NARKOBA, barang haram yang sangat berbahaya namun selalu didamba penggunanya

Januari 28, 2012 at 2:04 pm Tinggalkan komentar

Belum lama berselang, Minggu, 23 Januari 2012 didekat Patung Tugu Tani di Jakarta Pusat telah terjadi tabrakan maut yang berujung 9 orang meninggal karena ditabrak mobil berkecepatan tinggi yang dikemudikan seorang perempuan yang ternyata habis mengkonsumsi MIRAS dan NARKOBA, maka kita menjadi terbelalak matanya karena ternyata bahaya narkoba tidak hanya menghancurkan kehidupan diri penggunanya namun juga mampu menghancurkan kehidupan orang lain yang tak tersangkut paut sama sekali dengan dirinya. Bahkan aksi perampokan di jaringan Alfamart di Jakarta dan sekitarnya ternyata juga dilakukan oleh sepasang kekasih pecandu narkoba.

Meski ada BNN (Badan Nasional Narkotika) yang bertugas memberantas peredaran dan penggunaan narkoba namun tanpa peran serta masyarakat tak akan ada hasil nyata yang dirasakan. Selain itu, yang juga sangat mencemaskan adalah ditangkapnya salah seorang pilot maskapai penerbangan murah ditanah air karena mengkonsumsi narkoba, dan bisa dibayangkan dengan kecepatan pesawat yang lebih dari 800 km/jam yang dikemudikan oleh seorang pengguna narkoba, maka bisa dibayangkan betapa berbahayanya tidak hanya bagi penumpang pesawat tetapi juga bagi pihak lain yang berada di jalur penerbangan karena pesawat bisa setiap saat bertabarakan atau jatuh ke permukaan bumi yang dihuni padat penduduk.

Pemberantasan yang parsial?

Kecenderungan masyarakat kita yang cenderung tidak peduli pada bahaya narkoba meski terus dilakukan kampanye terus menerus melalui berbagai cara menjadi tantangan bagi BNN (Badan Narkotika Nasional) untuk dapat mencari cara baru agar masyarakat mau sadar dan peduli untuk membuka mata betapa berbahayanya narkoba.Pelibatan masyarakat secara aktip dalam  memerangi peredaran dan penggunaan narkoba melalui jalan budaya, agama dan juga pendidikan formal harus terus menerus dilakukan dan harus menarik bagi kalangan masyarakat luas. Pertunjukan band anak muda yang mengusung tema anti narkoba, produk budaya lainnya seperti sinetron bermutu, novel, puisi dll yang mengajak masyarakat memerangi dan menjauhi penggunaan narkoba perlu dijadwal secara baik dengan pendanaan yang pasti tidak sedikit, namun akan lebih baik mencegah daripada mengobati karena menjadi lebih mahal tidak hanya dari sisi biaya perawatan/rehabilitasi korban, namun yang lebih disayangkan ternyata pihak korban menjadi beban masyarakat terutama keluarganya. BNN tidak akan dapat efektip bekerja jika tidak berkoordinasi dan melibatkan semua pihak terutama jajaran Bea cukai yang menjadi penjaga utama dan pertama masuk dan beredarnya narkoba di Indonesia. Sayangnya semakin lama semakin canggih modus penyelundupan narkoba oleh mafia dan petugas Bea cukai kita juga manusia yang bisa saja sedikit lengah sehingga narkoba masuk, disamping harus diwaspadai juga narkoba yang diproduksi didalam negeri. BNN akan kewalahan menghadapi mafia narkoba jika tidak didukung aturan hukum yang membuat mereka para mafia jera, dan sayangnya hukuman kepada para anggota mafia narkoba sangat ringan dibanding negara tetangga Malasyia padahal kerusakan yang diakibatkannya sungguh dasyat dalam merusak sendi moralitas bangsa dan perekonomian bangsa kita, selain kasus korupsi yang juga tengah melanda negeri ini. Jadi bisa dibayangkan apabila perilaku korup petugas oknum aparat pemberantas narkoba  bertemu dengan mafia narkoba maka dipastikan kecelakaan darat, laut dan udara akan semakin sering terjadi seiring dengan semakin banyaknya pengemudi baik di darat, laut dan udara yang mengendarai namun masih dalam pengaruh narkoba. Belum lagi akan semakin banyak anak sekolah yang putus sekolah karena harus menjalani rehabilitasi akibat menggunakan narkoba yang mereka peroleh dengan mudah dari kawannya. Kondisi labil emosi dikalangan anak SLTA ke bawah telah dimanfaatkan oleh jaringan mafia narkoba untuk menjadikan mereka sebagai pengguna potensial yang akan memperluas dan menjamin pemasaran narkoba secara berkelanjutan.

Oknum aparat yang bermental korup?

Banyak tersiar melalu berbagai jejaring media, banyak aparat polisi yang justru tergoda rayuan para bandar mafia narkoba sehingga mereka tidak lagi menjalankan tugas pemberantasan narkoba dengan baik dan bertanggungjawab, Banyak justru di kalangan polisi yang bertugas di pemberantasan narkoba, ternyata juga menjadi pengguna atau justru menggelapkan barang bukti narkoba untuk dijual lagi dan hasilnya dipakai sendiri.

Contoh kasus, mantan Kapolsek Cicendo Kompol Brusel Duta Samodra dan Kanitreskrim AKP Suherman selaku terdakwa kasus dugaan suap senilai Rp1 miliar oleh bandar narkoba asal Malaysia telah sedang diproses hukumnya dan menurut pejabat BNN Bp Sumirat, ada 200 polisi yang sedang diproses hukum terkait narkoba. Rendahnya integritas oknum polisi yang terganjal kasus narkoba membuat masyarakat semakin was-was karena polisi yang diharapkan melindungi dan mengayomi masyarakat telah berubah menjadi pagar makan tanaman. Kehidupan glamour dan tajir yang didamba banyak polisi yang bertugas di lapangan dalam pemberantasan narkoba telah dijadikan peluang bagi bandar narkoba untuk melakukan penyuapan untuk meloloskan barang haram beredar di masyarakat. Boleh dicari melalui mesin  google, untuk mengetahui berapa banyak dan dimana saja sebaran polisi yang tersangkut narkoba.

Narkoba ternyata tidak hanya menyerang di kalangan kepolisian saja, namun juga menyerang aparat penegak hukum lainnya seperti jaksa dan hakim. Bisa dibayangkan apabila penggunaan narkoba meluas dikalangan penegak hukum, maka akan sangat payah penegakan hukum di Indonesia karena tanpa penggunaan narkoba oleh penegak hukum, banyak permainan uang yang menyebabkan hukum dapat dibeli seperti contoh Jaksa Urip yang disuap dan ditangkap KPK. Dan juga ada beberapa hakim yang tertangkap KPK karena menerima suap. Bahkan yang mengejutkan belum lama ini  Kalapas LP Narkotika Nusakambangan beserta 28 orang stafnya terkait kasus narkoba sehingga diproses secara hukum dan mudah-mudahan dihukum lebih berat karena mereka yang seharusnya menjadi pemberantas  justru terlibat narkoba.

Untuk mengatasinya, maka selain sistem perekrutan yang baik dan bebas dari uang pelicin,maka pembinaan dan pengawasan secara kontinyu terhadap semua aparat penegak hukum harus terus dilakukan dan perlu tidakan tegas pemecatan dan hukuman lebih berat bagi aparat yang terbukti menggunakan narkoba dan yang menyalah gunakan jabatannya. Pembinaan mental & rohani para aparat penegak hukum yang bertugas di pemberantasan narkoba sangat diperlukan demi menjaga integritas dan mengingatkan mereka akan tugas mulia dalam melindungi masyarakat dari bahaya narkoba.

Benteng religi yang terlupakan?

Meski Indonesia dikenal dengan beragam agama yang hadir di dalam masyarakat, namun sayangnya tidak mudah menemukan keteladanan iman dalam perbuatan keseharian dikalangan pemimpin negeri ini. Meski dikenal agamis, namun penyakit kronis korupsi telah mengisi hampir semua sendi kehidupan masyarakat baik dikalangan eksekutip,legislatip dan yudikatip. Kehidupan yang hedonis yang selalu terus memuja kenikmatan dan mendewakan kekayaan duniawi namun melupakan kekayaan spiritual telah membuat banyak kekosongan hati dan kehampaan dikalangan anak-anak dan generasi muda maupun pemimpin di negeri ini. Masyarakat saat ini dihadapkan pada kemunafikan yang luar biasa dan banyaknya ketidak jujuran yang dilihat secara kasat mata  sehingga tidak mudah mengajarkan kejujuran pada generasi muda dan anak-anak karena disatu sisi mereka diajarkan untuk bertindak jujur namun dalam kenyataan tidak mudah menemukan kejujuran dalam kehidupan keseharian. Agama yang diharapkan dapat menjadi tuntunan dalam memperkuat religiositas kita masih terus sangat diharapkan perannya sebagai benteng dalam tindakan preventip untuk tidak menggunakan narkoba, namun yang lebih penting adalah dicari dan ditemukan  cara yang paling tepat agar pesan moral yang disampaikan dapat masuk dan mampu membentengi anak-anak dan generasi muda untuk terus mengatakan tidak pada narkoba

Fasilitas untuk anak muda yang terbatas?

Mudahnya menemukan internet yang menyediakan game online dan terbatasnya sarana olah raga dan budaya di berbagai kota dan gemerlapnya mall/hypermarket di berbagai sudut kota ditenggarai telah ikut menyumbang banyaknya anak muda yang terjerumus dalam berbagai tindakan kriminal seperti tawuran, pemakaian narkoba dan prostitusi anak-anak. Pemerintah sejak awal seharusnya sudah mempertimbangkan dalam Rencana   Umum Tata Ruang (RTUR) untuk mengalokasikan lahan yang cukup untuk membangun sarana olah raga, menyediakan ruang terbuka publik dan sarana kesenian untuk mengekpresikan diri dan menjalin relasi sosial antar warganya. Pertunjukan budaya/kesenian yang menarik berbagai kalangan yang membawa pesan untuk hidup jujur menjauhi korupsi, menjauhi narkoba yang membuat kehilangan kesadaran diri dan bahkan nyawa, pesan untuk sopan dan santun, pesan perdamaian dan menjauhi kekerasan  dll perlu terus dilakukan untuk mengajak masyarakat kembali pada jati diri sebagai bangsa yang beradab, sopan, ramah dan tidak mudah marah, penuh solidaritas dan bergotong royong. Tidak seperti saat ini dimana media massa  justru lebih mengedepankan kasus kekerasan yang melanggar HAM, kasus kriminalitas yang mengambil nyawa korbannya, konflik antar elit politik yang tak pernah berhenti dll telah membuat masyarakat lelah, semakin apatis dan tidak peduli lagi pada permasalahan  bangsa termasuk masalah narkoba. Masyarakat hanya cenderung berpikir pragmatis dan hanya untuk dirinya sendiri, yang penting dapat hidup baik, dan dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Pengaruh lingkungan yang buruk

Buruknya lingkungan pergaulan, kesepian dan kehampaan hati yang menyergap, kesulitan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup, kurangnya apresiasi terhadap nilai-nilai keutamaan telah membuat banyak generasi muda frustasi menghadapi kehidupannya dan menjadi begitu labil sehingga gampang berpaling kepada narkoba yang dianggap dapat menjadi solusi bagi penyelesaian masalahnya. Namun sayangnya justru ketika mereka mulai terpikat dengan lingkungan yang ternyata pengguna narkoba dan akibat kurangnya pemahaman akan bahaya narkoba telah membuat banyak pengguna baru di kalangan generasi muda  akhirnya tidak dapat keluar dari ketergantungan narkoba yang selain harganya selangit namun juga menyakiti raga dan jiwanya sehingga menjadi sakit dan berakhir dengan kematian yang tragis. Dan yang lebih menyakitkan, pengguna narkoba tidak hanya menyusahkan dirinya namun juga keluarga dan saudaranya sehingga menjadi keharusan untuk menjauhkan generasi muda dari pengaruh lingkungan buruk dan menciptakan lingkungan yang menarik dan positip seperti ajang perlombaan olah raga,ilmu pengetahuan, kesenian dll.

Tantangan bagi pejabat publik yang bertanggung jawab dalam menangani narkoba  untuk segera mengambil tindakan yang selain cerdas, strategis, namun juga bersifat masal dalam mengkampanyekan ”Katakan TIDAK pada NARKOBA”  dan juga ”Katakan TIDAK pada Korupsi”, karena perilaku korup justru menjerumuskan generasi muda pada perilaku menyimpang yang akan berakhir menjadi seorang hedonis yang memuja secara berlebihan pada kenikmatan duniawi yang berpotensi menjadi pengguna narkoba.

Entry filed under: Sosial. Tags: .

Quo vadis DPR ???? Memperingati Hari KARTINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Januari 2012
S S R K J S M
« Des   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Tamu Adikarsa

  • 49,086 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: