Kesederhaaan dalam kepemimpinan yang mampu mewujudkan kemandirian dan kedaulatan bangsa

September 2, 2012 at 11:44 pm Tinggalkan komentar

Bangsa ini telah cukup  lama pingsan atau lebih tepatnya mati suri sejak jaman Orba kalau berbicara terkait kemandirian dan kedaulatan bangsa. Kita seharusnya terus mengingat isi pidato Bung Karno tentang berdikari dan pentingnya menjaga kedaulatan bangsa, dimana kalau kita selalu Jasmerah (Jangan melupakan sejarah) dan mau membaca lagi pikiran Soekarno dalam buku bukunya, maka terlihat betapa semangat nasionalisme menjadi hal penting yang ditunjukkan dengan sikap untuk tetap berdikari dan berdaulat.

Namun sayangnya saat ini kata berdikari atau mandiri sudah sangat jarang terdengar, demikian pula penggunaan kata berdaulat dan bermartabat.  Mari kita lihat, untuk masalah pangan saja, kita hanya berani memakai kosa kata “ketahanan pangan” dibanding “kedaulatan pangan”, demikian pula dalam bidang ekonomi kita lebih banyak berbicara dan berdiskusi bagaimana pemerintah dapat memperoleh hutang dari Bank Dunia maupun IMF, tetapi sering lupa bahwa kita sebenarnya punya setumpuk kekayaan yang sangat besar dan potensial untuk dijadikan modal belanja pembangunan bangsa  dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa. Dan karena kita kurang mau memperjuangkan roh kemandirian dan kerakyatan, maka yang terjadi potensi kekayaan alam hanya  “digadaikan atau bahkan dijual” pada pemodal asing seperti yang terjadi dalam bidang pengusahaan tambang maupun perkebunan yang sebagian besar dikelola oleh bangsa asing. Kita tidak anti bangsa asing karena kita harus tetap bergaul di dunia internasional, namun bukan berarti pemimpin negeri ini harus mengorbankan kepentingan bangsa yang lebih besar dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Maka sebenarnya menarik untuk diamati, setelah era Soekarno dan Hatta berakhir, maka kita masuk kedalam era pembangunan bangsa yang memang terlihat gegeap gempita dan mampu menghantar rakyat Indonesia menjadi negara yang sejajar dengan negara tetangga di Asia Tenggara dan bahkan Presiden Seoharto diberi gelar sebagai Bapak Pembangunan. Keberhasilan pembangunan fisik di jaman ORBA memang tak kita pungkiri, namun kerusakan sangat besar terkait denagn pembangunan jiwa bangsa  yang merdeka, berdaulat, bermartabat, adil, jujur dan berani memperjuangkan dan membela yang benar telah benar-benar merusak ketahanan bangsa dan secara sistemik  telah masuk dan menghujan deras  ke dalam relung hati bangsa Indonesia. Korupsi, kolusi nepotisme telah demikian berkembang, konsumerisme dan gaya hidup hedonis telah merasuki kehidupan rakyat terutama kelas menengah keatas, kemunafikan telah menjadi santapan harian dimana para pemimpin negeri ini banyak yang tidak jujur dan mulai dengan kepintarannya dan kekuasaan yang dimilikinya memutar balikkan fakta dan berperilaku munafik karena  berbeda antara kata dan perbuatan , dan yang lebih mengerikan adalah  sebagian besar masyarakat telah terjebak dalam mendewakan kekayaan material dan tidak mau tahu serta  mempertanyakan dari mana harta kekayaannya  didapat dan dengan cara bagaimana. Maka tidak heran kalau banyak keluarga berlomba lomba hidup dalam kemewahan duniawi melalui menumpuk kekayaan dengan jalan apa saja tanpa lagi mendasarkan pada nilai-nilai luhur nenek moyang kita yang mengajarkan pentingnya kejujuram, berkorban untuk lainnya, berbagi dan solider dengan sesama yang membutuhkan. Ajaran yang sangat baik seperti yang Ki Hajar Dewantoro ajarkan yakni Ing Ngarso Sung Tulada, Ing Ngarso Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, juga ajaran “Sapa sing salah bakal seleh” (Siapa yang salah akan ketahuan),”Ajining diri gumantung ing lati (Harga diri tergantung pada ucapan) dll tidak lagi diikuti, karena memang yang terjadi sebaliknya. Banyak pemimpin sekarang yang menjadikan pidato hanya sebagai retorika, menjalani kehidupan yang ambigu, disatu sisi bicara melayani rakyat, namun disis lain minta fasilitas untuk diri dan keluarganya dari uang Negara dalam jumlah yang tidak sedikit. Kita dapat melihat perilaku beberapa oknum anggota DPR kita sekarang  yang suka memamerkan kekayaannnya dengan menggunakan mobil berharga milyaran rupiah dan pakaian yang bernilai jutaan, tanpa merasa risih dan membenarkan tindakannya dengan alasan dirinya seorang pengusaha sukses dan wajar jika mengenakan semua itu. Memang tidak ada yang salah dengan gaya hidupnya yang mewah, namun yang juga dibutuhkan adalah kepekaan, kepedulian dan rasa solider anggota DPR dengan  rakyat yang diwakilinya karena masih banyak rakyat yang hidup sehari-harinya susah sehingga kesederhaaan gaya hidup para pemimpin masih sangat diharapkan. Seharusnya pemimpin nasional kita harus banyak belajar dari pemimpin nasional diawal kemerdekaan seperti Bung Hatta yang sampai akhir hayatnya tidak mampu membeli sepatu Bally yang diidamkannya, Natsir yang berpakaian sangat sederhana dan bahkan harus dibelikan pakaian oleh teman temannya, atau Bapak Hoegeng mantan Kapolri yang sangat bersahaja dan tidak membolehkan istrinya ikut dalam setiap kunjungan dinas ke luar negeri sehingga impian Ibu Hoegeng utnuk ke Hawai tidak pernah terwujud saat Pak Hoegeng masih hidup, dan bu Hoegeng baru bisa ke Hawai karena ada donatur yang baik hati yang mau membiayainya. Atau kita bisa meneladani kejujuran dan kesederhaaan Bp Baharuddin Lopa yang sampai akhir hayatnya tetap memperjuangkan kebenaran dan keadilan.  Berbanding terbalik dengan hoby anggota DPR melakukan study banding keluar negeri menghabiskan dana sampai ratusan milyar rupiah per tahunnya tanpa ada hasil yang nyata setelah kunjungan berakhir, sementara masih banyak jalan jalan perdesaan yang tidak layak di usia ke 67 kemerdekaan Republik Indonesia

Sikap kesederhanaan  sekarang ini menjadi barang mewah bagi para pemimpin negeri ini, meski sebenarnya masih banyak pemimpin yang hidup bersahaja, namun yang tersorot kamera tv adalah gaya hidup borjuis para pemimpin republik yang rakyatnya kebanyakan masih hidup dalam kekurangan. Mari kita amati, ketika terjadi kerusuhan Sampang Madura, dan Presiden SBY menggelar rapat mendadak, terlihat beberapa menteri masih bisa tersenyum, bergurau dan tanpa terlihat raut wajah kesedihan dan peduli ada warga negaranya  yang sedang mengalami trauma dan ketakutan luar biasa karena diserang, rumahnya dibakar dan dianiaya untuk dibunuh. Dimana nurani mereka para pemimpin nasional kita , ketika anggota Ahmadiyah dibantai dan dianiaya, ketika Ambon dan Poso rusuh ? Dimana para aparat keamanan dalam melindungi warga negaranya, ketika perempuan diperkosa di angkot, terjadi tawuran antar warga, antar preman, antar siswa dan antar kampung ? Dimana wibawa pemerintah menghadapi semua ini yang terkesan gagap, gugup, atau memang tidak peduli dan melakukan pembiaran?

Sikap kemandirian atau yang dulu dikenal dengan berdikari dan menjaga kedaulatan bangsa ini semakin lama semakin  berkurang dan digantikan sikap ketergantungan yang luar biasa pada pihak luar negeri seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu dengan masalah mahalnya komoditi kedelai dan garam yang harus impor sementara lautan kita begitu luas , belum lagi kasus impor yang sudah puluhan tahun untuk komoditi beras.gula dll.  Kita juga sangat bergantung pada produk luar untuk kebutuhan akan transportasi seperti motor, mobil, pesawat terbang dan juga kapal meski sebenarnya kita punya kemampuan untuk memperoduksi di dalam negeri. Maka menjadi setitik terang ketika ada peluncuran pesawat CN 235 produk negeri ini,  mobil ESEMKA yang dibuat oleh anak-anak SMK, dan yang akhir akhir ini oleh Dahlan Iskan dengan pengembangan mobil listriknya yang didanai dari gajinya sendiri yang diserahkan untuk dana pengembangan mobil listrik ini. Yang lebih mencengangkan ketika ada pejabat yang peduli dan merakyat seperti yang dilakukan Dahlan Iskan, Jokowi, dll dianggap hanya sebagai pencitraan belaka, padahal apa yang dilakukan beliau merupakan bukti masih adanya pemimpin yang bersahaja , meneladankan kesederhanaan, mewujudkan satunya kata dan perbuatan dan seharusnya diikuti oleh pemimpin lainnya, namun yang terjadi justru hanya dianggap sebagai show dan pilihan pribadi dari Dahlan Iskan maupun Jokowi, serta tak menyentuh hati nurani pemimpin negeri ini untuk merubah gaya kepemimpinannya yang sok elit, maunya terus dilayani, fasilitas yang mewah dan cenderung sombong dan arogan penuh kepura-puraan menjadi gaya kepemimpinan yang mengedepankan kesederhanaan dan keteladanan. Saat ini negara butuh pemimpin  yang berani menyatakan benar adalah benar, mampu mengatakan tidak pada korupsi, mau mengambil kebijakan yang tidak pro pemodal besar namun pro kepentingan rakyat,  yang berani mengambil tindakan tegas, adil dan jujur, yang tidak hanya pandai berpidato dan menghimbau namun yang langsung berada di garis depan untuk menunjukkan keberpihakan dan menyatunya kata dan perbuatan, yang tidak hanya berkata prihatin tetapi langsung bertindak dengan kekuasaan yang besar yang diamanahkan rakyat pada dirinya, pemimpin yang tak mempan disuap/disogok oleh pemodal/pengusaha besar dan akhirnya mau mengorbankan kepentingan rakyat yang dilayaninya. Maka sudah saatnya kurikulum pendidikan kita ditinjau kembali sehingga tidak hanya kecerdasan intelektual yang diuatamakan, tetapi juga kecerdasan emosional dan spiritual seperti  membangun rasa nasionalisme, membangun kejujuran, budi pekerti yang baik penuh sopan santun, berani karena benar, solider sehingga generasi kedepan yang akan memimpin bangsa ini mampu menjadi pemimpin yang melayani, hidup sederhana, jujur, berani membela kebenaran, dan cinta akan bangsa dan negaranya sehingga ketika harus berhadapan dengan pihak luar, maka tetap punya pendirian yang kuat untuk memperjuangkan kepentingan bangsa dan rakyatnya.

Entry filed under: Sosial Kepemimpinan. Tags: .

Koperasi sebagai perisai ekonomi rakyat Ketika koruptor dan teroris sudah semakin berani, maka rakyat Indonesia semakin tekor dan terteror

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

September 2012
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Tamu Adikarsa

  • 49,086 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: