Petani Sejahtera, Bangsa Berjaya, sekedar slogan atau benar-benar jadi kenyataan ?

November 14, 2011 at 12:50 pm Tinggalkan komentar

Kalau anda termasuk orang yang gemar dan betah berlama-lama di depan layar kaca TV maka slogan tersebut hampir selalu muncul dengan berbagai varian iklannya hasil persembahan dari Departemen Pertanian. Sebuah iklan layanan masyarakat yang patut diapresiasi meski masih dipertanyakan perwujudannya,mengapa ?

Mari kita lihat kehidupan nyata kebanyakan petani diseputaran kita, apakah benar hasil jerih mereka dihargai dan peran mereka dalam menyediakan pangan bagi negeri ini dalam ikut serta mewujudkan kedaulatan pangan dianggap hal yang strategis? Belum hilang dari ingatan kita bagaimana kebijakan impor garam tetap dilakukan sementara pengrajin garam didalam negeri menjerit karena tak mampu memasarkannya, begitu pula dengan  kasus impor sayuran berupa wortel dan kentang dari China yang membanjiri pasar di kota besar di Indonesia.

Begitu ironi ketika Indonesia mengklaim sebagai bangsa agraris namun justru tingkat kehidupan petaninya tidak semakin membaik namun justru semakin terpuruk, generasi muda dan bahkan anak petani sendiri tidak mau lagi jadi petani karena melihat kesengsaraan dan penderitaan orang tuanya ketika menghidupi keluarganya dari jerih payah bertani dan semakin banyak generasi muda yang memilih pergi ke kota maupun jadi TKI di sektor informal. Pedesaan semakin sunyi dan lahan-lahan mulai terlihat murung karena hanya disentuh tangan-tangan renta yang sudah tidak lagi bertenaga. Kalaupun mereka masih bertani, itu bukan merupakan pilihan bebas namun hanya terpaksa untuk sekedar menyambung hidup yang harus terus berputar meski mereka tahu bahwa bidang yang digelutinya tidak punya prospek masa depan kecuali untuk para petani tuan tanah yang memiliki lahan cukup untuk bertani dan menyewakan maupun menyakapkannya dengan bagi hasil.

Kebijakan yang tidak berpihak pada petani

Memang kita dapat terkecoh kalau melihat data hasil pertanian dalam artian luas  termasuk didalamnya hasil perkebunan terutama kelapa sawit yang begitu mnggiurkan hasilnya namun sebenarnya lebih banyak dikelola pemodal besar dalam bentuk perkebunan besar dan padat modal. Andaikan ada petani sawit yang menjadi model iklan sebuah bank dan sukses dalam usaha sawitnya namun sebenarnya tidak mewakili sebagian besar petani kelapa sawit yang ada. Petani saat ini terus diburu oleh tingginya biaya utnuk penyediaan input sarana produksi yang terus naik sementara harga jual produk pertaniannya tidak menjamin akan memperoleh keuntungan yang dapat digunakan untuk memenuhi penghidupan yang layak. Kebijakan reforma agraria yang didalamnya termasuk land reform hanya sempat terjadi dan dilaksanakan di masa pemerintahan Gus Dur dan tidak berlanjut sampai saat ini. Kebijakan yang digulirkan pemerintah di bidang pertanian masih bagaikan pemadam kebakaran yang hanya mematikan api di permukaan tanpa menyentuh bara sekam yang masih terus ada dibawahnya. Penyelesaian yang cenderung setengah hati telah membuat pertanian semakin dijauhi dan semakin tidak punya prospek masa depan meski kita berharap akan semakin banyak generasi muda terdidik yang mau melanjutkan profesi orang tuanya sebagai petani yang sukses dan sejahtera.Namun apa hendak dikata, jika pemerintah bersama DPR  masih terkesan kikir untuk membangun infrastruktur di pedesaan seperti jalan tani maupun jalan antar desa, sarana irigasi, listrik, telekomunikasi, pelabuhan dll namun tetap saja  jor-joran menyetujui dana untuk  membangun jalan tol di kota, jangan harap slogan diatas akan terwujud. Inilah dilemma ketika banyak anggota DPR yang mengatas-namakan petani namun hatinya tidak ada untuk petani serta tidak paham permasalahan pertanian sehingga kepentingan dan hak-hak petani dibiarkan tak terpenuhi. Maka tidak mengherankan kalau kita sering melihat di pemberitaan media  betapa banyak petani yang terpaksa mati sia-sia tertembak aparat keamanan karena berebut lahan dengan pemilik modal yakni perkebunan besar untuk  memperjuangkan lahan demi melanjutkan kehidupannya.

Demikian pula ketika pemerintah pusat dan daerah terus saja menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk membeli mobil dinas, membiayai rumah tangga para pejabat  dan membiayai perjalanan dinas yang tak jelas tujuan dan hasilnya, maka petani dibiarkan bagaikan anak tiri karena mereka harus berjuang membawa hasil produksinya ke pasar dengan sarana apa adanya dan melalui jalan yang tidak dapat lagi dibedakan dengan saluran pembuangan air karena berlobang dan rusak sehingga petani harus merogoh sakunya untuk membayar transport yang mahal. Dan petani masih bersyukur jika hasil produksinya dapat diserap pasar dengan  harga yang layak dan kembali ke rumah  dengan membawa uang yang ternyata hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan seadanya dan masih harus berpikir keras dengan apa lagi uang didapat untuk menutup kekurangan untuk  biaya hidupnya. Kalau kita mau sedikit menengok kondisi keseharian  pasar tradisional, maka kita dapat melihat betapa banyak produk pertanian yang ada di pasar  terbuang percuma begitu saja karena tidak laku padahal kita tahu semua itu dihasilkan dengan cucuran keringat dan air mata para petani, namun belum ada upaya pemkab/pemkot untuk memfasilitasi pedagang sayur dan buah-buahan dengan mesin pendingin dalam suatu ruangan khusus dan kalau perlu disubsidi oleh APBN/D sehingga produksi hasil petani tidak mudah rusak dan terbuang percuma. Perlu ada pemikiran untuk memperpanjang waktu mencegah kerusakan produk pertanian dan dapat memperoleh nilai tambah melalui prossesing/pengolahan lanjutan hasil sayur dan buah-buahan sehingga petani sebagai produsen mampu meningkatkan pendapatannya. Dan masih banyak lagi upaya yang dapat difasilitasi Dinas /SKPD untuk memakmurkan rakyat yang diabdinya sekaligus dilayaninya.

Kerja sama yang sinergis seluruh stake-holder (para-pihak)

Jika benar slogan diatas ingin diwujud-nyatakan dalam realitas kehidupan petani, maka kerja sama lintas departemen dan sektoral menjadi keharusan karena kita tahu ketika petani tidak hanya sebagai produsen namun sekaligus berperan menjadi pemasar bagi produksi yang dihasilkannya, maka pemberdayaan petani harus dilakukan secara simultan karena sudah menyangkut HULU-HILIR dimana semua pihak yang berkepentingan harus duduk bersama untuk mendukung terwujudnya petani sejahtera. Perbaikan infrastruktur membutuhkan dana yang tidak sedikit sehingga harus ada alokasi yang cukup di APBN/D dan hal ini harus ada kemauan dari pihak DPR/D untuk menyetujui alokasi dana tersebut dan bukannya justru kesempatan untuk  bagi-bagi proyek. Kebutuhan akan benih harus diawasi karena rawan penyalahgunaan untuk memperoleh fee yang besar karena kita semua tahu ada mafia yang bergentayangan dan selalu siap memakan dana tersebut.

Para pihak termasuk didalamnya para pembisnis sebagai pembeli produk pertanian harus mau membagi keuntungan bersama petani melalui penetapan harga yang layak sebagai wujud apresiasi, reward/penghargaan dan respek terhadap kerja keras dan pintar petani sehingga sebagai pembisnis mereka merasa terjamin untuk selalu dapat memperoleh pasokan dari petani dan petani akan terus bersemangat karena hasil kerjanya dihargai yang berarti akan ada keberlanjutan produksi yang menguntungkan kedua belah pihak baik petani maupun pembeli/pengguna akhir. Pemberdayaan petani untuk menjadikan petani subsisten bergeser menjadi petani pengusaha/pembisnis merupakan jalan panjang berkelok-kelok namun tetap dapat terwujud apabila para-pihak mau bekerja sama dan bekerja dengan hati dan hati-hati. Banyak aspek yang harus disentuh di tingkat petani yang melibatkan semua aktor termasuk peran serta kalangan akademisi ketika petani diharuskan memproduksi produk yang dibutuhkan pasar. Petani harus diubah pola pikirnya dari tanam dulu baru jual menjadi tanam yang laku dijual di pasar sehingga petani harus  memiliki ketrampilan teknis budidaya yang baik, menggunakan benih yang bermutu, meningkatkan jiwa bisnis, meningkatkan kapasitas manajemen usaha, meningkatkan kemampuan pengorganisaisan petani sehinggga mampu menjaga kualitas,kuantitas, kontinyuitas yang mana semuanya bermuara pada pentingnya menjaga  kepercayaan dari pihak pembisnis yang telah diberikan pada para  petani.

Semua ini akan terwujud apabila kita benar-benar punya niat mulia, tidak sekedar hanya bekerja saja atau sekedar melaksanakan tugas, apalagi jika iklan layanan tersebut hanya sebentuk pencitraan betapa pedulinya pemerintah pada petani. Kita berharap slogan diatas benar-benar keluar dari hati nurani terdalam untuk membantu petani secara total dengan team yang kuat yang merupakan kerjasama semua pihak terkait. Mari wujudkan slogan  Petani Sejahtera dan Bangsa Berjaya.

Entry filed under: Petani "mengakses pasar". Tags: .

Fund raising, salah satu jalan menuju kemandirian Organisasi Petani Kacang Tanah Berubah Menjadi “SAPI”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

November 2011
S S R K J S M
« Okt   Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Tamu Adikarsa

  • 49,086 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: