Jokowi vs Foke, pertarungan antara suara rakyat dan suara politisi

September 6, 2012 at 4:49 am Tinggalkan komentar

Menarik mencermati PILKADA DKI putaran kedua, dimana Foke justru didukung oleh partai-partai yang kalah dalam mengusung calonnya di putaran pertama dan Jokowi gagal untuk mendapat dukungan dari partai yang kalah dalam putaran pertama.

Meski saya sendiri bukan warga DKI dan tak berkaitan langsung dengan siapa yang akan terpilih jadi gubernur DKI, namun tidak ada salahnya mencermati pertarungan di ibukota karena Jakarta merupakan kota terbesar dan ibukota negara RI yang dapat menjadi barometer untuk perubahan bangsa ke arah yang lebih baik.

PILKADA DKI saat ini merupakan pilkada yang paling ramai dilihat dari berbagi sisi, dan sangat terlihat persaingan yang tak seimbang antara Foke melawan Jokowi. Terpaan isu SARA, isu korupsi, dianggap tidak amanah karena masih menjabat Walikota Solo namun mau maju ke PILKADA DKI, dianggap tidak punya kapasitas karena dari daerah yakni Solo, sebuah kota kecil dibanding metropolitan Jakarta dan berbagai tuduhan negatip terus saja menerjang Jokowi yang terlihat lugu, ndeso dan apa adanya, bahkan banyak kalangan yang mengaku tokoh seperti Amin Rais yang meragukan kapasitasnya dalam menangani dan mencari solusi mengenai masalah Jakarta.

Namun yang mengherankan ternyata sosok Jokowi justru semakin populer dan semakin banyak yang menginginkan beliau menjadi orang nomor 1 di DKI kalau kita mau  mencermati di berbagai media dan dunia maya. Dan berbanding terbalik dengan sosok Foke yang merupakan incumbent, terlihat begitu sangat percaya diri akan pasti menang di putaran pertama karena menguasai medan Jakarta dan mendapat dukungan politik dari Partai Demokrat namun ternyata justru kalah suara di putaran pertama dengan Jokowi yang hanya bermodal kesederhanaan dan tampil apa adanya.

Yang lebih menarik dari perkembangan pilkada putaran kedua, ternyata partai yang sebelumnya berseberangan dan menyindir serta menjelek jelekkan Foke ternyata berbalik arah untuk merapat dan mendukung Foke pada putaran kedua. Terlihat jelas bagaimana perilaku para partai politik beserta politisinya yang tidak konsisten, tidak tahu malu menjilat ludahnya sendiri, hanya memperjuangkan kepentingannya sendiri dan betapa terlihat napsu besar mereka untuk tetap terus berkuasa dan menghalalkan segala cara. Mereka menjadi mata gelap, kehilangan kebeningan nurani, terlihat sangat haus kuasa bak drakula dan yang lebih parah lagi menganggap suara rakyat tidak ada artinya ketika mereka mampu dan mau bersatu untuk berkoalisi. Disinilah sebenarnya rakyat dapat menilai bahwa sebagian besar para politisi dan partai politik telah benar-benar mengingkari suara hati nurani rakyat dan tidak dapat lagi diandalkan untuk memperbaiki kota Jakarta. Apalagi dengan layanan publik yang selama 5 tahun dilakukan oleh incumbent, maka warga DKI yang mencintai kota Jakarta pasti akan sangat paham calon mana yang layak mereka pilih di putaran kedua ini, meski berbagai cara terus saja dilakukan oleh kedua calon yang bersaing untuk menang, namun jika pilkada ini benar benar bersih, maka tanpa dilakukan survey-pun , kita semua sudah akan dapat menebak siapa yang akan menjadi bakal pemenangnya.

Pilkada DKI yang sedang berlangsung memperlihatkan cara berdemokrasi kita yang sebagian kecil masih terjebak dalam primodialisme dan SARA dan cenderung eksklusif, sangat bertentangan dengan tujuan demokrasi yang mengharapkan terwujudnya rakyat yang santun, cerdas dan logis serta menerima perbedaan sebagai sebuah berkah sehingga terciptalah masyarakat inklusip yang plural dan menghargai keberagaman suku, ras dan agama serta mampu hidup dalam kedamaian yang berdasar prinsip keadilan untuk semua warga negara. Maka sangat disayangkan jika dalam pelaksanaannya, pilkada DKI justru tercoreng oleh isu SARA, maupun cara-cara yang berlawanan dengan prinsip demokrasi seperti kekerasan (fisik maupun non fisik), kecurangan dalam berbagai bentuknya, dan cara lainnya yang jelas menodai prinsip demokrasi. Disinilah Panwaslu DKI harus berperan netral untuk menjadi wasit sehingga permainan demokrasi dalam pilkada ini menjadi terlihat cantik, indah dan adil sehingga enak ditonton dan dapat dijadikan contoh bagi beberapa wilayah lain di Indonesia diluar DKI.

Pemilu putaran kedua menjadi menarik untuk ditonton karena hasilnya menunjukkan siapakah yang kuat dalam arus demokrasi di jantung ibukota RI, apakah arus bawah atau arus atas yang elitis yang diwakili oleh kumpulan Parpol dan para politisinya ? Dan hasilnya pasti tidak mudah ditebak karena di Jakarta semua kekuatan terkumpul baik berupa kekuatan para pemodal/pengusaha, politik, mafia, PKL, intelektual dari berbagai paham/aliran  dan tidak lupa juga keragaman budayanya.

Namun yang jelas untuk warga DKI diharapkan dapat menjadi pemilih yang cerdas sehingga mampu memperoleh pemimpin yang benar-benar bersih, melayani, rendah hati, sopan dan mau turun kebawah untuk  berdialog dan melihat dengan mata kepala sendiri kondisi warga ibukota sehingga dapat menemukan solusi yang sesuai dengan kenyataan. Yang sangat diinginkan warga kota pastinya adalah terwujudnya kota Jakarta yang bebas banjir, bebas macet, manusiawi, rapi, banyak hutan kota, taman rakyat yang tersebar diberbagai sudut kota yang dapat bebas mengakses internet dan menjadi tempat bercengkerama bagi warga kota setelah lelah bekerja, sungai-sungai yang aliran airnya  bening dan terbebas dari sampah dan polutan lainnya, PKL yang tak harus lari terbirit birit karena digusur oleh Satpol PP namun yang diharapkan memperoleh lokasi jualan yang strategis, bersih, rapi,  aman dari pungutan preman dengan harga sewa yang murah, pejabat publik yang murah senyum dan gampang dijumpai oleh warga ibu kota tanpa dihalangi birokrasi yang berbelit belit, dan kota yang sejuk dan hijau dengan moda transportasi masal yang terjangkau, aman dan nyaman.

Inilah tantangan terbesar warga kota Jakarta untuk berani dan tidak salah pilih dalam memilih pemimpin yang benar benar mampu  mewujudkan satunya kata dan perbuatan, bukan yang hanya bisa menjual janji, mimpi dan angin surga.

Saatnya rakyat untuk bersatu padu menunjukkan pada para parpol dan politisi bahwa Suara Rakyat adalah Suara TUHAN dan saatnya meminta pada para parpol dan politisi  untuk berhenti bermain main dengan AMPERA (Amanat Penderitaan Rakyat) dan harus menjaga amanah karena siapa saja yang melawan suara rakyatnya sebenar-benarnya adalah pengkhianat bangsa dan negara dan tidak pantas hidup dinegeri Indonesia yang kita cintai , apalagi untuk memimpin negeri ini.

Entry filed under: Sosial. Tags: .

Ketika koruptor dan teroris sudah semakin berani, maka rakyat Indonesia semakin tekor dan terteror Belajar dari kemenangan dan kepemimpinan Jokowi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

September 2012
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: