Spiritual vs Spirit-uang

April 4, 2011 at 10:35 am Tinggalkan komentar

Dalam kehidupan modern yang begitu cepat perubahannya, ternyata membawa konsekuensi yang luar biasa terhadap pemahaman kita akan arti sebuah kehidupan.
Dalam dunia kejiwaan dikenal sesuatu yang menggerakkan dari hati terdalam yakni spiritual. Bahkan kata spiritual juga sering dikaitkan dengan keyakinan dalam kita beragama yang dikenal dengan spiritualitas.
Begitu pentingnya spiritualitas dalam kehidupan ini yang mampu menjadikan seseorang dengan gigih dan pantang menyerah menggapai sebuah impian untuk mewujudkannya dalam suatu realitas.
Spirit atau semangat dari dalam jiwa mampu menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang positip yang secara rasio/logis sulit bisa terjadi namun tetap saja terjadi.

Begitu kuatnya spirit para pejuang kemerdekaan untuk mewujudkan tekad “merdeka” sehingga mampu mengorbankan jiwanya dalam perbuatan heroik untuk memerdekakan angsa Indonesia dari penjajahan, kemiskinan, keterbelakangan, penindasan dan kesengsaraan yang seolah tiada berujung.
Semangat untuk merdeka membuat para pejuang secara konsisten dan persisten tidak kenal lelah melalui jalan gerilya yang penuh onak dan duri berjuang dengan segala keterbatasan untuk meraih cita-cita merdeka.

Namun setelah 66 tahun merdeka, apakah spirit tersebut masih ada dan melekat dihati sebagian besar rakyat Indonesia terutama para pemimpin negeri ini dan generasi muda yang bergaya hidup modern, berkiblat ke hedonisme dengan segala pernik-pernik kehidupan yang lebih memuja kenikmatan? Juga bagi para politisi Senayan apakah momen nasional seperti Hari pahlawan, Hari Kemerdekaan dan hari-hari bersejarah lainnya mampu membangunkan dan mengembalikan spiritual berpolitik demi nasionalisme yang inklusip untuk mensejahterakan rakyat Indonesia (yang tak lain adalah konstituen yang diwakilinya) atau lebih memilih berpihak pada para pemodal ?

Melihat bandul pergerakan politik yang terjadi akhir-akhir ini kelihatannya semakin menyakinkan kita bahwa para politisi dan penyelenggara negara telah tersandera dan tergadai atau menggadaikan negara ini pada kekuatan asing dan pemodal kuat yang sudah menerobos ke relung terdalam dalam masyarakat kita dengan berbagai trik dimana tanpa sadar atau yang lebih parah lagi tanpa pernah mau tahu telah mengakibatkan kesengsaraan bagi rakyat kecil yang memberi mandat kekuasaan pada mereka.

Spirit-uang yang menggila

Masyarakat kita semakin materialistis dan memuja kebendaan secara berlebihan dan melupakan nilai-nilai luhur warisan pendahulu kita sehingga seringkali dalam setiap tindakan yang diambil telah mengabaikan terhadap harkat dan martabat manusia. Kita sering dengar dalam pembicaraan keseharian bagaimana kegitan keseharian kita dikendalikan dan didasari oleh UUD ( Ujung-Ujungnya Dana) . terjadi pemerasan berkelanjutan dimana hampir semua sektor kehidupan telah dijadikan komoditas yang diperjualbelikan.
Sangat disayangkan, sikap demikian telah menjerumuskan negara kedalam situasi yang rumit dengan banyaknya hutang, penawaran yang murah dari hasil tambang kita kepada pemodal kuat asing , permasalahan sosial yang ditimbulkan dimana kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena mudahnya kita “dibeli” pihak asing dengan iming-iming memperoleh uang dalam jumlah yang menurut kita sangat banyak alias menjadi kaya mendadak tanpa perlu bersusah payah.

Nasionalisme vs kapitalisme
Spirit kita dalam berbangsa yang dikenal dengan nasionalisme harus terus dipupuk dan dikembangkan bukan dalam artian sempit, namun nasionalisme dipahami dan diartikan sebagai rasa bangga sebagai sebuah bangsa yang mampu mewujudkan tatanan dunia yang lebih demokratis, adil, damai dan mampu mensejahterakan warga dunia. Nasionalisme saat ini tidak dapat ditandai hanya dengan yel-yel dan terikan lantang, apalagi mengangkat senjata untuk berperang, melainkan bagaimana sebagai sebuah bangsa kita mampu mempertontonkan peradaban kita yang tinggi yang ditandai dengan keharmonisan dalam kehidupan yang beragam, penghormatan terhadap minoritas dan perbedaan dan sama sekali tidak membenarkan adanya kekerasan atas nama apapun. Semua bentuk teror atas nama apaun haru ditinggalkan dan ditanggalkan serta digantikan dengan sikap santun dan lebih memilih mengedepankan dialog dalam kebersamaan yang sejati. Persaudaraan sejati sebagai sebuah bangsa seharusnya sudah cukup dan mampu meniadakan kekerasan yang berujung pada perusakan, penghancuran dan pembunuhan. Nasionalisme seharusnya tidak dapat menerima hadirnya kapitalisme yang mengabaikan rakyat biasa yang tidak punya modal cukup untuk bersaing melawan pemodal kuat. Pemerintah sebagai representasi kehadiran Negara yang diberi mandat oleh rakyat seharusnya memilih berpihak pada rakyat dalam mengambil kebijakan nasional dan tidak justru tunduk pada kepentingan para kapitalis (pemodal kuat) dan membiarkan rakyat yang sudah tak berdaya diterkam oleh kepentingan pemodal kuat. Pemerintah harus bertindak dengan jalan apapun untuk melindungi kepentingan rakyat dari kekuatan yang menghancurkannya dan menjauhkan dari cita-cita kemerdekaan yang tertuang dalam pembukaan UUD kita. Spirit uang seharusnya dijauhkan dari para pelayan publik sehingga tidak ada lagi KKN dan dampaknya pejabat publik kita tidak bisa dibeli dan lebih memilih untuk mensejahterakan rakyat daripada segelintir pengusaha kaya raya yang cenderung memperkaya diri baik melalui penipuan pajak, pat gulipat dll.

Kembali ke jati diri bangsa
Kalau kita mau mewujudkan cita-cita mulia para pendiri bangsa yang tidak lain merupakan intisari dari aspirasi rakyat Indonesia, maka tiada jalan lain untuk kembali ke jati diri bangsa dan jangan sekali-kali melupakan sejarah perjuangan para pahlawan yang tak gentar melawan apapun dan siapapun demi membela yang benar, mewujudkan keadilan dan mensejahterakan rakyat yang telah rela menderita demi terwujudnya cita-cita mulia sebagai sebuah bangsa yang beradab. Kita telah mengenal ajaran nenek moyang kita yang luar bisa nilainya namun sayang semakin lama semakin tenggelam ditelan perubahan jaman. Kehidupan bergotong royong dalam hal keuangan/fiansial yang diwujudkan dalam bentuk hidup berkoperasi telah diganti dengan system perbankan yang lebih mengedepankan sikap individualis, wujud kerja sama dalam bentuk kerja bakti untuk mengerjakan sesuatu yang dirasa berat (ringan sama dijinjing, berat sama dipikul) telah digantikan dengan system proyek yang penuh KKN dan lebih menguntungkan pemberi proyek dan pelaksana proyek dibanding rakyat yang seharusnya lebih menikmatinya.
Berbagai bentuk kehidupan bersama perlahan-lahan mulai ditinggalkan dan masing-masing mencari kehidupan sendiri, kecuali seperti Banjar di Bali yang tetap bertahan , juga berbagai paguyuban yang masih tumbuh subur namun tetap saja memudar dan digantikan dengan gaya hidup “clubbing”, dugem, dst.

Pancasila sebagai acuan
Bobroknya moral bangsa tidak lepas dari munafiknya para pemimpin dijaman ORBA dan dilanjutkan sampai sekarang di era Reformasi, dimana nilai-nilai Pancasila telah ditinggalkan dan ditanggalkan dan diganti dengan keserakahan dan sifat tidak peduli dengan AMPERA (Amanat Penderitaan Rakyat) . Rakyat yang berharap memasuki era Reformasi ada pembaharuan yang nyata ternyata hanya mimpi disiang bolong dan hanya isapan jempol belaka.

Memang ada perubahan ketika Gus Dur berkuasa meski hanya 2 (dua) tahun dan dilengserkan oleh para elit politik yang haus kuasa, namun setelah era Gus Dur bangsa ini semakin terpuruk kedalam jurang korupsi yang kian menggila dan semakin menganga meski telah ada lembaga superbodi seperti KPK.

Kita dapat melihat peradaban kita yang oleh bangsa lain dikenal beradab telah dinodai dengan kerusuhan berbau AGAMA yang membiarkan beberapa nyawa melayang terbunuh dan mati sia-sia hanya karena keyakinan yang berbeda dan beberapa dari umat agama lain dianiaya hingga hampir menemui ajalnya dan tempat ibadah dibakar dan dirusak seolah –olah hanya merekalah para pelaku anarkis yang merasa paling benar.

Ditambah lagi pemaksaan kehendak yang dilakukan oleh Ketua DPR saat ini yang katanya merupakan perwakilan rakyat yang bisa duduk di kursi terhormat hanya karena mandat yang diamanatkan rakyat namun dalam pernyataannya selalu saja melecehkan rakyat dan tidak mau peduli dengan kondisi rakyat yang menderita seolah-olah kalau wakil rakyat hidupnya sudah seperti dirinya maka berarti semua rakyat yang diwakilinya sudah sejahtera.

Rencana pembangunan gedung DPR baru yang super mewah dengan alasan apapun disaat rakyat dalam kesulitan hidup rasanya tidak pas dan menodai rasa keadilan dan menunjukan ketidak pedulian dan arogansi dari sekelompok orang yang sedang mabuk kuasa sampai lupa darimana asalnya kekuasaan yang ada ditangannya serta telah mati hati nuraninya.

Jadi kalau para wakil rakyat masih merasa sebagai pemimpin, tolong kembalilah ke jati diri bangsa yang berlandaskan Panca sila yang telah disepakati bersama sebagai Dasar Negara kita yang Berbhineka Tunggal Ika. Gantikan sirit-uang dengan spiritualitas yang telah diajarkan oleh nenek moyang kita yang lebih bijak meski hidup di jaman lampau daripada pemimpin negeri ini yang masih bisa mengejek rakyat yang kesulitan hidup.

Entry filed under: Sosial Kepemimpinan. Tags: .

Kita butuh Pemimpin, bukan Pemimpi. Senang melihat rakyat susah, susah melihat rakyat senang, mengapa ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

April 2011
S S R K J S M
« Nov   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: