Drama penyelamatan di Chili, penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia

Oktober 16, 2010 at 12:33 pm Tinggalkan komentar

Semua orang di berbagai belahan dunia akan terisak haru melihat upaya penyelamatan para pekerja tambang yang telah berada di perut bumi sedalam 700 meter selama 68 hari. Drama kemanusiaan terbesar yang dapat disimak melalui kaca layar televisi tersebut seolah ingin membuktikan dan menunjukkan pada dunia betapa kecanggihan teknologi yang ada dan dengan kesungguhan tekad dan upaya dari Presiden serta seluruh bangsa Chili telah mampu menyelamatkan hak hidup dari 33 pekerja tambang yang telah terpisah dari keluarganya hampir 2 bulan lebih dan diperkirakan akan tidak dapat lagi bertemu keluarganya. Betapa terlihat rasa haru karena tersentuh rasa kemanusiaan kita yang universal yang memang dihadiahkan oleh Sang Pencipta kepada kita sebagai manusia dan yang membedakannya dengan mahluk lainnya.

 Kepemimpinan yang meneladani

Belajar dari drama ini, satu hal yang patut menjadi catatan adalah bagaimana kepemimpinan telah ditunjukkan melalui keteladanan tanpa retorika dan basa basi. Pihak pertama yang harus diacungi jempol adalah Presiden Chili yang langsung memimpin dan menggunakan otoritasnya untuk memobilisasi semua dana dan daya yang dimiliki bangsa Chili untuk menyelamatkan warganya tanpa peduli berapa besar dana dan daya yang diperlukan dan berapa jumlah orang yang harus diselamatkan. Dan dengan kerendahan hati yang dimiliki Sang Presiden yang tak malu untuk meminta bantuan pihak lain seperti NASA sehingga terwujudlah pilihan teknologi yang diyakini mampu menyelamatkan para pekerja tambang yang terjebak. Pendekatan kemanusiaan Sang Presiden yang tak mau terljebak protokoler kenegaraan dengan terjun langsung menunggui dengan setia proses penyelamatan merupakan dukungan moral yang besar dan memberi motivasi yang kuat untuk tim penyelamat maupun korban untuk berupaya keras sehingga berhasil. Optimisme yang tinggi dan dukungan rakyat Chili membuat drama ini semakin mengharukan karena yang dipertontonkan adalah tingginya penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia, siapapun mereka. Kita tahu mereka para korban hanya berjumlah 33 orang dan secara status sosial mereka termasuk kelas bawah karena profesinya sebagai pekerja tambang di lapangan. Selain Sang Presiden, orang yang harus diacungi jempol adalah Ketua/kepala tim pekerja tambang yang mampu menunjukkan kepemimpinan melalui keteladanan, mampu memberi motivasi pada para korban untuk terus bertahan hidup, mengatur jatah makan-minum yang terbatas dan tetap menjaga kekompakan team. Meski baru 10 bulan ikut menambang, namun kemampuan dan tingginya jiwa kepemimpinan telah dibuktikan lewat keputusan untuk disselamatkan terakhir kali setelah semua rekannya selamat. Keberanian untuk berkorban dan mengambil tanggung jawab lebih seharusnya dapat dicontoh pemimpin dinegeri ini dimana seharusnya pemimpin rela untuk berkorban dan menyelamatkan terlebih dulu rakyatnya. Kita dapat melihat masih banyak pemimpin kita justru mengambil yang bukan haknya, meminta banyak kemudahan dan harus mendapat perlakuan istimewa dan selalu minta layanan terlebih dulu. Kita harus belajar bagaimana Sang Pemimpin ini mau member I kesempatan untuk rekan lainnya mendapat kesempatan untuk tetap hidup sementara dia harus menunggu selama 22 jam sebelum diangkat dan bertemu dengan keluarganya. Kita dapat melihat banyak para pejabat public yang ketiak berkendara harus dikawal dengan bunyi sirene meraung-raung seolah ini menunjukkan hanya dirinya yang berkuasa, demikian pula dalam antrian mereka para pejabat public dapat kemudahan dengan perlakuan VIP. Memang tidak salah perlakuan itu kalau mereka para pejabat public benar-benar dapat melakukan perubahan layanan dasar bagi warganya dengan meningkatkan derajat kesejahteraan rakyat kecil yang selama ini menunggu penyelamatan untuk diangkat dari dasar jurang kemiskinan seperti halnya korban di Chili. Sudah selayaknya jika para pejabat menganalogikan pengangkatan korban tambang dengan rakyat miskin di Indonesia melalui kebulatan tekan dari Sang Presiden RI SBY dan seluruh komponen masyarakat dengan seluruh daya dan dana yang dimiliki bangsa kita. Kita rindu ada kebersamaan untuk merayakan kemenangan dengan melagukan lagu kebangsaan seperti yang telah ditunjukkan Presiden Chili yang langsung menyanyikan lagu kebangsaan sebagai perwujudan rasa nasioanlisme dan solidaritas dari seluruh bangsa Chili.

Optimisme yang tak pernah hilang

Optimisme bangsa Chili dibawah kepemimpinan Sang Presiden ternyata mampu mengalahkan pesimisme yang sempat tersirat melihat kondisi para pekerja yang terjebak diperut bumi dengan kedalaman 700 m . Optimisme ternyata melahirkan kreativitas untuk melakukan inovasi dalam penemuan metode penyelamatan konvensional yang selama ini menjadi pilihan. Semangat dan tekad yang kuat dengan rasa optimis ternyata telah mampu menggerakkan seluruh kekuatan bangsa Chili untuk mencari solusi bagaimana menyelamatkan mereka para korban meski  harus menanggung konsekuensi dana dan daya yang tidak sedikit. Rasa optimis telah membuka cakrawala dan menemukan adanya pilihan teknologi yang meski terlihat sederhana namun ternyata terbukti mampu menyelamatkan . Keberhasilan penyelamatan ini akan mengispirasi semua pihak untuk tidak meyerah terhadap berbagai kesulitan yang seolah tanpa jalan keluar namun dengan tak kenal rasa lelah dan putus asa mereka para penyelamat selama hampir 2 bulan telah menemukan alternatip pilihan teknologi yang mampu menjadi alat penyelamatan kedepan untuk kasus yang sama. Optimisme ini sebenarnya dapat menjadi pelajaran berharga untuk bangsa kita bagaimana dengan segala keterpurukan yang telah terjadi di negeri ini namun dengan tekad yang kuat ,penuh semangat dan rasa kebersamaan yang didasari solidaritas atas nama kemanusiaan yang universal mampu membuat Indonesia keluar dari sekat-sekat dan kotak SARA dan kembali mewujudkan sila ke 3 Pancasila sehingga tidak perlu lagi ada bentrokan baik antar warga dengan warga, antar aparat keamanan maupun antara warga dan aparat. Drama Chili seharusnya mampu menginspirasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan para penegak hukum lainnya seperti Kejaksaan Agung , Kepolisian , Kehakiman dll dalam melakukan pemberantasan korupsi meski kita semua tahu bahwa korupsi di Negara kita telah begitu menjebak ,berurat berakar dan menjadi budaya seperti halnya para pekerja tambang yang terjebak dalam perut bumi sedalam 700m, dan seolah tanpa ada jalan keluar untuk menyelamatkan. KPK dan penegak hukum lainnya bagaikan team penyelamat di Chili yang dengan dukungan seluruh rakyat Indonesia dan dengan seluruh daya, dana dan metode pembuktian terbalik yang dimiliki mampu mengangkat para kaum miskin yang nota bene rakyat Indonesia keluar dari perut kemiskinan akibat korupsi yang sudah sedemikian dalam menimbun , menjebak dan membuat mereka menjadi korban dengan penderitaan yang tak terperikan. Kalau para korban tambang terkurung selama 2 bulan di perut bumi dengan kedalaman 700 m, maka rakyat miskin di Indonesia telah terjebak selama 65 tahun jika dihitung sejak kemerdekaan atau bahkan telah ratusan tahun silam. Selain itu drama ini juga menjadi pelajaran berharga bagi pejabat publik untuk tidak meremehkan korban nyawa melayang hanya karena jumlahnya sedikit seperti kasus tambang mangan di Timor Barat yang telah menelan 28 jiwa melayang meski tidak pada saat yang bersamaan atau juga korban meninggal karena HIV/AIDS. Dari drama tersebut membuat kita lebih berhati-hati dalam melakukan penambangan, apalagi jika harus melibatkan rmasyarakat sebagai pekerjanya maupun mitra bisnis. Semoga kita sebagai sebuah bangsa mampu menjadi bangsa pembelajar sehingga tidak terjebak dan tersandung pada permasalahan yang sama terus menerus dan berputar tiada henti sehingga menghabiskan energi positip bangsa dalam membangun untuk mewujudkan masyarakat yang diimpikan.

Entry filed under: Sosial. Tags: .

Negeri BASA BASI yang BASI Penetapan gelar Pahlawan Nasional , bisakah dengan catatan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Oktober 2010
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Tamu Adikarsa

  • 49,086 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: