Refleksi akhir tahun, Indonesia-Negara GATOTKACA ( GAgal TOTal Kebanyakan Alasan & Cari Aman)

Desember 31, 2011 at 11:53 am Tinggalkan komentar

Di penghujung akhir tahun 2011, kesedihan terus merundung negeri ini yang tak lekang dirundung malang. Setelah kasus ”Bakar Diri ” yang memilukan dan sangat disayangkan yang dilakukan seorang mahasiswa idealis Sondang Hutagalung, dilanjutkan dengan Kasus Mesuji dkk dan terakhir kasus penembakan brutal polisi di Sape, serta kemarahan rakyat karena tidak didengar aspirasinya yang berujung pada pembakaran di Kalimantan dan Papua serta lemahnya aparat keamanan dalam melakukan kegiatan intelejen sehingga terjadi pembakaran sebuah pondok pesantren milik kalangan Syiah di Sampang Madura.

Belum lagi kalau kita rajin membaca koran daerah, betapa banyak kasus bunuh diri yang didahului dengan membunuh keluarganya karena tidak tahan akan deraan dan himpitan ekonomi. Meski secara makro memang pertumbuhan ekonomi cukup baik, namun yang terjadi senyatanya di kalangan rakyat biasa adalah semakin sulitnya memperoleh uang untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Harga sembako yang semakin merangkak naik, biaya pendidikan dan kesehatan yang tinggi terus mencekik dan membuat banyak rakyat menjadi tersengal dan sesak napas dalam melanjutkan kehidupannya yang biasa saja. Tidak terlalu muluk-muluk, mereka rakyat biasa hanya ingin bisa terpenuhi kebutuhan dasarnya seperti pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan, selain pasti diharapkan mampu memenuhi kebutuhan sekunder seperti rekreasi, punya motor, mobil dll,

Pemerintah (eksekutip), dimana kau berada?

 Kesejahteraan rakyat yang didamba dan mendasari perjuangan rakyat Indonesia untuk merdeka yang mampu menghantar Rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan untuk menjadi bangsa yang cerdas, berjaya dan sejahtera dan ikut mendukung perdamaian dunia masih jauh dari harapan kalau tidak mau dikatakan menjauh. Sebenarnya untuk tujuan tersebut negara dibentuk dan  hadir untuk mewujudkan cita-cita mulia menjadi negara merdeka  yang dalam hal ini dijalankan oleh pemerintah sebagai penanggung jawab dan pelayan publik yang bertanggung jawab untuk mewujudkannya.

Namun sangat disayangkan Presiden SBY sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan yang dipilih rakyat secara demokratis ternyata banyak mengecewakan rakyat yang terlanjur memilihnya karena tidak mampu secara tegas, konsisten dan berani untuk memerangi korupsi yang menyebabkan kemiskinan yang semakin mendera dan menyengsarakan rakyat. Meski diawal pemerintahannya, SBY telah berkoar-koar akan memimpin sendiri pemberantasan korupsi namun dalam kenyataannya  tidak terlaksana karena lebih memilih mencari jalan aman untuk tidak jatuh dari kursi kepresidenannya alias lebih mengutamakan jabatan daripada amanah.

Dan masih banyak litani yang dapat disebutkan untuk menunjukkan betapa rapuhnya pemerintahan SBY yang telah berkali-kali diingatkan oleh para pemuka lintas  agama tentang kebohongan yang dilakukan pemerintahannya,

 DPR = …………………………

Dilain sisi yakni legislatip tidak kalah buruk pamornya dibanding eksekutip dengan tingkah polah yang sangat mencengangkan dan memuakkan. Perilaku anggota DPR yang terjerat kasus korupsi sudah berjumlah puluhan dan akan mendekati ratusan orang kalau saja KPK berani bertindak tegas. Kasus Nasrudin dan turunannya telah mencoreng dan membuat habis kepercayaaan rakyat pada DPR, apalagi tingkah polah Ketua DPR yang mau membangun gedung baru yang nilainya aduhai, pernyataannya  yang selalu melukai perasaan rakyat dan kepemimpinannya yang lemah semakin menambah buruknya citra DPR. Belum lagi kegiatan studi banding yang tidak lain jalan jalan ke luar  negeri yang tidak sedikit menghabiskan dana negara yang dipungut dari pajak rakyat dan hutang luar negeri semakin menunjukkan DPR tidak peka dengan penderitaaan rakyat yang diwakilinya. Sandiwara Century, Kasus Lapindo, jahit mulut petani, Kasus Mesuji & Sape Bima telah menunjukkan betapa tidak peka dan pedulinya DPR pada penderitaan rakyat, dan nyatanya hanya dijadikan alat politik untuk menaikkan posisi tawar dengan pemerintah meski berlagak seolah-olah benar-benar peduli dengan derita rakyat.

Dan masih banyak tingkah polah dan gaya arogan para anggota DPR yang ditunjukkan dengan mau membubarkan KPK dll.

Aparat hukum, dimanakah keberadaannya ?

 Ketika menyaksikan Kasus Cikeusik yang secara terang benderang dan telanjang mempertontonkan keberingasan dan kekejaman manusia terhadap manusia lain, kasus pembakaran gereja di Temanggung, kasus Gereja GKI Yasmin  dan terakhir kasus pembakaran sebuah pondok pesantren di Sampang Madura, pertanyaan yang ada dalam pikiran kita adalah dimana peran para aparat keamanan untuk melindungi rakyatnya?

Ketika seorang nenek dihukum hanya  karena mencuri buah cokelat, sementara banyak koruptor dibebaskan dan yang terhukum diberi remisi yang meringankan hukumannya, masih adakah keadilan di negeri ini? Ketika rakyat mempertahankan tanah/lahannya yang menghidupi keluarganya namun dikalahkan oleh secarik kertas yang dikeluarkan oleh negara dan kemudian harus berjibaku sendirian sampai harus kehilangan nyawa atau terpaksa tinggal hidup seadanya di pengungsian , apakah kita masih pantas menyebur sebagai bangsa yang merdeka dan beradab? Ketika seorang anak yang diduga mencuri sandal dan diadili dengan ancaman hukuman 5 tahun, sementara seorang polisi yang dicuri sandalnya yang tega menganiaya anak tersebut hanya dihukum secara internal  7 & 21 hari kurungan, masih pantaskan hukum dimaknai sebagai alat penegak keadilan?

 Ketika para PKL terus bergulat dengan penggusuran dan dinginnya malam dan harus setiap hari membongkar dan menata dagangannya dengan penghasilan yang rendah, masih pantaskah kita berbangga sebagai bangsa yang peduli dan solider?

Pemimpin negeri yang tidak melayani

 Negeri ini mengalami kehancuran secara pelan namun pasti karena dipimpin oleh kebanyakan pemimpin yang haus kuasa, haus harta dan haus akan pujian kosong yang tidak membantu apapun dalam meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Negeri ini seolah tanpa pemimpin, negeri yang berjalan karena rakyatnya yang sabar dan tahan menderita meski didalamnya mengandung bara yang siap membakar para pemimpin yang kehilangan amanah. Bangsa ini dipimpin oleh pemimpin yang gemar bercitra diri,mematut diri di cermin yang retak namun masih bisa tersenyum dalam kesombongan dan kebohongan sistemik yang memakan korban rakyat negeri ini. Pemimpin yang diharapkan melayani dan mampu meningkatkan harkat, martabat, kesejahteraan dan kejayaan negeri, telah berubah menjadi pemimpin yang tidak mau melayani rakyat yang dipimpinnya, yang hanya sibuk dengan kepentingan golongan dan sibuk mempertahankan kekuasaannya namun lupa bahwa kekuasaan yang dimiliknya sebenarnya merupakan  mandat dari rakyat yang dapat dicabut setiap waktu ketika rakyat menghendakinya tanpa ada kekuatan senjata apapun yang mampu menghentikannya. Ketika rakyat marah karena penderitaan panjangnya yang diakibatkan buruknya layanan publik, maka yang tersisa adalah isak pilu para pemimpin bangsa ini  yang terlambat menyadari bahwa keberadaan dirinya sebagai pemimpin yang seharusnya amanah telah gagal dijalankannya. Jadi tidak etis jika Polri menyalahkan rakyat yang marah dan bertindak anarkis ketika para pemimpin negeri ini telah mengkhianati hati nurani rakyat dan telah berkolusi dan menjual kepada pemodal kuat untuk kekayaan sumber daya alam yang dimiliki rakyat disekitarnya. Kuasa atas nama negara seharusnya digunakan untuk melindungi dan mensejahterakan rakyat, bukan sebaliknya atas nama negara justru memberi ijin kepada pengusaha perkebunan maupun tambang untuk mengeruk kekayaan alam tanpa peduli terhadap kerusakan alam yang ditimbulkannya dan seringkali justru memiskinkan dan meminggirkan rakyat yang tinggal disekitarnya.

Kita songsong tahun baru 2012 dengan sikap optimis bahwa kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat dan para pemimpin negeri ini harus menyadari kekuasaan yang ada ditangannya bukan karena kekuatan dirinya namun karena kepercayaan dan mandat yang diberikan rakyat yang sewaktu-waktu dapat dicabut kalau rakyat menghendakinya.

Harus disadari kekuatan rakyat bagaikan tsunami yang datang tiba-tiba dan menggulung para pemimpin yang tidak amanah dan tega mengkhianati AMPERA (Amanat Penderitaan Rakyat).

Entry filed under: Politik. Tags: .

Oknum aparat keamanan pelanggar HAM berat POLRI, harus mawas diri dengan Kasus “Sandal jepit”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Desember 2011
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: