Posts filed under ‘Lingkungan’

Mencintai lingkungan hidup berarti mencintai kehidupan kita

Setelah usai menikmati indahnya panorama alam Bedugul dan juga lingkungan Desa Munduk di Bali Utara yang dilingkari dengan lereng pegunungan yang berwarna keemasan karena dipenuhi dengan pucuk tanaman cengkeh, terasa benar betapa sebenarnya alam telah memberikan kita banyak keindahan dan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup kita. Oksigen yang masih perawan tanpa polusi dan polesan buatan, ternyata lebih segar dibanding oksigen yang berasal dari tabung saat kita tergolek sakit, polesan alami hasil karya Sang Pencipta  mulai dari arak arakan awan sampai dengan air terjun yang begitu jernih airnya dan keindahan panorama alam sekitarnya yang begitu teduh dan damai sungguh membuat pikiran kembali segar dan terasa betapa alam telah mampu mendekatkan kita dengan Sang Pencipta seru sekalian alam dan menyadari betapa sebenarnya kita tak perlu menjadi serakah, tamak, iri hati, dengki dan segala macam sikap negatip yang membuat hidup kita justru semakin sulit, sementara sebenarnya kita diciptakan untuk merasakan dan memperoleh kebahagiaan.

Kebahagiaan yang terus dicari dan dicari dengan segala upaya oleh manusia, ternyata sebenarnya hanya ada dalam hati kita, tinggal bagaimana kita menyikapi dalam melakoni kehidupan kita.

Banyak diantara kita yang mengejar kekuasaan, kekayaan, ketenaran,kenikmatan duniawi yang ternyata tidak ada habisnya dan tak ada ujungnya, yang membuat kita merasa lelah baik secara fisik dan terlebih lelah batin.

Kekayaan yang kita kejar dengan menghalalkan segala cara ternyata berakhir dengan derita ketika kita menjadi tidak tenang karena takut akan kembali menjadi miskin atau terpaksa harus mendekam di bui karena tersangkut kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang.

Kekuasaan yang terus kita kejar ternyata berbuah intrik, saling jegal dan saling menjatuhkan, sementara sebenarnya kekuasaan yang kita miliki seharusnya dipersembahkan untuk kebaikan dan kesejahteraan sesama kita yang membutuhkan, bukannya hanya menjadi jalan untuk memperkaya diri dan mengorbankan pihak lain karena keegoisan kita.

Ketenaran yang kita kejar dengan menggunakan banyak topeng dalam wajah kita ternyata justru sering membelokakan arah kehidupan kita sehingga terperosok dalam kehidupan dugem,dunia malam yang memuja kenikmatan duniawi, terperangkap dalam kecanduan narkoba, rokok, seks dan juga alkohol yang membuat hidup semakin jauh dari kehendakNYA. Perilaku kehidupan hedonis telah membawa banyak anak muda kehilangan arah dalam mengejar fatamorgana kebahagiaan dan tersesat dalam pusaran memuaskan kenikmatan duniawi yang tak pernah dapat memberi kedamaian hati dan ketenteraman jiwa karena kita dipaksa untuk terus mengejar bayang bayang yang tak pernah menjadi kenyataan. Tawaran kehidupan yang bergelimang harta dan kekayaan melalui berbagai iklan gaya hidup yang menawarkan “kebahagiaan  dan juga keharmonisan keluarga semu” telah banyak membuat banyak keluarga muda mengidamkan dan mengupayakan dengan tidak lagi menjadikan  nilai nilai dalam kehidupan sebagai pedoman dalam kehidupannya dan mulai berkejaran dengan  impian duniawi yang terus menghantui pikirannya yang akhirnya bermuara pada perilaku yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh segala impiannya.

Kehidupan modern telah menyisakan banyak persoalan meski tidak dipungkiri juga memberi banyak kemudahan dalam hidup kita, mulai dari kehidupan yang membutuhkan banyak energi seperti pasokan  listrik, kendaraan bermotor untuk tranportasi, pesawat utnuk mobilisasi, produk produk kebutuhan rumah tangga yang menghasilkan selain polusi, juga limbah kemasan plastik, styrofoam dll yang terus menimbun muka bumi dan menimbulkan banyak persoalan mulai dari pencemaran udara, bau yang tidak enak sampai pada menyumbang percepatan pemanasan global dan perubahan iklim. Banyak diantara kita yang tidak mau peduli pada pengelolaan sampah yang terus saja terjadi dari waktu ke waktu, membiarkan sampah mencemari lingkungan kita, mencemari pemukiman, sawah, sungai, laut dan tak ketinggalan udara yang kita hirup.

Dalam kehidupan modern, dengan  tersediannya teknologi membuat kehidupan manusia menjadi semakin dimudahkan seperti misal kondisi suhu udara yang panas diselesaikan dengan pemasangan alat pendingin AC, ketika tidak lagi mampu bertemu muka karena terhalang ruang dan waktu maka banyak perangkat yang mampu menjalin silahturahmi melalui tele-conference, skype,watsapp,twitter, face book, dan masih banyak lagi teknologi baru yang akan diluncurkan untuk kemudahan kita.

Era peralatan teknologi informasi  yang dapat memenuhi kebutuhan akan komunikasi dan lainnya justru banyak membuat anggota keluarga tidak lagi saling bersapa, masing masing sibuk dengan alat komunikasinya, dan tidak sedikit yang terjebak dalam ketergantungan akan akses pornografi dari internet, terutama anak anak sehingga jangan heran jika terjadi kasus perkosaan yang pelaku maupun korbannya anak masih dibawah umur.

Kita perlu lebih mendekatkan anak dan generasi muda pada lingkungan sekitarnya sehingga mereka mampu mencintai lingkungannya dengan mewujudkannya secara nyta melalui berbagai gerakan seperti hemat energi, hemat air, tidak lagi menggunakan maupun mengkonsumsi plastik yang sulit terurai, mau mengelola sampah organik untuk dijadikan pupuk organik, memilah sampah mendasarkan pada 3–R (Recycle, Re-use, Reduce)  sehingga mengurangi pengangkutan yang berdampak pada pengurangan BBM untuk transpor pembuangan sampah.

Generasi muda juga perlu diajak untuk gaya hidup go-green dengan menyiapkan bibit tanaman umur panjang dan menanam lebih banyak pohon, tidak membuang biji buah-buahan yang telah dimakan dengan jalan menumbuhkannya menjadi bibit tanaman baru, tidak merusak hutan namun tetap menjaga kelestariannya, mengurangi pemakaian kendaraan bermotor dengan lebih memilih menggunakan sepeda atau jalan kaki yang ternyata justru menyehatkan badan, mengurangi produksi sampah sehari hari dalam kehidupannya dengan jalan mengkonsumsi makanan yang segar yang terbungkus alami yang mudah terurai, menggunakan tas kain untuk menggantikan penggunaan tas plastik, lebih memilih menggunakan traspor umum dengan tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi, memilih peralatan elektronik yang hemat energi dan tidak menambah gas rumah kaca dengan pemakaian spray, menanam bunga dan sayuran disekitar kita dengan memanfaatkan wadah dari bekas pakai sebagai pot, dan masih banyak lagi hal hal sederhana yang dapat kita lakukan sebagai wujud kepedulian kita pada kelangsungan bumi tempat kita berpijak dan hidup.

Sebagai warga negara yang baik kita patut dan wajib berkontribusi untuk menjadikan Indonesia hijau, asri dan bersih (https://adikarsa.wordpress.com/2008/07/14/kepedulian-dan-kontribusi-warga-menjaga-kelestarian-lingkungannya/).

Mari kita mulai dari diri kita sendiri, mulai sekarang juga, mulai dari apa yang dapat kita lakukan karena dengan mencintai lingkungan berarti mencintai kehidupan kita sendiri.

Iklan

Juli 4, 2013 at 8:56 pm Tinggalkan komentar

Banjir dan longsor dimana-mana , kerusakan lingkungan yang sistemik ?

Pemberitaan di media massa mengenai banjir dan longsor hampir setiap hari dan lokasinyapun  tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Dan anehnya berita seperti ini yang hampir terjadi setiap tahun  ternyata  tidak menarik bagi pemangku kepentingan, khususnya pelayan publik yakni pemerintah untuk melihat permasalahan ini sebagai sinyal gawat sistemik  perlunya penanganan yang menyeluruh dan lintas sektoral.

Masyarakat kita ternyata lebih tertarik dengan kasus Bank Century yang katanya menelan dana rakyat sebesar 6,7 trilyun rupiah.

Sayangnya berapa kerugian masyarakat karena banjir dan longsor diseluruh Indonesia belum ada yang mau menghitung dan diperkirakan jumlahnya pasti mendekati trilyunan rupiah atau mungkin bahkan lebih besar kerugiannya dibanding talangan dana Century.

  (lebih…)

Februari 23, 2010 at 10:02 am Tinggalkan komentar

Pembalakan liar, masihkah pelakunya bisa dianggap sebagai orang yang beriman ?

Disetiap musim hujan tiba, maka warga Jakarta mulai cemas akan datangnya banjir tahunan yang sudah merupakan kebiasaan yang tak mungkin dihindari seperti halnya “datang bulan” pada wanita dewasa yang memang sudah menjadi siklus.

Namun sangat berbeda dalam tujuan, siklus haid bulanan bertujuan untuk membersihkan diri dari darah kotor yang ada dalam tubuh, sedang banjir tahunan di DKI justru menambah kekotoran wajah kota, dan yang pasti membersihkan/menghilangkan harta benda masyarakat yang didapat dengan jerih payah yang tak terhingga dalam persaingan yang buas di ibukota akibat terkena banjir.

Dan kalau kita jeli mengamati berita melalui media, maka sekarang bukan hanya Jakarta yang menjadi langganan banjir, tetapi juga di beberapa daerah di indonesia seperti misalnya di beberapa kabupaten di Jawa Timur yang diakibatkan meluapnya sungai Bengawan Solo, atau di Sumatera, Kalimantan (Samarinda) dan juga Sulawesi dst.

Bencana lain yang tak kalah serunya adalah longsor yang telah mengubur hidup-hidup para warga yang tak sempat menyelamatkan diri seperti yang baru saja terjadi di Cianjur.

Berbicara terkait longsor dan banjir maka mau tak mau kita harus mencari penyebabnya dan salah satu yang ditenggarai menjadi penyebab utamanya adalah pembalakan liar yang tak terkendali yang berakibat pada rusak dan tak berfungsinya hutan terutama yang berada di daerah hulu sehingga merusak daur hidrologi dan menyebabkan banjir bandang yang meluluhlantakkan apa saja yang dilewatinya, tak terkecuali rakyat yang tak berdosa yang nun jauh di hilir sana.

Teologi terkait lingkungan

Banyak dari para pelaku pembalakan liar adalah mereka yang mengaku beragama, cinta keluarga (anak, istri/suami), umat beragama yang kelihatan seolah-olah saleh dan menjadi penderma besar bagi institusi agama yang dianutnya, berpendidikan dll namun sudah mati rasa kemanusiaannya karena silau akan harta dunia berupa uang yang mengalir dengan derasnya sederas airmata para korban banjir, longsor akibat pembalakan liarnya.

Jangan tanyakan pada mereka tentang hati nurani dan nilai-nilai kemanusiaan, karena bagi mereka pembalakan liar hanyalah salah satu pilihan metode dalam mencari penghasilan secara cepat dan maksimal jumlahnya dan tidak terkait dengan keyakinan imannya, apalagi dikaitkan dengan dosa tidaknya perbuatan tersebut, sama halnya dengan para penambang yang dengan enteng meninggalkan lokasi pertambangan yang sudah parah kerusakan lingkungannya setelah mengeruk habis kandungan tambangnya dan mengatakan dengan enaknya “inilah harga yang harus dibayar atas nama kemajuan dan pembangunan”.

Kita tahu banyak pemimpin agama yang tutup mata atau tidak mau tahu dengan masalah kerusakan lingkungan dan hanya sedikit yang mengkaitkan perusakan lingkungan dengan dosa yang harus dipertanggungjawabkan secara moral.

Masih banyak umat beragama yang tidak merasa bersalah ketika menebang pohon yang luasnya beribu-ribu hektar , membuang sampah di sembarang tempat, mengkorup dana GERHAN yang bertujuan untuk mengembalikan lingkungan yang telah rusak demi anak cucu kita.

Meski seruan dan pencanangan untuk tanam pohon, menjaga hutan dll terus dikumandangkan dari tahun ke tahun , namun jika tindakan merusak lingkungan yang menyebabkan berbagai bencana (banjir, kekeringan, longsor dll) tetap saja dianggap perbuatan bukan dosa, maka seberapa banyakpun dana yang dianggarkan pemerintah akan sia-sia karena belum terbangunnya kesadaran transedental dan religius dari para warga negara yang mengaku beragama yang memandang alam adalah bagian dari kehidupannya .

Jika hutan / pohon kayu hanya dimaknai secara ekonomis sehingga perlu ditebang habis karena mendatangkan penghasilan yang gede, tanpa berpikir ulang mengenai manfaat ekologisnya, dapat dipastikan dalam jangka waktu yang tak terlalu lama Indonesia akan kehilangan kebanggaannya sebagai salah satu paru-paru dunia, tempat belajar yang lengkap bagi para ilmuwan dunia , kehilangan sumber plasma nuftah yang berguna besar bagi penelitian untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia mendatang.

Meski kita punya polisi hutan/Jaga Wana, dan juga punya pendekar penegak hukum seperti jaksa, polisi dan hakim untuk menegakkan hukum terhadap para pelaku pembalakan liar, namun kembali lagi mentalitas yang korup dan mata duitan dari oknum para penegak hukum (sayangnya jumlah oknumnya rombongan) telah menjadikan pembalakan liar sebagai fenomena umum yang masih dibiarkan terjadi meski kita tahu betapa mengerikan dampaknya bagi kehidupan alam semesta termasuk bagi penduduk dunia.

Menjadikan isu lingkungan sebagai tema kotbah

Kita tahu bahwa “kebersihan adalah sebagian dari iman”, kita juga tahu “Ora et labora “ dimana kita harus berdoa dan bekerja, yang kalau ditarik kesimpulan secara umum ingin menyatakan bagaimana keimanan seseorang harus diwujudkan dalam praksis keseharian sebagai bukti keimanannya yang hidup. Namun dalam kenyataan, masih banyak yang memisahkan antara keyakinan yang dianutnya dengan perilaku keseharian, yang terbukti banyaknya para koruptor dan juga para pelaku pembalakan liar yang tertangkap namun sekaligus menampakkan sebagai pemeluk agama yang taat (seolah-olah).
Menjadi tantangan yang menarik apabila isue lingkungan termasuk didalamnya perilaku tidak terpuji berupa pembalakan liar dibahas secara mendalam dari sisi teologi dalam mimbar agama sehingga menjadi kewajiban kita semua yang mengaku beragama untuk turut secara aktip melestarikan lingkungan sekitarnya.

Penyadaran sejak dini.

Kesadaran akan pemahaman tentang arti pentingnya lingkungan dan upaya kita sebagai manusia mahluk tertinggi Sang Pencipta untuk terus melestarikannya, harus dimulai langkahnya sejak usia dini karena akan lebih mudah menjadikan/membentuk watak/sikap yang peduli lingkungan sejak dini daripada harus merubah ketika dewasa dan sudah menjadi kebiasaan yang salah namun dianggap benar dalam artian membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Seringkali kita terjebak dalam membenarkan kebiasaan, bukannya membiasakan yang benar.

Sejak kecil sebaiknya anak diajarkan untuk mencintai lingkungan karena ketika tumbuh rasa cinta dalam dirinya maka akan merasuk dalam pikiran dan tindakan untuk mewujudkan cintanya akan lingkungan dengan sikap dan perbuatan nyata. Anak diajak mengenal alam lebih dekat dan menyakinkan bahwasanya manusia adalah bagian dari alam sehingga merusak alam berarti merusak diri sendiri. Mencintai alam berarti mencintai kehidupan dan mencintai kehidupan adalah wujud dari kasih kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Ketika berjalan jalan ke hutan maka kita dapat diskusikan dengan anak-anak bagaimana pentingya mata air yang dihasilkan oleh hutan yang terjaga dengan baik dan jika rusak maka akan berganti dengan air mata.

Kita dapat menjelaskan kepada aank-anak arti pentingnya kicauan burung yang dengan merdunya sedang memuji Tuhan sang Pencipta, yang dengan sendirinya ikut memudahkan kita dalam berinteraksi dengan makluk lain sesama ciptaanNYA dalam rangka memuliakanNYA.

Alangkah indah jika alam tidak hanya dimaknai sebatas benda ekonomi, yang harus dikuras demi penghasilan yang tak pernah membuat manusia puas, sehingga cara pandang manusia modern harus lebih diperluas dimana alam merupakan wahana untuk mengembangkan diri sebagai makluk tertinggi ciptaanNYA. Hutan sebagai abgian dari alam sudah seharusnya dan sepatutnya dijaga keberadaannya sehingga mampu memberikan mata air yang mampu menghapus dahaga manusia yang haus akan air kehidupan. Kita semau tahu jika dunia mengalami krisis air global, maka betapa dapat dibayangkan kengerian dan tingkat penderitaaan kita atas ketiadaan air yang mencukupi.

Jadi sudah selayaknya jika para pembalak liar tidak hanya dianggap sebagai pelanggar hukum semata, namun sebagai perampas kehidupan dan penghancur dunia secara pelan anmun pasti dan sudah selayaknya kalau mereka disebut teroris karena menebar teror kemanusiaan terkait dengan terpenuhinya air bagi kehidupan maupun aspek lainnya yang baik secara langsung maupun tak langsung akan mempengaruhi kelangsungan hidup manusia.
Dengan demikian pembalak liar sejatinya adalah manusia jelmaan iblis dan penjahat kemanusiaan yang tidak pantas mengaku sebagai seorang yang beriman karena telah mengingkari kemanusiaannya dan berfoya-foya diatas penderitaaan sesamanya.

YBT. Suryo Kusumo

tony.suryokusumo@gmail.com
www.adikarsa.blogspot.com

November 28, 2008 at 8:50 am Tinggalkan komentar


Kategori

November 2017
S S R K J S M
« Mei    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Tamu Adikarsa

  • 54,938 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tidak ada