Mengapa pemimpin negeri ini suka sekali bercanda dengan bencana ?

Januari 23, 2013 at 8:47 am Tinggalkan komentar

Banjir di ibukota Jakarta yang merata dan meluas serta berdampak pada kerusakan yang cukup besar dengan kerugian yang ditaksir oleh Gubernur DKI Jokowi sebesar 20 trilyun telah membuat banyak pemimpin pusat kelabakan karena mereka terlihat tidak terlalu siap dengan solusi permanen yang mampu mengatasi banjir.

Terlihat bagaimana para pemimpin pemerintahan pusat harus melakukan rapat secara mendadak dengan melibatkan Jokowi sebagai Gubernur DKI dan salah satu hasil rapatnya adalah membuat sodetan untuk kali Ciliwung yang diarahkan ke Banjir Kanal Timur (BKT).

Berbeda dengan Jokowi yang memang sudah terbiasa melakukan sidak dan turba ke lapangan , para pemimpin pusat terlihat baru turun setelah permasalahan banjir melebar dan membuat sebagian Jakarta lumpuh yang berimbas pada kerugian secara ekonomis dan psikologis yang kerugiannya tidak dapat dihitung dengan uang karena selain membuat beberapa warga trauma, yang sangat dirasakan adalah kesedihan warga  karena harus menjadi pengungsi, kehilangan harta benda yang diperoleh dengan susah payah, tidak dapat bekerja untuk memperoleh income terutama mereka yang bekerja sebagai pekerja harian lepas, para penderita sakit yang terpaksa harus dibantu dievakuasi karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan untuk berjalan dst.

Banjir yang sudah menjadi rutinitas di Jakarta ternyata masih saja dianggap lumrah terjadi dan masih direspon dengan setengah hati oleh warga, meski dibawah kepemimpinan Jokowi-Ahok, beliau berdua sudah berupaya dengan sekuat tenaga dan pikiran mencari solusi mengatasi banjir, kemacetan lalu lintas  dan segudang permasalahan lainnya.

Masalah yang dihadapi Jakarta terkait banjir sebenarnya sudah diungkap secara lugas dan terus terang oleh Jokowi yang menyatakan perlu ada terobosan dan tindakan nyata yang besar dan terpadu seperti pembangunan waduk besar di luar Jakarta, terowongan raksasa bawah tanah yang mampu mengalirkan air ke laut dan sekaligus menjadi jalan raya,membangun banyak sumur resapan dll dan sebaiknya kita tidak menjadi pelupa ketika memasuki musim kemarau.

Pengabaian dan tidak adanya pengawalan yang ketat dalam melaksanakan semua rencana yang telah dibuat sebagai bagian dari solusi mengatasi banjir membuat Jakarta terlambat dalam mengantisipasi kejadian darurat banjir yang seharusnya tidak perlu terjadi andaikata semua pihak serius dan mau bekerja sama bertindak mengatasinya.

Dengan kata lain banjir di Jakarta seharusnya tak perlu menjadi darurat andaikata semua tindakan untuk mengatasinya dijalankan secara serius dan warga kota juga mau berperilaku disiplin dalam membuang sampah, tidak membangun rumah di bantaran kali dst.

Terlihat oleh bangsa lain, kita sangat responsip dan reaktip ketika bencana sudah terjadi, padahal saat ini pemerintah sedang gencar gencarnya melakukan kegiatan PRB (Pengurangan Resiko Bencana) yang lebih dititik beratkan pada mitigasi dan perubahan cara pandang dan perilaku dalam melihat bencana yang kemungkinan bakal terjadi. Sejak beberapa tahun yang lalu pemerintah pusat telah membentuk BNPB dan di daerah dengan BPBD dan banyak program NGO yang mengarah pada PRB.

Maka sudah selayaknya kita mengubah kebiasaan rekatip menjadi pro aktip dengan jalan membangun dengan mendasarkan pada prinsip kelestarian lingkungan, menjadikan RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) sebagai pedoman dalam membangun sebuah kota/daerah sehingga tidak terjadi lagi berbagai bencana.

Bencana banjir hanyalah salah satu contoh saja dari berbagai bencana ,dan masih banyak yang akan dihadapi masyarakat kita mulai dari bencana longsor, kekeringan, kebakaran, gempa bumi & tsunami, gunung berapi meletus, polusi udara, polusi air di sungai, danau dan lautan,narkoba, HIV/AIDS, kelaparan, busung lapar, balita kurang gizi dll dan yang paling sering tidak pernah dianggap bencana adalah banjir koruptor di negeri kita yang telah menilep uang trilyunan rupiah sehingga  secara langsung maupun tidak langsung akan mengurangi ketahanan kita sebagai sebuah bangsa karena semakin banyak dana yang dikorup yang berakibat timbulnya bencana (ingat kasus runtuhnya Jembatan KUKAR??) karena tidak memenuhi persyaratan standar minimal.

Pemimpin negeri saat  ini terkesan lebih banyak yang bercanda dengan bencana dalam artian tidak serius dalam mengatasi permasalahan bencana yang ada dan kalaupun ada tindakan hanya dilakukan penyelesaian tambal sulam yang tak pernah menyelesaikan masalah secara permanen dan akan lebih diperparah kalau banyak yang beranggapan terjadinya bencana dianggap sebagai berkah karena ada proyek baru dalam penanganan bencana. Kasihan rakyat yang hanya dijadikan obyek, dan sudah sepatutnya para menteri dan pejabat eselon dibawahnya yang tidak mampu bekerja dengan baik untuk secara terhormat mengundurkan diri agar dapat diganti dengan yang lebih berkompeten dan tidak lagi bercanda dengan bencana karena akan semakin banyak korban yang mati sia-sia dan menimbulkan penderitaan yang besar bagi rakyat.

Saatnya membuktikan kita bukan bangsa abal abal yang hanya pandai membual dan korupsi, tetapi merupakan bangsa terhormat yang melihat jabatan sebagai amanah dan mampu menghindarkan dan melindungi rakyatnya dari berbagai bencana. Stop bagi para pejabat yang suka  bercanda dengan bencana.

 

Entry filed under: Sosial. Tags: .

Menjadikan organisasi petani sebagai lembaga bisnis yang menguntungkan , sebuah keharusan ? Meningkatkan kecerdasan finansial masyarakat, sebuah keharusan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Januari 2013
S S R K J S M
« Des   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: