Setelah Kroni Cendana, dilanjutkan Kroni Cikeas ?

Oktober 23, 2010 at 11:28 am Tinggalkan komentar

Wajah perpolitikan kita tidak pernah lepas dari hingar bingar para politisi yang seolah mau menunjukkan dan meyakinkan kesungguhannya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat namun sebenarnya mereka lebih mementingkan kepentingan sendiri baik atas nama partai maupun kepentingan pribadi, bisnis mereka dan kroninya.

Ironis memang, partai politik yang diharapkan mampu menjadikan Suara Rakyat adalah Suara Tuhan telah dimaknai lain dan berubah  menjadi Suara Rakyat adalah  Suara Hantu yang ditakuti sehingga  tidak lagi jelas  menangkap bentuk aspirasinya. Para elit politik telah mencederai kepercayaan yang diberikan rakyat yang diperoleh melalui bujuk rayu dan janji manis semasa kampanye dan sayangnya banyak yang mengalami penurunan daya ingat permanen ketika mereka berkuasa dan melupakan janji dan komitmennya pada rakyat untuk mensejahterakan .

Gerakan pemberantasan  korupsi, benarkah ?

Banyak contoh kecil bagaimana sulitnya Indonesia keluar dari ekonomi berbiaya tinggi karena korupsi, kolusi daan nepotisme  yang terus dipelihara dan beranak pinak dengan cepat.  Negeri BASA BASI (Bayar Sana Bayar Sini) terus dilanjutkan dengan berbagai modus operandi yang baru dan canggih, entah atas nama apa ,yang penting dana APBN  dapat dicairkan dan menjadi jarahan para koruptor.

Kita sudah melihat sendiri bagaimana upaya paksa pengeluaran dana DPR oleh anggota dewan terhormat atas nama Dana Aspirasi, Rumah Aspirasi, Studi banding, Pembangunan Gedung DPR ,renovasi rumah dinas DPR yang tiap rumah menghabiskan 990 juta rupiah (fantastis) dan juga perampokan dana milik rakyat  oleh pemilik bank seperti  dalam Kasus  pengemplangan dana BLBI, skandal Bank Century dll dan modus yang serupa juga terjadi  di berbagai daerah dengan cara seperti renovasi, membongkar bangunan yang masih laik pakai, membuat proyek yang tidak terlalu penting dan tidak menyentuh langsung kepentingan rakyat seperti pembangunan gapura, patung dll.

Para pejabat publik berlomba-lomba menambal dan me-make-up wajah bopeng negeri ini dengan berbagai trik, intrik  dan tipu daya melalui berbagai data statistik yang diragukan kebenarannya dan tidak berkorelasi dengan nasib rakyat , terus membangun wajah kota menjadi indah seperti halnya make-up wajah yang sebenarnya penuh bisul namun dipoles menjadi mulus ,  meski harus menggusur para gepeng (gelandangan dan pengangguran) serta para PKL (Pedagang Kaki Lima) menjadi Pedagang Kaki Seribu alias lari tunggang langgang ketika Satpol PP datang melakukan pembersihan ,bahkan telah ada korban jiwa seorang anak PKL yang terpaksa mati sia-sia karena tersiram kuah bakso dari gerobak dagangan yang terguling ketika melarikan diri. Kota terus saja  dibangun sementara desa dibiarkan terlantar dan merana sehingga tidak aneh jika para kawula mudanya memilih ber-urbanisasi ke kota atau memilih  jadi TKI/TKW sehingga desa menjadi sepi bagaikan kuburan.

Jika benar korupsi semakin menurun, seharusnya banyak tersedia dana untuk pembangunan infra-struktur terutama untuk desa-desa di daerah perbatasan dengan Negara lain , daerah tertinggal dan pedalaman  terutama di Indonesia Bagian Timur sehingga rakyat yang menghuni daerah tersebut dapat tersenyum karena akses penerangan listrik telah mereka nikmati, kemudahan bepergian ke kota untuk memasarkan hasil pertanian sekaligus membeli kebutuhan sembako yang tidak perlu lagi dicapai dalam waktu yang lama melalui  jalan berlubang dengan ongkos transport yang mahal dengan resiko  badan yang pegal karena harus terus terguncang sehingga  harga sembako tidak bertambah tinggi dan tak lagi menjadi sebuah kemewahan tersendiri.

Jika benar korupsi menurun, seharusnya ekonomi berbiaya tinggi akan terhapus dan dampaknya akan semakin banyak pengusaha lokal (bukan asing) yang dapat menyisihkan sebagian keuntungannya untuk meningkatkan permodalan usahanya karena tidak ada lagi uang siluman, uang sogokan dan uang pelicin sehingga semakin banyak pekerja yang dapat ditampung bekerja diperusahaannya dan lapangan kerja semakin meluas.

Jika benar korupsi semakin menurun, seharusnya para koruptor semakin banyak yang masuk bui karena kita tahun negeri kita surplus para koruptor dan konsekuensinya pemerintah setiap tahun akan terus membangun Lembaga Pemasyarakatan  baru  untuk menampung mereka sehingga dapat kembali ke masyarakat dengan moral yang lebih baik dan tidak lagi mau korupsi karena telah mengalami pertobatan sejati.

Jika benar korupsi diberantas, seharusnya para penegak hukum yang selama ini tidak mampu menegakkan hukum karena harus terbungkuk-bungkuk akibat silau dengan godaan uang dan terlibat dalam mafia hukum seharusnya tidak lagi menjadi penegak keadilan karena mereka sendiri sudah tidak tegak lagi dan terpaksa harus masuk bui supaya dapat tegak lagi moralnya.Kalau benar korupsi semakin menurun karena pemberantasannya dipimpin langsung oleh Presiden SBY, lalu dimana seharusnya para Jaksa nakal yang tersangkut kasus mafia pajak berada ? Masih pantaskah jaksa tersebut berkantor di Gedung Bundar yang merupakan  simbol penegakan hukum atas nama keadilan ? Dimana para pengemplang pajak dan mafia pajak  seperti  Gayus dan penangung jawab perusahaan besar yang ditenggarai menggelapkan pajak seharusnya berada ? Gayus  sendiri sudah ditahanan, namun belum ada satupun pihak manajemen perusahaan besar milik salah satu parpol besar di Indonesia  untuk diperiksa terkait kebenaran pengakuan Gayus. Aneh bin ajaib, penegakan hukum ternyata punya mata untuk secara awas melihat siapa yang dapat dipilih untuk ditebang lebih dulu karena tidak ada sangkut paut dengan penguasa dan mafia, dan juga punya daya penciuman yang tajam siapa dibalik kasus ini yang kalau dibongkar kasusnya  akan murka dan dengan segala upaya dan kekuatan kekayaan dan kekuatan partai yang dipimpinnya  mampu menggeser seorang menteri dan mampu menggunakan kendaraan politik partai yang dipimpinnya untuk menekan dan melakukan negoisasi dengan Presiden atas nama kepentingan rakyat ?

Jika benar korupsi semakin menurun, seharusnya semakin banyak rakyat miskin yang semakin baik kehidupannya karena para PNS sebagai pelayan publik akan bekerja dengan hatinya dan berupaya sekuat tenaga dengan kecerdasan, dana dan kuasa yang dimandatkannya  untuk mengentaskan (bukan menetaskan) mereka para rakyat miskin dari lembah kemiskinan selayaknya para penyelamat Chili mengangkat para korban yang terjebak di kedalaman 700 m selama 68 hari . Bukankah penderitaan rakyat miskin di Indonesia juga tidak kalah dramatisnya dengan para 33 orang penambang Chili ketika banyak balita yang mati sia-sia, mengalami busung lapar, mereka yang bunuh diri karena putus asa tidak memperoleh pekerjaan, masyarakat di daerah kumuh yang tanpa akses perumahan yang layak, tanpa listrik, air bersih dan kesehatan yang memadai ? Tidak ada lagi berita tentang balita kurang gizi sampai 53.261 orang di NTT, tidak ada lagi rakyat yang berada di kolong jembatan karena akan diurus dinas sosial, tidak ada lagi preman yang dibiarkan perang antar geng langsung  (live) dihadapan polisi karena polisi sebenarnya adalah pengayom rakyat.

Mereka telah menunggu 65 tahun sejak kemerdekaan diproklamirkan oleh Bapak bangsa Sokarno-Hatta, dan mereka akan terus berharap agar pemerintahan SBY tidak hanya mengantar rakyatnya kedepan pintu gerbang kemerdekaan dan menebar janji maupun pencitraan melainkan harus mengajak seluruh rakyat Indonesia  masuk ke negeri yang benar-benar mewujudkan amanat penderitaan rakyat yang mampu menjadikan Indonesia surga bagi warganya yang mendamba kesejahteraan, keadilan dan kedamaian  (Bali saja dinyatakan surga bagi  dunia wisata).

Kalau saja benar korupsi turun, maka tidak akan banyak rakyat Indonesia yang munafik karena harus bohong pada pasangan hidup dan anaknya kalau dana yang diperolehnya halal. Aka nada keteladanan dimana-mana tentang pentingnya kejujuran dan teladan satu kata satu perbuatan. Tidak aka ada lagi generasi muda yang kebingunan mencari sosok yang dapat diteladani yang aktual ditemui, bukan lagi harus berpaling pada para pahlawan seperti Bung Hatta dan Gus Dur.

Dari Cendana ke Cikeas ?

Kalau benar korupsi diberantas, maka tidak akan muncul istilah kroni-kroni Cikeas dan sebutan Gurita Cikeas, tidak aka ada sekelompok grup bisnis yang menguasai   proyek pemerintah, tidak ada lagi upaya menghambat pengurusan berbagai surat-surat penting.

Kartel antara pengusaha dan penguasa tidak perlu terbentuk jika benar-benar pemerintahan sekarang sungguh-sunggh mau membersihkan diri. Kita seharusnya belajar dari pengalaman Orde Baru bagaimana KKN telah menghacurkan nama Soeharto dan membuat kelestarian lingkungan negeri ini porak poranda.

Kalau benar kita mau memberantas korupsi, tindakan pembalakan liar pasti akan diberantas dan tak perlu ada upaya  ditutup-tutupi dengan menyalahkan alam ( hujan deras ) sehingga bencana Wasior harus terjadi. Kelestarian alam seharusnya menjadi komitmen bersama karena apalah arti semua pembangunan ini dilakukan jika kedepan akan banyak bencana yang akan meluluhlantakkan semua yang kita bangun ?

Bangsa ini memang susah untuk belajar dari kesalahan karena ada keserakahan yang luar biasa dalam diri kita, tamak akan harta, haus kekuasaan dan menyebabkan krisis moral yang akut namun sayangnya dipungkiri dan tidak diakui sebagai sebuah kenyataan sehingga terjebak dalam pencitraan berkelanjutan yang memuja kebohongan dan kepalsuan .

Jadi kalau benar Kroni Cendana dilajutkan ke Kroni Cikeas cappeeeee deeeeeh.

 

Entry filed under: Politik. Tags: .

Penetapan gelar Pahlawan Nasional , bisakah dengan catatan ? Korupsi dan Bencana Alam di Indonesia, adakah korelasinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Oktober 2010
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: