Adat-istiadat tetap lestari, namun tidak membebani, utopiskah ?

Juli 29, 2012 at 5:47 am Tinggalkan komentar

Berbicara mengenai kemiskinan di negeri ini, tidak dapat terlepas dari bagaimana tingkat kekokohan bangunan ekonomi pada skala yang paling kecil dalam sebuah negara yakni keluarga. Kebanyakan keluarga di Indonesia masih belum melek, memahami dan memiliki kecerdasan finasial/keuangan yang memadai. Terbatasnya wawasan yang dimiliki terkait pengelolaan keuangan keluarga seperti bagaimana melakukan perencanaan keuangan keluarga,melakukan investasi untuk masa depan,bersikap hidup hemat,mengembangkan asset/kekayaan keluarga secara berkelanjutan melalui penghematan pengeluaran dan penambahan pemasukan, mengurangi biaya sosial yang bersifat pemborosan tanpa mengurangi silaturahmi dan solidaritas telah menyebabkan banyak keluarga di Indonesia yang masih terjebak dalam hutang berkepanjangan baik di bank melalui kartu kredit, pegadaian  maupun pada pelepas uang alias rentenir.

Menekan biaya perhelatan sosial

Salah satu pos pengeluaran keluarga terbesar yang sering tidak disadari adalah biaya sosial yang dikaitkan dengan adat istiadat yang dibalut semangat konsumerisme. Kebiasaan untuk saling mengundang dalam sebuah perhelatan baik pesta pernikahan, ulang tahun, pesta merayakan hari besar keagamaan, pesta adat dll sebenarnya merupakan kebiasaan yang sangat baik karena terus membangun silaturahmi dan memperkuat solidaritas sosial di masyarakat. Namun sayangnya ketika sumbangan yang diberikan berubah menjadi hutang piutang dan seringkali jumlah nominalnya yang cukup besar telah menggerus ketahanan ekonomi keluarga sehingga banyak di kalangan masyarakat terutama di daerah yang masih kuat adatnya telah membuat banyak keluarga terjebak dalam hutang yang tak berkesudahan. Ada beberapa daerah di Indonesia yang menetapkan sumbangan sosial tertentu untuk saudaranya dalam jumlah yang cukup banyak dan harus ditanggung ybs sehingga kadangkala terpaksa harus berhutang. Yang menarik adalah mereka menyadari ada beban sosial yang sangat berat dan harus ditanggungnya namun mereka tidak berdaya untuk menolaknya karena sudah menjadi tradisi dan ketika mempertanyakaan hal tersebut akan berakibat dikucilkan di masyarakat. Ada kebiasaan dalam sebuah pesta yang harus menyediakan puluhan dan bahkan ratusan ternak besar seperti sapi,kerbau dll yang jika ditotal akan sangat memberatkan, namun atas nama harga diri dan gengsi keluarga maka pesta tersebut akan tetap dilaksanakan.

Sebenarnya ada jalan keluar bagaimana adat tetap lestari namun tidak membebani dan tetap mampu menjunjung dan melestarikan nilai-nilai luhur yakni melalui rasionalisasi biaya pesta adat dengan jalan melakukan musyawarah untuk membatasi  kebutuhan pesta sehingga dengan penyederhanaan maka dengan sendirinya akan mengurangi biaya sosial dan dapat dijadikan aset untuk meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga sehingga tidak lagi terjebak kredit konsumtip baik yang berasal dari bank, rentenir atau pengijon.

Meningkatkan kecerdasan keuangan keluarga

Selain mengurangi besaran biaya sosial, yang perlu dilakukan untuk memperkuat ekonomi masyarakat kita adalah pemberdayaan kaum ibu dan bapak sebagai pengelola ekonomi rumah tangga untuk mampu mengatur ekonomi keluarganya dengan baik. Kebiasaan di masyarakat pada umumnya masih belum menerapkan pengelolaan ekonomi rumah tangga dimana kebanyakan dalam mengelola ekonomi keluarganya hanya mengandalkan ingatan saja tanpa catatan dan belum mau melakukan perencanaan keuangan  yang baik. Pemahaman masyarakat akan pentingnya kecerdasan financial untuk bisa berpindah kuadran seperti yang disampaikan Robert T Kyosaki yakni dari kuadran kiri (menjadi Employ (karyawan, buruh dll) dan Self Employ) ke kuadran kanan ( Bussines tersystem dan Investor) sangat dibutuhkan sehingga perlu ada kegiatan seperti mengajak masyarakat untuk semakin cerdas dalam mengelola ekonomi keluarganya melalui pelatihan Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga (PERT) dan penerapannya, membangun jiwa bisnis serta bagaimana keluarga di Indonesia menyadari pentingnya ber-asuransi, membiasakan berinvestasi meski dimulai dari jumlah yang bernilai kecil, membiasakan hidup berhemat untuk tidak terjebak dalam konsumerime dan hedonisme, dan hidup bersahaja.

Membangun dana solidaritas berbasis bisnis

Selain itu, banyaknya masyarakat yang tertipu dengan berbagai modus money game seperti arisan berantai, dan baru-baru ini yang terjadi dengan nasabah Koperasi Langit Biru yang mengimingi anggotanya dengan balas jasa yang tinggi sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat mau belajar mengenai perencanaan keuangan keluarga yang didalamnya juga membahas mengenai pentingnya hidup hemat, merencanakan pengeluaran secara bijak, mendapat informasi mengenai berbagai macam investasi yang aman dan nyaman, bagaimana memilih asuransi yang baik, bagaimana memulai usaha rumahan dst.

Masyarakat sebenarnya juga dapat diarahkan untuk bergabung dengan kelompok usaha kecil menengah dalam belajar serta memulai bisnisnya dan secara perlahan diarahkan untuk berkoperasi dengan benar, bukan koperasi yang hanya dijadikan kedok untuk melaksanakan bank harian dengan bunga yang mencekik. Hidup berkoperasi sebagai jalan untuk membangun dana solidaritas berbasis bisnis yang mampu meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga sebenarnya sangat cocok dengan budaya kita yang senang hidup bermasyarakat dan hidup dalam sebuah paguyuban. Namun sayang pemahaman mengenai koperasi yang masih sangat terbatas dan pengalaman berkoperasi di jaman ORBA yang penuh dengan korupsi dan manipulasi telah membuat trauma warga untuk berkoperasi, padahal banyak contoh koperasi yang dijalankan secara benar dan amanah telah sangat menolong banyak anggotanya untuk keluar dari jebakan hutang dan kemiskinan dan mampu mengentaskan menuju kehidupan yang lebih berharkat dan bermartabat, lepas dari ijon dan rentenir.

Entry filed under: Sosial. Tags: .

Memaknai kehidupan dengan melakukan kebaikan untuk sesama Benarkah negeri kita sudah benar benar MERDEKA ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Juli 2012
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: