Tiga gerombolan yang bikin Negara kita susah maju.

Mei 13, 2011 at 1:58 am Tinggalkan komentar

Indonesia memang hampir 66 tahun merdeka, namun kondisi kesejahteraan rakyat yang terlihat justru semakin menjauh dari cita-cita proklamasi kemerdekaan dan harapan para pendiri Negara.

Lingkungan hidup yang semakin rusak karena rendahnya kesadaran pemerintah, kalangan legislatip dan masyarakat kita dalam memelihara kelestarian lingkungan, ketamakan dan kerakusan para pembisnis yang berkolusi dengan para pejabat publik yang korup dalam memperkosa dan mengeksploitasi alam secara berlebihan melalui berbagai bentuk seperti illegal logging, perburuan satwa liar yang dilindungi, penambangan berbagai mineral dan gas yang terkandung dalam perut ibu pertiwi yang asal-asalan yang menyebabkan bencana seperti Lumpur Lapindo, penambangan mangan di Timor Barat yang telah menewaskan sekitar 30 orang , penanaman mono-kultur seperti perkebunan kelapa sawit dalam luasan yang sangat besar tanpa memperhatikan daya dukung lahan dan pengaruhnya terhadap kerusakan lingkungan , penebangan pohon tiada henti tanpa menanam kembali dst.

Lingkungan politik kita juga tak lepas dari polusi moral, intrik dan trik murahan para politisi yang kehilangan sikap kenegarawanannya sehingga menyebabkan perilaku para politikus(legislatip) , dan juga eksekutip maupun legislatip semakin menjauh dari cita-cita kemerdekaan ,yang kalau kita kaji lebih mendalam sebenarnya cukup menyedihkan mengingat perjuangan kemerdekaan diperoleh dengan darah,doa dan pengorbanan harta benda yang tak sedikit dari rakyat dan para pahlawan yang berjuang tanpa pamrih. Kita dapat melihat perilaku Ketua DPR dan kawan-kawannya yang getol dan ngotot membangun gedung baru dengan biaya yang tak sedikit sementara rakyat tak putus dirundung malang karena bencana alam dan bencana ekonomi (akibat berbagai mega -skandal seperti Bank Century, penggelapan/pemborosan uang rakyat baik secara halus lewat studi banding DPR ke berbagai negara, mark-up proyek maupun secara kasar lewat pungli di jalan, kantor dll)

Lingkungan ekonomi terasa lebih menyedihkan dan menyesakkan dada dimana para pelaku UKM dibiarkan berhadapan langsung dengan para pemodal kuat baik dari dalam maupun luar Indonesia tanpa ada proteksi bagi pelaku UKM. Bahkan meski ada lembaga yang mengatur persaingan usaha namun dalam prakteknya banyak persaingan bisnis tidak sehat yang terjadi namun tidak ditindak. Bahkan di lapangan para pemodal kuat bermain dengan segala cara dan menghalalkan cara apapun untuk menghancurkan para pelaku UKM yang dianggap membahayakan dan menjadi pesaing yang harus dimusnahkan. Banyak saham perusahaan Indonesia telah dikuasai asing karena longgarnya UU PMA dan dibiarkannya para pemodal kuat dari luar bermain seenaknya karena para pejabat publik kita tak mau berperan sebagai LEADER tetapi hanya mau sebagai DEALER (hurufnya sama namun perannya berbeda) karena dengan menjadi DEALER dan BROKER lebih banyak dana yang didapat tanpa harus bersusah payah berusaha meski mengorbankan bangsa sendiri sehingga banyak rakyat kita harus jadi babu dan kuli di negara lain dan rakyat yang ada di negeri sendiri hanya menjadi penonton dan pelengkap penderita. Bahkan pemodal kuat dari luar telah melakukan penetrasi sampai mempengaruhi produk legislatip berupa UU demi memenuhi kepentingan bisnis mereka.

budaya di sekitar masyarakat kita juga tak kalah seronoknya dengan maraknya tontonan media baik TV yang penuh dengan sinetron yang menggambarkan hidup borju dan deraian air mata maupun tayangan lain yang belum mampu mendidik dan menjadi tuntunan ,pemakaian /akses internet yang tanpa kontrol maupun media lainnya yang tidak bisa dijadikan tuntunan namun hanya mengumbar nafsu dengki, iri, sikap borju, bergelimang kemewahan dan juga tontonan realty show yang sungguh-sungguh membuat kita miris karena begitu banyak perilaku negatip yang dilakukan sebagian kecil masyarakat diumbar dan diekspos ke publik seperti perselingkuhan, judi, premanisme , klenik/perdukunan, dunia esek-esek dan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dan harus diterima. Kita semakin jauh dari citra masyarakat yang santun dan penuh maaf ketika melihat tayangan TV secara langsung yang mempertontonkan perilaku para elit politik wakil rakyat yang saling menyerang satu sama lain dan saling mendustai, bersandiwara dan berkolaborasi untuk hal yang membuat masyarakat sengsara.

Gerombolan koruptor/penjarah uang rakyat (KKN)
Gerombolan para koruptor telah beranak -pinak dengan sangat cepat karena mampu menawarkan gaya hidup mewah dengan cara instan meski melanggar norma masyarakat, adat dan agama. Saat ini lebih banyak pejabat yang takut miskin daripada takut masuk penjara dan neraka. Sangat menyedihkan kalau kita mengamati dengan cermat betapa banyak mantan anggota DPR terhormat dan mantan Bupati/Gubernur menjadi pesakitan dan harus berurusan dengan hukum dan mendekam di bui, padahal sebelumnya dipuja, dihormati dan diberi fasilitas super mewah oleh Negara karena mereka dianggap orang pilihan yang mampu menyuarakan suara rakyat yang diwakilinya maupun mampu memperjuangkan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat. Mafia para koruptor dan penjarah uang rakyat telah menggurita sehingga lembaga super body seperti KPK masih saja mengalami kesulitan untuk membongkar korupsi karena tali temali dengan kekuasaan baik di pemerintahan maupun bisnis. Gerombolan koruptor sebenarnya adalah Real Terorist alias teroris yang sesungguhnya karena menciptakan kesejnagan yang kaya dan miskin, menjarah uang rakyat sehinga layanan publik menjadi buruk dan tumbuh subur masyarakat yang hidup dalam serba kekurangan dan kemiskinan.
Di negara kita sudah terlalu banyak anomali alias penyimpangan yang terjadi ditengah masyarakat namun semuanya seolah-olah dianggap sebagai hal yang wajar dan bukan sebagai masalah. Mari kita lihat pungli yang terjadi setiap hari di hampir setiap layanan publik namun dibiarkan saja dan bahkan cenderung dilindungi seperti misal di terminal, pelabuhan, tempat penyeberangan, jembatan timbang, di jalan raya, pengurusan surat-surat, pelelangan tender dll.
Kita dapat melihat dengan mata telanjang bagaimana gaya hidup para pejabat yang begitu mewah ditengah lautan kemiskinan meski kalau dilihat dari jumlah gaji tidak mungkin dapat dilakukan. Dan yang lebih menyedihkan tidak ada perlawanan dari anggota keluarga (istri/suami dan anak-anaknya) maupun saudara-saudaranya dan sebaliknya mereka justru bangga mempunyai saudara yang menjadi pejabat meski bermental penjahat karena menjarah uang rakyat.
Mereka, para pelaku KKN kebanyakan memang hidup serba kecukupan dan mewah, namun terpenjara dalam kekerdilannya, karena tidak mampu membangun dan mewujudkan solidaritas sosial bagi sesamanya, terlebih bagi kaum pinggiran yang menjadi korban tindakan KKNnya
Tali-temali korupsi yang sudah menggurita dan bagaikan benang kusut telah dijadikan alasan pembenaran bagi sebagian orang/koruptor karena kata mereka kalau tidak ikut gila maka mereka tidak akan memperoleh bagian dan bahkan ada yang secara sinis mengatakan “yang haram saja sudah hampir habis, apalagi yang halal”
Menjadi aneh kalau ada pejabat namun tidak kaya dan hidup sederhana penuh kejujuran dan mereka sering dianggap megalami “kelainan” sehingga patut disingkirkan karena akan menggangu proses jalannya KKN dan menjadi batu sandungan dalam praktek KKN menghabiskan uang rakyat.
Orang yang jujur cenderung disingkirkan dan tidak diberi peran, meski mereka punya kemampuan dan sangat profesional. Maka tidak aneh kalau layanan publik ditangan orang-orang yang korup pasti tidak akan berjalan baik dan penuh dengan keculasan dan intrik jauh dari harapan rakyat. Tipe seperti ini sudah terbiasa mengabdi pada dua tuan yakni mamon dan disisi lain seolah-olah memuji Tuhan namun penuh dengan kepalsuan. Aneh memang banyak pejabat publik dan pengusaha yang korup namun tetap dihormati dan di puja puji seolah bak dermawan yang akan menyelamatkan kehidupan rakyat, padahal kenyataan justru sebaliknya mereka para koruptor yang menjabat maupun “pengusaha pencuri” sedang dengan halusnya mengkhianati rakyat dengan jalan menggerogoti uang rakyat dan menyebabkan rakyat terpuruk dalam kemiskinan absolut dan penderitaan yang tak terperi seperti mengkonsumsi nasi aking, mengalami busung lapar,kurang gizi, hidup di lingkungan kumuh, tidak menikmati infrastruktur yang memadai seperti jalan yang selalu rusak dan dibiarkan tanpa perbaikan , tiada aliran listrik, susah memperoleh air bersih dll. Kondisi ini menunjukkan wajah masyarakat kita yang sedang mengalami kesakitan atau patologi sosial.
Demikian pula para politisi busuk yang terus berkeliaran membangun kerajaan politiknya dengan menjadikan anggota keluarganya masuk dalam daftar caleg meski tidak punya kapasitas demi mendapatkan kehidupan yang sangat layak meski tanpa didasari idealisme dan ideologi politik sama sekali
Tidak ketinggalan mereka yang bekerja di LSM namun tidak berkomitmen pada ideologi kerakyatan dan sering hanya menjadi selebritis LSM yang menjadi sangat terkenal namun tidak mengubah apa-apa, bahkan ditenggarai semakin banyak yang hanya menjadi pekerja untuk mendapatkan nafkah semata tanpa mau mengkritisi apakah program yang dilakukan memberdayakan atau justru sebaliknya memperdaya rakyat yang sudah lemah dan miskin. Tudingan menjual kemiskinan dan hanya menjadi kepanjangan tangan donor sudah seharusnya menjadi refleksi mendalam untuk kita semua yang bergelut lewat jalur LSM dalam membantu mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera.
Koruptor sebenarnya seorang psikopat dan lebih berbahaya karena korbannya bukan hanya sebelas atau dua puluh nyawa, tetapi ratusan ribu bahkan jutaan nyawa rakyat Indonesia yang tidak memperoleh kehidupan yang layak dan seperti syair dalam lagu Ebiet G Ade mereka telah “mati dalam hidup” tenggelam dalam kubangan kemiskinan yang tak bertepi.Mereka para koruptor telah menjauhkan rakyat Indonesia dari sejahtera baik lahir apalagi batin, melalui mark up, suap, fiktif, dan berbagai tipuan canggih lainnya.
Perilaku KKN, seperti halnya perilaku ular maupun belut, yakni sangat cerdik, licin dan rapi dalam menutupi kegiatannya. KKN bagaikan parfum yang harumnya menyebar kemana-mana dan dapat tercium maupun terendus, namun tidak nampak wujudnya. Setelah hampir 32 tahun dimasa Orde Baru belajar secara langsung dari praktik keseharian kehidupan kita bagaimana ‘teknik melakukan KKN yang benar dan canggih ?’, dan masih dilanjutkan di era reformasi ini, maka ditengah masyarakat telah banyak manusia yang menjadi ‘singa berbulu domba’, yang mana tampak dari luar sangat halus dan sopan seperti halusnya bulu domba , seolah-olah berbudi luhur mau menolong, namun akan menjadi liar dan ganas ketika melihat manusia didepannya dapat dijadikan mangsanya seperti halnya perilaku seekor singa atau ular berbisa. Pelaku KKN cenderung menjadi pemangsa bagi sesamanya (Homo homini lopus) dan tidak merasa bersalah, serta mati rasa karena telah kehilangan harkat dan martabat kemanusiaannya, dan yang muncul adalah sifat kebinatangannya.
KKN bukan hanya menjadi masalah menyalahi administrasi, posedur hukum maupun sistem akuntansi, tetapi menjadi masalah moralitas dan mentalitas karena secara filosofi KKN adalah sebentuk penyalahgunaan dan pencurian yang sistematis, dengan memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki sebagai pinjaman/mandat dari rakyat, dan menyiasati kelemahan system kontrol yang ada dalam system besar ketatanegaraan kita sehingga dapat menguntungkan bagi dirinya secara berlebihan dan tidak adil, karena bukan dari hasil kerja keras dan kejujuran. Disamping itu KKN merupakan tindakan menyerobot “KASIH Tuhan” yang seharusnya diterima oleh umatNYA yang sangat membutuhkan, namun oleh pelaku KKN disalah gunakan untuk kepentingan diri sendiri. Inilah wajah dunia kita, mengapa ada satu orang kekenyangan, dan seribu orang kelaparan, kata Franky (almarhum) menggugat dalam sebuah lirik lagunya. Bumi yang diciptakan untuk dipakai dalam kebersamaan, saat ini cenderung mau dikuasai sendiri oleh para pelaku KKN.
Mereka menjadi semacam gurita raksasa bebentuk birokrasi maupun kerajaan bisnis (termasuk perusahaan multinasional) yang dengan kekuasaan yang dimilikinya ingin merengkuh seluruh dunia menjadi miliknya.
Banyak pihak melalui berbagai seminar, lokakarya, tulisan mengusulkan agar dilakukan tindakan penjeraan terhadap koruptor baik berupa pemakaian baju khusus, kerja sosial, penayangan wajah koruptor di media, pembuatan film anti korupsi, pendidikan dini anti korupsi yang masuk dalam kurikulum, menjatuhkan hukuman mati bagi koruptor kelas kakap, melakukan pengasingan dalam ritual keagamaan maupun sangsi sosial bagi para koruptor dan keluarganya seperti halnya stigma yang dilakukan ORBA terhadap pelaku G30 S/PKI, mengambil kembali semua harta yang berasal dari korupsi beserta bunganya, pemecatan tidak hormat bagi para koruptor, dll.
Sudah saatnya ditiap-tiap kabupaten, kotamadya dibentuk lembaga seperti halnya KPK di pusat maupun ICW yang memantau praktek KKN dan membongkarnya untuk diselesaikan secara hukum demi mewujudkan rasa keadilan masyarakat serta dalam rangka menciptakan layanan pemerintahan dan praktek bisnis yang bersih dari KKN. Sudah saatnya apabila tidak mau dikatakan terlambat, para pelaku KKN diajukan ke pengadilan dan supremasi hukum harus ditegakkan. Rasa keadilan masyarakat akan semakin menguat dan akan menggugat putusan pengadilan yang tidak mencerminkan rasa keadilan masyarakat dan yang mencoba menjadikan hukum tunduk dibawah uang dan kekuasaan. Kita dukung terbentuknya sebuah lembaga pemberantasan korupsi yang betul-betul independen dan mampu menjalankan fungsinya secara maksimal

Hal ini menjadi tantangan bagi kita kaum beriman, untuk mewujudkan iman melalui perbuatan, sehingga iman yang kita miliki berupa ‘iman yang memerdekakan dan membebaskan’ yang mengabarkan kabar kegembiraan bagi kita semua. Solidaritas sosial religius perlu diwujudkan bersama-sama untuk menyatakan ‘perang terhadap korupsi, kolusi dan nepotisme ‘ saat ini juga!
Mari kita galang bersama melalui kerjasama jaringan antar lembaga (agama, intelektual sejati, kalangan pers idealis, masyarakat peduli kejujuran, LSM, politisi rakyat, kelompok bisnis beretika dll) yang masih menghendaki kejujuran tegak dibumi Indonesia, agar praktek KKN kotor yang menyebabkan rakyat Indonesia terus dalam kemiskinan (meski bantuan bermilyar-milyar dolar telah diberikan ,baik oleh pemerintah pusat maupun bantuan dan utang dari negara sahabat seperti USAID, AUSAID, GTZ, JICA, World Bank dll) untuk tidak diteruskan, dan digantikan dengan terciptanya pemerintahan yang bersih dan berwibawa yang didukung dengan praktek bisnis yang beretika dan berkeadilan.
Atau kita akan pasrah menunggu kehancuran bersama-sama, sementara para pelaku KKN akan tertawa dalam hati karena telah mempersiapkan diri untuk menghadapi hal-hal terburuk yang akan terjadi. Kehancuran kita bersama tidak akan berpengaruh bagi pelaku KKN karena mereka telah mempersiapkan diri hidup dari menikmati buah KKN seperti deposito, investasi properti dinegara lain dst (seperti halnya buah terlarang yang dimakan Adam sebagai manusia pertama).

Gerombolan gerakan radikal
Dalam kurun waktu tidak kurang beberapa kali tayangan TV mempertontonkan bagaimana kaum radikal dengan berbagai kedok menyerang dan membunuh kelompok lain yang berbeda keyakinan, merusak secara anarkis tempat-tempat yang mereka anggap sarang maksiat dengan cara anarkis tanpa melalui proses hukum sementara Negara kita merupakan Negara hukum .Proses pembiaran yang begitu lama dan akhirnya berkembang tak terkontrol menyebabkan citra Negara kita dimata dunia menjadi negara yang tidak aman, penuh dengan terorisme, apalagi kelompok radikal telah menjadi bagian dari jaringan para teroris dunia dengan tertangkapnya Umar Patek di Pakistan dan jaringan lainnya di Indonesia. Negeri ini menjadi ladang subur bagi tumbuhnya gerakan radikal dan terorisme karena kekuatan engara tunduk pada kemauan kelompok radikal yang dengan terang-terangan telah menantang SBY untuk melakukan maker denga menggulingkan pemerintahannya kalau berani menindak mereka. Dan anehnya pemerintahan SBY tidak berani menangkap para tokoh gerakan radikal padahal kita punya TNI yang disegani Negara lain, mempunyai Densus 88 yang punya kemampuan menangani teroris dalam negeri. Belum lagi di semua angkatan kita mempunyai pasukanelit yang dapat dibanggakan meski dengan segala keterbatasan dan dan peralatan. Selain itu ,tumbuh suburnya kelompok radikal disebabkan ketidakadilan yang terus terjadi dan dibiarkan dimana Si KUAT memakan Si LEMAH dan Negara yang seharusnya berperan mensejahterakan rakyat melalui layanan pemerintah ternyata hanya memberikan janji bukannya bukti dan bahkan penyelenggara Negara banyak yang tertangkap beKKN secara berjamaah . Yang lebih menyakitkan, ternyata anggota partai yang diharapkan mampu membawa rakyat yang memilihnya menjadi lebih sejahtera justru asyik membesarkan partai dengan cara-cara kotor memalui penggalangan dana dari mana saja tanpa mau tahu apakah dana tersebut layak untuk diterima atau tidak sehingga tidak heran banyak mantan anggota DPR dari berbagai partai terjerat KKN karena harus setor untuk menghidupi partainya. Yang paling baru adalah kasus NII KW 9 dengan Ponpes Al Zhaytun yang diduga telah melakukan banyak cuci otak dan doktrinasi pada kalangan muda maupun mahasiswa dan sangat meresahkan, namun sayangnya meski media telah berupaya mengekspose dan membongkar kasus tersebut tetapi belum ada tindakan signifikan dari pihak berwajib untuk menelusuri dan membuktikan kebenarannya, seolah ada batu besar yang mengganjal dalam membongkar kasus ini. Negeri ini semakin terpuruk ketika gerakan radikal dibiarkan tanpa ditindak berdasar hukum positip yang ada dan yang lebih menyedihkan kita telah menistakan dan melupakan Panca sila sebagai dasar Negara dan meninggalkan semboyan keberagaman/pluralisme berupa Bhinekka Tunggal Ika yang hanya dijadikan slogan semata. Ketika bangsa dan Negara ini berpaling dari Panca sila maka akan terjadi Panca (lima) sial dan sial yang pertama adalah perpecahan bangsa menuju kehancuran dan kita akan gagal sebagai sebuah Negara karena emosi,dana,waktu,pikiran dan resource/sumber daya yang ada hanya digunakan untuk hal negatip seperti permusuhan, intrik, trik, fitnah dan saling menjatuhkan. Alangkah saying negeri yang penuh dengan potensi akhirnya belum bisa mewujudkan negeri yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

Gerombolan perusak lingkungan
Yang sering dilupakan karena jauh letaknya dari masyarakat adalah para pembisnis yang tanpa etika dan dengan kerakusan dan ketamakan luar bisa ditambah dengan didukung teknologi tinggi telah secara sistemik merusak lingkungan tanpa mau tahu akibatnya yang sebenarnya sangat mengerikan bagi keberlanjutan kita dan anak cucu kita di bumi tercinta Indonesia. Proses perusakan ini telah berlangsung dalam rentang waktu yang lama, tak tersentuh tangan hukum karena kuatnya loby dan dana yang mereka miliki, dan para perusak lingkungan telah bermetamorfosa sempurna menjadi kaum elit yang dapat mempengaruhi jalannya mesin perpolitikan di Indonesia dan mampu merubah dirinya dari wajah kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan menjadi seseorang /tokoh organisasi politik yang sangat dermawan dan sangat peduli pada kerusakan lingkungan melalui berbagai iklan layanan maupun penyiapan dana CSR yang jumlahnya tidak sedikit. Mereka, para perusak lingkungan menyusup ke berbagai lini dan pemerintahan seolah menawarkan segelas air ditengah dahaga rakyat akan kesejahteraan. Mereka menawarkan mimpi indah yang tak akan pernah terwujud karena pandainya bersandiwara dan menggunakan media (yang dimilikinya) sebagai corong untuk mempengaruhi opini publik demi kepentingan bisnisnya. Gerombolan perusak lingkungan dapat beroperasi secara sangat halus bahkan nyaris tak terdeteksi karena mereka akan menggunakan berbagai strategi dan berkedok member dan membuka lapangan kerja, meningkatkan pajak, dan berbagi dalih yang seolah menjadi solusi yang paling pas untuk kondisi saat ini. Padahal sebenarnya yang dibutuhkan Indonesia adalah orang-orang yang dengan sadar dan penuh kerelaan memperbaiki lingkungan melalui berbagai cara seperti yang dilakukan para penerima Kalpataru maupun seperti Kick Andy Hero 2011 Paris Sembiring yang meskipun tidak tamat SD dan menjadi pengayuh becak namun ternyata melakukan pembibitan sampai mencapi 100 juta lebih secara swadaya dan menjadikan bisnis pembibitan yang berjiwa social dengan mendirikan Bank Pohon. Menarik meski dari kekuarangannya, namun karena kemauan maka paris Sembiring mampu mempelopori masyarakat lainnya untuk cinta akan lingkungan dengan tindakan nyata tanpa banyak gembar gembor dan upacara seremonial.
Jadi dalam semangat menyongsong kemerdekaan yang ke 66, maka masih banyak PR yang harus diselesaikan jika bangsa ini mau menjadi besar dan dihargai bangsa lainnya.Kita harus menumpas ketiga gerombolan tersebut yang jelas-jelas merugikan dan membuat bangsa Indonesia menjadi kerdil dan terancam keberlanjutannya baik sebagai sebuah bangsa maupun Negara. Kesadaran akan hidup selaras alam , penuh kejujuran dan menghargai keberagaman dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika dan dengan dasar Negara Pancasila harus terus dipupuk dan dikembangkan jika kita ingin maju dalam artian sebenarnya. Partai politik harus menjadi kekuatan yang membangun, bukannya menjadi wadah untuk memuaskan egoisme kesukuan, kesamaan agama maupun ideology. Politik harus dipersembahkan untuk keadilan dan kesejahteraan untuk seluruh bangsa Indonesia dalam mewujudkan “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

Entry filed under: Sosial. Tags: .

Suara Rakyat (Suara Tuhan) vs Suara DPR (Suara siapa ?????) Mewujudkan PAROKI yang ramah anak, perlukah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Mei 2011
S S R K J S M
« Apr   Okt »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: