DPR membangun gedung baru SATU TRILYUN, apa kata RAKYAT?

Agustus 31, 2010 at 7:44 am Tinggalkan komentar

Belum selesai dan belum adanya solusi mengenai memanasnya hubungan  Indonesia-Malaysia, kembali DPR berulah lagi setelah DANA ASPIRASI dan RUMAH ASPIRASI ditolak publik. Aneh tapi nyata, ketika media menunjukkan antrian panjang dan berdesak-desakan pada pembagian sembako gratis atau pasar murah sembako yang diserbu masyarakat yang memang sangat membutuhkan alias berkekurangan , DPR justru sangat antusias menyatakan pada publik rencana akan segera  membangun gedung baru senilai Rp. 1.000.000.000.000 alias Satu trilyun rupiah, fantastis dengan angka nol sebanyak 12 buah.

Gedung baru ditengah kemajuan Teknologi Informasi(IT)

Ketika kemajuanTeknologi inforrmasi ( IT ) membuat hubungan antar manusia tidak lagi terlalu dibatasi ruang dan waktu, ketika orang diseberang benua dapat dengan mudah dan murah berkomunikasi melalui tele-conference bertatap muka meski hanya dapat dipandang tanpa dapat dipegang (nyata meski tetap maya), ketika email membuat manusia satu dengan lainnya begitu cepat , murah dan gampang berkomunikasi dan berdiskusi melalui surat elektronik , ketika face-book dan twitter menghubungkan antar komunitas di dunia maya meski  sering dianggap tidak punya daya, ternyata kemajuan IT mampu merubah secara mendasar pola hubungan antar manusia, antar negara dan antar bangsa.

Selain itu IT juga terbukti mampu meningkatkan kekuatan masyarakat sipil untuk menyuarakan apa yang menjadi pandangan, pikiran  maupun perasaannya  seperti kasus Bibit-Chandra, dukungan  untuk Prita dll meski berbeda dengan penguasa (pemerintah, DPR,penegak hukum dll) . Juga dalam kasus yang sedang memanas antara Indonesia-Malaysia saat ini , sangat  dimungkinkan terjadi perbedaan dalam menyikapi permasalahan ini antara pemerintah, kalangan legislative dengan masayarakat , termasuk jdalm hal ini kasus “ASPIRASI” baik Dana maupun Rumah Aspirasi dimana DPR sangat bersemangat atas nama rakyat ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu menyerap  aspirasi rakyat yang diwakilinya meski ternyata kedua aspirasi ini ditolak publik dan realisasinya dipending atau sekedar  menunggu saat yang tepat untuk merealisasikan diwaktu yang dianggap tepat karena publik  dianggap pendek ingatannya ?

Kasus rencana jadi dibangunnya gedung baru DPR dengan dana yang sebenarnya dapat diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk kepentingan rakyat (kesehatan, perumahan, pendidikan dll) atau dialokasikan untuk mengurangi beban utang Negara yang katanya hampir Rp 1.700 trilyun dengan bunga yang harus dibayar pasti juga tinggi,menunujukkan tumpulnya empati dan semakin meyakinkan publik bahwa mereka para anggota Dewan terhormat yang gemar mengatasnamakan rakyat sebenarnya tidak mewakili kepentingan atau aspirasi rakyat yang katanya diwakilinya.
Mengapa DPR justru lebih menggebu-gebu membangun gedung baru daripada mengawal Kasus Century, mendukung pemberantasan MARKUS alias Mafia Hukum atau mencari akar masalah dan solusinya kenapa Jakarta macet dengan kerugian ditaksir Rp 15 trilyun per tahun, atau yang lebih mendasar kenapa lapangan kerja begitu sulit didapat meski dengan upah rendah sehingga hampir lebih dari 2juta (2.000.000) orang menjadi TKW/TKI yang lebih sering diperlakukan sebagai BUDAK dan tetap bertahan bahkan menjadi mayat ketika kembali ketanah air ? Kenapa anggota dewan yang terhormat  tidak terlalu tertarik dengan permasalahan mendasar negeri ini yakni KORUPSI yang sudah menggurita (bahkan beberapa oknum anggota DPR yang katanya terhormat ada yang terbukti korupsi ) yang jelas-jelas mengancam ketahanan nasional, membuat keterpurukan yang lebih buruk, menurunkan martabat bangsa ditengah pergaulan global, membuat rakyat menderita tiada tara ?

Di-era perkembangan IT yang begitu pesat, tidak semestinya DPR lebih memprioritaskan pembangun fisik seperti gedung, tetapi sebenarnya dengan IT seharusnya pembangunan fisik gedung dapat dikurangi sehingga lebih efisien selain efektip, dan IT seharusnya dapat berperan membantu dalam mendekatkan anggota DPR dengan konstituennya atau masyarakat yang diklaim diwakilinya.

Empati DPR seharusnya semakin tinggi dengan memanfaatkan IT(bukan gedung baru)

Sebaiknya  DPR lebih meningkatkan fungsinya baik dalam hal pengawasan pada pemerintah , budgeting , , mendukung pemberantasan korupsi seperti penyelesaian Kasus Century, memilih Ketua KPK baru yang punya tidak hanya punya  nyali , tetapi juga hati kepada rakyat dan hati-hati sehingga tidak terjadi lagi pelemahan KPK melalui  berbagai cara, menyelesaikan produk –produk undang-undang  yang pro rakyat yang masih menggantung dll.

IT harus dimanfaatkan oleh DPR sebagai bagian strtaegi dan langkah untuk efisiensi dana, waktu dan tenaga secara pintar, bukan sekedar asesoris belaka, namun akses kepada publik terutama di daerah dimana konstituen berada harus terus dilaksanakan sehingga tidak harus menghabiskan dana besar untuk studi banding ke luar negeri (atau keluar angkasa kedepan?? ) dll.

IT seharusnya dapat membantu membuka sumbatan kanal komunikasi antara rakyat dan DPR yang mewakilinya sehingga suara rakyat adalah suara Tuhan benar-benar diresapi, dijalankan sebagai amanah, bukan hanya sekedar retorika belaka, apalagi hanya sekedar trampil trendy, jaga citra, putar balik kata, tenar bak selebriti dan menebar sensasi murahan isu perpanjangan masa kepresidenan menjadi 3 periode di berbagai stasiun TV swasta seolah seperti mainan sementara rakyat menjerit butuh sembako murah yang terjangkau.

Jadi kalau benar empati DPR tinggi, sebaiknya rencana pembangunan gedung baru dibatalkan saja karena selain sebentuk pemborosan dana karena telah adanya kemajuan IT , namun yang lebih penting momennya  saat ini sangat tidak tepat karena masih banyak rakyat yang menjerit butuh realisasi janji para wakil rakyat ketika berkampanye dengan sangat yakin  dan meledak-ledak dan juga janji manis penuh santun Presiden SBY ketika berkampanye memenangkan pemilu untuk mensejahterakan rakyat minimal rakyat yang memilihnya untuk dapat memenuhi kebutuhan dasarnya.

Coba seandainya DPR lebih peka terhadap derita rakyat kecil yang rumahnya tidak hanya miring 10 derajat tetapi hampir roboh, coba apabila DPR mampu melihat dengan hati nurani rakyat yang digusur dan tidak mempunyai tempat tinggal yang layak bahkan yang masih tinggal di perkampungan kumuh dan tempat pembuangan sampah , para PKL yang terus digusur dan kehilangan lapangan kerja yang memberikan  pendapatan untuk keluarganya , meningkatnya tindakan kriminal yang semakin nekat, angka bunuh diri yang semakin tinggi dan wajah rakyat kecil yang susah tersenyum.

Ancaman revolusi sosial yang anarkis

Yang ditakutkan apabila empati DPR yang sedemikian rendahnya meski dengan penghasilan yang tinggi sampai puluhan juta rupiah per bulan (bandingkan dengan pendapatan per kapita rata-rata di Indonesia) tetap saja ngotot membangun gedung baru meski  dananya telah dikurangkan dari 1,7 trilyun menjadi 1 trilyun rupiah, tetap saja hal ini melukai hati rakyat dan semakin menjauhkan mereka dari konstituennya dan publik akan mempertanyakan mereka sebenarnya mewakili siapa. Para anggota dewan terhormat harus menyadari besarnya kekuatan rakyat yang terbukti telah memerdekakan negeri ini melalui perjuangan barisan BKR, TKR dan pejuang gerilayawan yang rela malam-malam bergerilya ditengah malam buta dan gelap dan siap mengorbankan nyawa untuk terwujudnya kata MERDEKA.

Jangan sampai perilaku yang memaksakan diri dari DPR dengan tempelan kata ASPIRASI dan butuh gedung yang representative akan semakin menyulut ketidak-percayaan rakyat pada yang mewakilinya dan rakyat lebih memilih jalannya sendiri berupa revolusi yang ditakutkan akan berlangsung anarkis dan memakan banyak korban anak negeri sendiri.

Mari kita kembali merefleksi dan mengevaluasi diri dalam bulan yang penuh rahmat dan bulan kemerdekaan ini sudah sejauh mana selama 65 tahun rakyat Indonesia semakin bangga menjadi orang Indonesia yang sejahtera, bukan bangsa yang dikenal karena korupsinya, karena kerusakan lingkungannya, karena  kebobrokan aparat pelayan publiknya .

Dan seperti kata Kennedy “Jangan tanyakan apa yang sudah kudapat dari bangsaku, tetapi tanyakan apa yang sudah kuberikan pada bangsaku”.

Semoga semangat kebangsaan dapat  kita wujudkan dengan karya nyata, bukan dengan membangun gedung baru DPR yang meski megah tetapi melukai hati rakyat yang diwakilinya.

Hidup Rakyat Indonesia

Entry filed under: Sosial. Tags: .

Hubungan MalaySIA – IndoneSIA, bangsa serumpun namun sayangnya SIA-SIA Tindakan pembakaran, apapun bentuknya harus ditinggalkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Agustus 2010
S S R K J S M
« Mei   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: