Hubungan MalaySIA – IndoneSIA, bangsa serumpun namun sayangnya SIA-SIA

Agustus 28, 2010 at 1:19 pm 1 komentar

Riuh rendah dan heboh ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia yang dipicu oleh ditangkap dan ditahannya 3 petugas dari Kementerian Perikanan Dan Kelautan yang mewakili Negara Indonesia oleh Kepolisian Diraja Malaysia (menyusul ditangkapnya 7 nelayan  Malaysia yang disangka mencuri ikan di perairan Indonesia ) ternyata terus berlanjut, ditandai terus berlangsungnya berbagai demonstrasi oleh “Bendera” dan berbagai elemen masyarakat di Kedubes Malaysia  dan diberbagai daerah lainnya dan penyampaian nota protes dari Kemenlu Indonesia pada  Malaysia meski dinilai terlambat.

Bagai gayung bersambut, harapan adanya kata maaf dari pihak Malaysia karena telah berkali-kali (8 kali) mencederai persahabatan yang ditunjukkan Indonesia sebagai bangsa serumpun melalui berbagai peristiwa seperti kasus perebutan Pulau Simpadan- Ligitan, klaim sepihak atas budaya Indonesia , kasus penganiayaan TKI sampai tewasnya berulangkali TKI karena “dikerjai” majikannya ternyata dibalas dengan pernyataan Menlu Malaysia yang cenderung membela diri dan arogan kalau tidak boleh dikatakan menantang.

Alasan etika dan hukum yang tidak diindahkan oleh para demonstran dari Indonesia dan dianggap tidak mewakili perasaan rakyat Indonesia merupakan cerminan sikap yang terlalu menyederhanakan masalah yang sesungguhnya terjadi dan merupakan pembelokan issue/masalah yang nyata, meski kita juga menyadari perlakuan pembakaran bendera Malaysia dan pelemparan tinja meski melanggar etika dan hukum namun hanya merupakan ungkapan akumulasi  kekecewaaan terhadap sikap tak tegas pemerintah kita dan sebentuk kemarahan yang terusik rasa kebangsaannya.

Hal ini akan semakin menyulut kemarahan rakyat Indonesia yang merasa sebagai negara serumpun namun ternyata Malaysia hanya menggunakan kata serumpun untuk kepentingannya sepihak secara egois tanpa mau mengerti perasaan Bangsa Indonesia.  Akumulasi persoalan yang terjadi selama ini  akan sangat berbahaya jika dilakukan pembiaran yang terus menerus oleh Pemerintah Indonesia tanpa ada ketegasan sikap sebagai cerminan sebuah Negara yang berdaulat.

Kedaulatan kita yang tergadai dan diinjak-injak

Sikap yang ditunjukkan Malaysia yang mengaku sebagai bangsa serumpun namun dalam kenyataan tidak ditunjukkan dengan tindakan nyata sebagai Negara sahabat bahkan mengklaim serumpun dan  selalu menikam dari belakang ketika sauadara tua Indonesia sedang didera permasalahan di dalam negeri.

Berpindahnya kepemilikan Pulau Simpadan- Ligitan meski melalui kemenangan dari keputusan  Mahkamah Internasional di Belanda tetap saja melukai perasaan kebangsaan rakyat Indonesia, apalagi disusul dengan perlakuan semena-semena  para majikan Malaysia pada TKI/TKW , provokasi Ambalat, klaim lagu,kesenian, makanan, budaya dan insiden yang baru saja terjadi semakin meyakinkan kita sebagai sebuah bangsa yang berdaulat tentang adanya upaya sistematis yang tidak bersahabat yang dilakukan  Malaysia dan telah menginjak-injak rasa kebangsaan rakyat Indonesia.

Ketika berhadapan dengan masalah kedaulatan, seharusnya Pemerintah Indonesia tidak perlu kompromi dan seolah-olah terlihat santun namun harus menunjukkan sikap tegas untuk siap berperang jika memang perlu meski kita merupakan bangsa yang cinta damai. Perlakuan Malaysia yang menyakitkan tidak sepantasnya dibiarkan dan dimaafkan namun harus diberi sinyal yang tegas dan jelas sehingga  membuat Malaysia jera untuk “bermain-main” secara kekanak-kanakan dengan Bangsa Indonesia yang bermartabat.

Kejadian ini seharusnya menjadi momen yang sangat berharga bagi kita sebagai sebuah bangsa yang mengaku besar untuk kembali merefleksi perjalanan kemerdekaan kita sebagai sebuah bangsa berdaulat yang telah berumur  65 tahun  yang baru saja selesai kita rayakan.

Perlakuan Malaysia pada kita merupakan pantulan dari seberapa besar respek Negara tetangga pada kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat. Kita terlalu lama berkubang dan berkutat dengan permasalahan korupsi, kolusi dan nepotisme yang kronis didalam negeri  tanpa ada gebrakan radikal untuk membasmi KKN yang jelas-jelas telah melemahkan ketahanan nasional kita dan membuat Negara lain merendahkan kita .

Mari kita lihat dengan keterbatasan dana yang dianggarkan pemerintah untuk penyediaan alusista yang dimiliki TNI yang kita banggakan yang telah tertinggal dibanding alusista yang dimiliki Negara tetangga kita, ternyata telah melemahkan pertahanan kita sendiri  sehingga dengan mudah nelayan tetangga mencuri ikan dilaut kita serasa tuan dinegeri sendiri, terjadinya beberapa kali insiden pesawat dan kapal milik Malaysia yang dengan seenaknya dan tanpa merasa bersalah masuk kedalam kedaulatan Indonesia dan kemudian mereka dengan mudahnya berdalih bahwa batas perbatasan kita belum disepakati dan juga klaim sepihak atas kebudayaan yang kita miliki dari mulai lagu, batik, reog,makanan dst.

Pembalakan liardiwilayah kita  yang ditengarai dilakukan oleh cukong kayu dari Malaysia tidak terlepas dari sikap korup yang mudah disuap dari oknum aparat kita yang bertugas mengawasi hutan kita  sehingga dengan mudah membiarkan mesin-mesin besar milik cukong membabat habis hutan di Kalimantan meski suaranya meraung-raung keras.

Berbondong-bondong mengalirnya  para  TKI/TKW ke negeri jiran Malaysia juga tidak terlepas dari sulitnya memperoleh kerja dinegeri sendiri dengan upah/pendapatan yang layak yang sebenarnya secara tidak langsung menelanjangi diri kita sendiri sebagai sebuah bangsa yang memang belum mampu mewujudkan amanat UUD yakni setiap warga Negara berhak memperoleh penghidupan yang layak. Pertanyaannya mengapa itu semua terjadi ditengah melimpah ruahnya SDA Indonesia dan banyaknya SDM cakap milik negeri ini yang lebih memilih bekerja diluaran sana ?  Mengapa begitu banyak perkebunan yang ada di Indonesia namun banyak pekerja yang lebih memilih bekerja di perkebunan Malaysia ? Apa yang salah dengan semua ini ? Mengapa kita belum mampu mengirim tenaga kerja terdidik dan profesioan seperti halnya Philipina  yang pasti  dibayar mahal dan tidak gampang dianiaya ? Mengapa SDM kita yang bekerja sebagai TKI/TKW begitu rendahnya  sehingga dengan mudahnya direndahkan ? Dimana perlindungan yang diberikan Indonesia kepada warga Negara yang sedang terancam hukuman mati ? Bahkan kita semua tahu mantan Dubes Malaysia dan beberapa staf Kedubes Malaysia telah dinyatakan bersalah karena dengan teganya melakukan korupsi berjamaah pada warganya sendiri di negeri jiran.

Korupsi yang coba diberantas dengan adanya KPK karena disadari akan menghancurkan bangsa ini ternyata telah dikebiri dengan berbagai cara oleh DPR dan pemerintah kita sendiri dan ini semua menjadi tontonan dunia ditengah globalisasi apalagi  ketika remisi dan grasi juga diberikan pada terpidana koruptor maka semangat perlawanan pada pemberantasan korupsi yang jelas-jelas melemahkan ketahanan bangsa menjadi meredup dan kita semua akan semakin terpuruk sebagai sebuah bangsa sehingga  kedaulatan kita semakin mudah tergadai dan dinjak-injak.

Yang lebih menyakitkan pajak yang dengan susah payah dikumpulkan untuk membiayai  pembangunan nasional  ternyata bocor besar tak terkendali selama puluhan tahun dengan terkuaknya mafia pajak seperti yang ditunjukkan kasus Gayus.

Tunjukkan AKSi bukan sekedar BASA BASI

Lemahnya sikap yang ditunjukkan Indonesia dengan pernyataan Menlu Indonesia yang tidak sesuai fakta menjadi pertanyaan besar ada apa dibelakang semua ini. Lunaknya sikap Pemerintah Indonesia yang mewakili rakyat kita meski dengan alasan kebijakan pemerintah kita yang lebih suka memiliki banyak kawan,  tidak dapat dibenarkan ketika sudah menyangkut raasa harga diri dan kebanggaan kita sebagai sebuah bangsa berdaulat tanpa bermaksud memprovokasi kita untuk berperang atau menggunakan cara kekerasan.

Basa basi politik yang basi yang ditunjukkan akhir-akhir ini sebaiknya diakhiri jika tidak ingin melukai rakyat Indonesia yang telah memberikan mandat pada pemerintah sekarang. Sebagai bangsa yang cinta damai dan menghindari kekerasan tidak sepatutnya kita menjadi bangsa yang “BANCI” dalam bersikap namun harus secara TEGAS disampaikan bahwa kita merasa dilecehkan dengan perlakuan yang ditunjukkan Malaysia selama ini dengan 8 kali peristiwa /insiden yang menohok harga diri dan kita tidak senang dengan sikap Malaysia “LAIN KATA LAIN PERBUATAN’ yang selalu mengaku sebagai sebagai bangsa serumpun.

Sudah saatnya kita sebagai sebuah bangsa untuk melakukan AKSI bersama , misal  dalam  jangka pendek perlu menarik dubes kita, menyelesaikan permasalahan kejelasan perbatasan antar Negara secepatnya kalau perlu dibawah pengawasan PBB, secara radikal melakukan pemberantasan korupsi dengan memperkuat lembaga KPK dan memilih Ketua KPK yang punya nyali dan bebas dari tekanan pihak manapun sehingga kita dapat menyelamatkan dan mempunyai dana pembangunan nasional yang utuh dan mencukupi  yang tidak habis dimakan koruptor, sehingga  diharapkan menimbulkan efek domino yang positip  seperti   semakin baiknya layanan  dasar untuk rakyat yang diberikan pemerintah baik dibidang kesehatan sehingga tidak ada lagi balita gizi buruk dan mati sia-sia,menurunnya angka kematian ibu dan anak dll, pendidikan yang murah, berkualitas  dan mampu  diakses oleh semua lapisan masyarakat, perumahan yang tersedia sehingga tidak perlua da razia satpol PP untuk bangunan gubuk liar, infrastruktur yang memadai sehingga perekonomian nasional menjadi kuat karena tidak lagi berbiaya tinggi dan didukung infrastruktur yang memadai.

Masih banyak aksi yang kita lakukan sebagai sebauh bangsa seperti penguatan ekonomi  yang pro rakyat, penguatan penanaman rasa kebangsaan dan cinta tanah air melalui berbagai kegiatan semisal pelestarian lingkungan dalam rangka kontribusi bangsa kita pada pengurangan emisi gas karbon, pemanasan global dan perubahan iklim.

Kita harus kembali berefleksi mau dibawa kemana negeri ini ? Pertamina telah kalah pamor dengan Petronas, kendaraan impor Malaysia telah memasuki pasar kita, dan yang lebih menggemaskan mengapa majikan Malaysia dapat membayar PRT dengan upah yang lebih tinggi dibanding dinegeri sendiri ?

Inilah Pekerjaan Rumah  yang harus diselesaikan kita sebagai sebuah bangsa sehingga kita tidak hanya berkutat pada politik pencitraan saja,berdebat bersilang pendapat yang tak berujung , namun harus ada AKSI NYATA dalam mewujudkan PANCASILA terutama sila kelima yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia menjadi sebuah bangsa yang makmur ,sejahtera dan bermartabat , terutama dengan diprioritaskan peningkatan kesejahteraan untuk   daerah-daerah  perbatasan.

Salam Merdekaaaaaaaa.

Iklan

Entry filed under: Sosial Pengembangan Perdamaian.

Refleksi menyongsong peringatan Hari Kemerdekaan , Indonesia bangsa “luar biasa” atau “biasa diluar” ? DPR membangun gedung baru SATU TRILYUN, apa kata RAKYAT?

1 Komentar Add your own

  • 1. TKI  |  September 3, 2010 pukul 6:34 pm

    HMMMMMM INDONESIA MEMANG TERPURUK DALAM SEGALA HAL’TOBAT LAH BANGSA KU.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Agustus 2010
S S R K J S M
« Mei   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Tamu Adikarsa

  • 54,938 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tidak ada

%d blogger menyukai ini: