Posts filed under ‘Pertanian berkelanjutan’

Pengendalian Hama Dengan Pestisida Alami, Mengapa Tidak ?

Dalam pengelolaan usaha pertanian, ada beberapa faktor yang menunjang keberhasilan dalam meningkatkan produksi yaitu tanah, iklim, tanaman serta pengendalian hama dan penyakit maupun gulma.
Peranan kita sebagai pengelola usaha tani dalam menyiapkan semua faktor penunjang keberhasilan sangat penting. Dan salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah pengendalian hama. Yang dimaksud dengan hama disini adalah semua organisme pengganggu berupa binatang/hewan.

Pengendalian secara alami, pilihan tepat.

Dalam berbagai media yang menyampaikan informasi kepada para petani terlihat begitu gencar iklan yang disampaikan mengenai hebatnya produk industri pestisida kimiawi terutama racun (sering salah diucapkan sebagai obat) untuk hama tanaman.
Berbagai cara ditempuh oleh produsen pestisida kimiawi untuk meyakinkan para petani bahwa tanpa obat-obatan (lebih tepat ‘racun’) para petani akan gagal panen.
Dan sebagian penyampaian informasi bersifat menyesatkan, karena ada bagian informasi penting yang tidak disampaikan pada para petani. Kalaupun disampaikan, karena keterbatasan petani dalam mengelola informasi, pesan tersebut tidak mudah dimengerti dan tidak dilaksanakan. Berbagai formula dan merek dagang disajikan bagaikan menu makanan yang harus dipilih petani sebagai santapan. Bahkan secara tidak disadari, sering PPL ikut mendorong penggunaan pestisida kimiawi yang sebenarnya penggunaannya merupakan alternatip terakhir, perlu dibatasi dan diperlakukan dengan sangat hati-hati karena menyangkut penggunaan ‘racun’ yang dapat membahayakan kehidupan semua mahluk dibumi termasuk tanpa kecuali para petani itu sendiri. Kesembronoan dan kenekatan dalam penggunaan pestisida kimiawi secara berlebihan disamping secara ekonomis merugikan, secara ekologis dapat menggangu keseimbangan lingkungan dan menjadi bumerang yang dapat berakibat sangat fatal dan merugikan dalam jangka panjang.

(lebih…)

Iklan

Juli 11, 2008 at 2:15 am 1 komentar

Pupuk organik, tak kalah gengsi maupun manfaatnya !

Dialam peradaban modern, para petani maju berlomba-lomba tampil bedasupaya tidak kelihatan ketinggalan jaman, termasuk dalam memanfaatkan teknologi pertanian seperti pupuk buatan, pestisida buatan dll. Teknologi pertanian modern menjadi pilihan utama, termasuk keyakinan yang kadang-kadang menjadi berlebihan akan manfaat pupuk buatan maupun pestisida kimiawi (pabrik). Akibatnya secara tidak disadari para petani maju semakin tinggi ketergantungannya pada pupuk buatan dengan dosis penggunaan yang semakin tinggi pula.

Penggunaan pupuk buatan secara nasional selama 25 tahun terakhir meningkat lebih dari 16 % per tahun dan sebagian besar pupuk tersebut diserap sektor pertanian tanaman pangan sebesar 72 % dan palawija 13 % (Kompas, 22 Mei 1991, dalam artikel ‘Pupuk organik kembali naik daun’).

(lebih…)

Juli 11, 2008 at 2:14 am Tinggalkan komentar

Pola Wana Tani (Agroforestry), Alternatip Pengembangan Pertanian Lestari di Dataran Tinggi.

Lahan kering dataran tinggi (up land) merupakan lahan marginal yang belum banyak mendapat perhatian pemerintah, karena selama ini kebijakan pembangunan pertanian khususnya pangan lebih diutamakan penangannya pada lahan basah persawahan.
Isu swasembada pangan, khususnya penyediaan beras yang telah berhasil mengantar Bangsa Indonesia dari pengimpor beras menjadi pengekspor beras cukup memberi ‘nilai tambah’ didunia internasional.

Namun kita semua menyadari, pertumbuhan, perkembangan jumlah dan kepadatan penduduk memberikan ‘pekerjaan rumah’ yang tidak mudah bagi pemerintahan Orde Baru untuk terus selalu menyediakan bahan pangan dalam jumlah yang cukup dan aman, dengan harga jual yang tetap terjangkau masyarakat sehingga stabilitas dapat tetap terjaga. Ketergantungan konsumsi pangan masyarakat pada beras sangat membahayakan bagi kita semua, karena itu gerakan penganekaragaman dalam mengkonsumsi pangan, khususnya karbohidrat harus terus dilaksanakan pada semua aras masyarakat. Maka kekhususan suatu daerah dalam mengkonsumsi pangan harus dijaga dan dilestarikan seperti misal beberapa daerah yang mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok. Dengan demikian masyarakat tidak terjebak dalam persepsi yang menyatakan bahwa mengkonsumsi ‘nasi’ lebih bergengsi dibanding lainnya.

(lebih…)

Juli 11, 2008 at 2:12 am 2 komentar

Pertanian lestari, pilihan bijak petani berwawasan jauh kedepan

Mengamati perkembangan pertanian di Indonesia khususnya masalah pencapaian swasembada pangan dan usaha untuk mempertahankannya, maka pemikiran kita sebagai petani kebanyakan langsung tertuju pada pertanian intensip yang mau tak mau harus menyediakan pupuk buatan dan pestisida pabrik dalam berbagai formula.dan merek dagang yang begitu beragam. Seolah-olah pikiran kita sebagai petani sudah terpaku dan tidak ada pilihan lainnya.
Benarkah pemikiran demikian yang selalu terjadi pada petani maju di masyarakat kita ?

Jika memang demikian, kita harus mencari akar penyebab semua itu. Kita tengok awal pengenalan pada petani maju dengan teknologi masukan tinggi dan energi tinggi. Program yang dicanangkan pemerintah dengan model penyuluhan “dipaksa-terpaksa-biasa” dalam mengenalkan pupuk buatan dan pestisida pabrik seakan-akan membuat pikiran petani mau tak mau secara teknis harus mengikuti petunjuk yang sudah diberikan. Sering secara tidak disadari tergambar dalam pikiran petani jika tidak menggunakan pupuk buatan dan pestisida pabrik akan mengalami penurunan hasil atau bahkan mengalami kegagalan. Petani terus menerus dipacu dan berlomba meningkatkan produksi secara maksimal dengan berbagai upaya yang ditempuh dan sering menyimpang dari ketentuan teknis penggunaan pupuk buatan maupun pestisida pabrik. Para petani kurang menyadari dampak negatip yang timbul akibat pengurasan lahan dan adanya keterbatasan daya dukung lahan. Program peningkatan produksi yang bermula dari SSB,SSBM, DENMAS, BIMAS dan berlanjut dengan INMAS-INSUS-SUPRA INSUS seolah-olah memberi dukungan dan pembenaran pendapat para petani bahwa lahan dapat dikuras sampai seberapapun kemauan kita untuk menghasilkan swasembada pangan. Namun akhirnya disadari pemikiran dan perilaku semacam ini memberikan dampak negatip seperti terlihat adanya peledakan hama penyakit dan semakin menurunnya kegemburan tanah yang berakibat semakin sulit diolah, kekahatan unsur hara tertentu terutama unsur hara mikro dsb.

Dan yang lebih menyedihkan adanya berbagai korban anggota masyarakat akibat penyalahgunaan pestisida pabrik terus berjatuhan dari hari ke hari. Keracunan pestisida menjadi berita yang dianggap lumrah terjadi dan bahkan kematian bunuh diri memakai pestisida semakin menggejala di masyarakat tanpa mengusik hati nurani kita yang terdalam. Akibat pencemaran pestisida buatan karena kekurang hati-hatian , ketidak tahuan maupun kenekatan untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya perlu menjadi keprihatinan dan harus selalu diwaspadai oleh seluruh masyarakat.

(lebih…)

Juli 11, 2008 at 2:06 am Tinggalkan komentar

Pertanian berkelanjutan , tawaran model pengembangan sistem pertanian yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dalam menyongsong pertanian masa depan.

Pendahuluan.
Pembangunan pertanian di Indonesia mempunyai kebijakan untuk:
1. swasembada pangan
2. meningkatkan gizi masyarakat menurut ukuran konsumsi protein
3. meningkatkan ekspor dan mengurangi impor
4. meningkatkan dukungan terhadap industri
5. meningkatkan pemeliharaan kelestarian sumber daya alam
6. meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan pedesaan sebagai bagian yang utuh dari pembangunan daerah.
Dalam masa Orde Baru, kita mengenal beberapa program pertanian yang dicanangkan pemerintah untuk memacu produksi beras antara lain BIMAS, INMAS, INSUS, SUPRA INSUS, dan akhirnya meskipun hanya sebentar , Indonesia mampu berswasembada pangan pada tahun 1984 dan memperoleh penghargaan dari PBB. Namun keberhasilan ini harus dibayar mahal, karena ternyata swasembada pangan hanya bersifat semu yang tercapai berkat intervensi pemerintah yang terlalu jauh kepada petani, baik dari paksaan untuk menanam VUTW, subsidi pupuk dan pestisida maupun politik beras murah menggunakan institusi bulog , banyak menimbulkan permasalahan ditingkat petani. Permasalahan yang jelas terlihat adalah bagaimana petani menjadi sangat tergantung dari masukan teknologi dan energi tinggi dari luar, posisi tawar menawar petani untuk menjual hasil produksinya rendah , dan yang lebih utama petani kehilangan otoritasnya dan kebebasannya untuk mengelola lahan, sehingga petani hanya menjadi pelaksana program pemerintah. Introduksi teknologi berupa penggunaan pupuk buatan dan pestisida pabrik yang pada awalnya bertujuan untuk mensejahterakan petani, ternyata menjadi bumerang karena timbul banyak kasus mengenai tanah yang mengeras, pencemaran lingkungan dan kematian maupun cacat pada manusia karena keracunan pestisida. Saat ini petani sawah semakin menjerit ketika pemerintah mengurangi subsidi terhadap pupuk buatan dan pestisida, karena dalam pengelolaan lahan, mereka telah tergantung kepada masukan teknologi dan energi yang tinggi dari luar yang mereka sendiri tidak menguasainya. Belajar dari pengalaman tersebut, sudah selayaknya kita memikirkan model pengembangan pertanian alternatip yang ramah lingkungan, mampu mencukupi kebutuhan ekonomi, namun tidak membuat petani semakin tergantung. Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani melalui pengelolaan lahan yang otonom dan mandiri, maka dicoba pengembangan pertanian berkelanjutan yang diharapkan mampu memberi sumbangan dalam menjaga kelestarian lingkungan, namun juga mampu mensejahterakan petani lahir dan batin.

(lebih…)

Juli 11, 2008 at 1:43 am Tinggalkan komentar


Kategori

November 2017
S S R K J S M
« Mei    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Tamu Adikarsa

  • 54,938 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tidak ada