Benarkah negeri kita sudah benar benar MERDEKA ?

Agustus 12, 2012 at 10:48 pm Tinggalkan komentar

Kemerdekaan  Indonesia secara formal sudah memasuki 67 tahun sejak diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta, namun kalau kita cermati kondisi saat ini dari sisi pembangunan mental dan karakter nasional memang sangat memprihatinkan. Kita sering terjebak dalam gemerlapnya pembangunan fisik yang cenderung mengekor gaya pembangunan  di Negara maju seolah kalau kita sudah mampu membangun bangunan fisik seperti mereka maka kita sudah sejajar dan tak lagi ketinggalan.

Kalau mau mengkaji lebih jauh, watak dan roh budaya kita yang sebenarnya bukan hanya fokus pada pembangunan fisik semata tetapi lebih mendalam yakni membangun jiwa nasionalisme rakyat Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Kebanggaan akan ke-Indonesia-an yang bersumber dari Pancasila sebagai dasar dan falsafah negera kita seharusnya mendorong negeri ini untuk membangun karakter yang kuat sebagai bangsa yang beradab, jujur, toleran, sopan dan santun  jauh dari perilaku korup, nepotisme dan kolusi, jauh dari budaya membela yang bayar tetapi membela yang benar, budaya yang seharusnya lebih mengedepankan kesopanan, bukannya saling merendahkan dan menghujat antar para politisi, antar warga maupun antar umat berbeda keyakinan. Kita sangat prihatin dan sedih melihat bangsa ini mulai terkoyak persatuannya karena  pemahaman yang sempit tentang agama, suku, budaya yang beragam yang justru memperuncing suasana kisruh dan keruh, pemaksaan kehendak oleh kelompok ekstrem yang mengklaim paling benar sendiri, hadirnya kelompok politisi yang sangat haus kekuasaan dengan membawa panji agama namun  menghalalkan segala cara serta tidak malu menipu konstituennya sendiri dan bahkan seringkali mengingkari amanat hati nurani rakyat.

Pemilu/kada yang seharusnya menjadi ajang untuk memperoleh pemimpin yang amanah dan saleh telah diubah menjadi ajang money politic yang sangat mahal dan kotor sehingga akhirnya masyarakat hanya mendapatkan pemimpin salah dan tidak amanah yang cenderung hanya berbagi proyek dan fulus ketika mereka berkuasa, lupa pada tujuan awal berdemokrasi yakni mewujudkan keadilan sosial bagi rakyat yang memilihnya.

Negeri ini telah semakin terseret berbagai skandal korupsi yang memalukan dan memilukan yang membuat bangsa ini tak bermartabat di mata bangsa lainnya, bahkan oleh Malaysia negeri tetangga serumpun namun seringkali melecehkan kita dan kita tak mampu berbuat apa-apa. Negeri yang seharusnya makmur dan sejahtera telah berubah menjadi kubangan yang besar, lebar dan dalam untuk menampung hutang luar negeri yang telah tembus 2000 trilyun yang harus ditanggung oleh seluruh bangsa. Hutang yang seharusnya untuk kegiatan pembangunan yang produktip telah disalahgunakan untuk kepentingan pencitraan penguasa dengan BLT, pembangunan mega proyek Hambalang dan wisma atlet, serta untuk pemborosan lainnya seperti merekrut PNS dalam jumlah banyak namun tidak bekerja secara efektip dan efisien. Roda birokrasi yang lambat , lamban dan tambun penuh dengan suap dalam berbagai bentuknya baik secara halus dan terang-terangan meski sudah dilakukan upaya reformasi birokrasi dll seperti pada kasus pajak ternyata belum mampu memberikan layanan publik yang prima baik dibidang kesehatan, pendidikan maupun hal sederhana seperti pengurusan e-KTP, akte lahir, dll.

Perkembangan di banyak kota di Indonesia juga sangat mengkhawatirkan kalau kita mau amati dengan cermat karena justru berlawanan dengan tujuan pembangunan itu sendiri yang ingin mensejahterakan warga kotanya.

Jalanan yang semakin macet yang membuat stress dan tekanan darah naik, semakin banyaknya kantong kemiskinan dan daerah kumuh beserta pengemis diperempatan jalan, kriminalitas yang  semakin meningkat berupa penjambretan, penodongan, perampokan ,pemerkosaan diatas angkot, masyarakat yang semakin egois dan tidak peduli dengan lainnya, sampah kota semakin menggunung, polusi udara yang semakin tinggi, prostitusi terselubung semakin menggila, mall ada dimana-mana dan pedagang kecil terpinggirkan, Satpol PP bertindak dengan kekerasan untuk menertibkan PKL, KKN dimana mana dll . Fenomena yang salah namun terus saja terjadi di berbagai kota di Indonesia, hanya beberapa perkecualian seperti Kota SOLO yang mampu memindah PKL tanpa kekerasan, memberhentikan pembangunan pusat perbelanjaan seperti mall dan justru membangun pasar tradisional menjadi nyaman dan bersih dan SURABAYA yang semakin cantik dengan taman kota yang semakin semarak dimana-mana. Pemberian penghargaan Adipura yang sempat membuat banyak kota menjadi nyaman, aman dan bersih sudah mulai kehilangan pamornya, padahal kalau penghargaan sejenis juga diterapkan bukan hanya di tingkat kabupaten/kota tetapi sampai juga di kota kecamatan akan sangat mendorong pembenahan kota sampai tingkat kecamatan.

Sebagai Negara agraris, kita harus kembali membuat kebijakan negara yang membela kepentingan kaum tani, bukan hanya dengan mengucurkan dana ke petani  karena apalah artinya menerima dana dalam jumlah besar namun tidak mampu mengelola karena belum masih banyak petani yang belum mempunyai jiwa bisnis yang kuat dan kemampuan yang masih terbatas dalam mengelola bisnis usaha taninya dengan baik. Harus ada keberanian mengalokasikan dana APBN/D yang cukup porsinya seperti halnya dana pendidikan yang minimal harus 20 %. Penguatan organisasi petani harus terus dilakukan baik ditingkat kelompok tani, gapoktan maupun asosiasi/koperasi petani sehingga suara petani terus didengar dan dijadikan masukan pengambilan kebijakan termasuk melaksanakan land- reform/reforma agrarian sehingga tak perlu lagi terjadi bentrok antara aparat polisi dengan petani yang banyak emmakan korban jiwa mati sia sia hanya karena masalah kepemilikan lahan. Seharusnya pemerintah lebih berpihak pada kepentingan petani dengan menyiapkan lahan bagi petani bukan lagi untuk pemodal kuat yang bisa menguasai jutaan hektar lahan.

Kelestarian lingkungan seharusnya juga menjadi prioritas karena daya dukung lingkungan sangat berpengaruh terhadap ketahanan bangsa kita dalam mencukupi kebutuhan akan air, energi, pangan dan juga mendukung ekonomi yang kuat.

Keluhan yang terus saja terdengar terkait pembangunan dan pengembangan infrastruktur yang kurang memadai yang terus disuarakan seolah-olah tenggelam begitu saja, padahal kita semua tahu salah satu infrastrutur yang sangat penting adalah jalan yang menjadi urat nadi perekonomian, namun sangat disayangkan masih banyak ditemui kondisi jalan yang tidak layak yang menghubungkan antar kota apalagi antar desa terutama di kawsan Indonesia Timur.

Kita harus kembali pada impian yang sama sebagai sebuah bangsa sebagai panduan dan rujukan dalam membangun bangsa ini. Kita harus kembali pada ideology Pancasila dan pembukaan UUD 45 yang merupakan amanat yang harus diwujudkan, dan berdasar semangat kebangsaan yang kita miliki seharusnya bangsa ini mulai berbenah diri untuk tidak masuk dalam jebakan Negara gagal. Kita harus berani melakukan perubahan mendasar dan besar seperti menjadikan kejujuran sebagai watak bangsa, keberanian mengatakan yang benar, menjadikan hukum sebagai alat untuk wujudkan keadilan, dan menjadikan agama sebagai tuntunan bukan sebagai tontonan saja

Masih belum terlambat untuk mewujudkan impian bersama sebagai sebuah Negara merdeka yang berdaulat asal para pemimpin negeri ini mampu paling tidak memimpin dirinya sendiri dengan hati nuraninya, menjauhkan diri dari sikap para pengecut, dan kata Pong Harjatmo harus jujur, adil dan tegas.

Entry filed under: Sosial. Tags: .

Adat-istiadat tetap lestari, namun tidak membebani, utopiskah ? Koperasi sebagai perisai ekonomi rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Agustus 2012
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: