Memberdayakan masyarakat tanpa memperdaya.

Maret 4, 2013 at 9:07 pm Tinggalkan komentar

Meski kita setiap hari disuguhi di berbagai media betapa negeri ini telah dikuasai mafia para koruptor, mafia bandar narkoba, kecelakaan angkutan umum yang menelan banyak korban jiwa karena adanya mafia SIM dan KIR kendaraan untuk memperolek surat kelaikan jalan dan adanya pelecehan seksual anak yang terus menerus terjadi , namun masih ada oase yang masih menyejukkan yang membuat kita masih tetap optimis dan terus berharap akan adanya perubahan yang lebih baik di negeri kita tercinta.

Salah satu oase yang menarik ketika mengikuti salah satu acara Kick Andy yang sangat inspiratip dan membuka mata banyak kalangan betapa sebenarnya masih banyak manusia Indonesia yang dengan segala keterbatasan yang dimiliki namun karena dorongan jiwa yang kuat untuk berbuat bagi sesama, maka yang seakan tidak mungkin dilakukan menjadi mungkin dilakukan asal ada spirit dan kemauan.

Salah satu yang diangkat dalam acara tersebut mengenai para ibu yang tergabung dalam My-darling (Masyarakat sadar lingkungan), dimana sang ketua ternyata memiliki semangat yang luar biasa untuk dapat memberi kepada sesama meski dirinya sendiri tidak bergelimang harta dan relatip berkekurangan, bahkan ketiga anaknya juga memiliki masalah kesehatan. Kehidupan keluarga sang ketua yang penuh permasalahan ternyata tidak menyurutkan langkahnya untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi sesama dan salah satu yang dilakukan dengan mengolah sampah disekelilingnya menjadi biogas, kerajinan seperti tas, taplak meja dll dan untuk sampah anorganik yang dipilah kemudian dijual kembali.

Yang tak kalah menariknya apa yang disampaikan sang ketua yang berujar “Lebih baik hidup dari mengolah sampah daripada menjadi sampah masyarakat”.

Sebuah tamparan yang luar biasa bagi para koruptor negeri ini yang lebih rendah derajatnya daripada sampah yang masih bisa diolah dan berguna. Termasuk juga untuk para anggota DPR yang suka plesiran keluar negeri berkedok studi banding hanya untuk membuat UU yang belum tentu ditaati ketika diundangkan. Kalau hati nurani mereka para koruptor dan anggota DPR yang suka sekali studi banding  masih ada, sebenarnya episode ini sangat menggugah untuk kembali merefleksi diri dan saatnya untuk bertobat kembali memberi kehidupan yang bermakna melalui membantu sesama yang membutuhkan  meski dengan dana yang jumlahnya terbatas . Seandainya dana yang jumlahnya ratusan milyar bahkan sampai trilyunan rupiah dari hasil korupsi dan biaya studi banding tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendanai kegiatan kemanusiaan yang memberdayakan maka Indonesia pasti akan menjadi lebih baik.

Kick Andy juga sangat berperan dalam mengembangkan budaya filantrofi yang ada dinegeri jamrud katulistiwa ini dengan jalan menjadi jembatan yang mampu  menghubungkan para donatur pribadi maupun CSR perusahaan yang berkehendak baik untuk membantu mereka yang membutuhkan meski mereka sendiri sebenarnya tidak pernah meminta dikasihani dan dibantu.

Inilah indahnya kebersamaan yang didasari semangat solidaritas atas nama kemanusiaan yang tidak lagi tersekat dengan isu SARA namun yang terpenting semua niat baik seharusnya dapat diwujudkan untuk sesama yang membutuhkan tanpa harus melihat perbedaan yang ada. Semangat ke-Indonesia-an yang sangat kental terlihat ketika mereka saling membantu, saling menguatkan, saling membutuhkan tanpa harus merasa satu lebih tinggi atau lebih hebat dari yang lainnya. Kebersamaan yang indah dalam semangat kegotong-royongan sudah seharusnya semakin hidup dan mengembang ke seluruh pelosok nusantara, mereka yang lebih mengutamakan “value/nilai nilai luhur” daripada hanya sekedar menumpuk harta benda yang dapat habis dimakan ngengat atau bencana, dan bahkan tak akan dibawa pula ketika kita berpulang kepangkuan Ilahi.

Masih banyak sebenarnya sosok pribadi maupun lembaga kemanusiaan yang berkarya untuk sesama dalam diam penuh kesenyapan  dan kesunyian yang tak sempat diliput media, masih banyak pribadi yang dalam diam namun terus menerus menebar kebaikan seperti membuka layanan kesehatan gratis, mendonorkan darahnya, pendidikan murah dan juga memberi kemudahan lain seperti membangun jembatan sederhana di daerah terpencil yang sangat membantu anak anak sekolah diwaktu banjir sehingga mereka tetap dapat bersekolah yang  sayangnya permasalahan kemanusiaan tersebut sering luput dari pantauan radar layanan publik pemerintah yang bertanggung jawab melayani dan mensejahterakan warga negaranya.

Saatnya kita bersatu membangun bangsa yang beradab dengan semangat berdikari, semangat memberdayakan tanpa memperdaya, menjauhkan bangsa kita dari kanker ganas korupsi yang sudah mencapai stadium lanjut, menjauhkan dari semangat saling menyalahkan dan saling menjatuhkan, semangat untuk menyadari bahwa kita adalah sebangsa dan setanah air, yang tak ada untungnya jika kita terus bertikai tiada habisnya seperti yang telah dipertontonkan dalam pengelolaan sepak bola di tanah air yang membuat kita terpuruk meski hanya ditingkat ASEAN.

Para politisi juga hendaknya menyadari jika mereka benar benar menjadikan politik sebagai panggilan jiwa, maka mereka harus dapat menunjukkan kebesaran jiwa dan karyanya yang dapat dinikmati oleh rakyat yang telah memberikan kepercayaan.

Kita dapat belajar dari sepak terjang Jokowi-Ahok yang meski baru beberapa bulan namun sangat terasa gebrakannya yang merakyat tanpa harus melakukan pencitraan dan semoga langkah yang baik ini dapat diikuti oleh propinsi lainnya.

Saatnya pelayan publik yakni Pemerintah Pusat dan Daerah untuk memberi perhatian yang lebih besar dan secara terus menerus kepada masyarakat yang lemah tak berdaya karena digerogoti kemiskinan, mereka yang tinggal di daderah terpencil dengan akses jalan yang buruk, belum ada layanan listrik, layanan air bersih, layanan kesehatan yang memadai dst, dan diharapkan pemerintah tidak hanya menebar dana karena kita tahu seberapapun besar dana pembangunan yang digelontorkan ke tangan rakyat namun jika tanpa ada pendampingan untuk pemberdayaan yang berkelanjutan sebagai sebuah langkah membangun kemandirian maka dana yang diberikan akan lenyap sia-sia.

Mari kita wujudkan pemberdayan tanpa memperdaya, apalagi tahun depan akan diadakan PEMILU, semoga tidak ada lagi proyek BLT yang justru memabukkan dan memperdaya rakyat dan hanya dipakai untuk mendulang suara sesaat dan sesat, sebentuk money politic yang seharusnya tidak dilakukan apabila ingin wajah demokrasi kita santun dan adil. BLT harus diubah menjadi program padat karya pangan (Food for Work) untuk membangun jalan jalan baru  di desa, membangun irigasi, membangun jalan usaha tani yang membuat petani mudah dalam mengangkut hasil panennya, dan kegiatan lainnya yang mampu meningkatkan geliat perekonomian di desa.

Saatnya para pemimpin memberdayakan warga negara dengan pilihan strategi yang cerdas dan mampu memberdayakan rakyat tanpa memperdaya apalagi hanya memberi impian bak di negeri para dewa dewi dengan slogan kampanye yang memabukkan.

Entry filed under: Sosial. Tags: .

Meningkatkan kecerdasan finansial masyarakat, sebuah keharusan ? Celoteh tentang negeri tercinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Maret 2013
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: