Refleksi menyongsong peringatan Hari Kemerdekaan , Indonesia bangsa “luar biasa” atau “biasa diluar” ?

Agustus 18, 2010 at 3:05 am Tinggalkan komentar

Indonesia terkenal sebagai  bangsa yang ramah tamah, harmonis, gemah ripah loh jinawi, bangsa yang dipersonifikasi sebagai bangsa yang menghuni tanah surga, dimana tongkat kayu dan batu jadi tanaman, meminjam  syair lagu Koes Plus.

Bangsa yang sebenarnya luar biasa karena dianugerahi  alam yang indah, iklim yang beragam (tropis dan semi arid), suku dan agama yang beragam serta  budaya maupun bahasa yang kaya warna.

Bangsa yang luar biasa karena tetap eksis kebudayaannya meski diterpa modernisasi dan serbuan budaya lain seperti misalnya diwakili oleh Bali yang tetap unik dan menarik, bangsa yang luar biasa karena meski dijajah ratusan tahun namun tetap eksis sebagai bangsa dan mampu memerdekakan diri sendiri melalui perjuangan yang tak kenal lelah meski  penuh bergelimang dengan korban jiwa sebagai bunga dan pahlawan bangsa.

Bangsa yang luar biasa karena meski berbeda-beda tetapi tetap satu dengan semboyan Bhineka Tunggal Ikanya. Bangsa yang mampu menghasilkan karya besar seperti Candi Borobudur, Prambanan, Wayang, Reog , Batik, Perahu Pinisi dst. Bangsa yang mampu mengekspresikan harkat dan martabatnya dalam  bentuk kebudayaan yang tinggi seperti yang saat ini diakui di dunia semisal kebudayaan Bali.

“Luar  biasa”  yang berganti menjadi “ Biasa di luar”.

Sayang dengan berjalannya waktu selama 65 tahun merdeka, kita sebagai bangsa justru tidak semakin luar biasa tetapi justru menjadi bangsa yang biasa di luar. Lihat saja kasus korupsi yang jelas-jelas mengingkari keimanan dan juga budaya luhur terkait sikap kejujuran, justru sampai saat ini telah merata diseantero nusantara bahkan ditenggarai adanya korupsi berjamaah  dan perilaku yang seharusnya tidak lajim menjadi kelajiman yang tidak lajim. Banyak kasus korupsi tetap terus saja terjadi meski telah ada KPK dan pencanangan perang terhadap korupsi yang katanya akan dipimpin oleh Presiden SBY sendiri namun ternyata hanya ditataran semangat saja tanpa aksi nyata, bahkan KPK semakin terpuruk kalau tidak mau dikatakan mati suri. Kejujuran yang dulu dijunjung tinggi dan menunjukkan tingkat keimanan  serta budaya yang tinggi namun saat ini justru jadi cibiran, ajakan “Sapa sing salah bakal seleh (bhs Jawa yang artinya siapa yang salah akan jatuh dan ketahuan “ sekarang tidak lagi berarti. Kejujuran sekarang dianggap kuno dan orang jujur akan hancur dilindas oleh mereka yang melakukan korupsi berjamaah dan para koruptor pandai menjadi munafik dengan menjilat kesana  kemaridan berkembang menjadi mafia yang menggurita. Masyarakat yang seharusnya diajak untuk mengikuti koridor hukum dan mentaatinya, justru diberi tontonan oleh  para penegak hukum yang membungkukkan hukum  demi memperkaya  diri dan membiarkan MARKUS dan para Mafia bergentayangan diberbagai sektor kehidupan,  menghisap darah rakyat yang sudah menderita sehingga menjadi tambah menderita. Justru saat ini banyak ditemukan  penegak hukum yang biasa berada diluar koridor hukum untuk bertranksaksi ala mafia dalam rangka memenuhi pundi-pundi kekayaannya meski dengan cara tak elok dan diluar kewajaran.

Di sektor lingkungan hidup, bangsa yang dulunya terkenal hidup berdamai dengan alam dan hidup bergantung dari kemurahan alam telah  berganti menjadi bangsa pembalak liar yang mampu menghabiskan hutan yang menghidupinya hanya dalam waktu sekejab saja  karena keserakahannya, menebang pohon seenaknya dikawasan puncak pegunungan sehingga menimbulkan banjir, longsor di musim hujan dan kekeringan dimusim kemarau, bangsa yang sebelumnya sangat paham bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, namun saat ini kebersihan hanya ada dikawasan protokol dan kawasan elit. Lihat pasar tradisional yang kebanyakan jorok, selokan dan got yang mampet karena  tersumbat sampah dengan bau menyengat yang aduhai, lihat perkampungan di daerah kumuh yang jauh dari kesan bersih dan tertata rapi, kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan tanpa rasa bersalah  dll, bangsa yang dulunya mengalir air sungai yang bening ternyata telah berganti dengan aliran sungai yang keruh dan penuh polusi sampah, pestisida dan berbagai racun buangan  limbah pabrik yang sengaja tidak diolah sebelumnya untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya tanpa peduli akibat yang ditimbulkannya. Bangsa yang dulunya hidup selaras dan serasi dengan alam dengan membungkus makanan maupun jajanan/snack dengan helaian daun pisang yang mudah hancur namun supaya dianggap modern telah berganti dengan plastik dan sebangsanya  yang mencemari bumi tempat kita berpijak.

Bangsa yang dulunya terkenal dengan kebiasaan berkendara sepeda ontel atau sepeda kayuh telah melupakan sejarah dan terus membuang asap polutan melalui aktivitas berkendara motor , mobil , pesawat dan kapal.Pabrik berdiri dimana-mana tanpa amdal yang benar-benar mengacu pada kelestarian lingkungan dan hanya sekedar memenuhi persyaratan formalitas belaka. Bangsa yang dulunya saling bertegur sapa saat mengendarai sepeda dan tersenyum ramah telah berganti menjadi bangsa pemakai jalan ala cowboy yang tidak peduli pada keselamatan pengendara lainnya sehingga aturan yang mengharuskan sepeda motor menyalakan waktu disiang hari supaya tetap terlihat (meski hari masih terang benderang karena matahari masih bersinar) masuk dalam pasal UU Lalu lintas yang bagi saya sungguh sangat aneh bin ajaib karena akar masalah bukan karena motor terlihat atau tidak karena lampu dinyalakan  tetapi lebih pada perilaku pengemudi dalam berkendara untuk mentaati rambu-rambu lalu lintas sehingga aman terutama kelakuan para pengendara kendaraan bus maupun turk besar yang tidak mau mengalah dan mempunyai mental menerabas mengambil jalan pengendara lainnya sehingga tetap saja menyalip meski pengendara yang berlawanan  telah menyalakan lampu. Bangsa yang dulu dikenal luar biasa tenggang rasa dan solidaritas tinggi dalam berkendara telah menjadi pembunuh ganas di jalanan dan terbiasa mengendarai diluar rambu-rambu lalu lintas.

Bangsa yang dulunya terkenal keragaman makanannya  karena tidak hanya tergantung pada satu jenis makanan pokok sehingga mengkonsumsi berbagai sumber karbohidrat selain beras seperti halnya  sagu, jagung, sorghum, ubi kayu, ubi jalat dan jenis umbi-umbian lainnya telah berubah menjadi bangsa pemakan nasi yang sangat bergantung pada ketersediaan beras sehingga munculah RASKIN alias beras untuk keluarga miskin. Bangsa yang dulu terkenal dengan jajanan pasar yang dibuat sendiri dari olahan bahan makanan lokal telah berganti dengan makanan ringan/snack  pabrikan yang tidak sehat karena mengandung bahan pengawet, pewarna dan penyedap.

Bangsa yang dulu terkenal sopan santun dan keramahtamahannya  telah berganti dengan bangsa yang dimana-mana muncul video porno baik yang dilakukan oleh pelajar, oknum anggota DPR sampai selebriti yang menghebohkan belakangan ini. Perselingkuhan dianggap hal biasa dan sekedar ganti menu seperti halnya makanan, sex bebas terjadi diberbagai kalangan termasuk para pelajar dan terakhir kasus anak siswi kelas 10 (SMA) yang karena sex bebas terpaksa membunuh bayi yang dilahirkannya. Bangsa yang ramah, suka menolong telah menjadi bangsa yang suka melolong, ganas menggilas satu dengan lainnya  dan beringas dengan bertindak brutal serta  anarkis melakukan berbagai tindakan yang bukan wewenangnya seperti penggrebegan dengan kekerasan , melakukan tawuran dan bentrok disana-sini dengan korban jiwa  yang tak terhitung lagi.

Bangsa yang terkenal religius telah berubah menjadi bangsa yang korup, munafik penuh kepura-puraan dan suka memutar balikkan fakta, berdebat , suka sekali membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Bangsa yang acara televisinya penuh dengan mimbar agama namun ajaran agamanya sayangnya  tertinggal di mimbar dan tidak sempat diimplementasikan alias STMJ (Sembahyang Terus Mencuri/memeras/menilep /maksiat Jalan). Apa yang salah dengan anomali kondisi bangsa ini?

Bangsa yang merdeka karena ada para pahlawan yang mau berjuang mengorbankan jiwa raga dan harta, namun dengan teganya dan tidak bijaksana telah menyeret janda pahlawan ke meja hijau tanpa ada rasa sungkan atau bersalah ? Bangsa  yang merdeka karena jasa perjuangan rakyat ternyata telah melupakan amanat penderitaan rakyatnya sendiri untuk mensejahterakan bangsanya. Pemerintah dari waktu ke waktu tidak pernah mampu  menyelesaikan kasus secara tuntas yang menyangkut peningkatan kesejahteraan rakyat seperti Kasus Lumpur Lapindo, Rakyat korban ledakan gas Elpiji, Kasus Century, Kasus pajak grup Bakrie, busung lapar dan kurang gizi yang berakibat kematian bayi dll. Drama penggusuran pedagang kecil oleh Satpol PP terus dilakukan meski tanpa ada solusi dan hanya menimbulkan pengangguran dan kesengsaraan bagi para pedagang kecil yang tak pernah mengemis minta pekerjaan pada pemerintah meski tugas pemerintah harusnya membuka lapangan kerja sebesar-besar nya bagi warganya  sehingga angka pengangguran dapat ditekan.Rakyat seperti dibiarkan mencari solusinya sendiri dan tanpa ada jaminan masa depan yang jelas . Padahal kita tahun Indonesai kaya akan SDM dan SDA namun ternyata kehidupan tidak semakin mudah dengan semakin banyaknya PHK, semakin sempitnya lapangan kerja dan semakin membumbungnya harga sembako, kenaikan TDL, kenaikan tarif tol, tarif parkir dll.

Lalu cukupkah hanya mantan Kabareskrim Susno Duaji dengan nyanyiannya  dan aktor seorang diri seperti Pong Harjatmo yang dengan beraninya menuliskan “Jujur, Adil, Tegas” diatap gedung DPR mampu membawa perubahan yang berarti dari carut marutnya wajah negeri ini ? Lantas dimana peran DPR yang katanya wakil rakyat namun terbukti tidak mampu menyerap dan mewakili aspirasi rakyat ? Juga dimana para pelayan publik berupa jajaran pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Presiden melakukan tugasnya melayani kepentingan publik, melindungi warganya dari  maut jemputan karena terkena ledakan gas akibat kurang sosialisasi dan pengawasan, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kapal, pesawat terbang , kebakaran dll ?Dimana para penegak hukum yang bertugas menyelamatkan uang Negara dari tikus dan rayap yang berupa para koruptor dan mafia peradilan ? Negeri ini telah rapuh karena dimakan  ulah segerombol rayap berupa para koruptor dan harta Negara telah habis dijarah karena banyaknya tikus berkepala hitam. Kita dapat belajar dari sebuah bangunan yang dimakan rayap  yang meski terlihat masih tegak dari jauh namun ketika disenggol akan segera  hancur berantakan, demikian  pula gudang yang dimakan tikus, bangunan gudang masih tampak utuh dari luar namun didalamnya telah habis dijarah.

Mudah-mudahan di usianya yang ke 65 negeri kita tercinta Indonesia tidak seperti layaknya bangunan yang penuh  dengan rayap dan tikus. Juga menjadi Negara yang mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan menjadi bangsa besar  yang “luar biasa” seperti yang telah ditunjukkan leluhur kita , bukan sebaliknya menjadi  bangsa yang  “biasa diluar” baik diluar  koridor hukum, diluar moral dan etika, diluar kemanusiaan  sehingga menjadi bangsa barbar dst .  Amin.

YBT Suryo Kusumo

adikarsa.wordpress.com

Entry filed under: Sosial Kepemimpinan. Tags: .

Indonesia lebih banyak punya Dealer daripada Leader ? Hubungan MalaySIA – IndoneSIA, bangsa serumpun namun sayangnya SIA-SIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Agustus 2010
S S R K J S M
« Mei   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Tamu Adikarsa

  • 49,086 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: