Menjadikan petani kakao Flores sebagai pembisnis unggul sekaligus pemain dalam pasar kakao modern yang inklusip (Inclusive Modern Market/IMM).

Maret 11, 2014 at 10:45 am Tinggalkan komentar

Gonjang ganjing harga komoditi perkebunan telah memukul telak para petani pengusaha komoditi perkebunan, dimana harga dapat naik drastis namun kemudian dengan cepat juga dapat turun drastis yang berimbas pada kebingungan petani dalam menentukan pilihan komoditas yang akan terus digelutinya.

Petani yang cerdas dan mampu membaca perubahan harga komoditi yang begitu cepat mulai banyak mengembangkan usaha komoditi perkebunannya secara campuran atau bahasa kerennya melakukan diversifikasi dalam pilihan komoditi perkebunan dengan jalan mengintegrasikan bersama sama dengan  komoditi perkebunan lainnya .

Salah satu komoditi perkebunan yang saat ini sedang naik daun adalah komoditi kakao dimana permintaan dari pabrik olahan kakao semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya pengusaha luar negeri yang menanamkan modalnya untuk pembangunan pabrik olahan biji kakao, terutama di Makasar Sulawesi Selatan karena adanya pembebasan pajak bagi biji kakao yang diolah di dalam negeri.

Penguatan HULU untuk peningkatan produksi dan kualitas kakao

Namun sayangnya tidak semua daerah yang cocok untuk budidaya di Indonesia seperti di Pulau Flores NTT sebagai penghasil kakao sudah mampu berproduksi secara berkelanjutan dengan tingkat produktivitas maupun kualitas yang tinggi.

Beberapa penyebab rendahnya produktivitas dan produksi kakao di tingkat petani antara lain;

§        Umur tanaman kakao yang sudah tua, kurang terawat dan terserang hama penyakit dalam areal kakao yang luas membuat produksi menurun drastis dan seringkali membuat petani frustasi dan akhirnya membiarkan saja lahan kakao yang dimilikinya atau akan mengganti dengan tanaman komoditi lain seperti kelapa sawit, cengkeh dst.

§           Menurunnya tingkat kesuburan lahan karena terjadinya erosi terutama di lahan lahan miring yang  belum dilakukan upaya konservasi tanah dan air oleh petani

§            Terbatasnya jumlah petani kader di tingkat desa yang memiliki ketrampilan teknis dan mampu menjadi fasilitator untuk melakukan penularan dari petani ke petani (farmer to farmer extension).

§          Pelatihan mengenai teknis budidaya seperti P3S (Pemangkasan, Pemupukan, Panen Teratur, dan Sanitasi) melalui Sekolah Lapang (Farmer Field School/FFS) sering tidak ditindaklanjuti di kebun petani masing masing, sehingga perlu ada kebun belajar bersama untuk tingkat hamparan dimana petani dapat saling berbagi ilmu dan pengalaman di kebun belajar dan menjadikan sebagai gerakan bersama yang masif dalam menerapkan prinsip budidaya kakao yang baik.

§            Belum semua petani kakao mau menerapkan paktek pertanian yang baik atau GAP (Good Agriculture Practices) seperti P3S dan pengendalian hama kakao secara terpadu. Dalam kenyataannya masih ada petani kakao yang tidak mau melakukan pemangkasan dan tetap membiarkan tanaman kakao tumbuh tinggi sehingga menyerupai hutan kakao, padahal sebenarnya petani diharapkan mau melakukan pemangkasan baik pemangkasan bentuk, pangkas produksi maupun pemangkasan pemeliharaan untuk merangsang terjadinya pembungaan, mempermudah pemanenan, mengurangi tingkat kelembaban dan memudahkan aliran udara sehingga diharapkan mampu menekan serangan hama dan penyakit pada areal tanaman kakao.

§             Selain itu, terkait dengan kebiasaan memupuk, masih banyak petani yang enggan menyediakan dan menyisihkan sebagian dana hasil pendapatan dari penjualan biji kakao untuk membeli pupuk buatan atau membuat pupuk organik sendiri dari limbah kulit kakao dicampur dengan bahan organik lainnya untuk melakukan pemupukan di kebun kakao dan sering mereka hanya mengandalkan pada kemurahan alam dari kesuburan lahannya yang tak pernah tersentuh pupuk.

§           Dalam hal pemanenan, masih banyak petani yang melakukan panen tak teratur sehingga sebaiknya petani mau melakukan pemanenan secara teratur sekaligus mengambil buah yang terserang hama dan penyakit sehingga dapat memutus siklus atau mengurangi serangan hama dan penyakit.

§                Sanitasi juga menjadi penting dalam pemeliharaan kebun kakao, karena juga dapat menekan serangan hama penyakit, namun dalam pelaksanaan penerapan P3S sebaiknya menggunakan pendekatan hamparan yang sama sehingga lebih efisien dan efektip.

§           Terbatasnya penyebaran secara masif dengan entris dari klon kakao unggul dengan produktivitas yang tinggi serta tahan terhadap hama dan penyakit tertentu dan sudah teruji dalam beradaptasi dengan lingkungan setempat di kalangan petani melalui sambung samping maupun sambung pucuk, bahkan juga pemindahan bantalan buah klon kakao unggul. Upaya perbaikan genetik melalui sambung (pucuk dan samping) mampu secara cepat meningkatkan produksi yang pada gilirannya mampu memotivasi petani untuk lebih serius dan fokus pada penerapan budidaya kakao yang baik.Untuk wilayah tertentu, penggunaan klon unggul hasil sambung samping maupun sambung pucuk masih sebatas pengenalan dan belum menyebar secara luas dan masif.

Beberapa penyebab rendahnya kualitas produksi kakao di tingkat petani antara lain;

·             Sebagian petani kakao enggan melakukan proses fermentasi dalam pengolahannya untuk menghasilkan biji kakao yang berkualitas dan masih banyak yang asal saja dalam melakukan prosesing sehingga kebanyakan kakao yang dihasilkan adalah kakao asalan, bukan berupa kakao fermentasi.

·         Kebiasaan menjemur di aspal, maupun dimana saja dapat menjemur dan belum terbiasa menggunakan solar dryer menjadi salah satu penyebab kualitas kakao kita menurun kualitasnya selain tentunya karena serangan hama dan penyakit. Untuk menjaga maupun meningkatkan kualitas maka koperasi sebagai pemasar kakao perlu membangun Unit Pengolahan Hasil (UPH)kakao skala besar untuk petani dapat menjual dalam bentuk biji kakao basah sehingga keseragaman kualitas biji kakao dapat dijaga.

·         Untuk menjamin kualitas yang standar dan mampu memenuhi permintaan pasar, maka perlu dibangun ICS (Internal Control System) yakni sebuah sistem kontrol kualitas internal yang terdapat di koperasi untuk memastikan sejak dari hulu,prosesing maupun hilir semuanya dilakukan berdasar SOP yang ada dan kedepan dengan adanya ICS mempermudah petani untuk melakukan sertifikasi karena tersedianya pasar kakao bersertifikat.

Penerapan budidaya kakao yang baik, penggunaan kakao klon unggul, prosesing yang baik selain mampu meningkatkan produksi dan kualitas, yang tak kalah penting adalah adanya jaminan keberlangsungan pasokan kakao sehingga petani mampu memenuhi permintaan pasar terkait 3 K (Kuantitas, Kualitas dan Keberlanjutan/Kontinyuitas) untuk terus memperoleh kepercayaan dalam berbisnis kakao.

Penguatan HILIR melalui Pemasaran bersama komoditi kakao oleh  koperasi untuk posisi tawar yang lebih baik

Dalam upaya meningkatkan pendapatan/income petani secara berkelanjutan selain melalui melalui strategi peningkatan produksi ,kualitas dan menjamin keberlanjutan produksi kakao, strategi lainnya melalui peningkatan posisi tawar petani sehingga memperoleh harga yang lebih baik.

Peningkatan posisi tawar petani dalam rantai nilai kakao dilakukan melalui  pemasaran bersama komoditi kakao lewat koperasi. Namun yang perlu diperhatikan adalah koperasi mendapatkan mitra bisnis yakni pembeli besar/eksportir yang mampu memberi harga yang lebih baik dari pedagang lokal. Selain itu, koperasi perlu memperhatikan mitra bisnis yang tidak hanya sekedar membeli atau hanya berperan sebagai trader saja tetapi yang juga mau peduli pada peningkatan kapasitas petani kakao sebagai produsen kecil (small producer) penghasil kakao seperti memfasilitasi penyediaan bibit klon unggul, pelatihan teknis di kebun petani untuk budidaya kakao yang baik, pelatihan prosesing (fermentasi) sesuai standar kualitas yang diterapkan, penjualan alat alat pertanian untuk budidaya kakao (gunting pangkas, pisau, plastik UV dll), memberi informasi harga harian, membeli kakao dengan harga yang lebih baik dst.

Selain memperoleh mitra bisnis yang inklusip yang mau peduli pada petani kakao, yang tak kalah pentingnya adalah kesiapan koperasi itu sendiri sebagai organisasi bisnis petani yang berperan melakukan pemasaran bersama komoditi kakao sehingga mampu memperoleh harga yang lebih baik.

Ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam membangun koperasi untuk melakukan pemasaran bersama kakao  di tingkat petani antara lain;

v    Wawasan dan jiwa bisnis para pengurus maupun petani anggota masih perlu ditingkatkan.

v         Kemampuan manajemen bisnis para pengurus seperti menyiapkan perencanaan strategis, perencanaan bisnis, kemampuan dalam mengambil keputusan bisnis yang tepat dan cepat, pembuatan laporan perkembangan bisnis yang dijalankan koperasi (termasuk neraca laba-rugi) perlu terus ditingkatkan.

v           Modal untuk pembelian komoditi kakao masih terbatas karena terbatasnya jumlah anggota koperasi dan kemampuan dalam mengakses dana kredit dari lembaga keuangan baik perbankan maupun non perbankan sehingga arus kas (cash flow) juga terkendala dalam melakukan pembelian untuk memenuhi volume pemasaran bersama karena petani anggota membutuhkan uang tunai secara cepat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Volume pembelian kakao yang terbatas juga disebabkan sebagian petani telah terjerat ijon sehingga harus menjual kepada pengijon meski harganya lebih rendah.

v     Sistem manajemen koperasi yang transparan, akuntabel belum terbangun dengan baik sehingga jika tak hati hati dalam mengelola keuangan koperasi tanpa dilandasi rasa saling percaya, mengembangkan sistem kontrol yang kuat serta kejujuran para pengelolanya  maka yang akan terjadi adalah penyalahgunaan dana/keuangan  yang berakibat hancurnya rasa saling percaya yang sedang dalam proses terbangun.

v      Koperasi masih memiliki keterbatasan dalam membangun jaringan kerja dengan para-pihak (stakeholder).

Dalam membangun koperasi petani yang kuat untuk pemasaran bersama kakao , peran para-pihak (stake-holder) sangat penting dan selain itu koperasi petani mau tak mau harus memiliki kerja sama dengan para  penyedia layanan jasa untuk pengembangan bisnis koperasinya (Bussines Development Services/BDS) sehingga mampu meningkatkan kapasitas koperasi secara cepat dan sistematis.

Sudah saatnya para petani kakao kita beralih dari profesi sebagai petani yang seadanya menjadi petani profesional yang unggul , mampu memanfaatkan teknologi yang ada sekaligus sebagai pemain bisnis yang handal di bidang komoditi kakao dalam memasuki era pasar modern yang iklusip dan penuh persaingan yang ketat dengan produsen kakao dari negara penghasil kakao lainnya.

Entry filed under: Petani "mengakses pasar". Tags: .

Dicari, PRESIDEN Republik Indonesia yang merakyat, nasionalis dan visioner PEMILU, Antara JANJI – JANJI & ILUSI ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Maret 2014
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Tamu Adikarsa

  • 49,101 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: