Dengan berbagi dan memberi, hidup akan berkelimpahan ?

Januari 8, 2012 at 1:02 am Tinggalkan komentar

Tidak mudah hidup di kota dibanding di alam pedesaan, karena hidup dan tinggal di kota ternyata lebih komplek permasalahannya. Kehidupan sehari-hari begitu keras dan ganas  dan cenderung cuek, tak mau peduli pada sesama yang menderita dan membutuhkan pertolongan telah banyak mematikan suara hati nurani warganya. Kota yang semakin hari semakin maju secara kasat mata dengan berdirinya bangunan baru yang megah dan mewah seperti apartemen, hypermarket/mall, kondominium, perumahan mewah  dll yang   terus saja bertumbuh dan bertambah, ternyata juga menyisakan derita pilu warga kota di daerah kumuh dan bantaran sungai. Kota selain memberi harapan untuk hidup lebih baik, ternyata juga memerangkap banyak warga pendatang yang tak siap sehingga mereka terperosok dalam dunia hitam kelam yang tak berujung dan menumbuhkan gaya hidup yang jauh dari tuntunan iman berupa tindakan kriminal dan hedonisme seperti mngkonsumsi narkoba, minuman keras dll untuk melarikan diri dari dunia nyata.

Ajaran iman yang tak pernah usang.

Sebagai manusia yang beriman, pastilah kita telah berupaya untuk terus mempelajari ajaran agama sesuai iman yang diyakininya. Namun ditengah  kehidupan yang plural baik mengenai suku, agama, ras dll ternyata tidak mudah menerapkan hidup yang harmonis, rukun dan damai. Kekerasan yang terus saja  terjadi di berbagai daerah  atas nama perbedaan (agama,suku,asal dll), kekerasan yang dilakukan  oleh negara atas nama hukum (yang dianggap telah memenuhi rasa keadilan) dan juga kekerasan oleh pengusaha-pemodal kuat telah mampu memporak-porandakan kehidupan hamonis di bumi nusantara tercinta. Mimbar agama setiap pagi hampir ditayangkan di semua tv swasta untuk dapat dijadikan tuntunan hidup, ternyata hanya menjadi tontonan dan belum mampu terterap dalam kehidupan keseharian.

Manusia yang beragama ternyata tidak menjamin untuk hidup saleh, lurus dan jujur. Banyak yang rajin melakukan sembahyang namun tetap saja melakukan korupsi, melakukan kekerasan dan juga melakukan banyak kebohongan demi memperoleh kekayaan berlimpah meski tak halal. Padahal kita semua tahu, dan terus diajarkan berulang-ulang kepada umat beriman untuk tidak serakah dan mau berbagi dan memberi pada sesama yang membutuhkan.

Pejabat publik seharusnya punya tanggung jawab lebih karena diberi mandat oleh rakyat untuk dapat mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang merupakan amanah yang harus terwujud, ternyata masih banyak yang tidak mampu dan tidak mau melaksanakan amanah tersebut dan lebih memilih menggunakan kekuasaan yang dipegangnya untuk memperkaya diri sendiri melalu perilaku korup. Perilaku seperti ini jelas menjauhkan para koruptor dari imannya meski mereka terus rajin sembahyang karena sebenarnya mereka telah meninggalkan ajaran iman yang tak pernah usang yakni berbagi dan memberi.

Banyak kekerasan terjadi seperti Kasus Mesuji, Bima, Freport dll karena mereka para pengusaha & pengelola perkebunan maupun tambang telah menjadi serakah tak mau lagi berbagi dan memberi dari keuntungan berlimpah yang diperolehnya. Atas nama kemajuan perusahaan, mereka terus saja serakah menumpuk asset/kekayaan tanpa mau berbagi dan memberi. Bahkan ada kecenderungan para pengusaha  melakukan kolusi bersama penguasa untuk memperoleh tambahan luasan lahan yang sebenarnya dimiliki warga lokal secara turun temurun, namun dengan berbagai tipuan dan trik kotor mereka akan berupaya dengan segenap sumber daya yang ada termasuk dengan mengkooptasi pihak keamanan untuk mau berpihak kepadanya karena  telah membayarnya meski secara moral apa yang mereka lakukan salah, namun dengan kecanggihan tipu muslihat  mereka akan mampu menyulap lahan warga untuk menjadi miliknya secara sah legal formal sehingga akan menang ketika berpekara di pengadilan. Seandainya mereka melakukan kegiatan CSR, tak semua kegiatan yang didanai perusahaan  didasari oleh keinginan secara sungguh membantu warga sekitarnya atau warga Indonesia, tetapi hanya sebentuk pencitraan untuk kepentingan keamanan bisnisnya.

Dengan memberi akan mendapat.

 Ajaran yang meminta kita sebagai umat beriman untuk menyisihkan sebagian harta benda milik kita untuk diberikan kepada sesama yang berkekurangan selalu saja didengungkan dalam setiap momen perayaan keagamaan, namun ternyata tidak begitu mudah untuk dilaksanakan. Padahal kita tahu dengan memberi maka akan ada kepuasan batin karena kita telah sedikit mengurangi penderitaan sesama. Gerakan solidaritas ”Koin untuk Prita” dan terakhir  pengumpulan ”Sandal jepit 1000 buah” untuk AAL seoarang anak berusia 15 tahun yang dituduh mencuri telah menunjukkan dan membuka mata kita bahwa sebenarnya rakyat Indonesia peka dan suka berbagi dan memberi untuk menunjukkan solidaritas sejati kepada sesama yang membutuhkan. Filosofi dengan memberi akan mendapat sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi masyarakat kita, karena sejak nenek moyang telah diajarkan kearifan tersebut dan telah membudaya, namun sayangnya seiring dengan kemajuan pembangunan yang berorientasi kemajuan fisik semata melalui ”pendekatan proyek” secara pelan namun pasti telah memudarkan semangat gotong royong dan menjadikan warga lebih memilih bersikap individualistis dan tak mau repot dengan urusan sesama.

Pendekatan pembangunan ekonomi telah mengajarkan pada rakyat untuk terus berhitung ketika melakukan kebaikan karena semua amalan sudah bukan lagi merupakan ibadah namun merupakan komoditas yang dapat diperjualbelikan. Maka jangan heran kalau kita melihat banyak layanan yang dilakukan bukan karena ketulusan hati namun penuh dengan kepura-puraan seperti keramahan menyambut tamu di hotel berbintang 4, layanan di rumah sakit mewah, layanan di berbagai pusat perbelanjaan  dll dimana senyum yang tersungging adalah senyum yang dipaksakan untuk menarik konsumen menjadi pelanggan.

Pendidikan yang seharusnya sarat makna dan mudah diakses untuk menjadikan rakyat Indonesia cerdas,pintar, berbudi luhur dan jujur ternyata telah dijadikan komoditas bisnis untuk mengeruk kekayaan orang tua siswa melalui berbagai pungutan dengan menghabiskan biaya yang tak sedikit dan bukan lagi perwujudan dari isi pembukaan UUD yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan yang seharusnya mudah diakses oleh siapa saja warga negara Indonesia dalam upaya meningkatkan harkat dan martabat sebagai manusia Indonesia melalui penambahan ilmu telah menjadi barang mewah yang tak mudah dijangkau rakyat biasa, padahal kita semua tahu pendidikan adalah salah satu kebutuhan dasar.

Pendidikan keagamaan kita seharusnya didekati dengan pendekatan ”melakukan dan memberi keteladanan” dari para orang tua dan pemimpin negeri ini. Akan sangat sulit mengajarkan filsofi ”berbagi dan memberi” kalau justru yang dilihat anak-anak generasi penerus  kita dalam keseharian adalah perilaku korup dan serakah namun justru dihormati dan dihargai karena mereka ”kaya” meski dengan cara yang salah.

Kalau mau menjadi negara maju maka harus mau jujur dalam kehidupan sehari hari sehingga semua layanan publik bebas dan tak mempan akan suap, tak ada lagi pungutan liar dalam berbagai bentuknya terutama yang dilakukan oknum aparat penegak hukum seperti polisi, jaksa dan hakim, tak ada lagi rakyat yang kesusahan dalam memenuhi kebutuhan dasar karena pajak yang dikumpulkan dari rakyat tidak lagi ditilep tapi dapat digunakan kembali untuk mendanai layanan publik sehingga banyak rakyat yang terpenuhi kebutuhan dasar  dalam keluarganya.

Mari kita lakukan gerakan ”Berbagi dan memberi” sebagai perwujudan budaya bangsa kita yang terkenal sebagai bangsa yang ramah, suka bergotong royong sebagai wujud  solidaritas sosial sebagai perwujudan Pancasila sebagai falsafah dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Entry filed under: Religi. Tags: .

POLRI, harus mawas diri dengan Kasus “Sandal jepit” Indonesia, butuh banyak pemimpin bergelar MM dan HHH (bukan ha ha ha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Januari 2012
S S R K J S M
« Des   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: