Indonesia lebih banyak punya Dealer daripada Leader ?

Mei 11, 2010 at 3:18 am Tinggalkan komentar

Sebagai bangsa yang sedang membangun, kita sebenarnya sangat membutuhkan lebih banyak leader disegala bidang dan lini. Namun dalam kenyataannya masih banyak posisi yang seharusnya diduduki seorang leader namun karena keterbatasan maupun karena ada unsur KKN maka yang ditempatkan hanyalah seorang  dealer (meski jumlah dan jenis hurufnya sama dan hanya berbeda penempatan namun  sangat berbeda perannya). Apa yang sebenarnya membedakan antara dealer dan leader ? Dealer lebih menekankan pada penyelesaian persoalan secara normatip  tanpa mau mengambil resiko dan hanya sesuai dengan prosedur standar operasional (juknis dan juklak) tanpa visi yang jelas. Mereka para dealer tidak mau mengambil tanggung jawab lebih dan mengambil resiko dan lebih berorientasi pada target meski sebenarnya target yang dipasang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Sama halnya dengan penyelenggaraan Negara, pemerintah sekarang yang diberi mandat dan kepercayaan  untuk mensejahterakan rakyat yang memilihnya melalui pemilu lalu , ternyata lebih memilih hanya berputar-putar pada jargon, menjaga citra tanpa jelas seberapa besar peningkatan kesejahteraan rakyat yang telah diraihnya. Lihatlah begitu bangga pemerintah dengan angka-angka pertumbuhan ekonomi makro, namun coba kita menyelami kehidupan masyarakat bawah yang sudah lagi tak mampu menjerit karena kehabisan tenaga dan akal sehat untuk terus melanjutkan hidup meski hanya untuk sekedar bertahan hidup. Begitu susahnya rakyat kecil di lapisan bawah untuk memperoleh pendapatan hanya untuk memenuhi hidup yang masih dibawah standar layak. Ada keluhan seorang tukang becak yang menceriterakan bagaimana susahnya memperoleh uang saat ini sementara harga kebutuhan pokok terus naik. Dia mengatakan pada waktu Orde Baru untuk mendapat uang Rp 50.000 tidak sulit tetapi sekarang untuk dapat Rp. 10.000 saja susah sekali sehingga dia harus merangkap menjadi kuli angkut. Mari kita lihat ketidakadilan lain ketika Satpol PP mengobrak-abrik dagangan para penjual di kaki lima yang merupakan sumber pendapatan satu-satunya bagi rakyat kecil yang masih mau mendapat penghasilan dengan cara halal tidak seperti lazimnya  para pejabat yang memperkaya diri dengan cara korupsi namun masih berbangga diri dengan jabatannya yang tidak amanah.  Aneh bin ajaib atas nama menegakkan Perda untuk ketertiban dan kebersihan namun Pemda melalui tangan Satpol PP tega menghancurkan dagangan para pedagang kaki lima yang menjadi sumber pendapatan tanpa solusi yang lebih baik, sementara UUD dengan jelas mengamanatkan “Setiap warga Negara berhak mendapat penghidupan yang layak”. Begitu enaknya pemerintah dalam hal ini secara teknis ditangani Kementerian Tenaga kerja dan Trasmigrasi jika begitu saja lepas tangan terhadap angka pengangguran yang begitu tinggi sementara pedagang non formal justru dimatikan dengan menggunakan tangan Satpol PP serta kebijakan membolehkan membangun mall.supermarket/hypermarket dan wara laba lainnya  untuk pemodal kuat yang secara perlahan namun pasti akan mematikan usaha kecil.

Pimpinannya  seorang dealer yang korup

Susah memang mendapatkan seorang leader di Indonesia pada berbagai lini ,sementara untuk membangun negeri ini menjadi kuat sebenarnya lebih banyak butuh leader dibanding dealer. Apalagi jika seorang pemimpinnya  hanya seorang dealer namun korup pula, maka lengkaplah sudah penderitaan rakyat kecil, karena tidak ada yang dapat diharapkan dari layanan publik yang dipimpin seorang dealer yang korup. Mari kita lihat begitu mahal biaya yang harus dibayar untuk layanan pembuatan KTP, SIM, perpanjangan STNK, surat perijinan dan juga pengurusan surat kepemilikan tanah karena adanya korupsi berjamaah yang membuat layanan publik mahal , lamban, arogan  dan sangat menyebalkan.

Belum lagi dan berbagai kasus mafia yang terkuak dari soal mafia pajak, mafia pembalakan liar, mafia hukum, dan bahkan ditenggarai sekarang adanya mafia politik antar partai besar yang mencoba mengkadali rakyat dengan mempeti-eskan kasus Century dan membuat Sekber partai koalisi yang ketua hariannya dipegang Ical alias Aburizal Bakrie yang kita semua sudah tahu track recordnya sebagai pengusaha yang akhirnya berhadapan dengan Sri Mulyani yang berani menegakkan aturan meski harus dikorbankan.

Inilah yang sangat menakutkan bagi rakyat ketika penguasa dan penguasa justru bersatu untuk memperkaya diri bukannya mensejahterakan rakyat karena tidak ada kontrol yang kuat dari rakyat sebagai masyarakat sipil/madani sehingga banyak pejabat publik berubah jadi penjahat kemanusiaan yang menyengsarakan rakyat. Sama dan sebangun ketika pejabat VOC bersatu dengan para raja dan tokoh oportunis untuk menguras kekayaan alam dan menindas rakyat yang ingin memperoleh keadilan. Partai politik yang diharapkan punya ideologi yang membela kepentingan rakyat ternyata tidak lagi dapat diandalkan dan hanya menjadi lelucon yang tak lucu. Rakyat yang sudah hidup sengsara namun masih setia membayar pajak PBB sementara kasus Pajak ratusan milyar rupiah tidak jelas mau dibawa kemana dan apa saja tindakan yang akan diambil pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan untuk membangun system perpajakan dan juga Bea Cukai  yang mampu bersih dari KKN.

Memperbanyak leader yang religius.

Sudah saatnya sistem pendidikan dari jenjang SD sampai Perguruan Tinggi ditinjau ulang karena ternyata selama beberapa dekade telah gagal menyiapkan dan menghasilkan  leader yang punya integritas, jujur dan bermoral. Begitu susah bagi remaja untuk melihat sosok teladan hidup seorang leader diseputar kehidupan mereka sehari hari. Orang tua yang memperkaya diri melalui korupsi namun tetap getol menasehati anaknya untuk bersikap jujur, ortu yang sembayang terus namun mencuri/maksiat tetap jalan dihadapan anak-anaknya namun masih tetap mengharapkan anaknya menjadi seorang yang religius, ortu yang lain kata lain perbuatan menjadikan anak muda sebagai penerus kepemimpinan bangsa menjadi bingung dan gamang karena adanya kemunafikan yang luar biasa namun dianggap lumrah terjadi. Masyarakat yang masih saja menghargai pejabat yang korup karena punya jabatan dan kekayaan adalah bentuk kemenduaan masyarakat sendiri yang tidak mau menghukum secara sosial pada pejabat yang hanya bertindak sebagai dealer dan korup  tanpa integritas pribadi yang kuat .

Perlunya acara TV seperti Mario Teguh Golden Ways yang mengajarkan pentingnya kebaikan dan hidup baik karena tiada sukses sesungguhnya yang tanpa kebaikan. Kita diajak untuk berefleksi dan selalu mengejar tujuan hidup yang hakiki yang mana tindakan dan perbuatan kita  membuat sesama menjadi lebih sejahtera dan bahagia. Kita diminta untuk kembali meletakkan nilai-nilai moral dalam kehidupan keseharian kita dengan mengedepankan kejujuran, kebenaran, kesetiaan, optimis dalam menatap hidup kedepan dan tidak hanya mengejar kekayaan semata dengan  menghalalkan semua cara. Acara keagamaan di TV sebaiknya jangan hanya secara dogmatis dan mengulang-ulang terus tanpa ada kaitannya dengan kehidupan keseharian umat namun yang membumi dan terkait dengan kehidupan keseharian. Mimbar agama seharusnya mampu menyadarkan umat yang kebetulan pejabat public yang sedang berbelok arah melalui ber-KKN-ria , perjudian, selingkuh dll untuk kembali ke jalan yang benar dan sadar ketika KKN dan tindakan salah lainnya  berarti menyengsarakan umat manusia ciptaanNYA yang dimuliakan.

Perlu ada muatan kurikulum yang menjadikan siswa sebagai  pemimpin/leader masa depan yang mampu mewujudkan janji-janji kemerdekaan kita dan mampu membumikan Pancasila dalam kehidupan nyata rakyat jelata sehingga tidak perlu terus menderita. Perlu ada tindakan keras dan tegas berupa shock terapy bagi para koruptor, penjudi, pembalak liar dll sehingga membuat orang lain berpikir dua kali untuk melakukan hal yang sama. Hukum perlu ditegakkan terutama untuk para koruptor dengan  pembuktian terbalik dan segera ganti para pimpinan yang tidak bisa menjadi pemimpin/leader dan yang hanya mau bertindak sebagai dealer. Perlu ada pihak yang mengkritisi dan terus mengawasi layanan publik  sehingga menjadi lebih baik dan menjadikan rakyat sebagai tuan dinegeri sendiri dan bukannya sebgai penonton yang hanya bisa mengagumi hasil pembangunan tanpa dapat menikmatinya.

Sudah terlalu lelah rakyat menunggu selama hampir 65 tahun sejak kita merdeka sebagai sebuah bangsa  untuk mewujudkan janji-janji kemerdekaan serta perwujudan Pancasila sehingga rakyat menjadi percaya yang memerintah sekarang benar-benar para leader yang punya visi dan berpihak pada rakyat, bukan hanya dealer yang berputar-putar dengan seribu alas an untuk membenarkan tindakan yang tidak benar dan hanya mencari pembenaran terus menerus yang menjerumuskan rakyat kelembah penderitaan yang semakin  dalam,  sementara para dealer terus menari-nari dengan kekuasaannya diatas penderitaan rakyat yang memberi mandat padanya. Mari kita hasilkan para Leader muda Indonesia yang berintegritas, punya visi yang jelas untuk mensejahterakan rakyat tanpa harus mneyatakan dirinya seorang demokrat, namun lebih ditunjukkan dengan perbuatan nyata yakni mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Entry filed under: Politik. Tags: .

Wajah brutal Satpol PP dalam pembongkaran makam Mbah Priok, masihkan Satpol PP diperlukan ? Refleksi menyongsong peringatan Hari Kemerdekaan , Indonesia bangsa “luar biasa” atau “biasa diluar” ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Mei 2010
S S R K J S M
« Apr   Agu »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Tamu Adikarsa

  • 49,086 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: