Kacang Tanah Berubah Menjadi “SAPI”

November 18, 2011 at 9:31 am Tinggalkan komentar

Desa Fatusane masuk dalam wilayah kerja Kecamatan Miomafu Timur Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan salah satu desa dari keseluruhan 15 desa yang tergabung dalam Asosisasi BITUNA. Jarak desa Fatusene dari pusat kota Kefamenanu tidak terlalu jauh, namun jalan menuju Desa Fatusane dan desa-desa lain yang tergabung dalam Asosiasi BITUNA masih jalan berbatu dan belum beraspal dimana pada saat musim hujan sulit dilewati kendaraan.

Dalam suatu kunjungan yang dilakukan oleh DPRD ke Desa Fatusene, Bapak Ruben sebagai salah satu kader pemasaran  pernah menyampaikan pada pihak DPRD  soal jalan raya yang kondisinya sangat rusak. Semua masyarakat desa mengharapkan jalan raya yang baik sehingga mendukung kegiatan  di desa dan harapan ini sudah sejak lama hanya saja belum terealisasi. Janji  dan sejuta harapan lain selalu disampaikan pada saat kampanye tetapa tidak pernah terealisasi. Seperti kehidupan desa-desa lainnya di TTU yang terus berbenah mengejar ketertinggalan dan mmewujudkan impian untuk sejahtera seperti diamanatkan dalam Pembukaan UUD 45, maka semangat warga desa untuk terus meningkatkan pendapatan dan membangun sarana dan prasarana di desa terus dilakukan. Salah satu kegiatan yang tak lepas dari kehidupan masyarakat adalah bercocok tanam. Setiap desa memiliki komoditi unggulan dan untuk Desa Fatusene komoditi unggulan untuk dijual adalah kemiri, asam dan kacang tanah.

Namun seperti halnya nasib petani pada umumnya, petani di Desa Fatusane juga mengalami nasib yang sama ketika menjual hasil pertanian. Seperti ungkapan Mama Fenti seorang kader pemasaran Desa Fatusene, mengatakan sebelum ada Asosiasi yang melakukan pemasaran bersama, kami sangat tergantung pada pengusaha. Bahkan kadang komoditi seperti asam yang sudah dipetik tidak lagi berharga dan dibiarkan terbuang percuma. Lebih lanjut dikatakan oleh Bapak Beatus seorang  kader pemasaran, seorang temannya pernah membuang asam sebanyak kira-kira 300 kg karena hanya dihargai Rp. 200/kg harga komoditi asam yang diterima tidak seimbang dengan pengorbanan yang diberikan. Ceritera lain datang dari Mama Be’a ,salah  seorang anggota kelompok tani yang dengan sangat antusias menceriterakan pengalamannya terkait dengan pemasaran bersama.

Berikut kutipan dari perkataan yang meluncur ketika kami singgah untuk belajar tentang pemasaran bersama.  Kata Mama Bea “ Selama saya hidup dari menjual hasil kacang tanah, baru kali ini saya bisa membeli sapi”  Terpancar dari raut wajahnya yang berseri karena rasa senang dan puas  akan hasil kerjanya yang dihargai secara layak. Berulang kali Mama Be’a menyatakan rasa senangnya atas kehadiran Asosiasi BITUNA yang  secara nyata mewujudkan impian petani untuk memperoleh harga yang layak dari hasil kerja kerasnya di kebun. Diceriterakan  pada tahun 2006, melalui pemasaran harga kacang tanah yang dijual diluar Asosiasi dengan harga Rp. 6.000-7.000, namun melalui asosiasi dihargai Rp.8.000, saya sebagai seorang petani sangat senang karena pendapatan rumah tangga kami sebagai petani bisa meningkat. Lebih lanjut menceritakan bagaimana bisa membeli sapi dari hasil menjual kacang tanah: pada penjualan tahap pertama sebanyak 171 kg dengan harga jual per kg Rp. 7.750, langsung dibelikan bakalan sapi 1 ekor untuk dipelihara, sedang untuk penjualan kacang tanah tahap kedua sebanyak 100 kg dengan harga Rp. 8.000 digunakan untuk keperluan rumah tangga. Kenaikan harga kacang tanah akibat pemasaran bersama mampu meningkatkan motivasi Mama Be’a untuk memperluas luas areal yang digunakan untuk menanam kacang tanah yang dituturkan dengan penuh semangat. Ketika ditanyakan, sumbangan apa saja yang akan dilakukan oleh warga Desa Fatusane supaya Asosiasi terus berkembang dan tidak bubar, Pak Ruben menjawab dengan sangat cerdas antara lain dikatakan,  semua warga desa  yang telah bergabung dengan Asosiasi melalui Lopotani diharapkan tidak lagi menjual pada pihak luar selain melalui asosiasi, terus menjaga kualitas  dan kuantitas/jumlah sehingga tidak mengurangi kepercayaan yang telah dibangun bersama dengan  pembeli (pengusaha), menjaga timbangan sehingga tidak dimanipulasi dan menambah penyertaan modal Lopotani Fatusene kepada Asosiasi BITUNA.

Demikian gambaran sekilas tentang ungkapan rasa  yang dialami  oleh beberapa petani melalui kegiatan pemasaran bersama yang difasilitasi oleh  Asosiasi.

Entry filed under: Petani "mengakses pasar". Tags: .

Petani Sejahtera, Bangsa Berjaya, sekedar slogan atau benar-benar jadi kenyataan ? Romo Francisco Tan SJ; mewujudkan iman,harapan dan kasih melalui PUSLAWITA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

November 2011
S S R K J S M
« Okt   Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Tamu Adikarsa

  • 49,086 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: