Beberapa permasalahan ditingkat petani dalam pengembangan program Rantai Pertanian Berkelanjutan (PB) yang mampu mendukung terciptanya keadilan dan perdamaian, siapa yang mau peduli?

Maret 19, 2014 at 2:39 pm Tinggalkan komentar

Dalam pengembangan dan pelaksanaan Program Rantai Pertanian Berkelanjutan tidak akan berkontribusi dalam mewujudkan rasa keadilan dan perdamaian bagi petani ketika petani sebagai peserta program rantai PB ada yang menjadi tuan tanah dengan luasan lahan yang sangat luas namun sementara sebagian besar petani peserta program lainnya hanya menjadi penggarap.

Maka menjadi tanggung jawab Pemkab, dan LSM Mitra dan pihak lain yang peduli untuk duduk bersama dengan tuan tanah dan penggarap membicarakan tentang status kepemilikan lahan, atau bahkan jika memerlukan reforma agraria/land reform maka Pemkab harus dapat menyediakan sejumlah dana APBD untuk penggantian pembelian tanah dari tuan tanah yang sangat luas lahannya dan dibagikan secara merata kepada petani penggarap sebelum program rantai PB dimulai sehingga tidak akan menimbulkan konflik dikemudian hari serta mampu mewujudkan keadilan bagi petani.

Pentingnya pelestarian lingkungan hidup dan keswadayaan petani dalam penyediaan input pertanian secara lokal.

Program Rantai Pertanian Berkelanjutan tidak akan berkelanjutan ketika kita melupakan pelestarian lingkungan hidup, karena manusia/petani sangat bergantung pada daya dukung dari lingkungan hidupnya dan kita sebenarnya juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari alam.

Perusakan dan pencemaran lingkungan hidup akibat ketidaktahuan petani maupun karena pengenalan program yang menganjurkan masukan energi dan teknologi tinggi seperti pestisida pabrik , pupuk buatan, mesin traktor, benih hibrida maupun benih transgenik dll selain menyebabkan ketergantungan petani yang lebih tinggi terhadap pihak luar, juga akan sangat membahayakan kelestarian lingkungan hidup baik bagi binatang, tumbuh-tumbuhan maupun petani  itu sendiri.

            Perladangan berpindah dan tebas bakar dengan rotasi yang semakin pendek atau bahkan tidak lagi pernah berpindah, telah menimbulkan masalah penurunan kesuburan tanah yang menyebabkan produksi terus menurun dimana sampai suatu saat tidak lagi mampu berproduksi.  Maka mewariskan lahan yang rusak karena erosi yang tidak mampu lagi mendukung kehidupan manusia kepada generasi penerus akan menimbulkan perasaan berdosa bagi generasi saat ini karena telah mewariskan setumpuk permasalahan yang dapat menyebabkan ketidak-damaian pada generasi penerus serta menyengsarakan hidupnya karena daya dukung lahan menjadi tidak mampu untuk menghasilkan untuk memenuhi bahan pangan dan kebutuhan lainnya.

Mengembangkan pertanian selaras alam/lestari/organik seharunya menjadi fokus dalam pembangunan pertanian bangsa kita. Meski sudah dicanangkan untuk “Go Organic” pada 2010, namun kenyatan di lapangan sangatlah berbeda.

Pengembangan pertanian yang mendasarkan pada revolusi hijau dengan masukan/input eksternal yang tinggi perlu ditinjau ulang dalam mencapai swasembada pangan nasional.

Pengembangan LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) sebaiknya didukung dengan kebijakan pemerintah untuk memberikan subsidi dalam pembuatan pupuk organik di tingkat petani, penggunaan dan pengembangan benih lokal unggul yang dilakukan sendiri oleh petani, pengembangan diversifikasi dalam pola tanam, pengembangan ternak sebagai salah satu mata rantai dalam rantai usaha tani berkelanjutan (untuk mendukung keterdiaan pupuk organik, pemanfaatan limbah hijauan pakan ternak serta ketersediaan daging bagi masyarakat) sebagai sebuah siklus yang berkelanjutan dalam mata rantai pengembangan usaha pertanian.

 Pestisida pabrikan selain menguntungkan karena mampu mengendalikan hama (dalam jangka pendek), namun yang tak kalah penting harus diwaspadai akan bahaya yang ditimbulkan akibat salah menggunakan, ketidak hati-hatian, maupun karena bahan aktif yang digunakan sangat beracun dan berbahaya bagi kelestarian karena dapat mencemari lingkungan.

Pupuk buatan, selain memerlukan dana/ biaya untuk membeli, juga membutuhkan bahan bakar untuk memproduksi maupun mendistribusikan sampai pada tingkat petani. Bahan bakar yang digunakan adalah BBM yang tidak terbarukan karena berasal dari fosil. Peningkatan penggunaan pupuk pabrikan dengan sendirinya juga akan meningkatkan penggunaan bahan bakar minyak yang tak terbarukan yang berarti boros energi dan menimbulkan pencemaran dari asap yang dihasilkan pabrik maupun angkutan dalam pendistribusiannya (mobil, kapal dll).

Selain itu, banyak keluhan petani ketika menggunakan pupuk buatan secara terus menerus dan dalam jumlah banyak, maka kondisi tanah menjadi kurang baik karena menjadi keras (bantat) dan sulit diolah.

Mesin pertanian seperti traktor, selain membutuhkan BBM, juga membutuhkan olie yang dapat mencemari lingkungan. Belum lagi kalau ada kerusakan, maka petani tidak mempunyai kemampuan untuk membeli maupun membuat suku cadang dan juga kadang-kadang tidak mampu memperbaiki apabila kerusakannya berat. Maka asset yang telah dibeli dengan susah payah karena harganya cukup tinggi akan menjadi barang rongsokan berupa besi tua yang menumpuk menjadi monumen dari sebuah kenyataan ketakberdayaan petani terhadap teknologi tinggi.

Benih hibrida maupun transgenik menyebabkan petani  selalu bergantung pada pihak luar karena tidak lagi mampu menyediakan benih secara mandiri, padahal ketika petani masih menggunakan benih lokal unggul, petani selalu mampu menyiapkan benih untuk musim tanam  berikutnya.  Ketergantungan pada perusahaan penyedia benih menjadikan ketidakadilan bagi petani ketika petani tidak diajak untuk berhitung mengenai harga sebuah benih, biaya yang dibutuhkan dalam memproduksi benih, berapa margin keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan penyedia benih tersebut, apa jaminan asuransi/ perlindungan terhadap para petani apabila mereka dirugikan  akibat dari penggunaan benih tersebut.

Pentingnya melakukan konservasi tanah dan air juga merupakan salah satu yang perlu diperhatikan dalam pengembangan Program Pertanian Berkelanjutan (PB). Melupakan kegiatan konservasi tanaha dan air terutama di daerah berlereng/miring akan menjadi fatal akibatnya bagi keberlanjutan usaha tani karena kesuburan lahan yang terus memnurun. Membiarkan lahan rusak karena tidak ada kegiatan pengawetan tanah dan air maupun karena lahan dikuras dengan tanaman monokultur yang rakus unsur hara seperti menanam ubi kayu secara terus menerus berarti membiarkan ketidakadilan terus berlangsung.

 Terbatasnya infastruktur yang mendukung bisnis petani

Kita semua telah mengetahui bahwa ketimpangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan pedesaan  sudah berlangsung lama dan menjadi persoalan klasik. Untuk pengembangan program Pertanian Berkelanjutan yang adil dan mendukung perdamaian, maka kebijakan pemerintah untuk pembangunan infrastruktur yang mendukung bisnis pertanian di pedesaan mutlak dilakukan, tidak cukup hanya menyediakan permodalan seperti dalam program PUAP (Pengembangan Usaha Agrobisnis Pedesaan). Dibangun dan tersedianya jalan usaha tani yang memudahkan petani mengangkut hasilnya, pembangunan jalan antar desa yang mulus menuju kota juga penting untuk menekan biaya transportasi dan menghemat waktu sehingga produk pertanian tidak rusak di perjalanan, tersedianya jaringan irigasi, waduk, embung dll yang memadai untuk menjamin pasokan air untuk kerbelanjutan usaha taninya, ketersediaan jaringan listrik yang mendukung dalam pengolahan lanjut komoditi pertanian dan juga jaringan komunikasi untuk memudahkan memperoleh akses informasi harga maupun dalam melakukan transaksi bisnis usaha taninya.

Pemasaran Bersama melalui Koperasi untuk mengatasi permainan harga

Membiarkan harga produk pertanian sangat rendah sementara para pedagang pengumpul hasil pertanian memperoleh keuntungan yang sangat besar berarti membiarkan penindasan dan ketidakadilan yang jelas jelas tidak mendukung perdamaian  karena petani telah bekerja keras dan susah payah dalam berusaha namun tetap saja mendapatkan penghasilan yang rendah akibat rendahnya posisi tawar petani karena ketidaktahuan informasi harga diluar desanya serta kebutuhan yang mendesak untuk didanai sehingga terjerat sistem ijon, sementara para pedagang yang dapat mengakses informasi harga secara cepat dan tepat akan memperoleh keuntungan yang besar.

Selain itu pemilik pabrik pengolah komoditi pertanian juga mengambil keuntungan yang besar dari nilai tambah pengolahan yang dilakukan. Membiarkan harga produk pertanian rendah dibanding harga hasil industri sebenarnya juga bentuk sebuah ketidakadilan. Petani yang kritis akan mempertanyakan mengapa harga jual produk pertaniannya selalu rendah ? Siapa yang salah dalam hal ini ? Dan ketika petani melihat pohon kakao, cengkeh, jeruk atau kopinya tidak lagi mampu memberi pendapatan yang cukup, maka mereka tidak ragu-ragu untuk menebang habis pohonnya, meskipun kehadiran tegakan pohon tersebut sangat bermanfaat dalam mengurangi laju erosi dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Program Pertanian Berkelanjutan dapat berperan dalam menciptakan keadilan ketika petani dianjurkan untuk tidak hanya menanam tanaman umur panjang berorientasi ekspor yang sejenis/mono kultur  namun menganjurkan pada para petani untuk melakukan penanaman komoditi secara beragam/diversifikasi, sehingga ketika terjadi fluktuasi harga untuk jenis komoditi tertentu, maka komoditas lainnya masih mempunyai harga yang layak sehingga gejolak turunnya pendapatan dapat dikurangi. Demikian pula ketika terjadi peningkatan serangan hama penyakit akibat adanya pemanasan global dan perubahan iklim, maka diversifikasi diharapkan dapat mengurangi resiko kegagalan panen.

Alangkah lebih baik apabila LSM dan para pihak juga dapat membantu menciptakan pasar yang adil (fair trade) dan inklusip. Petani dapat diajak untuk melakukan pemasaran bersama melalui koperasi yang dikelola oleh petani sendiri, LSM sebagai penyedia layanan jasa (services provider) dalam pengembangan bisnis maupun para-pihak (stake holder) dapat menghubungi mitra  dari kalangan bisnis untuk membicarakan bersama bagimana menciptakan perdagangan yang adil dan inklusip. LSM dapat menjadi semacam wasit dan fasilitator untuk sebuah perdagangan yang adil. LSM juga dapat meningkatkan kapasitas masyarakat petani dalam berwirausaha melalui peningkatan jiwa wirausaha, penguatan kapasitas manajemen bisnis dalam bentuk koperasi untuk pemasaran bersama, pelatihan teknis, juga mengajak petani untuk mulai mengatur perekonomian keluarga sehingga ada kelebihan dana yang dapat ditabung atau dijadikan asset dan modal  untuk memperkuat permodalan koperasi dsb.

Saatnya para-pihak (multi stake-holder) untuk mau peduli dan berbagi peran dalam membantu para petani mengatasi permasalahan yang dihadapinya jika Indonesia ingin keluar dari kecanduan melakukan impor hasil pertanian dan mewujudkan bukan hanya ketahanan pangan nasional , namun yang lebih penting adalah mewujudkan kedaulatan pangan nasional sebagai bagian dari menjaga kedaulatan negara kita tercinta.

Iklan

Entry filed under: Ekonomi Rakyat.

Panganku sehat, sehat hidupku, kuat pula negeriku Rencana Jokowi Tak Bagi-bagi Kursi Sulit Diterima Parpol (kompas.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Maret 2014
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Tamu Adikarsa

  • 53,619 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tidak ada

%d blogger menyukai ini: