Posts filed under ‘Ekonomi Rakyat’

Beberapa permasalahan ditingkat petani dalam pengembangan program Rantai Pertanian Berkelanjutan (PB) yang mampu mendukung terciptanya keadilan dan perdamaian, siapa yang mau peduli?

Dalam pengembangan dan pelaksanaan Program Rantai Pertanian Berkelanjutan tidak akan berkontribusi dalam mewujudkan rasa keadilan dan perdamaian bagi petani ketika petani sebagai peserta program rantai PB ada yang menjadi tuan tanah dengan luasan lahan yang sangat luas namun sementara sebagian besar petani peserta program lainnya hanya menjadi penggarap.

Maka menjadi tanggung jawab Pemkab, dan LSM Mitra dan pihak lain yang peduli untuk duduk bersama dengan tuan tanah dan penggarap membicarakan tentang status kepemilikan lahan, atau bahkan jika memerlukan reforma agraria/land reform maka Pemkab harus dapat menyediakan sejumlah dana APBD untuk penggantian pembelian tanah dari tuan tanah yang sangat luas lahannya dan dibagikan secara merata kepada petani penggarap sebelum program rantai PB dimulai sehingga tidak akan menimbulkan konflik dikemudian hari serta mampu mewujudkan keadilan bagi petani.

Pentingnya pelestarian lingkungan hidup dan keswadayaan petani dalam penyediaan input pertanian secara lokal.

Program Rantai Pertanian Berkelanjutan tidak akan berkelanjutan ketika kita melupakan pelestarian lingkungan hidup, karena manusia/petani sangat bergantung pada daya dukung dari lingkungan hidupnya dan kita sebenarnya juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari alam.

Perusakan dan pencemaran lingkungan hidup akibat ketidaktahuan petani maupun karena pengenalan program yang menganjurkan masukan energi dan teknologi tinggi seperti pestisida pabrik , pupuk buatan, mesin traktor, benih hibrida maupun benih transgenik dll selain menyebabkan ketergantungan petani yang lebih tinggi terhadap pihak luar, juga akan sangat membahayakan kelestarian lingkungan hidup baik bagi binatang, tumbuh-tumbuhan maupun petani  itu sendiri.

            Perladangan berpindah dan tebas bakar dengan rotasi yang semakin pendek atau bahkan tidak lagi pernah berpindah, telah menimbulkan masalah penurunan kesuburan tanah yang menyebabkan produksi terus menurun dimana sampai suatu saat tidak lagi mampu berproduksi.  Maka mewariskan lahan yang rusak karena erosi yang tidak mampu lagi mendukung kehidupan manusia kepada generasi penerus akan menimbulkan perasaan berdosa bagi generasi saat ini karena telah mewariskan setumpuk permasalahan yang dapat menyebabkan ketidak-damaian pada generasi penerus serta menyengsarakan hidupnya karena daya dukung lahan menjadi tidak mampu untuk menghasilkan untuk memenuhi bahan pangan dan kebutuhan lainnya.

Mengembangkan pertanian selaras alam/lestari/organik seharunya menjadi fokus dalam pembangunan pertanian bangsa kita. Meski sudah dicanangkan untuk “Go Organic” pada 2010, namun kenyatan di lapangan sangatlah berbeda.

Pengembangan pertanian yang mendasarkan pada revolusi hijau dengan masukan/input eksternal yang tinggi perlu ditinjau ulang dalam mencapai swasembada pangan nasional.

Pengembangan LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) sebaiknya didukung dengan kebijakan pemerintah untuk memberikan subsidi dalam pembuatan pupuk organik di tingkat petani, penggunaan dan pengembangan benih lokal unggul yang dilakukan sendiri oleh petani, pengembangan diversifikasi dalam pola tanam, pengembangan ternak sebagai salah satu mata rantai dalam rantai usaha tani berkelanjutan (untuk mendukung keterdiaan pupuk organik, pemanfaatan limbah hijauan pakan ternak serta ketersediaan daging bagi masyarakat) sebagai sebuah siklus yang berkelanjutan dalam mata rantai pengembangan usaha pertanian.

 Pestisida pabrikan selain menguntungkan karena mampu mengendalikan hama (dalam jangka pendek), namun yang tak kalah penting harus diwaspadai akan bahaya yang ditimbulkan akibat salah menggunakan, ketidak hati-hatian, maupun karena bahan aktif yang digunakan sangat beracun dan berbahaya bagi kelestarian karena dapat mencemari lingkungan.

Pupuk buatan, selain memerlukan dana/ biaya untuk membeli, juga membutuhkan bahan bakar untuk memproduksi maupun mendistribusikan sampai pada tingkat petani. Bahan bakar yang digunakan adalah BBM yang tidak terbarukan karena berasal dari fosil. Peningkatan penggunaan pupuk pabrikan dengan sendirinya juga akan meningkatkan penggunaan bahan bakar minyak yang tak terbarukan yang berarti boros energi dan menimbulkan pencemaran dari asap yang dihasilkan pabrik maupun angkutan dalam pendistribusiannya (mobil, kapal dll).

Selain itu, banyak keluhan petani ketika menggunakan pupuk buatan secara terus menerus dan dalam jumlah banyak, maka kondisi tanah menjadi kurang baik karena menjadi keras (bantat) dan sulit diolah.

Mesin pertanian seperti traktor, selain membutuhkan BBM, juga membutuhkan olie yang dapat mencemari lingkungan. Belum lagi kalau ada kerusakan, maka petani tidak mempunyai kemampuan untuk membeli maupun membuat suku cadang dan juga kadang-kadang tidak mampu memperbaiki apabila kerusakannya berat. Maka asset yang telah dibeli dengan susah payah karena harganya cukup tinggi akan menjadi barang rongsokan berupa besi tua yang menumpuk menjadi monumen dari sebuah kenyataan ketakberdayaan petani terhadap teknologi tinggi.

Benih hibrida maupun transgenik menyebabkan petani  selalu bergantung pada pihak luar karena tidak lagi mampu menyediakan benih secara mandiri, padahal ketika petani masih menggunakan benih lokal unggul, petani selalu mampu menyiapkan benih untuk musim tanam  berikutnya.  Ketergantungan pada perusahaan penyedia benih menjadikan ketidakadilan bagi petani ketika petani tidak diajak untuk berhitung mengenai harga sebuah benih, biaya yang dibutuhkan dalam memproduksi benih, berapa margin keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan penyedia benih tersebut, apa jaminan asuransi/ perlindungan terhadap para petani apabila mereka dirugikan  akibat dari penggunaan benih tersebut.

Pentingnya melakukan konservasi tanah dan air juga merupakan salah satu yang perlu diperhatikan dalam pengembangan Program Pertanian Berkelanjutan (PB). Melupakan kegiatan konservasi tanaha dan air terutama di daerah berlereng/miring akan menjadi fatal akibatnya bagi keberlanjutan usaha tani karena kesuburan lahan yang terus memnurun. Membiarkan lahan rusak karena tidak ada kegiatan pengawetan tanah dan air maupun karena lahan dikuras dengan tanaman monokultur yang rakus unsur hara seperti menanam ubi kayu secara terus menerus berarti membiarkan ketidakadilan terus berlangsung.

 Terbatasnya infastruktur yang mendukung bisnis petani

Kita semua telah mengetahui bahwa ketimpangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan pedesaan  sudah berlangsung lama dan menjadi persoalan klasik. Untuk pengembangan program Pertanian Berkelanjutan yang adil dan mendukung perdamaian, maka kebijakan pemerintah untuk pembangunan infrastruktur yang mendukung bisnis pertanian di pedesaan mutlak dilakukan, tidak cukup hanya menyediakan permodalan seperti dalam program PUAP (Pengembangan Usaha Agrobisnis Pedesaan). Dibangun dan tersedianya jalan usaha tani yang memudahkan petani mengangkut hasilnya, pembangunan jalan antar desa yang mulus menuju kota juga penting untuk menekan biaya transportasi dan menghemat waktu sehingga produk pertanian tidak rusak di perjalanan, tersedianya jaringan irigasi, waduk, embung dll yang memadai untuk menjamin pasokan air untuk kerbelanjutan usaha taninya, ketersediaan jaringan listrik yang mendukung dalam pengolahan lanjut komoditi pertanian dan juga jaringan komunikasi untuk memudahkan memperoleh akses informasi harga maupun dalam melakukan transaksi bisnis usaha taninya.

Pemasaran Bersama melalui Koperasi untuk mengatasi permainan harga

Membiarkan harga produk pertanian sangat rendah sementara para pedagang pengumpul hasil pertanian memperoleh keuntungan yang sangat besar berarti membiarkan penindasan dan ketidakadilan yang jelas jelas tidak mendukung perdamaian  karena petani telah bekerja keras dan susah payah dalam berusaha namun tetap saja mendapatkan penghasilan yang rendah akibat rendahnya posisi tawar petani karena ketidaktahuan informasi harga diluar desanya serta kebutuhan yang mendesak untuk didanai sehingga terjerat sistem ijon, sementara para pedagang yang dapat mengakses informasi harga secara cepat dan tepat akan memperoleh keuntungan yang besar. (lebih…)

Iklan

Maret 19, 2014 at 2:39 pm Tinggalkan komentar

Adat tetap lestari, namun tidak perlu pesta pora berlebihan sehingga tidak membebani.

Salah satu hasil pengamatan secara sederhana dan sepintas selama menfasilitasi pengembangan dan pemberdayaan masyarakat selama puluhan tahun terutama di pedesaan Indonesia Timur adalah mengenai kebiasaan yang ada dikalangan masyarakat yang dianggap biasa namun sebenarnya perlu dikoreksi yakni kebiasaan pesta pora atas nama adat/budaya, sementara dalam kenyataan di  masyarakat pedesaan masih banyak ditemui keluarga miskin yang tak memperoleh akses pada air bersih, tak mampu menyekolahkan anaknya, masih hidup dalam jeratan hutang berkelanjutan dengan bunga tinggi oleh rentenir.

Kemiskinan yang melingkar lingkar seolah tak berujung, salah satu penyebabnya adalah kebiasaan berpesta pora melebihi kekuatannya karena terkait masalah harga diri yang berlebihan dimana keluarga yang satu tidak mau kalah dengan keluarga lainnya ketika menyelenggrakan pesta. Perlombaan pesta yang tak ada ujung dan pemenangnya telah secara masal dan sistemik mampu menguras asset atau kekayaan masyarakat desa sehingga wajar jika meski begitu banyak dan gencar bantuan dari pihak luar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa namun seolah bantuan tersebut menguap tak berbekas.

Bahkan ketika menyelenggarakan pesta, mereka masyarakat desa tidak segan untuk menjual asetnya dengan harga murah atau bahkan berhutang dengan bunga yang tinggi.

Perlu ada keberanian dari para tokoh adat atau budaya dan tokoh masyarakat lainnya bersama pemerintah daerah  untuk memikirkan dan melakukan reorientasi agar perayaan pesta atas nama adat tidak perlu membebani karena adat sesungguhnya adalah asset yang dimiliki masyarakat yang harus tetap dijaga agar  mampu menjaga soliditas, membangun solidaritas dan menjaga serta meningkatkan peradaban menjadi lebih berharkat dan bermartabat.

Masyarakat kita memang banyak yang telah bebas dari buta aksara/buta huruf, namun masih banyak yang mengalami buta finansial karena tidak pernah belajar untuk meningkatkan kecerdasan finasial/keuangan keluarganya. Meski saat di bangku sekolah kita selalu diajarkan peribahasa “Hemat pangkal kaya”, namun dalam kenyataan perilaku hemat belum menjadi perilaku keseharian. Era Orde Baru, pemerintah telah mencanangkan Gerakan Hidup Hemat untuk mengencangkan ikat pinggang, namun ternyata tidak berkelanjutan. Contoh lainnya yang paling nyata adalah perilaku korup yang ditunjukkan para koruptor yang rakus akan harta telah menjauhkan sikap hidup hemat karena suka melakukan mark-up, selain itu mereka para koruptor juga mengambil dana dari yang bukan haknya sehingga meski mereka menjadi kaya namun diperoleh dengan cara yang salah dan tak bermartabat. Menjadi kaya memang tidak salah, namun harus dimulai dengan sikap hemat, tidak berpesta pora yang melebihi kekuatan kita, membangun asset/kekayaan melalui hidup hemat menyisihkan sebagian pendapatan kita untuk menambah aset sebelum digunakan untuk memenuhi kebutukan keluarga , berbisnis, dan berinvestasi.

Kebiasaan menabung sejak dari kecil perlu digalakkan kembali, jiwa bisnis harus ditanamkan sejak usia dini sehingga semakin banyak yang menjadi pembisnis yang memeperkuat perekonomian nasional kita dan mampu menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang. Kebiasaan berinvestasi dalam bentuk menanam pohon atau tanaman kayu tahunan perlu terus dilakukan karena selain meningkatkan asset kita, juga mampu mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim serta menjaga kelestarian lingkungan kita, demikian pula investasi melalui pembelian saham, reksa dana ataupun unit link di asuransi  menjadikan masyarakat kita sebagai investor yang mana dana yang terkumpul dapat menjadi modal usaha, asal jangan terjebak dalam “investasi bodong” yang penuh tipuan yang menjanjikan return yang tinggi namun tidak masuk akal. Kecerdasan finansial harus diajarkan di sekolah, jiwa bisnis harus terus dipupuk sehingga tidak banyak lagi sarjana yang tertarik menjadi PNS sehingga beban keuangan negara juga semakin berkurang dan perekonomian nasional menjadi lebih meningkat.

Kita juga bisa belajar hidup hemat dari komunitas agama tertentu dimana ketika mengalami musibah kematian, tidak lagi perlu menyiapkan makan, cukup hanya dengan air mineral gelas dan permen, sehingga keluarga yang berduka tidak perlu menyiapkan dana dalam jumlah besar, tidak ada lagi sembahyang yang harus menyiapkan makan dst. Demikian pula kebiasaan kenduri atau sembahyangan tidak lagi perlu membawa pulang makanan yang telah diolah dan siap saji, namun cukup membawa pulang dalam bentuk sembako sehingga tidak mubazir dan dapat dimasak kapan saja sesuai kebutuhan.

Saatnya bangsa kita berani keluar dari kebiasaan pesta pora yang berlebihan atas nama adat/budaya dan saatnya berani melakukan reorientasi agar berperilaku hidup hemat sehingga bangsa kita tidak terus terjerumus dalam hutang luar negeri berkelanjutan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kita harus berani belajar dari bangsa lain terutama bangsa Jepang dan Korea Selatan dimana meski telah menjadi bangsa yang kaya dan menguasai teknologi tinggi namun kebiasaan hidup hemat terus menjadi kebiasaan sehingga mereka menjadi negara yang mampu memberi pinjaman ke negara lain seperti negeri kita yang masih terus terperangkap dan terjebak untuk membayar hutang beserta bunganya. Salam hidup hemat untuk mandiri/berdikari.

Oktober 28, 2013 at 4:26 am Tinggalkan komentar

Meningkatkan kecerdasan finansial masyarakat, sebuah keharusan ?

Berita terkini terkait penipuan investasi bodong yang mengorbankan ribuan warga masyarakat terus diwartakan baik melalui media cetak maupun TV, namun tak lama kemudian hilang dari peredaran karena tergeser isu lainnya yang lebih menarik seperti kasus politik dan kecelakaan bus yang hanya dalam hitungan minggu sudah merenggut nyawa  40 orang.

Kerugian yang diderita akibat investasi bodong juga tidak tanggung tanggung seperti Koperasi Langit Biru yang nilainya  mencapai 6 trilyun rupiah, nominal yang nilainya hampir sama dengan kasus Bank Century, namun sayangnya tidak pernah menjadi keprihatinan wakil rakyat yang ada di Senayan dan seharusnya pihak kepolisian harus bertindak cepat dan bahkan sebaiknya melakukan tindakan preventip terhadap kejahatan ekonomi yang tak kalah sadisnya dengan kasus korupsi yang dilakukan oleh para koruptor yang berasal dari kalangan partai politik besar yang mengklaim ingin mensejahterakan rakyat yang diwakilinya.

Banyaknya kasus penipuan dengan model arisan, money game dan investasi bodong yang merugikan banyak sekali warga seharusnya  tidak perlu terjadi berulangkali seandainya masyarakat melek finansial dan mempunyai pengetahuan yang cukup tentang perencanaan keuangan yang didalamnya juga termasuk bagaimana mengelola asset/kekayaannya dengan aman namun tetap bertumbuh salah satu cara melalui investasi yang aman.

Terbatasnya kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangannya tidak terlepas dari terbatasnya akses informasi menyangkut pengelolaan keuangan untuk kalangan masyarakat bawah, karena sebenarnya untuk warga yang mampu mengases informasi dari internet sudah banyak tersedia informasi terkait hal tersebut dan banyak milis keuangan yang membahas berbagai strategi dalam mengelola asetnya dan bagaimana merencanakan keuangan keluarga secara baik. Disamping itu banyak milis yang dapat meningkatkan pengetahuan kita mengenai investasi yang aman melalui bermain saham ,reksadana, investasi berupa emas,  pentingnya memiliki asuransi,  bagaimana memulai sebuah usaha yang prospek kedepannya cerah, bagaimana memiliki dana darurat, dan bagaimana untuk tidak terjebak dalam penggunaan kartu kredit dll.

Selain meningkatkan kecerdasan finansial dikalangan masyarakat bawah yang cenderung hidup boros meski penghasilannya relatip kecil sehingga wajar jika terjebak ijon dan rentenir, yang perlu dilakukan oleh DPR adalah bagaimana melindungi warga negara dari praktek investasi bodong maupun money game dan arisan dengan menyiapkan UU yang mampu mencegah praktek kejahatan ekonomi yang merugikan banyak warga yang tidak paham dan akhirnya tertipu dalam jumlah sampai ratusan juta rupiah. Ironis memang, ketika mereka yang di DPR digaji dari uang rakyat, namun ternyata mereka tidak bereaksi cepat ketika warga yang diwakilinya mengalami kerugian yang tidak sedikit akibat kejahatan ekonomi yang memanfaatkan ketidaktahuan rakyat akan pengelolaan asset yang aman. (lebih…)

Maret 2, 2013 at 1:38 am Tinggalkan komentar

Membangun ekonomi rakyat melalui gerakan koperasi yang benar-benar merakyat (Catatan kecil ketika mendampingi mitra -organisasi petani magang di KAN JABUNG).

Merupakan sebuah peluang dan sekaligus berkah ketika boleh mengunjungi dan melakukan magang bersama teman-teman dari organisasi petani di Flores ke salah satu koperasi di Malang yakni di KAN Jabung. Meski hanya dalam waktu sebentar selama 4 hari dan pasti belum banyak yang dapat dipelajari dan belum mengetahui secara pasti kondisi senyatanya mengenai koperasi tersebut.

Namun yang menarik adalah bagaimana melihat perjalanan sebuah koperasi yang dibangun dari puing-puing kebangkrutan sebuah KUD karena salah urus oleh pengurus sebelumnya yang tidak bertanggung jawab, namun ternyata dengan tekad dan berbekal kejujuran mampu dibangkitkan kembali dalam kejayaan oleh orang muda yang idealis dan berani menerima tantangan jaman. Sungguh sulit masuk di akal, bagaimana seorang muda mau menerima tantangan untuk mengelola koperasi yang telah berhutang Rp 35 juta di tahun 1985 dengan asset hanya Rp 1,5 juta, namun kemudian mampu bangkit secara perlahan-lahan membangun kembali kepercayaan yang telah hilang meski harus melalui kunjungan dari pintu ke pintu untuk kemudian mampu melunasi kembali hutangnya dan bahkan mampu meningkatkan asset/kekayaan secara nyata dari tahun ke tahun sehingga mencapai milyaran rupiah.

Dalam berbagi pengalaman, orang muda waktu itu yang kemudian dikenal sebagai Bapak Drs. Ec A.Ali Suhadi MM yang menjadi Manajer Umum KAN Jabung menjelaskan bagaimana dengan kegigihan dan tak lupa dan tak kalah penting adalah karena pertolongan invisible hand atau tangan yang tak kelihatan yakni dari Tuhan YME, koperasi ini berhasil dibangun kembali ditengah puing reruntuhan . Semangat yang tinggi dan tekad yang kuat, disertai dengan keiklasan untuk berkorban, membantu serta melayani petani yang membutuhkan layanan koperasi untuk dapat keluar dari masalah kemiskinan telah membulatkan tekad para pengurus baru yang hanya berjumlah 5 orang  untuk berjuang bersama  dengan apa yang ada dan seadanya namun dilandasi kejujuran dan sikap amanah telah mampu mengantar koperasi ini keluar dari krisis. Keyakinan akan keberhasilan koperasi di masa yang akan datang karena didasari niat baik membantu petani tebu keluar dari jerat kemiskinan serta komitmen dan ketulusan untuk berbuat baik bagi banyak orang telah mendorong pengurus untuk bekerja keras dan cerdas, tidak cengeng maupun mengeluh, namun terus mencari solusi dan terobosan baru termasuk mendatangkan bantuan untuk pengadaan sapi perah yang dalam kondisi bunting 5 bulan sebanyak 470 ekor untuk dibagikan pada anggota sebagai bagian strategi meningkatkan pendapatan melalui produk susu sapi.

Yang pantas diacungi jempol adalah kebersamaan yang terus dibangun sesuai dengan tiga pilar koperasi yakni ; “Usaha yang sehat, organisasi yang kuat dan partisipasi  anggota” benar-benar diterapkan dan tidak mau menjadikan koperasi hanya untuk melayani kepentingan segelintir pengurus, namun harus sesuai dengan roh koperasi yakni melayani anggota dalam rangka membangun kesejahteraan bersama, bukan hanya sekedar membagi SHU. Meski telah berkembang pesat menjadi seperti konglomerasi mengingat banyaknya layanan bisnis yang digeluti , namun spirit berkoperasi tidak pernah pudar, partisipasi dan suara anggota tetap didengar meski dengan menggunakan system perwakilan mengingat jumlah anggota yang semakin banyak dan sebaran serta luas daerah layanan yang semakin meluas.

Nilai-nilai dasar koperasi yang meliputi ; Menolong diri sendiri (Self help), Tanggung jawab sendiri (Self responsibility), Demokrasi (Democracy), Persamaan (Equality), Keadilan (Equity) dan Kesetiakawanan (Solidarity) terus dipegang teguh dan dilaksanakan di KAN Jabung.

Demikian pula nilai etis yang meliputi ; Kejujuran (Honesty), Keterbukaan (Openess), Tanggung jawab social (Social responsibility), dan Kepedulian terhadap orang lain (Caring for others) terus menjadi siprit dalam perjalanan koperasi selama ini.

Motto yang diambil yakni “Melayani dan Memberdayakan” juga tidak terlepas dari nilai-nilai yang dianut sehingga wajar apabila KAN Jabung sangat peduli pada pemberdayaan anggotanya dan sifat pelayanan prima yang total pada anggotanya.

Perekrutan calon anggota untuk menjadi anggota semakin diperketat atas dasar pengalaman yang diperoleh selama perjalanan koperasi karena bukan kuantitas anggota yang lebih diutamakan, namun kualitas dari anggota yang harus diutamakan sehingga petani yang masuk koperasi memang benar-benar yang mau hidup untuk saling membantu, bergotong royong dan memiliki solidaritas yang kuat untuk saling membantu dan menguatkan.

Pengembangan SDM untuk keberlanjutan

Dalam kegiatan magang, yang menarik untuk dipelajari adalah bagaimana upaya serius dan terus menerus dari KAN Jabung untuk secara konsisten mengembangkan SDM-nya melalui berbagai jalan baik secara formal maupun informal (training, magang, studi banding dll). Hal ini diperkuat dengan pernyataan bahwa koperasi ini telah mempoklamirkan diri sebagai organisasi pembelajar (learning organization) dan menjadikan Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) sebagai bagian penting dari pengembangan dan kemajuan koperasi. Terbukti koperasi ini telah mengalokasikan  dana khusus untuk pendidikan anggotanya yang jumlahnya sangat memadai, serta menyediakan beasiswa bagi karyawan dan anak-anak anggota untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini dimotori dan diteladankan sendiri langsung oleh Manajer Umum Bp Ali yang melanjutkan pendidikannya sampai jenjang S2 dan saat ini sudah ada 6 orang pengurus dan karyawan yang S2, dan puluhan yang berpendidikan S1.

Selain menyediakan beasiswa, KAN Jabung juga melengkapi diri dengan perpustakaan untuk pusat pembelajaran dengan menyediakan informasi terkait pengembangan bisnis, pengorganisasian dan informasi lainnya yang dibutuhkan. Pengembangan SDM tidak hanya dari sisi intelektualitas, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah pengembangan integritas pribadi pengurus dan karyawan  melalui kegiatan kerohanian seperti pengajian bersama, sholat berjamaah, tauziah, mengikuti training ESQ.

Sebagai koperasi yang tidak melupakan fungsi sosialnya, KAN Jabung juga melaksanakan CSR (Cooperative Social Responsibility) berupa kegiatan sosial kemasyarakatan seperti mengadakan khitanan massal, penyembelihan hewan qurban, sumbangan pembangunan desa, masjid dan musholla, sumbangan hari besar nasional dan keagamaan, sumbangan untuk bencana alam, sumbangan untuk pembangunan prasarana dan sarana umum, sumbangan untuk panti asuhan, sumbangan untuk sarana pendidikan, penyediaan mobil ambulan untuk masyarakat dll.

Pengembangan dan penguatan system koperasi

Selain pengembangan SDM untuk keberlanjutan,KAN Jabung juga melakukan pengembangan dan penguatan system di segala lini organisasi koperasi dengan jalan menerapkan manajemen modern untuk memastikan semua mekanisme berjalan dan memastikan tidak ada lagi celah dan peluang untuk penyalahgunaan kekuasaan/jabatan.

KAN Jabung sejak awal telah menetapkan visi, misi,nilai, AD/ART, struktur organisasi, dan dalam perkembangannya melengkapi diri dengan penetapan peraturan untuk karyawan, merumuskan motto, membuat Renstra, kebijakan secara tertulis, serta di tataran operasional membangun, jobdes, sisdurja (SOP) dll yang harus dipahami dan ditaati tanpa perkecualian oleh semua pengurus maupun pelaksana. Pengelolaan yang mendasarkan pada prinsip-prinsip manajemen modern dan pengkaderan yang terus dilakukan untuk memastikan pengelolaan koperasi kedepan berjalan sesuai dengan harapan tanpa ada permasalahan yang berarti yang dapat membuat kondisi koperasi menjadi mundur dan terpuruk serta untuk menjamin keberlanjutan koperasi dalam melayani anggota menuju sejahtera. Terlihat dengan strategi pengembangan SDM yang berintegritas, professional dan dengan tekad dan semangat untuk memberikan layanan terbaik bagi anggota maka diharapkan keberadaan KAN Jabung akan tetap eksis sepanjang masih dibutuhkan anggota.

Dampak berganda keberadaan koperasi

Dampak bagi masyarakat di sekitarnya juga sangat nampak, dimana perputaran roda ekonomi semakin terlihat karena banyaknya uang yang masuk dari hasil penjualan susu yang dibayarkan setiap periode tertentu (10 hari sekali). Hal ini tidak terlepas dari perjuangan KAN Jabung dalam meningkatkan produksi susu yang berkualitas melalui berbagai cara dan penyediaan sarana yang memadai untuk pengumpulan dan pengolahan susu seperti perangkat pendingin susu dan mobil tanki yang siap membawa susu segar milik petani ke pabrik. Keberadaan KAN Jabung telah memberi rasa aman peternak sapi perah karena ada jaminan pasar dengan harga yang lebih baik dan stabil tidak mengalami fluktuasi karena KAN Jabung telah mampu memangkas sehingga rantai pemasaran langsung kepada pengguna akhir (end user).

Selain itu, KAN Jabung juga melakukan pendidikan secara terus menerus mengenai perilaku hidup hemat dengan melaksanakan pelatihan pengelolaan ekonomi rumah tangga dan tidak pernah bosan selalu mengajak anggotanya untuk terus berinvestasi dengan memperbesar skala usaha di tingkat petani dalam upaya memenuhi dan meningkatkan kemampuan KAN Jabung dalam memasok susu ke pabrik di satu sisi dan meningkatkan pendapatan peternak di sisi lain.

Kekuatan lainya dari koperasi ini adalah kemampuannya membangun network atau jaringan kerja yang sangat luas dan meliputi semua para- pihak (multi stakeholder) yang terkait dengan bisnis yang digelutinya dan sudah mengantisipasi perubahan yang sangat cepat di era globalisasi . Melalui kerja sama yang saling menguntungkan, KAN Jabung terus memperkuat diri menghadapi perubahan dan pesaing dari luar dengan strategi membangun kolaborasi dan melakukan investasi yang beragam di banyak bisnis sehingga dengan melakukan diversifikasi bisnis dan investasi maka asset KAN Jabung menjadi lebih terlindungi dan mampu mengurangi resiko jika terjadi goncangan ekonomi baik di skala global, regional maupun nasional. Dsiini terlihat dengan cerdas KAN Jabung telah menerapkan manajemen resiko (risk management) dengan tidak hanya mengandalkan pada bisnis tunggal dan menjadikan dirinya sebagai investor di banyak bidang bisnis.

Menarik untuk diamati, hampir semua kebutuhan anggota dilayani oleh koperasi mulai dari pemasaran bersama susu segar, kebutuhan sembako oleh swalayan, pinjaman oleh unit simpan pinjam, BPR dan BMT, sapronak, transport, pendingin susu, material bangunan, perbaikan motor, pengembangan biogas untuk memanfaatkan kotoran sapi dll.

Koperasi ini menjadi sangat kuat karena tidak hanya menangani satu jenis usaha, namun terus merambah pada usaha lain seiring dengan kebutuhan anggota yang terus bertambah  sehingga semua perputaran uang dari pembelanjaan pendapatan anggota kembali lagi mengalir ke koperasi sebagai sebuah siklus yang berkelanjutan dan menjadi keuntungan yang kembali dibagikan pada anggota. Selain itu kekuatan koperasi ini terletak pada belasan jenis layanan pada anggota yang menyebabkan anggota merasa sangat terbantu dan terikat dengan koperasi sehingga tidak ada keingingan untuk keluar dari keanggotaan karena mendapat banyak kemudahan dengan hadirnya koperasi ini.

Inilah salah satu contoh karya nyata anak bangsa yang tanpa banyak pencitraan dan gembar gembor, namun dengan menganut filosfi padi yang semakin berisi semakin merunduk, KAN Jabung telah mampu menghadirkan diri sebagai saksi hidup bahwa pilihan Bung Hatta (sebagai bapak koperasi Indonesia) untuk pengembangan koperasi  sebagai soko guru ekonomi nasional  adalah tepat untuk menjadikan koperasi sebagai strategi pengembangan ekonomi rakyat yang berkeadilan dan mampu untuk terus memupuk rasa kebersamaan sebagai sebuah bangsa dan yang tak kalah penting  adalah upaya membangun kesejahteraan bersama sebagai wujud penerapan sila ke-5 PANCASILA.

Dan jika ingin mengenal lebih jauh mengenai KAN Jabung tinggal search di Google ketik  KAN Jabung  atau di kanjabung.blogspot.com/

Juni 19, 2012 at 11:13 am Tinggalkan komentar

Kejayaan negeri yang semakin menjauh karena Pancasila dilupakan.

Setiap 1 Juni kita memperingati lahirnya Pancasila yang menjadi ideologi Negara. Banyak ulasan tentang Pancasila, bahkan di jaman Orde Baru telah ditetapkan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yag ahrus diikuti oleh semua kalangan meski kita tahu jaman orde ini justru menumbuh kembangkan dan menyuburkan perilaku korup yang jelas bertentangan dengan Pancasila dan sifat penguasa yang sangat otoriter juga berlawanan dengan Pancasila. Sungguh mengherankan ketika penataran P4 dilakukan dimana-mana, namun justru semangat Pancasila tidak menjiwai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sejak reformasi sampai saat ini, kita masih saja terus berkutat dalam perdebatan panjang untuk implementasi Pancasila dalam kehidupan nyata rakyat jelata. Dan yang lebih menyakitkan justru  saat ini yang dikembangkan dalam sistem ekonomi adalah ekonomi pasar bebas yang justru menempatkan rakyat sebagai pemilik Negara pada kondisi yang mengenaskan karena belum siap bersaing sehingga dilibas oleh kekuatan besar pemodal kuat dalam dan luar yang berkolaborasi dan berkolusi dengan penguasa Negara yang lebih mementingkan melanggengkan kekuasaan daripada melaksanakan amanat penderitaan rakyat. Ekonomi kita tumbuh diatas penderitaan rakyat ketika pemodal kuat memanfaatkan peluang dan menyedot dengan kuat budaya konsumerisme dan hedonisme kelas menengah ke atas yang ada di Indonesia dengan gaya hidup yang elitis dan glamour yang dapat dilihat dari tampilan para anggota DPR yang tidak mencerminkan sama sekali rakyat yang diwakilinya yang masih hidup susah di pedesaan tanpa aliran listrik, tanpa ketersediaan air bersih serta hanya didukung infrastruktur jalan yang buruk.

Keberpihakan yang ditunjukkan beberapa bupati dan walikota yang lebih memilih mengembangkan pasar tradisional sangatlah jarang ditemui meski ada dibeberapa daerah di Jawa, bahkan seorang gubernur pernah berkonflik dengan walikota yang tetap bertahan untuk tidak mengubah bekas pabrik es menjadi mall dan lebih memilih mengembangkan pasar tradisional yang memenuhi kriteria pasar yang bersih, rapi dan tidak kalah dengan pasar modern maupun mall.

Mari kita lihat pola pengusahaan pertambangan yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia yang ternyata lebih menyisakan kisah pilu rakyat lokal setelah penambangan berakhir daripada kisah sukses mensejahterakan rakyat disekitarnya yang nota bene adalah pemilik sah potensi tambang yang ada. Banyak kasus pertambangan yang berakhir dengan korban jiwa karena pengusaha tambang dengan dana yang cukup banyak mampu “memanfaatkan” satpam dan meminta bantuan aparat keamanan untuk lebih mengamankan kepentingan pengusaha tambang daripada mendengar aspirasi rakyat di sekitarnya dan banyak memakan korban jiwa.

Kisah sedih korban Lumpur Lapindo terpampang jelas di depan mata kita dan pemerintah pusat  tidak mampu menekan  dalam proses pemenuhan pembayaran ganti rugi dan bahkan bencana Lapindo telah menyedot dana APBN yang jumlahnya tidak sedikit untuk membayar ganti rugi bagi masyarakat  diluar peta berdampak dan juga untuk membiayai BPLS yang pastinya juga tidak sedikit dana yang dikeluarkan untuk mengelola semburan liar lumpur Lapindo. Belum lagi kalau kita mau mendengar jeritan masyarakat yang telah tergusur dan dilindas oleh kegiatan penambangan yang tak kenal ampun dalam menghancurkan lingkungan demi mendapatkan keuntungan yang sangat besar hanya bagi pengusahanya  dan sayangnya tidak dinikmati masyarakat sekitar lokasi tambang. Kita tidak anti tambang,tetapi harus juga dievaluasi kembali bahwa hasil tambang harusnya lebih banyak kembali untuk rakyat bukan hanya sekedar membayar royalty, pajak dan pembagian hasil usaha yang cenderung tidak transparan dan tak terkontrol oleh rakyat dan yang tak kalah pentingh adalah harus dipastikan kehidupan anak cucu berikutnya bagi warga sekitar tambang tidak ikut terganggu karena rusaknya lingkungan setelah pertambangan berakhir. (lebih…)

Juni 1, 2012 at 1:36 pm Tinggalkan komentar

Menjadikan petani sebagai pengusaha yang sukses dan sejahtera

Ketika republik ini telah mendekati usia 67 tahun pada Agustus nanti, maka yang terpikir dalam benak rakyat kecil adalah mengapa di alam kemerdekaan yang telah di-enyam selama 67 tahun, nasib petani kita sebagian besar masih tidak beranjak dari keterpurukan yang menderanya? Padahal kita masih mengklaim sebagai negara agraris dimana sebagian besar rakyatnya masih berprofesi sebagai petani.

Petani sebagai pembisnis

Sebagian petani masih terkungkung dalam keyakinan diri bahwa sebagai petani mengemban sebagai penyandang status sosial yang rendah dan tidak berani memposisikan dirinya sebagai seorang pembisnis/pengusaha. Cibiran dan perlakuan masyarakat luas yang memposisikan petani sebagai kelas bawah mau tak mau dan secara tak disadari telah membuat para petani menjadi kurang percaya diri dalam pergaulan. Kata yang terlontar seperti saya hanya seorang petani, apalagi di Jawa Tengah petani selalu identik dengan orang yang memakai penutup kepala Caping dan membawa peralatan cangkul dsb semakin memperkuat posisi petani sebagai masyarakat kelas bawah.

Dalam setiap pertemuan dengan petani di daerah pelosok di kawasan Indoensia Timur, masih sering dijumpai ketika ditanya apakah ada disini yang pengusaha, maka tidak ada seorang petanipun yang mengaku dirinya pengusaha, padahal kita semua tahu bahwa berprofesi sebagai petani juga sebagai pengusaha dibidang pertanian.
Cap yang melekat lama sejak jaman kolonial harus segera dihapus dan digantikan dan perubahan image petani yang kolot, tertinggal dan sebagai kelas terendah harus digantikan dengan citra petani sebagai pengusaha/pembisnis yang tak kalah dengan profesi lainnya. Maka dalam pendampingan kepada petani, yang perlu juga difasilitasi oleh pemerintah maupun pihak lainnya bukan hanya masalah teknis semata seperti   budidayanya, tetapi juga bagaimana strategi agar mereka bisa keluar dari pola pikir lama menuju pola pikir baru sebagai pembisnis.

Petani yang kritis dan inovatip

Menjadikan petani kritis telah diupayakan melalui berbagai pemberdayaan dan pengorganisasian petani yang tergabung dalam berbagai organisasi seperti serikat petani, koperasi tani maupun asosiasi. Namun memang tidak mudah mengajak petani bersatu meski semua orang tahu betapa dasyatnya kekuatan petani yang bersatu sehingga banyak pihak yang tidak senang kalau petani bersatu dan kuat. Indonesia yang sebagian besar masih berprofesi sebagai petani namun dalam kenyataan alokasi dana APBN yang diperuntukkan petani masih tidak sebanding dan masih sangat kecil yang menunjukkan kurang berpihaknya pemerintah sebagai pelayan petani. Hal ini juga tidak lepas dari masih sangat terbatasnya anggota legislatip yang berlatar belakang dan berprofesi sebagai petani sehingga wajar jika mereka hanya diwakili oleh yang mengaku sebagai petani. Bahkan ironis ketika HKTI sebagai salah satu organisasi yang mewakili kepentingan petani dan nelayan justru dipimpin oleh pengusaha dan purnawirawan jenderal. Kondisi sebagian besar petani yang masih mudah dipermainkan oleh kepentingan politik praktis telah menjadikan dirinya hanya diperhatikan ketika suaranya dibutuhkan dalam pemilu maupun pilkada

Agro-industri hanya wacana

Meski telah berunglangkali dalam berbagai seminar direkomendasikan pentingnya membangun agroindustri, namun dalam kenyataan kita masih melihat betapa banyak hasil sayuran dan buah-buahan terbuang percuma dan yang paling menyakitkan ketika harganya menjadi jatuh hanya karena tak mampu diproses lebih lanjut menjadi hasil olahan industri. Di Jawa Timur pernah terjadi harga rambutan sekilo hanya Rp 500 sehingga petani tidak mau memanen karena tidak dapat membayar upah petik dan membiarkan buah busuk di pohon. Di Flores pernah buah alpokat hanya diberikan kepada babi karena tidak lagi punya nilai jual, demikian pula buah nenas yang hanya dibiarkan busuk di lahan. Sementara kita tahu di tempat lain masih kekurangan pasokan buah dan harganya masih layak terutama didaerah wisata dan hotel-hotel berbintang. Sungguh sangat menyakitkan ketika kita melihat begitu melimpah buah impor dengan harga sangat murah dan jekas memukul petani kita. Tidak hanya buah segar, buah-buahan yang telah dikalengkan juga membanjiri pasar kita, sementara produsen buah-buahan kita hanya bisa pasrah melihat kenyataan ini. Lalu dimana keberpihakan pemerintah terutama departemen terkait sebagai pelayan publik dalam melindungi kepentingan petani dari gempuran globalisasi? Kita sebenarnya dapat belajar dari sesama anggota ASEAN seperti Thailand yang mampu mengembangkan Agro-industri sehingga produk petani dan nelayan tidak terbuang percuma. Daripada dana hanya digunakan untuk plesiran dengan alasan studi banding keluar negeri, maka DPR dapat mengupayakan agar alokasi APBN untuk pertanian ditingkatkan prosentasinya sehingga sumbangan dari ekonomi hijau dapat semakin meningkat dan sifatnya yang terbarukan membuat pendapatan dari sektor pertanian dalam arti luas  dapat berkelanjutan (lebih…)

Mei 19, 2012 at 9:28 am Tinggalkan komentar

Pasar tradisonal, pusat ekonomi rakyat yang terpinggirkan.

Pengembangan kota-kota besar di Indonesia terus saja berlangsung dan dilakukan secara cepat demi mengejar ketertinggalan serta mampu bertahan dalam kompetisi yang keras dan sengit untuk mewujudkan impian menuju kota modern, termasuk dalam melengkapi  penyediaan fasilitas umum dan bisnis dengan berbagai cara, baik dengan jalan menyediakan lahan strategis untuk pusat bisnis (termasuk melakukan tukar guling lahan yang sudah ada ) maupun penyertaan saham dari pemerintah lokal. Berbagai fasilitas bisnis seperti pusat perbelanjaan modern seperti mall/hypermarket terus dibangun dengan megahnya dilokasi strategis, juga tak lupa fasilitas rekreasi seperti water boom menjamur dimana-dimana.

 

Keberpihakan pada rakyat  ?

 

Otonomi daerah telah memasuki usia yang ke -9, sejak mulai diberlakukan pada tahun 2000, dengan tujuan utama mendekatkan layanan publik pada rakyat yang menjadi pelangannya (customer) sehingga mempercepat peningkatan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi SELURUH rakyat Indonesia (sila ke-lima Pancasila).

Namun ada beberapa hal yang patut dicermati  dan ditata ulang terutama menyangkut kebijakan investasi dari luar serta penyiapan tata ruang untuk kepentingan bisnis.

  (lebih…)

Agustus 23, 2009 at 11:13 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kategori

September 2017
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Tamu Adikarsa

  • 53,619 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tidak ada