Melepas belenggu keterjajahan para petani di era kemerdekaan yang ke 68 tahun, mungkinkah?

Agustus 16, 2013 at 9:11 am 1 komentar

Setiap 17 Agustus-an, sebagai bangsa kita rutin mengulang ritual memperingati hari kemerdekaan dengan upacara bendera. Sebelum peringatan puncak kemerdekaan selalu diadakan berbagai kegiatan di kalangan masyarakat seperti gerak jalan, napak tilas, karnaval, hiburan seperti band, tarian dll, acara panjat pinang dan bahkan yang terbaru panjat pisang dengan berbagai iming iming hadiah, serta tabur bunga di makam para pahlawan/pejuang dan yang tak boleh dilupakan oleh rakyat adalah mengibarkan bendera nasional yakni bendera merah putih.

Namun kalau kita cermati profesi sebagai petani, hampir boleh dikatakan masih banyak keluarga petani kita yang terbelenggu dalam penjajahan, terutama di bidang ekonomi dengan terus naiknya harga saprodi/saprotan maupun sapronak, namun sementara harga atau nilai tukar hasil pertanian (dalam arti luas termasuk juga perikanan dan peternakan) dapat dikatakan tidak berpihak pada para petani, apalagi seiring dengan kenaikan harga BBM dan sembako. Masih banyak terutama daerah terpencil, para petani yang terlibat praktek ijon oleh para tengkulak yang tega menghisap darah dan keringat petani sehingga mereka semakin tercekik dengan rente tinggi yang harus dibayar oleh para petani. Belum lagi biaya sosial yang harus ditanggung keluarga petani yang prosentasenya juga masih cukup tinggi sehingga tidak mungkin bagi sebagian besar petani menyisihkan sebagian pendapatan dari hasil taninya untuk berinvestasi atau untuk mempersiapkan biaya produksi selanjutnya.

Meski ada organisasi petani seperti  Gapoktan yang merupakan gabungan kelompok petani di tingkat desa, namun pada kenyataannya hanya sedikit kelompok tani dan gapoktan yang benar benar aktip dan “hidup”, sebagian besar hanya ada diatas kertas. Meskipun kita tahu untuk menjadikan posisi tawar para petani menjadi kuat perlu ada Organisasi Petani (OP) yang mampu berbisnis dan menjadi pemasar bagi produk pertaniannya, namun dalam kenyataan masih sangat sedikit para petani yang memiliki lembaga pemasar misal koperasi yang kuat dengan manajemen yang transparan akuntabel, demokratis sehingga memiliki posisi tawar yang baik ketika berhadapan dengan sektor swasta (private sector).

Kalau kita tanya pada para petani dalam setiap pertemuan, apakah ada diantara mereka yang berprofesi sebagai pengusaha, maka dapat dikatakan jawabnya pasti tidak ada, padahal untuk menjadi kuat, petani harus menjadi seorang pembisnis/pengusaha yang handal dibidang usaha taninya.

Masih banyak petani yang mengganggap usahanya bukan sebagai bisnis dan dirinya juga tidak pernah merasa sebagai pengusaha sehingga wajar jika usaha tani yang digelutinya jika dilakukan perhitungan analisa usaha taninya meskipun terus merugi namun tetap saja dilakukan karena tidak pernah menganggap usaha taninya sebagai bisnis yang harus menguntungkan. Inilah sebenarnya tantangan yang paling utama, selain dalam hal teknis pertanian, yakni bagaimana mengubah pola pikir (mindset) para petani dan pola tindak untuk menjadikan usah taninya sebagai bisnis yang harus menguntungkan dan mampu mencukupi kebutuhan keluarganya sehingga dapat hidup layak dan sejahtera. Selain itu, kecerdasan finansial/keuangan para petani harus terus ditingkatkan sehingga dapat mengelola pendapatannya dengan baik dan mampu menambah asset/kekayaan yang dimilikinya dari menyisihkan sebagian pendapatannya dari pola hidup yang hemat.

Selain itu masih banyak faktor yang harus dibenahi dalam mendukung agrobisnis dan agro-industri dinegeri kita. Komoditi ekspor baik perikanan, peternakan maupun pertanian pangan dan perkebunan seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah tidak hanya dengan menyediakan dana saja dan menjadikannya proyek yang bernilai trilyuan rupiah, namun yang penting bagaimana ada kelanjutan pendampingan pada para petani yang terus berkelanjutan baik oleh BDS (Bussines Development Services) yang dijadikan mitra oelh pemerintah  maupun SKPD yang terkait dengan pengembangan pertanian dalam arti luas.

Negeri kita telah kehilangan kedaulatan pangannya dan terlihat beberapa komoditi pertanian yang sangat dibutuhkan masyarakat namun justru tidak dihasilkan oleh petani kita dan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri denga jalan  diimpor dari negara lain baik berupa beras, garam,bawang merah-putih,daging sapi, kedelai dll. Ketahanan negeri ini telah sangat keropos karena sebagai negara agraris kita tidak mampu memenuhi kebutuhan sendiri, sementara dimana mana beterbaran sarjana pertanian/peternakan/perikanan, tersebar juga pusat pusat penelitian berbagai komoditi, pusat pengembangan teknologi pertanian, ada banyak guru besar di bidang pertanian, ada dinas terkait yang menanganinya dst.

Sungguh miris dan sangat menyedihkan, sementara kita sedang memperingati kemerdekaan sebagai sebuah bangsa merdeka yang ke 68, justru banyak lahan pertanian  yang telah berpindah kepemilikan ke tangan para cukong/pemodal asing seperti lahan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan, semakin banyak lahan pertanian produktip penghasil pangan yang beralih fungsi menjadi lahan perumahan, industri, dan berbagai peruntukan lainnya. Lahan pangan lestari yang digagas pemerintah untuk melindungi berkurangnya lahan pertanian produktip terutama lahan sawah ternyata tidak berjalan dengan baik padahal ide/gagasan tersebut sangat cemerlang dan baik bagi kedaulatan pangan bangsa kita yang banyak membutuhkan beras. Banyaknya produk pangan impor yang lebih murah dibanding produk hasil petani kita telah memukul telak para petani kita  sehingga banyak yang terpaksa banting stir di usaha lainnya karena pemerintah telah menyerahkan semuanya pada mekanisme pasar bebas tanpa ada proteksi pada petani dengan berbagai alasan seperti globalisasi, kita sudah meratifikasi perjanjian dst.

Dukungan pemerintah pada para petani sebagai pelayan publik dalam pembangunan/penyediaan  infrastruktur yang mendukung pemasaran hasil produksi petani seperti jalan beraspal, pelabuhan kontainer, tersedianya bandara yang mampu didarati pesawat berbadan lebar sehingga kargonya juga besar volumenya, listrik, telekomunikasi  dll masih sangat terbatas, demikian pula ketersediaan dan akses teknologi pertanian yang mampu memberi nilai tambah dan memperpanjang umur produk petani masih sangat terbatas, tidak seperti negara Thailand yang terkenal dengan pengawetan produk pertanian yang tersaji secara apik dalam berbagai kemasan.

Saatnya petani memerdekakan diri dengan mengorganisir dirinya dalam organisasi bisnis yang kuat oleh petani sendiri melalui gerakan koperasi, saatnya petani menjadikan dirinya sebagai pembisnis yang handal dengan memnafaatkan teknologi daninformasi yang ada, saatnya para petani melalui organisasi berupa asosiasi harus mulai banyak yang mau dan mampu terjun di politik untuk menjadi anggota DPR/D sehingga dapat memperjuangkan hak dan kepentingan para petani, menjadikan jaringan organisasi petani disegani di tingkat nasional, sehingga diharapkan kedepan pemerintah pusat sudah selayaknya mau tidak mau harus menganggarkan lebih dari 30 % APBN  untuk pembangunan  pertanian di Indonesia.

Kebijakan negara seperti land reform harus dilaksanakan, tidak hanya bisa mengumbar janji palsu, semua kebijakan pemerintah yang tidak memihak petani tetapi justru memihak pemodal kuat/besar harus direvisi sehingga kedaulatan petani benar benar ditegakkan. Petani kita seharusnya terdiri dari kaum muda terdidik dan mempunyai keahlian untuk memajukan pertanian di Indonesia, membangun koperasi yang mempunyai saham di pabrik-pabrik pengolahan lanjut komoditi pertanian, berani menjadi eksportir bagi produk yang dihasilkannya dan pemerintah melalui Departemen Pertanian tidak hanya pandai beriklan “Petani sejahtera, Bangsa Berjaya” tetapi mampu mewujudkan secara nyata dalam kehidupan nyata para petani.

Saat yang tepat untuk memerdekakan para petani dari belenggu penjajahan dalam segala bentuknya, sehingga peringatan kemerdekaan ke 68 benar benar menjadi momen yang tepat dan jembatan emas bagi keluarga petani untuk mewujudkan kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, sejahtera lahir batin. Sudah telalu lama pemerintah kita memberikan impian palsu pada petani di Indonesia karena senyatanya semakin tua umur Republik Indonesia  justru kehidupan ekonomi para petaninya semakin renta, tak berdaulat dan terpinggirkan.

Entry filed under: Petani "mengakses pasar". Tags: .

SELAMAT MERAYAKAN IDUL FITRI 1434 H INDONESIA,benarkah bangsa yang sebenarnya berpotensi menjadi negara maju ?

1 Komentar Add your own

  • 1. Muhamad Akbar Bin Widayat  |  Oktober 16, 2013 pukul 3:34 am

    Ulasan tetang pertanian saat ini saat baik.
    Semoga dengan tulisan ini semakin banyak orang yang peduli dengan pertanian Indonesia.
    Amin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Agustus 2013
S S R K J S M
« Jul   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: