Negeri BASA BASI yang BASI

September 30, 2010 at 10:49 pm Tinggalkan komentar

Negeri tercinta Indonesia yang sebelumnya digambarkan begitu indah, damai dan tenteram telah menjelma menjadi Negeri BASA BASI (Bayar Sana Bayar Sini) yang BASI (Banyak Sial). Begitu banyak kebohongan dan ironi yang dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai pemimpin negeri ini yang mengakibatkan penderitaan rakyat yang sering  hanya menjadi obyek penderita yang dipakai, dibeli  dan diperhatikan ketika PEMILUKADA dan Pemilu Nasional dilaksanakan. Meski kosa kata ” Rakyat”” melekat dalam berbagai  akronim seperti  DPR, MPR, DPRD, dan terus  terpateri dalam sila ke-4 dan ke-5 Pancasila sebagai dasar negara kita, namun posisi rakyat lebih banyak yang menderita kecuali bagi mereka yang sangat suka mengatasnamakan rakyat seperti oknum para anggota DPR yang terhormat , pengacara nakal, oknum polisi yang suka mempermainkan dan memeras para tersangka,oknum hakim yang menjual keputusannya dst.

Negeri ini menjadi negeri hipokrit yang penuh kebohongan politik, penistaan terhadap hukum yang ternyata dapat diputar”-balikkan dan dijadikan alat untuk memeras rakyat dan pengusaha yang lemah seperti kasus mafia pajak maupun  mafia peradilan yang dialami dan dilakukan Gayus.

Dari pungli, korupsi, kolusi, nepotisme, mafia peradilan/hukum maupun pajak yang terus berlangsung  sejak negeri ini merdeka sampai sekarang meski telah dicoba memberantasnya dengan setengah hati berupa upaya pembentukan lembaga super bodi seperti KPK yang terus digerogoti sehingga terlihat letih, lelah,lesu lemah dan mati suri, meski telah ada juga Satgas Anti Mafia  yang hanya menginjak pedal gas penuh ketika awal dan akhirnya kehabisan tenaga dan keberanian untuk membongkar ketika bersetuhan dengan kepentingan para penguasa dan pengusaha yang berkolusi membangun kekuasaan yang tidak dapat disentuh hukum yang mencoba menegakkan keadilan.

Matinya nurani dan pengikaran penderitaan rakyat

Negeri ini telah dipimpin oleh penguasa yang telah mati nuraninya bagaikan robot yang tidak lagi mau mempedulikan penderitaan rakyat kebanyakan yang dijanjikan akan lebih baik kehidupannya ketika berkampanye sebelum berkuasa. Ternyata para pemimpin telah menunjukkan wajah aslinya ketika sudah memegang kekuasaan dengan hanya menjadi PEMIMPI dan dalam alam mimpinya menyampaikan retorika seolah-olah negeri ini telah gemah ripah loh jinawi aman makmur,adil dan sejahtera bagaikan dinegeri dongeng. Dengan bangganya mereka para PEMIMPI ini menunjukkan dirinya sebagai PEMIMPIN SEJATI yang mampu menyerap ASPIRASI RAKYAT dan diwujudkan melalui rencana alokasi Dana Aspirasi, Rumah Aspirasi, pembangunan pagar Istana dan sistem keamanan yang canggih karena tidak lagi aman yang ditandai adanya teroris yang mengancam untuk membunuhnya, rakyat banyak yang berdemo maupun yang antri untuk mendapat jatah amplop yang pasti berisi uang,pembangunan gedung RAKYAT (DPR) yang baru, megah dan mewah yang membuat decak kagum bercampur haru, belajar banding kenegeri antah berantah , melakukan ritual tidur saat sidang membicarakan nasib rakyat karena terlalu lelah memikirkan nasib rakyat dan harus merangkap berbagai jabatan demi sebuah amanah, yang ngobrol seolah-olah berdiskusi   hangat dan ramah tentang program pro rakyat ditengah sidang, melakukan kunjungan ke rakyat yang ketiban sial tewas mengenaskan akibat gas Elpiji meletus, gunung meletus, banjir, tanah longsor, gempa dan yang tak kalah mengharukan ketika menjenguk pahlawan devisa yang babak belur dihajar majikan dinegeri jiran dan bahkan tak jarang hanya kembali sebagai jasad.

Suara Rakyat adalah Suara Tuhan telah berganti menjadi suara rakyat bagaikan suara hantu yang menakutkan dan sangat mengganggu kenyamanan tidur para pemimpin negeri ini yang bisa-bisanya tersenyum ramah meski rakyat menjerit dalam penderitaannya, pemimpin yang bisa terharu dan menangis sambil tertawa didalam hati mentertawakan kemiskinan dan kesengsaraan  rakyatnya, yang bisa bertindak bagaikan dewa-dewi penolong sekaligus melolong ganas bagaikan serigala yang siap menerkan mangsanya untuk menambah pundi-pundi kekayaannya. Rakyat yang telah lelah menjadi miskin masih saja diminta uang untuk mengurus berbagai surat-surat seperti KTP, Kartu Keluarga dan berbagai surat lain yang dibutuhkan untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar miskin sehingga dapat layanan berobat gratis. Tidak ada yang gratis dinegeri ini yang katanya melimpah ruah kekayaan sumber daya walaupun iklan sekolah gatis ada dimana-mana, rakyat miskin ternyata semakin sulit mengakses layanan publik dasar seperti kesehatan, pendidikan dan juga rumah murah, sehingga tidak heran jika angka anak putus sekolah masih tetap tinggi, angka balita buruk dan mati sia-sia terus saja terjadi.

Negeri yang berbiaya mahal

Negeri BASA BASI (BAYAR SANA BAYAR SINI) ternyata telah menguras harta dan airmata rakyatnya dan menjadikan negeri ini semakin terpuruk dan tidak mampu lagi  berkompetisi dengan negeri jiran yang lebih muda usianya karena semuanya menjadi berbiaya mahal. Penyunatan masal dana proyek sudah diketahui umum dan bukan rahasia lagi karena rakyat cukup pintar untuk melihat tanpa bisa dan harus membuktikannya semisal tetangganya yang tiba-tiba berubah jadi kaya ketika menjadi pinpro, pejabat PNS yang gajinya hanya cukup untuk hidup sederhana namun tiba-tiba bergaya hidup borju, banyaknya mobil mewah dan Moge (motor Gede) yang bersliweran dijalan-jalan kota besar di Indonesia.

Negeri ini seharusnya mampu kembali ke jati diri bangsa dan tidak larut dalam hiruk pikuk kehidupan yang hanya mengejar kepuasan duniawi tanpa memikirkan lagi kehidupan lain setelah meninggalkan dunia yang fana ini. Negeri ini sudah seharusnya bertobat secara nasional karena telah  BASI (Banyak Sial) dengan berbagai bencana baik alam, maupun bencana karena perilaku kita sendiri, terutama pare elit agama,politik dan hukum yang senang berkonflik tiada henti dinegeri yang katanya cinta damai

Negeri yang berbiaya mahal karena harus kembali menyiapkan dana untuk membangun kembali jalan yang ambles, mengatasi luapan lumpur yang keluar tiada henti di Sidoarjo yang terkenal dengan Lumpur Lapindo dengan membangun gundukan yang terus meninggi dan memanjang , yang harus kembali membangun jalan yang rusak meski  baru saja selesai dikerjakan beberapa tahun lalu, yang harus membiayai pengungsi karena banjir,longsor dan bencana alam akibat ketidakpedulian kita pada kelestarian lingkungan. Negeri yang menjadi mahal karena anak balita dibiarkan kurang gizi karena kemiskinan orang tuanya yang tak mampu menyediakan makanan yang bergizi seimbang sehingga menjadi generasi yang hilang kecerdasannya, karena membiarkan anak jalanan sebagai generasi penerus bangsa berkeliaran ditengah kesibukan lalu lintas yang penuh dengan polusi, membiarkan para pengusaha pemodal kuat mematikan para pengusaha UKM karena tidak ada regulasi yang melindungi UKM dengan membiarkan mall/hypermarket dan waralaba (MART) dibangun disamping UKM.

Negeri ini menjadi mahal ketika para sarjana yang telah menghabiskan dana yang tidak sedikit dibiarkan menganggur atau bekerja bukan dibidangnya. Contoh nyata banyak sarjana Teknik Nuklir justru bekerja di bank, menjadi jurnalis, sarjana Teknik tidak menmanfaatkan keahliannya dengan bekerja di perusahaan asuransi dst.Kita juga tak menutup mata masih banyaknya sarjana yang menganggur atau menjadi tukang ojek demi memperoleh nafkah meski tak sesuai dengan keahlian akademis yang disandangnya. Mari kita lihat penempatan PNS yang asal ditempatkan meski dalam prinsip  manajemen penempatan orang yang tepat ditempat yang tepat sangat penting untuk memperoleh kinerja yang optimal.

Dengan kata lain akar masalah negeri ini berbiaya mahal karena KKN sehingga banyak dana yang terhambur ke kantong pribadi para koruptor yang kebetulan menjadi pejabat publik yang mengelola APBD/APBN sehingga dana yang sebentulnya cukup untuk membangun infrastrukur diseantero negeri menjadi tidak cukup dana akibat pengelembungan nilai proyek, boros dan dikorup. Akibat lanjutan dari terbatasnya infrastruktur dasar seperti jalan untuk transportasi, listrik, komunikasi dan juga pendukung pengembangan ekonomi seperti pelabuhan dan ketersediaan kapal karena negeri ini beruppa kepulauan, maka produk pertanian tidak dapat dipasarkan , harga menjadi rendah, biaya transpor menjadi mahal, kebutuhan akan sembako harganya menjadi lebih tinggi sehingga tidak heran daerah tertinggal akan semakin tertinggal dan rakyatnya akan semakin menderita karena untuk memenuhi kebutuhan hidup dibutuhkan biaya yang lebih tinggi dibanding saudaranya yang ada di Jawa sementara hasil pertaniannya dijual dengan harga murah karen infrastruktur yang terbatas.

Negeri ini akan semakin menjadi mahal ketika konflik ditengah masyarakat dibiarkan terus  tanpa ada tindakan hukum yang tegas dan tanpa ada upaya lebih untuk mengedepankan dialog dalam upaya menciptakan perdamaian. Negeri ini menjadi mahal ketika kerusuhan yang anarkis terjadi dimana-mana yang akar masalahnya disebabkan konflik SARA  dimana penyelesaian masalah  hanya dipermukaan saja dan tak mau mengakui akar masalahnya adalah pemahaman yang belum baik  terkait kebhinekaan kita sebagai sebuah bangsa yang memang peka dalam masalah SARA . Kerusuhan ini berakibat asset berupa rumah, kebun, mobil rumah ibadah dll dibakar dan menjadi musnah dan korban kerusuhan harus menjadi pengungsi.

Jika elit politik di negeri ini terus saja berkonflik untuk hal yang tidak sangat substansial menyentuh kepentingan rakyat dan hanya membuat gaduh dan keruh suasana ditengah masyarakat, yang terus saja meributkan kekuasaan tanpa mau peduli lagi kepentingan rakyat, yang hanya senang SAPI (Saya Pikir) berwacana terus menerus atau yang hanya senang BABI (Banyak Bicara) beretorika terus atau yang senang KAMBING (Kambing hitam) mencari kesalahan terus pada pihak lain, maka negeri ini akan mudah tumbuh subur dan menjadi surga terorisme karena kaum muda yang frustasi akan keadaan negeri ini akan begitu mudah diajak berjuang menegakkan keadilan melalui jalan kekerasan menjadi seorang teroris. Kemiskinan selain harus diperangi, juga menjadi lahan subur bagi tumbuhnya komunisme dan gerakan radikal yang memilih jalan berperang atau menjadi teroris.

Inilah wajah buram negeri kita yang harus menjadi tekad kita bersama untuk mengembalikan lagi kewajah semula sebagai negeri yang aman,adil, sejahtera dan damai melalui pemberantasan KKN, penegakan hukum yang berdasar keadilan, membangun demokrasi yang santun dan tidak anarkis, membangun kembali budaya luhur  yang menjadi jati diri bangsa. Atau kita harus terjebak lagi dalam revolusi sebagai jalan untuk “face off”wajah negeri ini yang kembali memakan banyak anak negeri yang tak berdosa ?

Entry filed under: Sosial. Tags: .

Pahlawan berkorban untuk bangsa, para koruptor berjamaah mengorbankan bangsa ? Drama penyelamatan di Chili, penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

September 2010
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: