergentayangan disegala lini kehidupan. Apakah masih ada tersisa sedikit kebanggaan menjadi anak negeri ?

Anarkisme, brutalisme dll , hilir dari buruknya penegakan hukum

Mari kita lihat dalam berbagai tayangan TV bagaimana ganasnya para suporter Bonek dalam membela kesebelasan kesayangannya namun sayangnya dengan cara kekerasan dan merugikan banyak pihak, juga bagaimana ganasnya tawuran antara para pelajar yang membawa senjata tajam dan telah menelan banyak korban meninggal, bahkan sekarang juga dilakukan oleh para mahasiswa yang sebenarnya kedepan diharapkan menjadi pemimpin yang lebih mengedepankan kekuatan intelektualitasnya, tidak dengan emosional.

Bahkan dikalangan anggota DPR RI yang terhormat, cara-cara kekerasan baik melalui lisan maupun  fisik telah dipertontonkan kepada rakyat yang diwakilinya ketika membahas kasus Bank Century yang sangat disayangkan justru dilakukan oleh para wakil rakyat yang seharusnya menjadi panutan.

Yang lebih memprihatinkan justru Satpol PP yang merupakan aparat sipil justru doyan sekali menggunakan cara-cara kekerasan yang cenderung brutal dan telah makan banyak korban atas nama penegakan Perda.

Dan yang sekarang sedang kita nikmati di tayangan TV bagaimana para Mafioso hukum dengan lincahnya bermanuver baik yang kebetulan berseragam maupun tak berseragam seolah-olah mereka dengan enak dan bebasnya menyatakan dirinya seolah-olah bersih. Bahkan berbagai diskusi di media selalu dinyatakan ini adalah momentum emas yang baik untuk perbaikan hukum dinegeri ini namun seolah menguap begitu saja tanpa perubahan berarti.

Harus diingat rakyat butuh perubahan nyata , bukan hanya sekedar pernyataan yang seolah-  dapat menyelesaikan masalah. Para pimpinan yang bersentuhan dengan hukum sebaiknya mulai dari lembaganya membersihkan para oknum pembungkuk hukum dan melakukan revolusi untuk menunjukkan pada rakyat bahwa negeri ini masih berdasar hukum bukannya kekuasaan, bahkan jika ada rasa malu sudah selayaknya pimpinan yang tidak mampu melakukan perubahan secara jantan dan terhormat menyatakan mengundurkan diri dan memberikan kesempatan pada orang lain untuk membersihkannya.

Negeri ini telah mengalami keparahan kronis dalam memiliki rasa malu bagi para pimpinan penegak hukum sebagai pemimpin bangsa yang seolah telah  kebal, mati rasa nuraninya  dan tidak punya lagi rasa malu dan harga diri. Sebagai Leader/Pemimpin seharusnya dirinya dapat mengukur kemampuannya tanpa harus diminta untuk mundur dari jabatannya dan kualitas kepemimpinan diukur dari perubahan kearah yang lebih baik. Artinya jika publik mencurigai buruknya moralitas penegak hukum dilembaganya, maka sebagai pemimpin seharusnya dapat menunjukkan bukti nyata telah ada pembersihan besar-besaran dan perubahan nyata, bukan justru berputar-putar dengan berbagai alasan untuk membenarkan tindakannya yang tidak benar.

Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti suatu saat akan jatuh juga, dan serapat-rapatnya membungkus bangkai, pasti akan tercium bau busuknya. Siapa yang salah akan ketahuan meski menutupi dengan berbagai trik dan intrik, dan kebenaran akan tetap sebagai kebenaran meski disalahkan.

Penguatan masyarakat sipil sebagai kekuatan kontrol

Berbahagialah masyarakat Indonesia yang meski dibungkam dengan berbagai cara baik dari sejak dari jaman Orla , Orba sampai Orde Reformasi sekarang namun masih saja mampu menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Kita masih ingat gerakan para face- booker di dunia maya dalam mendukung Prita, Bibit –Candra dan sekarang gerakan boikot membayar pajak.

Lihatlah perlawanan heroik para pedagang kaki lima (PKL) dalam memperjuangkan hak untuk mendapatkan penghidupan yang layak meski hanya berjualan di tempat terlarang menurut para pemegang kekuasaan (Legislatip dan Eksekutip) dengan Perda yang hanya dapat melarang  tanpa memberi solusi, bagaimana heroiknya para petani dalam mempertahankan hak atas lahannya, bagaimana para buruh memperkuat serikatnya untuk memperoleh hak-haknya salah satunya adalah upah yang layak untuk hidup. Dan juga jangan lupa bagaimana konsistennya para penduduk lokal dalam mempertahankan hak lahan komunalnya dari penyerobotan para pemodal kuat yang berkolusi dengan penguasa baik untuk perkebunan, pertambangan maupun lainnya.

Sudah saatnya rakyat bangkit untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai warga Negara sehingga pelayan publik yakni pemerintah dapat memberikan minimal layanan dasar dalam mensejahterakkan rakyatnya.

Pemasukan dana pembangunan dari pajak harus bersih dari korupsi sehingga pemerintah punya dana cukup untuk membayar hutang yang jumlahnya hampir Rp 1.620 trilyun dan menjadi bangsa yang lebih mandiri dan bermartabat karena tidak perlu mengemis serta membayar bunga hutang sehingga punya dana cukup untuk menyediakan listrik murah, pendidikan murah bahkan gratis, pelayanan kesehatan yang bermutu namun terjangkau , begitu pula dana pajak yang masuk dan digunakan untuk pembangunan juga harus bebas dari korupsi. Jika tidak ada kontrol maka akan terjadi perampokan uang rakyat sebanyak dua kali baik saat masuk sebagai dana pajak maupun keluar saat penggunaannya dalam pembangunan.

Trias politica melalui pemisahan eksekutif, legislative dan yudikatif  yang diharapkan mampu mengontrol kekuasaan ternyata belum berjalan dengan baik di Indonesia.

Legislatif belum mampu mencerminkan aspirasi rakyat yang diwakilinya karena masih lebih memperjuangkan kepentingan partai dan lebih memilih kuasa serta beberapa anggotanya tidak terhormat karena tersangkut masalah korupsi.

Yudikatif sudah babak belur dengan mafia peradilan yang bersinergi dengan mafia pajak yang telah merampok dana rakyat secara sistematis dengan jumlah yang pasti mencengangkan, dan wajah peradilan yang semakin menampakkan wajah yang tidak adil dengan diadilinya dua janda pahlawan yang telah renta, kasus Anggodo-Bibit-Chandra, Prita dll.

Dan eksekutif terus terpenjara dengan bebagai kepentingan para pendukung tim suksesnya dan melupakan rakyat yang telah memilihnya dan layanan publiknya masih belum bebas sepenuhnya dari praktek KKN.

Rakyat merasa sendirian memperjuangkan haknya seperti pada kasus Lumpur Lapindo dan perjuangannya hanya  oleh media TV dan cetak yang mudah-mudahan tidak terkooptasi dengan para pemilik modalnya yang pasti tidak lepas dari kepentingan dirinya.

Rakyat kecil yang terkena kasus hukum baik yang direkayasa maupun sesungguhnya belum merasakan keadilan dalam setiap putusan hukumnya dan dibiarkan merana sendirian. Para TKW-TKI yang teraniaya belum sepenuhnya terlindungi secara hukum dinegeri orang.

Saatnya rakyat bersatu memperkuat dirinya sebagai kekuatan masyarakat sipil untuk menunjukkan dirinyalah yang berdaulat dan pemerintah maupun lembaga Negara hanya diberi mandat yang setiap saat dapat dicabut jika melawan amanat penderitaan rakyat dan gagal mensejahterakan rakyat yang dilayaninya.

Entry filed under: Politik. Tags: .

Warga negara bijak taat pajak, Pemerintah bijak seharusnya libas “Markus Pajak” Hak Anak atas lingkungan kehidupan yang sehat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Tamu Adikarsa

  • 49,086 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: