Penetapan gelar Pahlawan Nasional , bisakah dengan catatan ?

Oktober 23, 2010 at 11:24 am Tinggalkan komentar

Saat ini ramai diperbincangkan mengenai rencana penetapan beberapa tokoh nasional seperti Gus Dur, Pak Harto dan Bang Ali Sadikin sebagai pahlawan nasional.

Dalam benak saya yang pernah mengenyam pendidikan SD tentang sejarah diterangkan oleh seorang guru, pahlawan adalah orang yang berjuang tanpa pamrih dan mempunyai keberanian untuk kalau perlu mengorbankan nyawa demi membela bangsa dan negaranya. Inilah definisi sederhana yang sempat ditangkap oleh seorang anak kecil yang tidak paham  dengan kompleksitas permasalahannya.

Gaduh pro dan kontra mengenai rencana Pak Harto diangkat sebagai Pahlawan Nasional telah mewarnai media dan menjadi tontonan yang menarik dan menguras waktu, tenaga dan pemikiran yang tidak sedikit.

Mengapa digugat ?

Sebenarnya penetapan pahlawan nasional periode sebelumnya tidak pernah ada gaduh pro dan kontra dan semuanya berjalan wajar tanpa polemik. Namun ketika menyebut nama Soeharto, masyarakat terbelah menjadi dua kubu, dimana kroni Cendana dan sahabatnya maupun masyarakat yang pernah mendapat keuntungan ketika beliau berkuasa pasti akan membela mati-matian tuan besarnya, dan disatu sisi para aktivis HAM, keluarga korban HAM semasa Orde Baru dan juga para masyarakat yang muka dengan korupsi maupun  para aktivis anti korupsi akan bergerak untuk melakukan protes keras.

Lalu pertanyaannya kenapa ketika Soekarno diangkat sebagai Pahlawan Nasional dan Proklamator tidak terjadi  polemik  dan gaduh ? Jawaban mungkin  sederhana saja  karena sosok Soekarno diakui sebagai pejuang yang konsisten sejak muda dengan gigih menentang penjajahan dan berupaya untuk memerdekakan bangsanya. Perjuangan yang tak kenal lelah dari seorang orator dan pemikir ulung telah diakui berkontri busi sangat nyata dalam mengantarkan rakyat Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan dan beliau sekaligus sebagai proklamator  dan tak terbantahkan sangat terpateri di hati sanubari rakyat . Selain itu Bung Karno juga mengalami perlakuan yang tidak manusiawi dan menjadi korban politik kotor dan jahat sehingga sampai akhir hayatnya  tidak ada putusan pengadilan yang menyatakan beliau bersalah atau tidak . Beliau menjadi tahanan rumah karena menjadi korban lawan politiknya yang menggulingkannya dengan berbagai cara. Dan yang lebih mengenaskan nama baik keluarganya dan semua akses dibidang ekonomi, politik dan hak-haknya lainnya diberangus sedemikian rupa sampai meninggalnya.

Sayangnya Jenderal Soeharto yang kemudian menggantikannya sebagai presiden yang saat ini diusulkan menjadi pahlawan Nasional termasuk yang membiarkan Soekarno status hukumnya menjadi tidak jelas sampai akhir hayatnya.

Memang tidak dipungkiri ketika beliau berkuasa ada perubahan besar dalam kaitannya dengan pembangunan bangsa, namun sebenarnya ongkos yang dipikul dan untuk membayar  semuanya dirasa  terlalu sangat mahal karena cara membangun bangsa ini  dilakukan secara otoriter, penuh dengan kolusi , korupsi dan nepotisme yang sampai saat ini masih terus saja berlangsung. Korban dari kalangan lawan politiknya juga sangat banyak, baik  korban yang meninggal akibat cara represif yang dilakukan melalui kekuatan militer dalam menumpas demo dan gerakan rakyat maupun kalangan ekstrem. Yang tidak boleh dilupakan, kerusakan lingkungan akibat pembabatan hutan dari HPH yang tak terkontrol sangat besar dan pembalakan liarpun terus terjadi samapi saat ini yang berdampak pada banjir,longsor dan lainnya. Orde baru secara sistemik telah merusak mentalitas bangsa melalui perilaku korup yang ditunjukkan oleh kroni Cendana maupun para pejabat publik dikalangan pemerintahan dan sayangnya sampai sekarangpun masih terus dilanjutkan.Cara berpolitik yang menggunakan militer dan kepolisian untuk alat kekuasaan dan bukannya alat Negara telah memakan korban banyak dari peristiwa Petrus, Semanggi 1, Semanggi 2 dan Trisakti.Kekuasaannya selama 32 tahun juga telah membuat politik kita tidak sehat karena kendaraan politik yang dipakainya yakni Golkar menggunakan jalur ABG dimana PNS dan ABRI yang seharusnya netral telah dikooptasi menjadi pendukungnya dan pemilu yang terjadii sebenarnya hanya formalitas saja sehingga tidak tumbuh suasana demokrasi.

Dari pengalaman yang traumatis tersebut, meski ada jasa-jasanya, wajar jika ada polemik dan keberatan atas pengangkatan Soeharo sebagai pahlawan nasional. Alangkah lebih bijaksana jika Pemerintah tidak terlalu memaksakan diri untuk mengusungnya dan akan lebih baik jika keluarga Soeharto mulai menyadari realita yang ada di masyarakat dan tidak terus menerus mengkalim bahwa Pak Harto hidupnya hanya berjuang untuk rakyat, iklas tanpa pamrih dan tidak punya harta se-senpun.

Sudah waktunya keluarga besar Soeharto untuk ikut ambil bagian dalam menyelesaikan masalah bangsa dengan kekayaan yang diperolehnya sehingga pengangguran di Indonesia dapat diturunkan tanpa harus kehilangan hartanya.Alangkah baiknya jika keluarga Soeharto membangun universitas yang murah untuk rakyat ditengah komersialisasi pendidikan tinggi di Indonesia,membangun rumah sakit yang murah namun dengan layanan berkualitas, membangun pusat industri rakyat terutama dibelahan timur Indonesia.

Jadi lebih baik hiruk pikuk dan gaduh pro kontra ini tidak perlu dilanjutkan dan kita doakan semoga arwah beliau diterima disis NYA dan segala dosa dan kesalahannya diampuni.

Dan  jika benar Golkar mengklaim Suara Golkar adalah Suara Rakyat, maka seyogyanya Golkar tak perlu ngotot untuk terus memperjuangkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional  dan sebaiknya lebih fokus pada pengentasan  kemiskinan dengan strategi membangun dari desa yang sebenarnya sudah lama diusulkan oleh banyak kalangan aktivis LSM di era Orde Baru namun tidak pernah didengar. Mudah-mudahan slogan Suara Golkar adalah Suara Rakyat dan strategi membangun dari desa  bukan hanya cara jitu marketing untuk siasat menarik pemilih sebanyak-banyaknya di tahun 2014, namun benar benar didasari keprihatinan akan situasi saat ini.Dan yang tidak boleh dilupakan adalah  Ketua Umum Partai Golkar harus memberi contoh mulai dari kelompok bisnisnya dalam membayar kewajiban pajak secara benar dan menangani penderitaan rakyat karena lumpur Lapindo apapun penyebabnya. Tunjukkan jika benar Partai Golkar peduli rakyat dengan upaya sungguh-sungguh menghentikan semburan lumpur Porong  yang telah banyak menyengsarakan rakyat dan tidak hanya membuat gonjang ganjing politik dengan negosiasi murahan yang terjadi selama ini seperti dalam penyelesaian Kasus Bank Cantury.

Mari kita belajar dari Presiden Chili , dengan upayanya yang sungguh-sungguh dengan menggerakkan seluruh potensi dana dan  daya untuk  menyelamatkan para penambang yang meski hanya 33 orang namun tetap menjadi perhatian besar bahkan samapai ditunggui di lapangan, jangan seperti kebanyakan para politisi Indonesia yang hanya menghitung rakyat sebagai tambang suara untuk dapat menjadi anggota DPR/D dan kemudian terjebak korupsi waktu dengan tidur atau membolos saat sidang,menghamburkan dana rakyat dengan rencana studi banding etika ke Yunani, atau bahkan bebrapa anggota dewan terhormat menjadi terdakwa kasus korupsi yang ditangani KPK.

Jangan lagi kita membiarkah rakyat terjebak kemiskinan yang dalam di lubang kesengsaraan selama 65 tahun sejak kita merdeka sebagai sebuah bangsa.

Entry filed under: Politik. Tags: .

Drama penyelamatan di Chili, penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia Setelah Kroni Cendana, dilanjutkan Kroni Cikeas ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Oktober 2010
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Tamu Adikarsa

  • 49,086 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: