Mendidik anak bercita cita menjadi kaya raya namun baik hati , salahkah ?

Oktober 5, 2011 at 11:09 pm Tinggalkan komentar

Semua orang pada dasarnya tidak mau hidup berkekurangan, kalau tidak mau atau malu menyebutnya ingin bercita-cita menjadi kaya raya ?
Saya kira ini merupakan keinginan yang wajar dan manusiawi karena sebenarnya kita hidup didunia adalah untuk mewujudkan kebahagiaan yang ditandai berlimpahnya kekayaan baik secara materi maupun spiritual.
Namun yang kita jumpai sering kali berbeda atara apa yang dicita-citakan dengan realitas terjadi dalam keseharian kita, dimana masih begitu banyak orang yang akhirnya harus bergulat melawan kemiskinan yang melilitnya dan berjuang untuk keluar dari kemelut hidup yang seolah tak berkesudahan dalam upaya untuk mencoba memenuhi kebutuhan hidup secara layak.

Menyiapkan anak untuk menapaki kehidupan dengan kesiapan dan bekal yang cukup, baik secara materi maupun mental/spritual dalam menjamin terwujudnya cita-cita/impian untuk mewujudkan keberhasilan hidup merupakan harapan yang selalu tertanam dalam benak setiap orang tua, karena tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya mengalami kesulitan dalam hidupnya ke depan
Banyak metode pendidikan anak yang menginformasikan bagaimana perlakuan yang harus diberikan sehingga anak tumbuh cerdas secara intelektual, finansial, , kreatip dan sekaligus religius.

Membangun kecerdasan finansial
Salah satu syarat untuk seorang anak tumbuh kecerdasan finansial secara optimal adalah ketika si-anak bergaul dengan “seorang ayah kaya” seperti yang dituturkan dari pengalaman yang dialami oleh Robert T Kiyosaki dalam bukunya “ Rich Dad, Poor Dad”. Robert T Kiyosaki membagi posisi keuangan seseorang menjadi 4 (empat) kuadran yakni kuadran kiri yang terdiri dari E (Employ) maupun SE (Self Employ) dan di kuadran kanan berupa B(Bisnis dengan system) dan I (Investor).Si anak tidak dianjurkan untuk berada di kuadran kiri sebgai seorang pekerja, namun menjadi seorang yang bergerak di kuadran kanan baik sebagai pemilik bisnis yang bersistem maupun sebagai investor.
Mendidik anak sejak awal untuk cerdas secara finasial merupakan sebuah keharusan dalam menyiasati perkembangan dunia yang mengglobal dan tanpa mengenal lagi batas negara (borderless).

Perkembangan anak tidak dapat terlepas dari orang tuanya yang selalu berada di dekatnya dan menjadi panutan dan teladan baik dalam berpikir maupun bersikap. Anak akan cenderung menduplikasi perangai/tabiat orang tuanya alias menjadikan orang tua sebagai “model”. Maka menjadi sangat bermakna dan bernilai strategis ketika orang tua mau dan mampu menanamkan secara mendalam nilai nilai kehidupan sejak usia dini dan memberikan arahan, pandangan dan pilihan untuk anak kedepan mampu berkembang sesuai bakat dan minatnya dalam kehidupan yang akan diraihnya yakni menjadi orang yang sukses baik duniawi maupun akhirat. Salah satu pilihan untuk menjadi orang yang sukses antara lain sejak dini telah ditanamkan bahwa menjadi kaya raya bukan sebuah kesalahan dan kemustahilan asal dicapai dengan mendasarkan pada nilai-nilai yang baik seperti kejujuran, kerja keras, kerja cerdas dan bagaimana membangun networking/jaringan yang bersifat positip yang akan berguna bagi kehidupannya.
Menjadi kaya adalah sebuah kemungkinan dan bukan kemustahilan asal sejak kecil anak tidak dibatasi dan ditakut-takuti serta diberi keberanian dan kesempatan untuk punya impian tersebut dan mampu menterjemahkannya dalam perbuatan nyata dengan strategi dan tindakan yang terukur serta dipelajari dari orang yang telah menapak kesuksesan menjadi kaya raya.
Seorang anak yang bercita-cita menjadi kaya dapat melalui berbagai jalan yang akan ditempuh, namun apabila jalan yang dipilih melalui menjadi seorang pembisnis berbudi, maka yang pertama harus dikenalkan adalah bagaimana menumbuhkan jiwa bisnis/wirausaha melalui berbagai jalan antara lain dengan mengakses bacaan terkait bisnis, bergaul dengan pembisnis sukses, mendapatkan mentor pembisnis yang tangguh dan sukses atau berada dalam lingkungan bisnis yang mau tidak mau mengajarkan bagaimana berbisnis namun tidak boleh menghalalkan segala cara untuk menjadi kaya, dalam artian bagaimana bisnis yang dipelajarinya merupakan bisnis yang beretika dan menjunjung tinggi nilai –nilai seperti kejujuran, mau berbagi dll. Sejak kecil anak diberi kesempatan untuk berusaha sesuai hobi dan minatnya serta sesuai dengan perkembangan usia dan psikologisnya. Harus diberi pemahaman sejak dini pada anak bahwa berbisnis bukanlah pekerjaan menipu namun bagian dari layanan sehingga ketika mengambil keuntungan harus yang layak dan tidak merugikan orang lain. Menjadi pembisnis berarti membantu pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja dengan upah yang layak, membayar pajak untuk pembangunan bangsa dan negara, membantu memperkuat perekonomian nasional serta keuntungan lainnya.
Anak juga dapat mewujudkan menjadi kaya raya dengan jalan halal melalui profesi pialang saham, penemu suatu teknologi atau produk, atau cara-cara tidak konvensional alias tidak mengikuti jalan tikus kebanyakan orang yang tidak sempat menjadi kaya.

Membangun kecerdasan spiritual
Selain membangun kecerdasan anak dalam hal finansial untuk menjadi kaya, yang tak kalah pentingnya adalah membangun kecerdasan spiritual anak sehingga selain kecerdasan finansial yang mampu mendatangkan kekayaan materi, dengan memiliki kecerdasan spiritual kedepan anak akan menjadikan nilai-nilai kehidupan berupa nilai-nilai religi sebagai tuntunan dalam kehidupannya, untuk mempergunakan kekayaan yang dimilikinya mampu menjadi berkah bagi banyak orang, yang tidak menjadikan uang sebagai tujuan namun hanya sebagai sarana dalam mencapai tujuan hidup sehingga tidak terjebak dalam nafsu menjadi kaya dengan cara tamak, serakah, kikir, tukang tipu dan tidak mau berbagi namun hanya memeras orang lain untuk memperkaya dirinya.

Memang kata seorang bijak, lebih mudah seekor unta masuk kedalam lubang jarum daripada orang kaya masuk kerajaan surga, yang artinya sejak awal telah diingatkan untuk berhati-hati ketika seorang ingin menjadi kaya karena kalau tidak hati-hati akan terjebak dan terbenam dalam kekuasaan duniawi yang mampu melumpuhkan mata hati, nurani dan meninggalkan ajaran imannya karena kenikmatan duniawi yang tak mampu dijauhinya dan menjadi ketergantungan yang menyesatkan.
Akan berbahagialah kita sebagai orang tua apabila melihat si anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi seseorang yang berkepribadian kuat, punya rumah, mobil dan kekayaan lainnya secara pribadi dan mandiri dengan jalan halal dan memberi berkah bagi banyak orang karena tetap mau berbagi dan tidak mengangkangi sendiri kekayaannya, apalagi sampai membuat sesama lainnya menderita dalam memperoleh kekayaannya.

Bukankah seorang bijak telah menyatakan “Dengan memberi akan mendapat” artinya dalam hidup, kita selalu diajak untuk berbagi dan menyadari ada harta milik saudara kita lainnya yang harus dikembalikan pada yang berhak serta membutuhkan, dan hati nurani kita akan damai dan tenteram ketika kita mampu membahagiakan sesama melalui berbagai kebiasaan berbagi member bantuan dan pertolongan baik secara materi maupun moril. Dengan membangun kecerdasan spiritual, kita menyiapkan anak untuk tidak hanya kaya secara materi tetapi juga kaya akan ilmu pengetahuan, budi dan kebaikan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern yang sering kehilangan arah dan mengalami dis-orientasi dalam memaknai arti kehidupan.

Dengan demikian sebagai orang tua kita dapat berharap agar anak kita tidak hanya bahagia di dunia tetapi sekaligus telah menyiapkan diri untuk mendapatkan tiket ke surga karena mampu menterjemahkan dan mewujudkan iman dalam perbuatan nyata dan tidak hanya sekedar beretorika belaka apalagi terus hidup dalam kemunafikan karena meskipun sembahyang terus dilakukan namun perilaku korupsi dan menindas sesama terus saja berjalan. Amin

Entry filed under: Dunia ANAK sehat,cerdas,ceria. Tags: .

Mewujudkan PAROKI yang ramah anak, perlukah? Melakukan donor darah, benarkah kita merugi untuk berbagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Oktober 2011
S S R K J S M
« Mei   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: