Koperasi bermitra sejajar dengan korporasi,mungkinkah?

Mei 5, 2013 at 10:21 pm Tinggalkan komentar

Gerakan pengembangan koperasi terus digalakkan baik oleh pemerintah ,lembaga keagamaan maupun adat. Koperasi diyakini merupakan wadah yang paling pas untuk membangun organisasi bisnis rakyat dalam upaya membangun kesejahteraan bersama yang berbasis kerakyatan. Namun niatan mulia tersebut tidak semudah membalik telapak tangan, karena kita tahu untuk berhasil dalam berbisnis banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi diantaranya kemampuan jiwa bisnis, manajemen bisnis, kemampuan melakukan loby dan negosiasi, kemampuan melihat peluang dan yang paling penting bagaimana mampu menang dalam persaingan bisnis yang seringkali tidak adil dan kejam karena masih banyaknya mafia yang menguasai pasar dimana mereka para mafia tidak akan rela kue bisnisnya diambil pesaingnya sehingga dengan menghalalkan segala cara mereka akan terus berusaha menguasai pasar untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Keinginan membangun koperasi menjadi gerakan ekonomi rakyat untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya dalam membangun kesejahteraan bersama untuk mewujudkan sila kelima Pancasila terus dilakukan, namun banyak tantangan yang dihadapi diantaranya;

  1. Terbatasnya pengetahuan dan pengalaman berbisnis di kalangan masyarakat yang berkehendak  mendirikan koperasi
  2. Terbatasnya keberanian masyarakat pendiri koperasi dan anggotanya untuk menanggung kerugian akibat bebisnis secara bersama sama dan belajar dari kerugian untuk selanjutnya meraup untung dan sukses.
  3. Rendahnya kepercayaan antar pengurus dan juga antar anggota satu dengan lainnya karena pengalaman traumatik masa lalu terkait gerakan koperasi seperti KUD yang dikembangkan dengan cara top-down dan penuh dengan subsidi dan proteksi berlebihan.
  4. Terbatasnya SDM pengelola koperasi yang memahami jati diri koperasi, memiliki jiwa bisnis, pemahaman tentang bisnis, memiliki kemampuan manajerial dalam mengembangkan organisasi bisnis, dan rela mengembangkan bisnis yang menguntungkan tidak hanya diri sendiri namun juga anggota koperasi lainnya. Banyak terjadi, ketika SDM koperasi memiliki kemampuan yang professional dalam mengelola bisnis, mereka tergiur dan tergoda untuk melakukan bisnisnya secara sendiri sehingga dapat menikmati keuntungan lebih besar dibanding melalui koperasi.
  5. Lemahnya penerapan asas transparansi, akuntabilitas, pengawasan yang berlapis dan berjenjang terhadap pegurus dan pelaksana koperasi karena belum secara ketat menerapka SOP serta belum memiliki system deteksi dini untuk berbagai penyalahgunaan (wewenang, dana dan kebijakan).

Dan masih dapat diperpajang daftar tersebut, namun intinya perlu upaya yang lebih dan terus menerus tanpa lelah untuk memperkuat kapasitas SDM koperasi dalam menerapkan manajemen yang bersih dan mampu menerapkan inovasi untuk memenangkan persaingan bisnis.

Dengan demikian peranan pendidikan menjadi sangat strategis untuk terus memperkuat kapasitas SDM pengelola koperasi dan memberikan pemahaman kepada anggota arti penting jati diri koperasi dan harus dialokasikan dana yang mencukupi untuk memperkuat dan menjadikan pengelola koperasi tak kalah profesional dan kompetensinya dengan pengelola bisnis korporasi.

Cara pandang yang menyatakan koperasi harus bersaing melawan korporasi tidaklah salah, namun dalam realitas bisnis, sangatlah tidak mudah untuk bersaing dengan korporasi yang selain memiliki modal yang lebih dari cukup, kompetensi SDM-nya yang profesional, juga jaringan bisnis yang menggurita dan menguasai pasar dunia.

Koperasi dihadapkan pada pilihan sulit ketika harus memilih untuk menjadikan korporasi sebagai mitra atau melawannya.

Menjadikan korporasi sebagai mitra untuk saat ini adalah lebih realistis dibanding memposisikan koperasi sebagai lawan korporasi. Pertimbangannya adalah ketika memposisikan sebagai lawan,koperasi tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk bersaing, baik dari sisi permodalan, ketersediaan SDM dan kemampuan membangun jaringan keluar negeri. Bagaikan kedua petinju yang sedang bertanding namun keduanya memiliki kemampuan yang berbeda, maka yang mempunyai kemampuan terbatas harus terus merangkul lawannya supaya tidak terkena bogem mentah terus menerus dan akhirnya KO.

Demikian pula gambaran sebagian besar koperasi kita yang meskipun secara potensi mampu bersaing dengan korporasi,namun secara realitas masih membutuhkan banyak sentuhan  dan penguatan kapasitas secara terus menerus untuk dapat bersaing dan memenangkan persaingan yang sangat ketat.

Mengajak untuk melakukan bisnis inklusip pada korporasi serta bekerja sama dengannya merupakan pilihan realitis koperasi, dimana koperasi merupakan wadah bagi rakyat untuk membangun kerajaan bisnisnya secara bersama dimana dengan bermitra dengan korporasi , para pengelola koperasi mulai belajar untuk mengembangkan bisnisnya secara profesional dan membangun jaringan yang lebih kuat lagi.

Kita masih ingat pada waktu awal Orde Baru banyak koperasi besar yang bergabung dalam “Gabungan Koperasi”  seperti batik, hasil bumi seperti kopra dst mempunyai peran yang sangat besar dalam perekonomian nasional namun kemudian semakin menurun ketika kebijakan pemerintah lebih berorientasi pada ekonomi pasar bebas dan membuka seluas luasnya penamanan modal dari luar (PMA).

Potensi pengumpulan modal dari masyarakat melalui koperasi jika dikelola dengan baik  sangatlah besar seperti contoh Koperasi langit Biru di Jakarta yang mampu mengumpulkan 6,7 trilyun rupiah namun sayangnya nama koperasi disalahgunakan.

Dibidang keuangan, kita dapat melihat perkembangan yang sangat pesat dari Koperasi Kredit/Kopdit (Credit Union) yang mampu bersaing dengan bank bank nasional.

Saatnya koperasi yang ada di negeri ini membangun jaringan bak laba laba yang mampu melindungi diri dari serangan pihak korporasi  yang ingin menguasai perekonomian nasional dan kita harus semakin yakin koperasi mampu mengelola potensi nasional kita seperti pertambangan, perkebunan (kelapa sawit,kakao,kopi, kayu manis, cengkeh, kopra dll), penyediaan kebutuhan akan sembako, transportasi,pariwisata dll.

Alangkah bahagia dan bangganya jika koperasi yang dikelola dan dimiliki rakyat mampu mengelola pertambangan yang keuntungannya dipergunakan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat, demikian pula dengan perkebunan kelapa sawit yang mampu dikelola banyak koperasi dan secara nasional memiliki jaringan yang mampu mempengaruhi kebijakan yang menguntungkan petani. Jika tambang dan perkebuanan mampu dikelola jaringan koperasi maka dapat dipastikan tidak akan ada penghancuran alam oleh eksplorasi dan eksploitasi tambang maupun perkebunan, tidak ada lagi lahan bekas galian tambang yang tak di reklamasi setelah usai ditambang, dan pastinya koperasi sangat peduli pada kelestarian lingkunagn dan akan melakukan pelestraian lingkungan yang dikelolanya dan go green menjadi semboyannya untuk terus dilaksanakan.

Pengembangan jaringan laba laba koperasi di Indonesia diharapkan mampu melindungi kepentingan ekonomi nasional dari serbuan pihak luar, menjadikan Indonesia tetap sebagai bangsa yang berdaulat dan mandiri  serta  menjadikan korporasi yang baik sebagai  mitra koperasi yang sejajar.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Kenangan mengunjungi Desa Adat Boti di Kab Timor Tengah Selatan (TTS) NTT Ketika anak muda tidak tertarik lagi menjadi petani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Mei 2013
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: