Wajah brutal Satpol PP dalam pembongkaran makam Mbah Priok, masihkan Satpol PP diperlukan ?

April 14, 2010 at 12:56 pm Tinggalkan komentar

Sungguh luar biasa, ditengah derap pembangunan Indonesia yang semakin berwajah demokratis, bukan lagi dijaman perang namun justru dalam situasi damai, kita disuguhkan oleh media tentang “Perang Sipil” antara warga yang menolak pembongkaran disatu sisi dengan Satpol PP yang menyebabkan jatuhnya korban tewas dikedua belah . Banyak tayangan yang mengabarkan tentang kebrutalan Satpol PP di berbagai daerah yang seringkali lebih mengedepankan pendekatan dengan cara kekerasan daripada jalan damai.

Di beberapa daerah dalam setiap penggusuran dan pengosongan lahan selalu melibatkan Satpol PP yang mana sebagai Satuan Pamong Praja seharusnya lebih mengedepankan pendekatan persuasip (ngemong bhs Jawa) ketimbang kekerasan dalam segala bentuknya. Seharusnya Satpol PPjangan dijadikan  alat kekuasaan tetapi lebih pada menjaga ketertiban umum dalam melaksanakan Perda yangmembela kepentingan rakyat yang dilayani, bukannya Perda yang  lebih memihak pada pemodal . Satpol PP sebaiknya dibubarkan saja jika  justru hanya menjadi alat kekuasaan untuk bertindak brutal dan sewenang-wenang dan peran serta fungsinya dikembalikan pada kepolisian.

Filosofi gotong royong dan kekeluargaan ada dimana ?

Memang Satpol PP hanya dijadikan alat saja , sebagai garda terdepan oleh  pemegang  kekuasaan  sehingga wajar jika mereka lebih memilih kekerasan karena mereka dilatih dan dibekali dengan berbagai senjata pemukul . Sebenarnya tradisi di Satpol PP yang “harus dan hanya mengikuti perintah atasan” perlu ditinggalkan dan anggota Satpol PP harus cerdas dan kritis dalam menjalankan perintah karena mereka dibayar dari pajak rakyat dan untuk melayani rakyat. Mereka para Satpol PP seharusnya merasa menjadi bagian dari keluarga besar rakyat dan tidak harus memihak penguasa yang memerintah jika perintah itu sendiri melanggar hukum dan prinsip keadilan.

Bukankah  dalam Panca Sila yang menjadi falsafah bagi seluruh  aparat Satpol PP sudah ditegaskan secara terang benderang dalam sila ke -4 dan kelima yang mengamanatkan perlunya musyawarah yang berhikmah kebijaksanaan serta keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia?  Dengan demikian mindset/pola piker  para Satpol PP dalam menghadapi rakyat harus dilihat sebagai tuannya bukannya sebagai pihak musuh yang harus dilibas dan ditindas. Mereka harus belajar lebih mengedepankan jalan damai yang bermartabat daripada kekerasan yang menimbulkan luka dan dendam yang berkepanjangan dan dapat menjadi benih untuk perlawanan rakyat/people power  terhadap pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat. Saatnya disaat ganyang mafia pajak, mafia Markus dan lainnya, hukum harus ditegakkan dan jika Satpol PP harus mengeksekusi yang meskipun berdasar putusan pengadilan namun melawan suara hati nurani rakyat maka tidak perlu dilakukan karena justru akan mencederai hukum ang bisas dibeli oleh para pemodal dan juga para penguasa yang menyalahgunakan kekuasaan ?
Sudah saatnya jika para Satpol PP masih ingin tetap dipertahankan untuk perlunya diberi bekal mengenai pemahaman HAM sehingga perilaku mereka jauh dari kesan sadis, brutal dan seperti binatang . Dimana rasa kemanusiaan mereka yang katanya mendasarkan pada Panca Sila ? Bukankah sila kedua mengamantkan Kemanusiaan yang adil dan beradab ? Beradabkah cara dan perlakuan mereka yang menyeret, memukuli, mengobrak abrik, mengambil paksa barang dagangan dan lapak penjualan para pedagang kecil yang hanya berjualan untuk bisa bertahan hidup?  Cara-cara kekerasan dengan jalan memukuli dan mengeroyok rakyat yang tak berdaya seperti para PKL bagaikan memukuli anjing sudah selayaknya ditanggalkan dan ditinggalkan karena melawan rasa kemanusiaan dan keadilan. Jangan dikira dengan cara arogan dan kekerasan seperti itu mereka akan dapat menertibkan masyarakat , namun yang harus dilakukan sebaiknya cara –cara simpatik seperti membantu membersihkan lingkungan kumuh dengan kerja bakti sebagai wujud gotong royong, membantu membangun kios-kios PKL sehingga menjadi lebih cantik dan tertib, memfasilitasi para pedagang asongan dan PKL untuk hidup bersih, menjaga dan mengamankan anak sekolah ketika mereka selesai belajar dan pulang di area sekolahan , membangun serta memlihata hutan kota dst. Jika aksi simpatik ini yang lebih dikedepankan maka Satpol PP akan dicintai masyarakat karena selama ini masyarakat menganggap Satpol PP tidak lebih dari preman legal milik pemerintah yang siap bertindak apa saja dan brutal demi memuaskan para atasan dan pemerintah yang menggajinya. Jadi perlu ada reformasi ditubuh Satpol PP agar mereka menjadi pelayan dan pelindung yang datang dari kalangan sipil yang dapat diandalkan dan bukan sebaliknya justru menjadi momok masyarakat. Jadi sangatlah aneh jika Satpol PP yang dilahirkan dari ibu kandung kalangan sipil justru senang sekali menggunakan cara kekerasan daripada jalan damai dan negosiasi.Dari pengalaman selama ini memang terlihat  rancu keberadaan dan tugas  Satpol PP dengan Polisi sehingga perlu ada kajian mendalam dan menyeluruh tentang keberadaannya.

Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi rusuh ?

Sangat disayangkan jika tujuan awal keberadaan Satpol PP  untuk membantu terciptanya ketertiban umum, namun dalam pelaksanaannya justru sering menimbulkan bentrok dan rusuh. Perlu ada kejelasan dalam pelaksanaan di lapangan, siapa yang bertanggung jawab jika ada perlakuan Satpol PP yang justru melanggar HAM . Harus ada proses hukum terhadap para penangung jawab dan para pelaksana di lapangan jika terjadi pelanggaran HAM dan member efek jera sehingga Negara Indonesia benar-benar Negara yang berdasar hukum bukannya kekuasaan. Rentang waktu yang lama dengan pembiaran perilaku Satpol PP yang cenderung brutal dan penuh kekerasan seakan membenarkan adanya perilaku yang melanggar hukum dan seolah mereka kebal hukum, tidak ada bedanya dengan para Mafioso baik di Perpajakan, Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan. Hal yang sama sebenarnya berlaku ketika preman masih dibiarkan beroperasi dengan backing para oknum penegak hukum.

Pertanyaannya apakah Negara kita mau dibawa menuju Negara kekuasaan dimana para pemegang modal bisa dengan seenaknya berkolusi dengan penguasa dalam mengamankan bisnisnya yang sangat menguntungkan dari sisi ekonomi namun justru menimbulkan rasa ketidakadilan bagi masyarakat?

 Lihat cara-cara penyelesaian kasus penguasaan lahan antara pemilik modal disatu sisi (seperti pemilik perkebunan) dengan masyarakat disisi lain yang sering dikalahkan jika masuk ke meja hijau karena masih adanya mafia dalam penegakan hukum. Kita harus menyadari Negara ada demi untuk menjadi jembatan emas dan wadah bagi warga Negara dalam mensejahterakan dirinya, sehingga sangat aneh jika selalu saja para pemodal kuat yang dimenangkan seperti  kasus penggusuran kios  pedagang kecil yang kemudian ditempati para pemodal. Sudah harus dievaluasi kepemilikan ribuan hektar lahan oleh pemodal, sementara banyak petani yang terus menderita karena hanya mampu menjadi petani penggarap saja karena ketiadaan lahan, tidak ubahnya masih seperti dijaman Belanda dengan VOC nya, hanya berganti baju saja. Kenapa keputusan seorang Bupati yang justru  pro rakyat di Jawa Timur yang menyerahkan lahan setelah selesai masa HGUnya oleh sebuah perkebunan kepada masyarakat kemudian diperkarakan dan anehnya yang  menjadi pemenang justru  pihak perkebunan sehingga masyarakat marah dan mematok lahan tersebut?

Inilah wajah buram ketidak adilan yang dipertontonkan oleh oknum penyelenggara Negara yang dibiayai dari mengutip pajak ke rakyat namun justru lebih senang berpihak pada pemodal dan membiarkan para mafia bergentayangan mempermainkan hukum di Indonesia. Sudah saatnya kalau tidak mau dikatakan terlambat untuk mengegakkan kembali kedaulatan rakyat dan mengembalikan layanan publik yang berpihak ke rakyat sebagai tuannya.

Entry filed under: Politik. Tags: .

Hak Anak atas lingkungan kehidupan yang sehat Indonesia lebih banyak punya Dealer daripada Leader ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: