Merapi Garang, Rakyat Mengerang

November 7, 2010 at 10:39 am Tinggalkan komentar

Pengalaman yang tak terlupakan di Yogya baru-baru ini  ketika Merapi dengan garang dan tak henti-hentinya dan tanpa kenal lelah mengeluarkan suara gemuruh dan awan panas Wedus Gembel yang menyapu habis daerah yang dilaluinya. Korbanpun  berjatuhan baik anak-anak, pria maupun  wanita dan tidak lagi kenal usia. Bahkan kerugian harta benda juga tak terelakkan ketika ternak dan semua barang apa saja yang tersapu ikut hangus terbakar akibat terjangan awan panas. Mbah Marijan dan tetangganya yang menjadi korban pada awal letusan telah menyisakan duka yang mendalam disatu sisi namun juga penghormatan terhadap keteguhan sikapnya meski ada beberapa pihak yang menyayangkan kematian yang menurut logika akal sehat dengan bantuan teknologi sebenarnya dapat dihindari karena status Merapi telah dinaikkan statusnya menjadi AWAS dengan radius zona aman menjadi 10 km. Namun kematian Mbah Marijan dan tetangganya, ternyata juga tidak menghentikan kegarangan Merapi dan harus disusul dengan korban masyarakat lainnya ketika radius zona aman diperjauh menjadi 15 km dimana awan panas sempat menerjang dan membuat porak poranda masyarakat yang tinggal di radius 16 km, dan hanya dalam hitungan  jam pihak berwenang terpaksa memperluas zona aman menjadi 20 km.

Bencana kemanusiaan yang menyatukan

Bencana yang meski telah diperkirakan sebelumnya namun tak terduga akan menjadi begitu dasyat dan menghancurkan rakyat di seputaran Merapi yang terkena awan panas sungguh menjadikan kita semua sebagai warga Negara terpanggil untuk membantu sebisanya sesuai dengan kemampuan. Dompet peduli sebagai wujud solidaritas terbuka dimana-mana baik di media elektronik, media cetak maupun melaui kotak sedehana berupa kardus di sekolahan, dikantor dan di perempatan jalan. Tak mau kalah untuk menunjukkan solidaritasnya, inisiatip warga Yogya  melalui RT,RW dimana setiap KK menyerahkan bantuan nasi bungkus seadanya dalam jumlah tertentu untuk dibagikan kepada saudara pengungsi yang membutuhkan patut diacungi jempol. Sungguh sebuah pertunjukkan drama kemanusiaan yang menyentuh hati nurani tidak seperti layaknya drama politik yang dilakonkan para anggota terhormat DPR dalam menyelesaikan kasus Century. Justru masyarakat yang sederhana dan serba kekurangan ini  telah menunjukkan kedermawanannya untuk membantu sesama tanpa pamrih dan tanpa perlu diketahui yang lain. Sangat membanggakan ketika tindakan memberi dengan tangan kanan, ternyata tangan kiri tak perlu mengetahuinya. Bahkan gedung olah raga telah beralih fungsi menjadi tempat pengungsian dan kampus UGM dan UII juga telah membuka pintu seluas-luasnya untuk menjadi tempat pengungsian dalam upaya kemanusiaan. Semua sekolah diliburkan dan juga perkuliahan diliburkan selama seminggu mengingat aktivitas Merapi yang terus saja terjadi erupsi dan gemuruh suara yang tiada henti yang menunjukkan kegarangannya.  Sungguh suasana yang tidak menyenangkan namun harus diterima dengan iklas oleh para pengungsi karena sebagai insan kita masih terus berharap Sang Pencipta melindungi kita semua meski segala daya upaya dan iktiar harus dilakukan untuk penyelamatan. Pemakaian masker meski dilokasi pengungsian, di jalan dan di rumah harus dilakukan karena abu vulkanik terus mengguyur bagaikan hujan, yang selain membuat pernapasan sesak juga membahayakan bagi kesehatan.. Meski tidak dapat membantu banyak, namun kita semua selalu berdoa agar semuanya kembali berjalan normal. Cukup sudah penderitaan begitu banyak warga diseputaran Merapi baik karena kehilangan anggota keluarganya yang meninggal, luka bakar dan ludesnya harta benda akibat kegarangan Merapi. Rakyat seputaran Merapi yang sederhana terus mengerang dan wajah yang panik dan kelelahan memang tidak dapat ditanggung sendiri oleh mereka. Sudah saatnya Pemerintah Pusat menetapkan status bencana Merapi  menjadi bencana nasional sehingga penderitaan mereka dapat berkurang.

Relokasi sebagai salah satu solusi

Memang tidak mudah menangani gejolak dan amuk Merapi yang memang tak terduga dan sulit  dipredeiksi meski kita telah memanfaatkan teknologi sekalipun.

Daya magis Merapi ditambah berbagai ceritera terkait Kraton Yogya dan Nyai Loro Kidul seolah semakin menambah kegarangan dan kemisteriusan Merapi . Apalagi penduduk seputaran Merapi lebih mengandalkan hidup pada kesuburan lahan dan ternak yang mereka beri pakan dari kemurahan Merapi. Inilah potret betapa kemiskinan ditengah masyarakat Merapi telah membuat mereka tidak mau menyadari alias nekat kembali lagi meski mereka tahu betapa bahayanya jika mereka harus kembali ke rumah dari pengungsian untuk memberi makan ternak yang bagi mereka merupakan kekayaan yang harus dipertahankan dan dilindungi. Pemerintah terlambat untuk mengevakuasi ternak penduduk didaerah bahaya ke tempat yang aman. Selain itu terkait dengan keyakinan yang mereka percaya utnuk memperoleh wangsit atau petunjuk sebelum Merapi meletus untuk mengungsi dan selain itu terbatasnya akses pendidikan membuat mereka terkesan bandel untuk dievakuasi petugas. Inilah tantangan bagi pemerintah untuk segera melakukan upaya nyata dalam  mencerdaskan bangsanya sesuai yang tercantum dalam Pembukaan UUD 45 dengan membangun saran pendidikan yang murah (tidak perlu gratis) namun berkualitas. Gembar gembor dan iklan di TV tentang pendidikan gratis telah menyesatkan karena biaya sekolah tidak hanya uang SPP tetapi juga buku pelajaran, seragam, sepatu, tas dll. Jika potret kemiskinan ini dapat dihapus dan digantikan dengan kesejahteraan maka pasti korban yang meninggal akan dapat ditekan dan bahkan ditiadakan. Pemerintah yang bersih dari KKN akan punya banyak dana untuk layanan publik dan tidak ada dana yang masuk ke rekening gendut sejumlah pejabat publik yang selalu bermuka dua dimana didepan rakyat meraka akan berteriak dan menepuk dada sebagai pembela rakyat dan selalu mau mendengarkan aspirasi rakyat, namun disisi lain selalu saja menyunat dan bahkan merampok uang rakyat. Sangat ironi ketika bencana terus menelan korban baik di Wasior, Mentawai dan Merapi , namun seolah semua ini dianggap sesuatu yang biasa. Pejabat yang harusnya bertanggung jawab mengurusi rakyatnya justru ada yang melakukan kunjungan keluar negeri dan juga ke Bali seperti yang dilakukan beberapa pejabat di Boyolali. Lalu kalau demikian, apakah mereka masih pantas disebut pemimpin rakyat ?  Apapun alasannya jelas nurani meraka mulai tumpul kalau tidak mau dikatakan mati.

Perlu penggalangan dana dimasyarakat dan terutama alokasi dana pemerintah yang cukup untuk merelokasi rakyat yang bermukim di daerah merah bencana meski kita tahu relokasi tidak  mudah. Tugas utama pemerintah adalah melindungi rakyatnya tanpa ada alasan macam-macam dan semua dana, daya dan potensi bangsa harus diarahkan fokus pada penanggulangan bencana yang integratip dan tidak parsial, baik dari mulai upaya preventip maupun pasca bencana.

Keselamatan rakyat didaerah bencana harus menjadi prioritas dan jangan biarkan rakyat mengerang kesakitan dan meninggal sia-sia karena kita semua gagap menanggapi bencana yang terjadi. Pelindungan rakyat oleh pemerintah dari bencana dalam bentuk asuransi dan santunan harus segera tersedia sehingga rakyat yang menjadi korban tidak merasa diterlantarkan oleh Negara.

Sudah saatnya pemerintah dan para-pihak(stake-holder) duduk bersama merancang penanganan bencana dengan manajemen bencana yang modern dan memadai yang mampu menekan jumlah korban yang tidak perlu. Ego sektoral dan ego dari masing-masing para-pihak harus ditanggalkan dan semua harus fokus jika mereka mengklaim demi membela dan berjuang untuk rakyat.

Kehadiran TNI dan POLRI sangatlah bermanfaat dan merupakan bukti sumbangsih pada Negara dalam bentuk lain, selain untuk menjaga keamanan. Kita harus angkat topi atas peran TNI dan POLRI meski kita tidak menutup mata masih ada oknum yang justru melanggar HAM seperti di Papua .

Mari kita songsong segala bentuk bencana kedepan dengan kesiapan yang tinggi dan kepasrahan kepada Tuhan YME akan pertolongannya dan besarnya KasihNYA  kepada kita manusia ciptaannya.

 

Yogya,5 Nopember 2010,  ditengah guyuran hujan abu

Dan situasi yang tidak nyaman karena nafas sesak & gemuruh Merapi.

Entry filed under: Sosial. Tags: .

TNI ku SAYANG Membantu Rakyat MALANG Siapakah pahlawan masa kini ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

November 2010
S S R K J S M
« Okt   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: