Ketika anak muda tidak tertarik lagi menjadi petani

Mei 7, 2013 at 8:40 am 1 komentar

Ironi di negeri yang mengaku sebagai negeri agraris seperti Indonesia dimana ketika berbincang dengan anak muda, kebanyakan dari mereka tidak lagi tertarik untuk bergelut di bidang pertanian dan lebih memilih profesi lain yang lebih menjanjikan. Di banyak desa yang sempat dikunjungi didaerah terpencil di Indonesia Timur, banyak anak muda yang lebih memilih menjadi tukang ojek karena menurut mereka lebih bergengsi, lebih mudah dan lebih menjanjikan untuk hidup.

Banyak pula kalangan muda yang lebih memilih bekerja di luar negeri meski sebagai TKI/TKW yakni menjadi buruh perkebunan maupun pembantu rumah tangga karena usaha pertanian yang mereka geluti tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar untuk kehidupan keluarganya.

Banyak faktor yang menyebabkan pertanian tidak lagi menarik bagi kalangan muda antara lain karena luasan lahan yang semakin menyempit akibat fragmentasi lahan yang harus  diwariskan, fluktuasi harga komoditi pertanian yang tidak terkendali akibat serbuan masuknya impor dari luar seperti Cina, tidak menentunya iklim akibat pemanasan global dan perubahan iklim, terbatasnya infrastruktur untuk mengakses pasar, terbatasnya layanan informasi dan inovasi teknologi yang dapat diakses petani karena masih jauhnya jarak antara para peneliti, akademisi dengan petani sebagai praktisi dan produser,terbatasnya tingkat pendidikan para petani, kecenderungan petani menjual komoditi sebagai bahan mentah (raw material) tanpa prosesing lebih lanjut sehingga tidak memperoleh nilai tambah dan harga tetap saja murah, keberpihakan kebijakan pemerintah yang kurang memproteksi kehidupan para petani dll.

Terkait dengan kepemilikan lahan, kita dapat menyaksikan secara pelan namun pasti, kaum pemodal pengusaha perkebunan  dan pertambangan  secara halus namun sistemik terus menggusur lahan yang dimiliki secara individual maupun komunal dan seringkali terjadi bentrokan yang berujung korban petani mati sia sia  untuk mempertahankan hak kepemilikan lahan yang sering diklaim sepihak oleh perusahaan besar yang didukung oknum aparat keamanan karena mereka mampu membayar sedang rakyat sebagai pemilik sah lahan terus digusur dengan paksa dan penuh intimidasi yang melanggar HAM dan kadang pemerintah yang seharusnya berpihak pada rakyat yang dilayaninya justru berbalik dengan kekuasaan yang ada menerbitkan HGU maupun sertifikat atas nama pemilik modal yakni perusahaan perkebunan multinasional maupun nasional.

Sayangnya kondisi dimana kalangan muda tidak lagi tertarik menjadi petani hanya dianggap angin lalu dan hanya dianggap persoalan kecil yang tak perlu ditangani secara khusus karena kebijakan pemerintah sekarang dalam memenuhi pangan nasional lebih mengarah pada  mengimpor kebutuhan pangan mulai dari beras, daging sapi, bawang merah-putih, buah buahan, garam, kedelai dst untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Padahal kita tahu, di negara maju-pun para petaninya diproteksi dan disubsidi untuk menjaga kedaulatan pangannya. Sangatlah berbahaya kondisi kedaulatan pangan kita, selain digerogoti oleh virus kebijakan impor, kalangan mudanya juga sudah meninggalkan pertanian (dalam arti luas) sehingga jika tidak sejak awal dicarikan jalan keluar maka ketahanan nasional kita juga akan ikut rapuh.

Maka menjadi PR kita semua bagaimana kita dapat meyakinkan kalangan muda bahwa dengan menggeluti usaha pertanian (termasuk peternakan, perikanan, kelautan, perkebunan dan kehutanan) dengan teknologi yang tinggi disertai ada upaya prosesing untuk mengolah lebih lanjut bahan mentah menjadi bahan setengah jadi maupun bahan jadi maka penghasilannya akan mampu untuk menghidupi keluarganya menjadi sejahtera. Sebenarnya jika kita semua serius mengelola pertanian sebagai unit bisnis dengan menerapkan teknologi  tinggi dan intensip disertai dengan dukungan pemerintah akan tersedianya infrastruktur yang memadai dalam mengakses pasar, permodalan yang cukup, dan didukung kelembagaan bisnis yang kuat seperti koperasi maka kemungkinan pertanian akan kembali menarik bagi kalangan muda untuk menggelutinya.

Entry filed under: Sosial Pengembangan perdesaan. Tags: .

Koperasi bermitra sejajar dengan korporasi,mungkinkah? Ketika Indonesia tak lagi aman dan nyaman

1 Komentar Add your own

  • 1. tri  |  Maret 8, 2014 pukul 12:29 am

    anak muda yang bertanggung jawab,jangan tinggalkan pertanian apalagi bila hidup di desa krna dengan pertanian kita bisa kasih makan dan pekerjaan, maju terus pantang mundur

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Mei 2013
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: