Menfasilitasi penguatan Organisasi Petani untuk membantu mewujudkan impian mereka

November 11, 2012 at 7:02 am Tinggalkan komentar

Tak terasa, karena tugas reguler saya harus kembali lagi mengunjungi Kota Kupang, kota penuh kenangan yang tak pernah kulupakan karena pernah tingal selama 9 tahun bersama keluarga dan mengingat kembali Adit anakku yang dibesarkan disana dengan celoteh gaya Kupang yang senang memakai kosa kata “sonde, jangan pele  dan akhiran kata sa”. Terkenang rute gerilya untuk mengantar setiap pagi anak pergi ke sekolah dengan motor meski hujan badai sedang berlangsung.

Kembali ke tugas rutin saat ini untuk melaksanakan pendampingan bagi para petani, maka meluncurlah dengan transportasi  menggunakan bus umum  menuju Kefamenanu Kab TTU.

Perjalanan yang cukup panjang selama 6 jam untuk seusiaku yang sudah menembus angka 50 tahun ternyata tidak mudah karena cukup menguras tenaga,  tidak lagi seperti kondisi sepuluh tahun yang lalu meski saat itu harus menempuh jarak yang lebih jauh dan waktu yang lebih lama menuju Atambua, kota kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Terasa senang rasanya bisa kembali bertemu dengan wajah-wajah tak asing yakni para petani TTU dampingan sebuah NGO lokal terkemuka di TTU yang telah lama bersama sama untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan berupa wanatani (Agroforestry) untuk meningkatkan produksi para petani, mencegah kegagalan panen yang dapat berakibat rawan pangan yang berujung kelaparan. Sudah sejak 2003 kami bersama sama mengembangkan pertanian berkelanjutan  tidak hanya wilayah HULU yakni bangaimana meningkatkan produksi melalui wana tani, namun telah melangkah lebih jauh masuk dalam wilayah HILIR yakni pengembangan program pemasaran bersama untuk memperkuat petani dalam meningkatkan  posisi tawar dengan pedagang pembeli komoditi sehingga memperoleh harga yang layak.

Masih ingat dibenakku, betapa para petani begitu mudah dipermainkan harga komoditinya oleh para pengijon, tengkulak, pedagang lokal tanpa dapat berbuat banyak, sehingga solusi jalan keluarnya agar petani dapat berdaya melalui program pemasaran bersama kami menfasilitasi para petani untuk  mencoba membangun kekuatan melalui asosiasi petani agar dapat mengakses pasar sehingga dapat memperoleh harga yang layak. Perjalanan panjang yang terjal penuh onak dan duri, melelahkan secara fisik dan psikis karena betapa tidak mudah untuk mengajak teman pendamping dari NGO lokal untuk mau mendampingi petani mengakses pasar. Saya dapat memaklumi karena memang tidak mudah mengubah paradigma dan mau keluar dari zona nyaman dimana pendampingan yang dilakukan selama ini lebih  fokus pada peningkatan produksi, dan program pemasaran bersama dalam rangka mengakses pasar bagi teman pendamping adalah sesuatu yang sama sekali baru dan penuh resiko.

Puji Tuhan, akhirnya kami bersama teman teman mitra mulai melakukan program pemasaran bersama dengan melalui berbagai aktivitas yang telah dirancang.

Salah satu kegiatan yang penting adalah para pendamping ditingkatkan pemahaman dan ketrampilannya mengakses pasar melalui berbagai training seperti konsep pemasaran bersama, marketing, penumbuhan jiwa bisnis, penjajagan pasar secara cepat, manajemen usaha, kepemimpinan  dll untuk kemudian mereka menfasilitasi petani untuk mampu melakukan hal yang sama yakni melakukan pemasaran bersama.

Melalui trial and error dan jatuh bangun, maka kemudian para petani terus didampingi dan difasilitasi teman mitra dari NGO lokal untuk mau menyatukan diri dalam wadah organisasi petani guna mencari informasi harga komoditi yang mereka pasarkan, mencari tahu apa saja permintaan dan kemauan  pasar, melakukan negosiasi dan transaksi dengan pengusaha pedagang hasil bumi di ibukota kabupaten.

Tidak mudah mengajak petani mau terjun ke pasar karena seringkali dalam diri mereka mereka belum terlalu percaya diri, ada rasa perasaan kawatir dan ketakutan untuk bertemu langsung dengan pengusaha, namun setelah ditingkatkan kapasitasnya terkait pemasaran serta didampingi mitra, perlahan namun pasti penghambat mental (mental block) yang ada di diri petani mulai terpecahkan dan berganti dengan antusiasme dan semangat yang tak kenal menyerah dari para  petani untuk terus bergerak mencari pasar sehingga mendapat harga yang lebih layak dari hasil kerja keras mereka yang penuh dengan cucuran keringat dan air mata.

Kadang rasa haru campur bahagia menyergap dalam jiwaku mendengar dan melihat pendar mata para petani yang berbinar dan senyuman yang tersungging ketika mereka memperoleh harga yang lebih tinggi meski sebenarnya masih belum sebanding dengan hasil kerja mereka. Itulah salah satu ironi dinegeri agraris dimana petani tak berdaya menghadapi permainan  pasar yang sering tega bersenang senang dan menari nari diatas penderitaan petani yang telah berjasa menyediakan bahan pangan dan bahan mentah untuk kebutuhan industri.

Seiring dengan berjalannya waktu, maka bermunculan asosasi di kawasan lain, dan bahkan mulai merambah ke kabupaten lain sehingga sekarang sudah ada 10 (sepuluh) Organisasi Petani (OP) yang berupa asosiasi, forum maupun  koperasi.

Pertemuanpun diadakan salama 2 hari di Kefamenanu untuk ke-10 OP guna membahas perjalanan yang telah mereka tempuh selama 2 tahun dalam  membangun asosiasi untuk 10 OP di  3 kabupaten sebagai sebuah simpul untuk memperkuat diri dan sekaligus saling belajar dan menguatkan satu dengan lainnya, mencoba merefleksikan apa yang telah mereka lakukan dan penguatan apa lagi yang dibutuhkan agar kedepan OP yang ada di 3 kabupaten dapat saling bekerja sama dan bersinergi untuk mampu memenuhi pasar dalam kaitannya dengan kuantitas/volume,kualitas dan kontinyuitas/keberlanjutan pasokan sehingga mereka semakin memperoleh kepercayaan dari para mitra pembeli komoditi. Kami membahas untuk membuat Restra sederhana dan Business Plan dalam rangka memperkuat organisasi mereka sehingga minimal dalam jangka 3 tahun kedepan mereka memiliki arahan yang jelas dalam program kerjanya dan untuk tahun depan mulai menyusun rencana bisnisnya meski masih secara sederhana, namun yang penting mereka memiliki keberanian punya impian bersama yang besar bahwa dengan melakukan pemasaran bersama maka mereka tidak lagi dapat dipermainkan seenaknya oleh mafia pasar dan mulai diperhitungkan keberadaannya.

Diharapkan kedepan mereka dapat melakukan sendiri penjualan antar pulau mengingat mereka punya semangat untuk terus belajar dan bekerja sama dalam mewujudkan impian mereka yakni menjadi petani yang berdaulat dan sejahtera. Memang tidak mudah namun bisa, dan sudah saatnya para petani tidak lagi bergantung dan menggantungkan diri pada pihak lain, dan harus berani berdikari, mulai membangun organisasi mereka sendiri secara perlahan namun pasti dari sebuah asosiasi yang kecil di tingkat kawasan yang lingkupnya kecil menjadi organisasi besar yang melingkupi beberapa kabupaten yang mampu memperjuangkan hak-hak petani, termasuk hak untuk mendapatkan harga yang layak bagi komoditi yang dihasilkannya.

Pekerjaan rumah kedepan adalah bagaimana dengan teknologi pertanian yang ada sekarang, para petani mampu mengolah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi atau bahan olahan sehingga memperoleh nilai tambah (added value) yang dapat meningkatkan pendapatan mereka.

Salam sukses untuk para “petani pejuang” yang meski dengan susah payah namun tidak pernah putus asa untuk berjuang meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai petani pengusaha yang sejajar dengan profesi lainnya di republik tercinta.

 

 

 

Entry filed under: Petani "mengakses pasar". Tags: .

Melakukan donor darah, benarkah kita merugi untuk berbagi? Kita butuh pemimpin yang melayani atau yang hanya mau dilayani ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

November 2012
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: