Posts filed under ‘Pangan’

Panganku sehat, sehat hidupku, kuat pula negeriku

Kehidupan yang kita lakoni di jaman modern saat ini, ternyata semakin lama semakin dimudahkan dengan adanya perkembangan teknologi informasi untuk memperoleh sesuatu baik itu berupa informasi melalui pencarian lewat “Mbah Google”.

Dalam hal ketersediaan pangan, kita juga dimudahkan dengan adanya perkembangan teknologi pangan untuk memenuhi kebutuhan akan makanan dan minuman seperti tersedianya makanan kalengan siap saji, “junk food” dan beragam jajanan instan, maupun minuman instan dll.

Kita sering terlena oleh kemudahan, kecepatan  dan nikmatnya mengkonsumsi makanan &minuman  cepat saji dan awetan sehingga seringkali kita terjebak untuk kecanduan  makanan & minuman yang nikmat meski kita tahu pasti akan mengakibatkan datangnya penyakit di badan kita karena dalam makanan & minuman tersebut terkandung bahan  pengawet, pewarna, soda  dan penyedap rasa.

Kebiasaan pola makan kita ternyata secara tidak disadari juga telah mengabaikan kesehatan tubuh dan seringkali terjebak dalam kecanduan yang tak berujung. Kita mudah lupa untuk terus “JAMU” alias Jaga Mulut, dan harus mengkonsumsi makanan dan minuman yang “nikmat namun tanpa mengalahkan kesehatan”.

Harga makanan ringan alias jajajan/snack dan minuman pabrikan yang terjangkau dan murah dibanding mengkonsumsi buah rasa asli maupun jajanan “pasar” buatan tangan para ibu telah membuat banyak anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa terjebak dalam kecanduan makanan yang banyak mengandung bahan kimiawi berbahaya yang jika dikonsumsi secara terus menerus akan terakumulasi dan berakibat mendatangkan banyak penyakit dalam jangka panjang . Artinya secara sadar kita telah membiarkan satu generasi penerus bangsa kita yakni anak anak kita untuk diracuni sejak usia dini melalui jalan mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat.

Kebiasaan lama masyarakat seperti menumbuhkan sisa sisa biji dari buah buahan yang kita santap dan kemudian menanamnya, juga menanam sayuran di halaman sudah telah dilupakan serta dianggap kuno/ ketinggalan jaman, selain karena terbatasnya lahan di perkotaan, juga karena masyarakat kita telah berpindah dari masyarakat agraris yang lebih banyak berperilaku sebagai produsen menjadi masyarakat konsumtip yang hanya tinggal membeli produk pertanian yang dibutuhkan tanpa mau repot untuk menanamnya sendiri.

Akibatnya, ketika harga buah dan sayuran organik atau alami menjadi lebih mahal, maka sebagian besar masyarakat kita lebih tertarik untuk berpindah mengkonsumsi pangan dari budidaya revolusi hijau yang banyak mengunakan pupuk dan pestisida pabrikan yang sebenarnya jika tidak hati hati dalam memproduksinya dapat terpapar racun yang membahayakan konsumen.

Selain itu, kecenderungan akhir akhir ini  untuk mengkonsumsi buah dan sayuran impor karena murah harganya seharusnya patut diwaspadai, karena dalam proses produksi sampai pengemasannya pastilah banyak menggunakan pestisida untuk menjaga dari kerusakan dan menjadikannya lebih awet.

Kebiasaan masyarakat kita untuk mencari jalan pintas dengan mengkonsumsi buah dan sayur impor yang murah harga serta tampilan kemasannya yang menarik sebenarnya sangatlah tidak nasionalis karena berarti konsumen yang nota bene warga negara Indonesia sudah tidak lagi peduli pada kehidupan petani kita sendiri sebagai produsen buah dan sayuran yang menggantungkan hidupnya dari hasil pertaniannya.

Pola hidup sehat dengan mengkonsumsi pangan sehat seharusnya menjadi kepedulian kita semua, jika bangsa ini mau tetap sehat sehingga menjadi bangsa yang maju dan kuat dan keuntungan lainnya adalah pemerintah tidak lagi butuh banyak dana membiayai rakyatnya untuk penyembuhan dari penyakit dan derajat kesehatan masyarakat kita akan semakin tinggi sehingga berdampak pada semakin tingginya tingkat produktivitas rakyat Indonesia.

Pola pangan hidup sehat dan bersih harus terus disosialisasikan, meski kita tahu di tahun ini telah ada BPJS Kesehatan yang menjanjikan kemudahan karena adanya berobat gratis bagi masyarakat yang telah mendaftar. Meski demikian, alangkah baiknya jika yang diutamakan bukannya proses penyembuhan dari sakit, tetapi melakukan tindakan preventip untuk mencegah jatuh sakit, salah satunya dengan menerapkan pola konsumsi pangan sehat.

Mari kita terus menerus mengkonsumsi pangan yang sehat yang dihasilkan dari bumi tercinta Indonesia karena kemurahan alam negeri kita sendiri serta dedikasi yang luar biasa dari para petani yang telah mau dan mampu menyiapkan dan menjaga kedaulatan pangan kita yang sehat.

Dengan mengkonsumsi pangan sehat produksi negeri sendiri, kita secara tidak langsung telah meningkatkan ketahanan ekonomi bangsa kita, memberi harapan hidup pada petani untuk keberlanjutan hidup keluarganya serta tak kalah penting menjaga kelestarian lingkungan hidup dan lahan pertanian kita dari pencemaran bahan bahan kimia yang berbahaya bagi kelangsungan hidup kita sebagai sebuah bangsa dan negara yang kuat.

Mari terus mengkonsumsi pangan sehat, sehat hidupku dan kuat pula negeriku.

Iklan

Maret 13, 2014 at 2:58 am Tinggalkan komentar

Membangun kedaulatan pangan, bukan sekedar ketahanan pangan ?

Kedaulatan pangan dapat dimaknai dengan berbagai macam pengertian tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya, dan bahkan kedaulatan pangan sering dirancukan dengan kosa kata ketahanan pangan (food security).

Dari sisi pemerintah, para pejabat publik lebih sering menggunakan kata ketahanan pangan karena yang lebih dipentingkan hanya sebatas adanya kemampuan rakyat untuk memenuhi kebutuhan pangan, terlepas apakah akan dipenuhi dari hasil produksinya di dalam negeri atau bahkan kalau diperlukan dipenuhi melalui impor.

Menyedihkan dan sekaligus miris melihat kenyataan dinegeri yang mengaku negara agraris, ternyata berulangkali mengalami krisis pasokan kebutuhan seperti daging sapi dan bawang (merah-putih) yang akhir akhir ini terjadi yang berakibat melonjaknya harga diluar kewajaran dan kesanggupan rakyat untuk membelinya. Sistim logistik nasional terkait pemenuhan kebutuhan sembako saat ini sungguh amburadul kalau tidak mau dikatakan gagal, karena pemerintah tidak mau belajar dari kesuksesan Orde Baru dalam memenuhi kebutuhan sembako melalui institusi BULOG, terlepas kita tidak setuju dengan otorianisme diktator yang dilakukan di jaman Soeharto.

Kementerian Pertanian (Kementan) terlihat hanya senang bermain dengan gagasan, wacana dan data statistik yang dipungut dari BPS tanpa mau melihat  kondisi nyata dilapangan dan kurang melibatkan para-pihak yang terkait untuk berdiskusi mengenai pengembangan pertanian di negeri ini. Mereka cenderung tidak mau mendengar dan terlalu percaya diri bahwa semua yang direncanakan diatas kertas akan terlaksana tanpa memikirkan faktor non teknis yang mempengaruhinya. Bahkan derap dan denyut greget membangun pertanian kita dari Kementan saat ini tidak terasa sampai ke pelosok negeri, kecuali hanya tayangan iklan layanan masyarakat di TV seperti “Petani sejahtera,bangsa Berjaya”dll. (lebih…)

Maret 24, 2013 at 10:10 am Tinggalkan komentar

Kedaulatan Pangan atau Ketahanan Pangan yang sesuai untuk Indonesia dalam mengatasi rawan pangan ?

Indonesia rawan pangan, apa kata dunia ?

Belum terlalu lama kita di Indonesia tidak lagi ramai membicarakan mengenai masalah rawan pangan dan gizi buruk, namun saat ini kembali terungkap ke media permasalahan yang sama dari tahun ke tahun tanpa ada upaya sistematis yang mampu untuk mengatasi agar masalah reguler tersebut tidak berulang. Sungguh kenyataan pahit yang harus kita terima dengan sangat menyesal, bahwa rawan pangan dan gizi buruk yang awalnya merupakan sebentuk SHOCK (Kejutan) sudah beralih menjadi CYCLE (siklus) yang jika dipahami lebih mendalam dapat disimpulkan bahwasanya pendekatan/strategi yang dilakukan pemerintah melalui pendekatan jangka pendek/penyelamatan seperti RASKIN, BLT, JPS dsb belum mampu menyelesaikan permasalahan secara mendasar dan jangka panjang dan sistemik melalui perbaikan terstruktur untuk layanan publik.

Kondisi rawan pangan juga telah menarik minat sebuah stasiun TV Internasional Al Jazeera untuk memotret kondisi nyata yang terjadi di Indonesia, khusunya di NTT. Tujuannya adalah hasil liputan itu akan menjadi referensi pembanding terkait peristiwa serupa (kelaparan) di Timur Tengah, yang akan disaji dalam bahasa Inggris.( http://www.ntt-online.org/2007/09/13/tv-al-jazeera-soroti-rawan-pangan-di-ntt/)

(lebih…)

Mei 17, 2009 at 4:16 am Tinggalkan komentar


Kategori

September 2017
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Tamu Adikarsa

  • 53,619 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tidak ada