Menjadi pelayan atau pejabat publik, alangkah enaknya ?

November 22, 2010 at 3:07 pm Tinggalkan komentar

Melihat perkembangan yang terjadi sesudah reformasi, maka wajar jika di negeri ini saat sekarang banyak orang  yang  ingin menjadi pelayan publik  terutama untuk jabatan politis dan berlomba-lomba menjadi menteri atau menang dalam Pemilu Kada yang sangat mahal biayanya , karena ternyata berdasar pengalaman selama ini tidak ada sangsi yang jelas dan tegas jika sebagai pelayan publik ternyata melakukan kesalahan ataupun  tidak berbuat apa-apa alias tidak membuat perubahan yang berarti di masyarakat yang dilayaninya.

Lihat saja kasus Gayus dimana para pelayan publik yang bekerja di tahanan Mako Brimob sebanyak Sembilan personil  polisi sebagai penjaga rutan nantinya hanya akan  dikenai sangsi dicopot atau paling maksimal dipecat tidak dengan hormat  tanpa harus diproses menjadi kasus pidana. Demikian pula lambannya penanganan kasus Gayus dan proses pembonsaian kasusnya yang sebenarnya berskala  mega skandal serta melibatkan banyak pihak yang merupakan tokoh bisnis maupun politik dimana diharapkan  dapat dijadikan pintu masuk membongkar mafia pajak dan peradilan ternyata penanganannya  masih sangat mengecewakan masyarakat. Dan yang sangat dan lebih mengecewakan ternyata partai politik-pun terseret pada pusaran permasalahan yang sebenarnya bukan masalah rakyat namun hanya masalah kepentingan sempit terkait pimpinan partai  namun di blow -up seolah-olah kasus ini menyangkut kepentingan orang banyak. Keberadaan Satgas Anti Mafia yang pada awalnya diharapkan mampu memenuhi tuntutan rakyat akan keadilan ternyata tidak sesuai harapan karena hanya pandai bermain kata-kata, menjadi selebritis karbitan dan sangat disayangkan begitu banyak uang Negara dikeluarkan untuk membayar Satgas yang ternyata  tidak membuat perubahan berarti selain menambah panjangnya  episode sandiwara politik. Bagaimana rakyat tidak marah kalau kasus Gayus ternyata hanya jalan di tempat tanpa ada kemajuan yang berarti dan peradilan yang terjadi justru hanya menyederhanakan kasus, namun anehnya meskipun kasusnya jalan ditempat, Gayus sebagai tahanan ternyata bisa jalan-jalan dan dapat masuk dalam rekor MURI.

Mari kita coba lihat kasus salah seorang menteri di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II yang terus saja kecolongan berbagai kasus  dimulai dari adanya ruang tahanan super mewah yang dihuni salah satu pelaku suap seorang jaksa Urip yakni Artalyta Suryani  (Ayin), kasus remisi hukuman bagi para koruptor seperti Syaukani dan besan SBY sendiri yang bertentangan dengan spirit SBY sendiri dalam  menuntaskan kasus korupsi dan menghancurkan para koruptor di Indonesia, salam tempel di penjara dan terakhir kasus Gayus yang ketahuan sedang nonton tenis di Bali. Dalam komentarnya beliau selalu mengatakan bahwa semua masukan akan dipelajari dan berjanji memperbaikinya bahkan dirinya siap di caci maki serta selalu meminta maaf. Enak benar jadi  pejabat Indonesia kalau setiap ada kesalahan yang menjadi tanggung jawabnya  hanya meminta maaf dan kemudian berjani dan terus berjanji dari satu kasus ke kasus lainnya. Kalau dalam fungsi manjemen, maka sebenarnya harus ada salah satu fungsi yang berjalan yakni control/pengawasan  supervisor terhadap yang di-supervisi, dan salah satu yang termasuk tugas menteri adalah mensupervisi agar semua jajaran di departemennya berjalan dengan baik. Sebenarnya tidak muluk harapan masyarakat terkait tugas dan wewenangnya yakni penegakan hukum dan perlindungan HAM.

Masih ingat kasus tabrakan kereta api dan belakangan yang terjadi adalah begitu seringnya  kereta api yang anjlog/keluar rel , ujung-ujungnya sang menteri hanya bisa menyalahkan masinis dan Direksi K A.  Lalu dimana sebenarnya tanggung jawab seorang menteri di Indonesia ? Padahal beliau baru saja mengumumkan semua kereta ekonomi di tahun mendatang akan meningkat layanannya karena akan dipasangi AC dimana sebetulnya hal tersebut adalah lumrah terjadi  di negeri tetangga kita di Asean. Sebenarnya harapan masyarakat hanya menginginkan tersedianya transportasi yang aman,murah dan mudah diakses dan jalanan menjadi tidak macet karena moda transportasi umum yang tersedia ada banyak  pilihan dan bersifat masal dan masif.

Kasus terbaru adalah  penganiayaan TKW Sumiati dan meninggalnya seorang TKW yang jenasahnya ditemukan di tempat pembuangan sampah di Arab Saudi, lagi-lagi ditanggapi secara reaktif tanpa melihat akar permasalahan yang sebenarnya dan Pak Menteri terus saja mengeluhkan beratnya permasalahan yang dihadapi. Bahkan dalam sebuah tayangan salah satu TV swasta beliau menjelaskan sepak terjang sebelum jadi menteri  yakni ketika  masih duduk di DPR bagaimana kritisnya beliau  terhadap masalah tenaga kerja  TKW/TKI dan penyiapan lapangan kerja di dalam negeri.

Bahkan Presiden SBY sendiri  langsung memerintahkan pemberian fasilitas HP bagi TKW  yang menurut  pandangan awam seperti saya menunjukkan bentuk kepanikan dan penyelesaian  secara instan /short cut tanpa menyentuh permasalahan mendasar, hanya sekedar ingin menunjukkan seolah-olah betapa pedulinya pemerintah pada permasalahan tersebut, namun justru menampar muka sendiri karena terkesan solusi yang ditawarkan tersebut tidak atas dasar keakuratan data dan informasi serta  terlihat dangkal analisisnya.

Kasus lama seperti  Lapindo pun belum ada penyelesaian sampai saat ini yang tak terasa sudah memasuki tahun ke-empat sejak terjadi 2006  dan terus memakan uang rakyat akibat ditetapkan sebagai bencana alam dan Negara harus terus merogoh kocek yang seharusnya untuk memenuhi kebutuhan dasar  rakyatnya namun berubah jadi mendanai pembuatan tanggul yang semakin lama semakin meninggi tanpa ada penyelesaian yang tuntas.

Dan masih banyak masalah yang terjadi di negeri ini yang sebenarnya rakyat berharap pemerintah dalam hal ini  dipimpin oleh Presiden sendiri akan menjadi bagian solusi untuk menuntaskan permasalahan yang ada, namun dalam kenyatan justru sebagian besar pemimpin negeri ini terutama presiden hanya terus berpidato tanpa aksi nyata yang selalu ditunggu  rakyat. Para pemimpin negeri ini mengalami kegagapan dan kebingungan luar bisa sehingga membuat  rakyat yang sudah menderita menjadi bertambah penderitaannya . Kalau pemerintah yang diharapkan mengambil keputusan dan tindakan nyata untuk sebuah perubahan kearah yang lebih baik ternyata hanya bisa curhat dan cenderung mengeluh akan kondisi negeri ini lalu siapa yang akan memimpin untuk mencari solusi terbaik bagi negeri ini ? Seharusnya para menteri KIB II ini harus menjadi bagian dari solusi untuk negeri ini dan bukan sebaliknya menjadi bagian masalah dari bangsa ini  karena mereka putra-putri terbaik bangsa dan kehidupan layak dari Negara telah mereka peroleh dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang dibayar salah satunya dari pemasukan pajak. Artinya para pejabat publik karena sudah dibayar rakyat seharusnya malu jika tidak mampu memberi  kontribusi nyata bagi rakyat yang dilayaninya. Namun kita tahu perekrutan para menteri tidak terlepas dari dagang politik antar partai dan akibatnya presiden tersandera ketika harus memilih pembatu-pembantunya yang handal. Saatnya presiden melakukan tindakan melakukan perombakan kabinet yang  jelas-jelas kinerjanya jauh dari harapan masyarakat Indonesia.

Saatnya melakukan perubahan radikal sebelum kesabaran rakyat habis karena mereka terhimpit kesengsaraan hidup, sementara rakyat melihat wakil rakyatnya suka plesiran dengan dana rakyat tanpa mau peduli kesusahan rakyat yang diwakilinya, seolah kita seperti melihat dalam film Titanic dimana pekerja dibagian dek bawah sibuk menguras air yang masuk, namun dibagian dek atas para penumpang VIP terus berdansa dan berfoya-foya sampai akhirnya semuanya menjadi terlambat.

Budaya tanpa rasa malu yang memalukan yang dipertontonkan para pejabat public sebaiknya dihentikan karena rakyat telah muak dengan kosmetika politik alias politik pencitraanyang hanya baik diatas kertas namun tidak terjadi dalam realitas. Saatnya pemimpin negeri ini  “take action, miracle happen” dan membuang jauh-jauh NATO (No Action Talk Only).

 

Entry filed under: Sosial Kepemimpinan. Tags: .

Republik (“MIRIP”) Indonesia Kita butuh Pemimpin, bukan Pemimpi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

November 2010
S S R K J S M
« Okt   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: