Posts filed under ‘Petani "mengakses pasar"’

Menjadikan petani kakao Flores sebagai pembisnis unggul sekaligus pemain dalam pasar kakao modern yang inklusip (Inclusive Modern Market/IMM).

Gonjang ganjing harga komoditi perkebunan telah memukul telak para petani pengusaha komoditi perkebunan, dimana harga dapat naik drastis namun kemudian dengan cepat juga dapat turun drastis yang berimbas pada kebingungan petani dalam menentukan pilihan komoditas yang akan terus digelutinya.

Petani yang cerdas dan mampu membaca perubahan harga komoditi yang begitu cepat mulai banyak mengembangkan usaha komoditi perkebunannya secara campuran atau bahasa kerennya melakukan diversifikasi dalam pilihan komoditi perkebunan dengan jalan mengintegrasikan bersama sama dengan  komoditi perkebunan lainnya .

Salah satu komoditi perkebunan yang saat ini sedang naik daun adalah komoditi kakao dimana permintaan dari pabrik olahan kakao semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya pengusaha luar negeri yang menanamkan modalnya untuk pembangunan pabrik olahan biji kakao, terutama di Makasar Sulawesi Selatan karena adanya pembebasan pajak bagi biji kakao yang diolah di dalam negeri.

Penguatan HULU untuk peningkatan produksi dan kualitas kakao

Namun sayangnya tidak semua daerah yang cocok untuk budidaya di Indonesia seperti di Pulau Flores NTT sebagai penghasil kakao sudah mampu berproduksi secara berkelanjutan dengan tingkat produktivitas maupun kualitas yang tinggi.

Beberapa penyebab rendahnya produktivitas dan produksi kakao di tingkat petani antara lain;

§        Umur tanaman kakao yang sudah tua, kurang terawat dan terserang hama penyakit dalam areal kakao yang luas membuat produksi menurun drastis dan seringkali membuat petani frustasi dan akhirnya membiarkan saja lahan kakao yang dimilikinya atau akan mengganti dengan tanaman komoditi lain seperti kelapa sawit, cengkeh dst.

§           Menurunnya tingkat kesuburan lahan karena terjadinya erosi terutama di lahan lahan miring yang  belum dilakukan upaya konservasi tanah dan air oleh petani

§            Terbatasnya jumlah petani kader di tingkat desa yang memiliki ketrampilan teknis dan mampu menjadi fasilitator untuk melakukan penularan dari petani ke petani (farmer to farmer extension).

§          Pelatihan mengenai teknis budidaya seperti P3S (Pemangkasan, Pemupukan, Panen Teratur, dan Sanitasi) melalui Sekolah Lapang (Farmer Field School/FFS) sering tidak ditindaklanjuti di kebun petani masing masing, sehingga perlu ada kebun belajar bersama untuk tingkat hamparan dimana petani dapat saling berbagi ilmu dan pengalaman di kebun belajar dan menjadikan sebagai gerakan bersama yang masif dalam menerapkan prinsip budidaya kakao yang baik.

§            Belum semua petani kakao mau menerapkan paktek pertanian yang baik atau GAP (Good Agriculture Practices) seperti P3S dan pengendalian hama kakao secara terpadu. Dalam kenyataannya masih ada petani kakao yang tidak mau melakukan pemangkasan dan tetap membiarkan tanaman kakao tumbuh tinggi sehingga menyerupai hutan kakao, padahal sebenarnya petani diharapkan mau melakukan pemangkasan baik pemangkasan bentuk, pangkas produksi maupun pemangkasan pemeliharaan untuk merangsang terjadinya pembungaan, mempermudah pemanenan, mengurangi tingkat kelembaban dan memudahkan aliran udara sehingga diharapkan mampu menekan serangan hama dan penyakit pada areal tanaman kakao.

§             Selain itu, terkait dengan kebiasaan memupuk, masih banyak petani yang enggan menyediakan dan menyisihkan sebagian dana hasil pendapatan dari penjualan biji kakao untuk membeli pupuk buatan atau membuat pupuk organik sendiri dari limbah kulit kakao dicampur dengan bahan organik lainnya untuk melakukan pemupukan di kebun kakao dan sering mereka hanya mengandalkan pada kemurahan alam dari kesuburan lahannya yang tak pernah tersentuh pupuk.

§           Dalam hal pemanenan, masih banyak petani yang melakukan panen tak teratur sehingga sebaiknya petani mau melakukan pemanenan secara teratur sekaligus mengambil buah yang terserang hama dan penyakit sehingga dapat memutus siklus atau mengurangi serangan hama dan penyakit.

§                Sanitasi juga menjadi penting dalam pemeliharaan kebun kakao, karena juga dapat menekan serangan hama penyakit, namun dalam pelaksanaan penerapan P3S sebaiknya menggunakan pendekatan hamparan yang sama sehingga lebih efisien dan efektip.

§           Terbatasnya penyebaran secara masif dengan entris dari klon kakao unggul dengan produktivitas yang tinggi serta tahan terhadap hama dan penyakit tertentu dan sudah teruji dalam beradaptasi dengan lingkungan setempat di kalangan petani melalui sambung samping maupun sambung pucuk, bahkan juga pemindahan bantalan buah klon kakao unggul. Upaya perbaikan genetik melalui sambung (pucuk dan samping) mampu secara cepat meningkatkan produksi yang pada gilirannya mampu memotivasi petani untuk lebih serius dan fokus pada penerapan budidaya kakao yang baik.Untuk wilayah tertentu, penggunaan klon unggul hasil sambung samping maupun sambung pucuk masih sebatas pengenalan dan belum menyebar secara luas dan masif. (lebih…)

Iklan

Maret 11, 2014 at 10:45 am Tinggalkan komentar

Melepas belenggu keterjajahan para petani di era kemerdekaan yang ke 68 tahun, mungkinkah?

Setiap 17 Agustus-an, sebagai bangsa kita rutin mengulang ritual memperingati hari kemerdekaan dengan upacara bendera. Sebelum peringatan puncak kemerdekaan selalu diadakan berbagai kegiatan di kalangan masyarakat seperti gerak jalan, napak tilas, karnaval, hiburan seperti band, tarian dll, acara panjat pinang dan bahkan yang terbaru panjat pisang dengan berbagai iming iming hadiah, serta tabur bunga di makam para pahlawan/pejuang dan yang tak boleh dilupakan oleh rakyat adalah mengibarkan bendera nasional yakni bendera merah putih.

Namun kalau kita cermati profesi sebagai petani, hampir boleh dikatakan masih banyak keluarga petani kita yang terbelenggu dalam penjajahan, terutama di bidang ekonomi dengan terus naiknya harga saprodi/saprotan maupun sapronak, namun sementara harga atau nilai tukar hasil pertanian (dalam arti luas termasuk juga perikanan dan peternakan) dapat dikatakan tidak berpihak pada para petani, apalagi seiring dengan kenaikan harga BBM dan sembako. Masih banyak terutama daerah terpencil, para petani yang terlibat praktek ijon oleh para tengkulak yang tega menghisap darah dan keringat petani sehingga mereka semakin tercekik dengan rente tinggi yang harus dibayar oleh para petani. Belum lagi biaya sosial yang harus ditanggung keluarga petani yang prosentasenya juga masih cukup tinggi sehingga tidak mungkin bagi sebagian besar petani menyisihkan sebagian pendapatan dari hasil taninya untuk berinvestasi atau untuk mempersiapkan biaya produksi selanjutnya.

Meski ada organisasi petani seperti  Gapoktan yang merupakan gabungan kelompok petani di tingkat desa, namun pada kenyataannya hanya sedikit kelompok tani dan gapoktan yang benar benar aktip dan “hidup”, sebagian besar hanya ada diatas kertas. Meskipun kita tahu untuk menjadikan posisi tawar para petani menjadi kuat perlu ada Organisasi Petani (OP) yang mampu berbisnis dan menjadi pemasar bagi produk pertaniannya, namun dalam kenyataan masih sangat sedikit para petani yang memiliki lembaga pemasar misal koperasi yang kuat dengan manajemen yang transparan akuntabel, demokratis sehingga memiliki posisi tawar yang baik ketika berhadapan dengan sektor swasta (private sector).

Kalau kita tanya pada para petani dalam setiap pertemuan, apakah ada diantara mereka yang berprofesi sebagai pengusaha, maka dapat dikatakan jawabnya pasti tidak ada, padahal untuk menjadi kuat, petani harus menjadi seorang pembisnis/pengusaha yang handal dibidang usaha taninya.

Masih banyak petani yang mengganggap usahanya bukan sebagai bisnis dan dirinya juga tidak pernah merasa sebagai pengusaha sehingga wajar jika usaha tani yang digelutinya jika dilakukan perhitungan analisa usaha taninya meskipun terus merugi namun tetap saja dilakukan karena tidak pernah menganggap usaha taninya sebagai bisnis yang harus menguntungkan. Inilah sebenarnya tantangan yang paling utama, selain dalam hal teknis pertanian, yakni bagaimana mengubah pola pikir (mindset) para petani dan pola tindak untuk menjadikan usah taninya sebagai bisnis yang harus menguntungkan dan mampu mencukupi kebutuhan keluarganya sehingga dapat hidup layak dan sejahtera. Selain itu, kecerdasan finansial/keuangan para petani harus terus ditingkatkan sehingga dapat mengelola pendapatannya dengan baik dan mampu menambah asset/kekayaan yang dimilikinya dari menyisihkan sebagian pendapatannya dari pola hidup yang hemat.

Selain itu masih banyak faktor yang harus dibenahi dalam mendukung agrobisnis dan agro-industri dinegeri kita. Komoditi ekspor baik perikanan, peternakan maupun pertanian pangan dan perkebunan seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah tidak hanya dengan menyediakan dana saja dan menjadikannya proyek yang bernilai trilyuan rupiah, namun yang penting bagaimana ada kelanjutan pendampingan pada para petani yang terus berkelanjutan baik oleh BDS (Bussines Development Services) yang dijadikan mitra oelh pemerintah  maupun SKPD yang terkait dengan pengembangan pertanian dalam arti luas.

Negeri kita telah kehilangan kedaulatan pangannya dan terlihat beberapa komoditi pertanian yang sangat dibutuhkan masyarakat namun justru tidak dihasilkan oleh petani kita dan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri denga jalan  diimpor dari negara lain baik berupa beras, garam,bawang merah-putih,daging sapi, kedelai dll. Ketahanan negeri ini telah sangat keropos karena sebagai negara agraris kita tidak mampu memenuhi kebutuhan sendiri, sementara dimana mana beterbaran sarjana pertanian/peternakan/perikanan, tersebar juga pusat pusat penelitian berbagai komoditi, pusat pengembangan teknologi pertanian, ada banyak guru besar di bidang pertanian, ada dinas terkait yang menanganinya dst.

Sungguh miris dan sangat menyedihkan, sementara kita sedang memperingati kemerdekaan sebagai sebuah bangsa merdeka yang ke 68, justru banyak lahan pertanian  yang telah berpindah kepemilikan ke tangan para cukong/pemodal asing seperti lahan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan, semakin banyak lahan pertanian produktip penghasil pangan yang beralih fungsi menjadi lahan perumahan, industri, dan berbagai peruntukan lainnya. Lahan pangan lestari yang digagas pemerintah untuk melindungi berkurangnya lahan pertanian produktip terutama lahan sawah ternyata tidak berjalan dengan baik padahal ide/gagasan tersebut sangat cemerlang dan baik bagi kedaulatan pangan bangsa kita yang banyak membutuhkan beras. Banyaknya produk pangan impor yang lebih murah dibanding produk hasil petani kita telah memukul telak para petani kita  sehingga banyak yang terpaksa banting stir di usaha lainnya karena pemerintah telah menyerahkan semuanya pada mekanisme pasar bebas tanpa ada proteksi pada petani dengan berbagai alasan seperti globalisasi, kita sudah meratifikasi perjanjian dst.

Dukungan pemerintah pada para petani sebagai pelayan publik dalam pembangunan/penyediaan  infrastruktur yang mendukung pemasaran hasil produksi petani seperti jalan beraspal, pelabuhan kontainer, tersedianya bandara yang mampu didarati pesawat berbadan lebar sehingga kargonya juga besar volumenya, listrik, telekomunikasi  dll masih sangat terbatas, demikian pula ketersediaan dan akses teknologi pertanian yang mampu memberi nilai tambah dan memperpanjang umur produk petani masih sangat terbatas, tidak seperti negara Thailand yang terkenal dengan pengawetan produk pertanian yang tersaji secara apik dalam berbagai kemasan.

Saatnya petani memerdekakan diri dengan mengorganisir dirinya dalam organisasi bisnis yang kuat oleh petani sendiri melalui gerakan koperasi, saatnya petani menjadikan dirinya sebagai pembisnis yang handal dengan memnafaatkan teknologi daninformasi yang ada, saatnya para petani melalui organisasi berupa asosiasi harus mulai banyak yang mau dan mampu terjun di politik untuk menjadi anggota DPR/D sehingga dapat memperjuangkan hak dan kepentingan para petani, menjadikan jaringan organisasi petani disegani di tingkat nasional, sehingga diharapkan kedepan pemerintah pusat sudah selayaknya mau tidak mau harus menganggarkan lebih dari 30 % APBN  untuk pembangunan  pertanian di Indonesia.

Kebijakan negara seperti land reform harus dilaksanakan, tidak hanya bisa mengumbar janji palsu, semua kebijakan pemerintah yang tidak memihak petani tetapi justru memihak pemodal kuat/besar harus direvisi sehingga kedaulatan petani benar benar ditegakkan. Petani kita seharusnya terdiri dari kaum muda terdidik dan mempunyai keahlian untuk memajukan pertanian di Indonesia, membangun koperasi yang mempunyai saham di pabrik-pabrik pengolahan lanjut komoditi pertanian, berani menjadi eksportir bagi produk yang dihasilkannya dan pemerintah melalui Departemen Pertanian tidak hanya pandai beriklan “Petani sejahtera, Bangsa Berjaya” tetapi mampu mewujudkan secara nyata dalam kehidupan nyata para petani.

Saat yang tepat untuk memerdekakan para petani dari belenggu penjajahan dalam segala bentuknya, sehingga peringatan kemerdekaan ke 68 benar benar menjadi momen yang tepat dan jembatan emas bagi keluarga petani untuk mewujudkan kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, sejahtera lahir batin. Sudah telalu lama pemerintah kita memberikan impian palsu pada petani di Indonesia karena senyatanya semakin tua umur Republik Indonesia  justru kehidupan ekonomi para petaninya semakin renta, tak berdaulat dan terpinggirkan.

Agustus 16, 2013 at 9:11 am 1 komentar

KRITERIA ASOSIASI PETANI MANDIRI UNTUK MEMPEROLEH POSISI TAWAR YANG LEBIH BAIK

Kami coba sharing poin-poin penting untuk membuat kriteria mandiri Asosiasi Petani ;

1. Fund raising (Kemandirian finansial/ Keuangan)

1)      Biaya operasional asosiasi  ditanggung sendiri

2)     Mempunyai lembaga pemasaran (koperasi) dan mudah mengakses modal dari pihak lain serta dapat menyediakan uang muka dalam pembelian produk petani

2. Administrasi dan keuangan

1)      Neraca keuangan

2)      Buku adm lengkap

3)      Data produksi

4)      Kalender musim

5)      Data pemasaran

6)      Filing system baik dll.

3. SDM (Sumber Daya Manusia)

1)      Menguasai teknis pertanian komoditi andalannya

2)      Mampu menjalin kerjasama dengan pengusaha yang memberikan penawaran tertinggi dalam bentuk  kontrak/MoU secara tertulis.

3)      Mampu mengetahui dan menangkap peluang pasar

4)      Asosiasi  mempunyai anggota yang loyal

5)      Mampu memfasilitasi Renstra, RAB dll

6)      Mampu mengakses langsung ke pabrik

4. M I S

1)      Mampu memberikan informasi dan data produk secara akurat kepada pengusaha

2)      Mampu memberikan informasi pasar secara cepat dan akurat ke petani

3)      Asosiasi  mampu melakukanRMA (Rapid Market Appraisal) untuk mencari informasi  pasar

5. Jumlah produk yang dipasarkan

1)      Mampu memasarkan produk yg dihasilkan petani  minimal 50 % dari total produksi dikawasan yang didampingi.

2)      Mampu melakukan TQC (Total Quality Control)

3)      Mampu melakukan pengoganisasian komoditi/ produk

6 Jaringan bisnis

Lokal, nasional, internasional

7. Mekanisme kerja

1)      Mempunyai data pengusaha

2)      Mampu melakukan pengolahan hasil dan memasarkan

3)      Mampu menyediakan produk setengah jadi

8  Fasilitas

1)      Kendaraan roda 4

2)      Sepeda motor

3)      Gudang penyimpanan

4)      Kantor

5)      Timbangan / dacin

6)      Telpon, internet. LCD

7)      Tester kadar air

8)      Gancu

9. Strategi pemasaran

1)      Media (cetak & elektronik)

2)      Pameran (pemerintah, dinas terkait)

3)      Brosur, pamflet

4)      Internet

5)      Dll

10. Bussines plan

 

 Hanya merupakan poin poin saja yang dapat diterjemahkan menajdi lebih rinci dan lengkap.

 

April 28, 2013 at 9:01 am Tinggalkan komentar

Menjadikan organisasi petani sebagai lembaga bisnis yang menguntungkan , sebuah keharusan ?

Negara kita terlalu banyak warganya yang berprofesi sebagai petani, namun sayangnya justru persepsi mengenai para petani masih sebatas sebagai produsen, tak paham teknologi, tak mengerti manajemen dll sehingga tak heran jarang anak muda yang bercita cita menjadi petani karena masa depannya tidak menjanjikan.

Apa yang salah dengan petani kita yang sebagian besar masih saja terbelenggu dalam hidup berkekurangan  (modal, teknologi, akses informasi dll) ?

Dulu ketika masih mempelajari ekonomi pertanian, selalu dikatakan oleh para pakar ekonomi bahwa masalah utama petani kita adalah kepemilikan lahan yang sempit, tidak dapat mengakses modal karena tidak ada agunan dll.

Memang hal itu menjadi masalah, namun yang tak kalah bermasalah adalah cara pikir/mindset petani sendiri yang menganggap dirinya merupakan kaum kelas bawah yang memang patut hidup menderita, tinggal di pelosok desa dan semua kesan negatip yang ditimpakan kalangan berada dan intelektual kota pada mereka dan sayangnya banyak dari para petani  yang mengamini dan menyakininya serta  dianggap sebuah takdir yang harus diterima.

Seringkali pendekatan yang dilakukan dalam pemberdayaan petani hanya melihat petani sebagai produsen saja sehingga intervensi program lebih difokuskan hanya dari sisi teknis produksi yakni bagaimana meningkatkan produksi sebagai bahan mentah (raw material) yang memang di pasaran jumlahnya membludak karena over supply di musim tertentu sehingga berakibat harga komoditi petani jatuh bebas dan petani menjadi merugi. Kita harusnya belajar dari Thailand dan China bagaimana upaya pemerintah dalam  mendukung secara penuh pada usaha pertanian dan menjadikan pertanian sebagai bisnis rakyatnya yang harus memberi keuntungan dan menjadi income/pendapatan  yang dapat mencukupi kebutuhan petani untuk hidup layak.

Pendekatan lain yang tak kalah mengherankan adalah ketika memperkuat institusi/organisasi petani baik melalui Gapoktan maupun Koperasi tani (Koptan), seringkali yang dilakukan hanya menyediakan modal usaha sampai ratusan juta rupiah tanpa ada tahapan sistematis yang harus dilakukan agar dana tersebut dapat dikelola dengan baik dan tidak menjadi rebutan/bancakan untuk dikorup. Seolah olah dengan memberi dana dalam jumlah banyak menurut ukuran petani, maka mereka akan terbebas dari permasalahan yang dihadapi. Demikian pula ketersediaan KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang sangat baik sebagai bagian upaya pemerintah mendekatkan akses petani pada permodalan karena tanpa agunan, ternyata juga banyak yang belum memahami cara mengakses KUR serta bagaimana meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola KUR agar dana tersebut bertambah jumlahnya.

Sebenarnya perlu dilakukan pentahapan yang harus diikuti dalam menfasilitasi pemberdayaan organisasi petani menajdi lembaga bisnis yang menguntungkan.

Yang pertama adalah bagaimana memfasilitasi petani untuk membangun solidaritas sejati melalui hidup berkelompok dan bekerja sama bergotong royong untuk memperkuat dan mempermudah mereka dalam mewujudkan impian bersama hidup sejahtera sebagai petani dengan berbagai kegiatan seperti bekerja bersama di lahan mereka, membangun UBSP (Usaha Bersama Simpan Pinjam) sebagai cikal bakal koperasi tani lintas desa, dan menjauhkan petani dari hidup berkelompok hanya untuk memenuhi persyaratan agar  mendapat bantuan. Dalam berkelompok, para petani harus diikat oleh rasa persaudaraan yang kuat dan kesadaran yang muncul kalau mereka bekerja sendiri akan dilindas dan digilas oleh perubahan yang cepat di era globalisasi. Mereka harus menyadari dan mau belajar dari sarang laba laba yang mampu melindungi diri sekaligus menjebak mangsanya sehingga walau para petani lemah secara perorangan, namun jika bersatu dalam jaringan bak laba laba mereka akan mempunyai kekeuatan yang dasyat untuk memperjuangkan hak dan kepentingannya.

Yang kedua, petani harus melihat usahanya sebagai bisnis yang harus menguntungkan, dan mau tak mau petani harus mempunyai jiwa bisnis yang kuat, mempunyai manajemen bisnis/usaha dan mampu melakukan analisis usaha taninya dengan baik sehingga diketahui apakah menguntungkan atau justru merugikan dan mampu memadukan potensi yang ada antara ketersediaan modal, teknologi yang tersedia dan  dimiliki, peluang pasar dan kekuatan mereka sebagai pemilik barang yang jika dipasarkan secara bersama akan mendapat harga yang lebih baik. Disini peran koperasi tani sangat menentukan, dimana beberapa petani dalam beberapa desa dapat bergabung mendirikan koperasi untuk membangun kesejahteraan bersama.Memang tidak mudah karena saat ini dikalangan petani sulit saling percaya satu dengan yang lain terkait pengelolaan uang karena pengalaman traumatik KUD pada masa silam, namun kita juga tak menutup mata ada beberapa KUD yang sampai kini masih tetap eksis dan  seksi serta terus bertumbuh menjadi koperasi besar , modern dan tangguh karena benar benar mendasarkan pada jati diri koperasi, membangun sistem kontrol yang kuat, dimotori oleh pengurus yang jujur, loyal dan mau berkorban untuk kepentingan kaum tani yang memberi kepercayaan kepadanya. Dalam hidup berkoperasi, para petani sebagai anggota mulai diajak untuk meningkatkan 3 K yakni Kualitas, Kuantitas dan Kontinyuitas/keberlanjutan produksi sehingga dapat dipercaya sebagai pemasok bahan mentah atau setengah jadi utnuk industri besar maupun pasar yang membutuhkan. Di dalam hidup berkoperasi para petani juga dapat terus menerus diedukasi untuk hidup hemat, rajin menabung/menyimpan, mengelola ekonomi rumah tangga dengan baik karena meningkatnya kecerdasan finansial. Dengan berkoperasi, maka petani mampu mengakses permodalan, mengakses teknologi pasca panen, teknologi prossesing dan pengemasan sehingga produknya mampu bertahan lama, mampu bersaing dengan kompetitor di pasaran dan mampu memenuhi selera konsumen dan yang tak kalah penting mampu memberikan nilai tambah (added value ).

Yang ketiga, yang tak kalah pentingnya adalah pemerintah baik pusat maupun daerah harus menggarap serius pembangunan infrastruktur yang memang dibutuhkan para petani  dan  mampu mempermudah dan mendukung komoditi maupun produk pertanian menuju pasar sehingga petani tidak dibebani ekonomi berbiaya tinggi hanya karena sulitnya transportasi karena akses jalan yang buruk, terbatasnya kapasitas alat transport, belum adanya dermaga peti kemas, terbatasnya landasan bandara sehingga tidak mampu membawa kargo dalam jumlah besar dll.

Pembangunan jangan hanya terpusat di ibukota kabupaten/kota dan APBD jangan hanya digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah dan kelihatan wah serta jangan banyak dianggarkan hanya unnuk perjalanan dinas keluar daerah. Saatnya di tahun baru 2013 jika pemerintah benar benar mau mensejahterakan rakyat yang sebagian besar petani, pembangunan harus diarahkan ke daerah dan desa dan saatnya para pemimpin baik nasional maupun daerah dengan rendah hati mau mencontoh cara kerja Jokowi-Ahok yang rela dengan berpanas panas mendatangi rakyatnya, mempunyai empati untuk mendengarkan keluhan dan permasalahan yang dihadapi dan dengan kekuasaan yang ada ditangannya dicarikan solusi yang pas dan langsung ditindak lanjuti serta dikontrol pelaksanaannya.

Rakyat, khususnya para petani akan sangat berterima kasih jika para pemimpin tidak hanya jadi pimpinan yang fasih memberi instruksi dan perintah saja, namun yang mau turun dan dengan hati terbuka dan kebeningan nurani mau menjadikan jabatan dan otoritas yang dimilikinya sebagai amanah untuk berbenah dan memberi harapan baru pada rakyat, terutama para petani yang selama ini dijadikan korban atas nama pembangunan nasional.

Saatnya pemerintah bertindak tegas mengembalikan lahan yang dikuasai para pengusaha pemodal kuat dengan cara yang tidak benar/melawan hukum kepada pemiliknya yakni para petani yang dirampas dan diambil paksa lahannya tanpa harus menambah lagi korban petani yang mati sia sia diterjang peluru para aparat dan ditebas parang para preman yang disewa para pemodal kuat untuk tetap menguasai lahan yang seharusnya dimiliki dan dikuasai petani. Semoga petani semakin berjaya dan menjadi tuan di negerinya sendiri melalui penguatan organisasi petani sebagai lembaga bisnis yang menguntungkan.

Januari 8, 2013 at 9:29 am Tinggalkan komentar

Menfasilitasi penguatan Organisasi Petani untuk membantu mewujudkan impian mereka

Tak terasa, karena tugas reguler saya harus kembali lagi mengunjungi Kota Kupang, kota penuh kenangan yang tak pernah kulupakan karena pernah tingal selama 9 tahun bersama keluarga dan mengingat kembali Adit anakku yang dibesarkan disana dengan celoteh gaya Kupang yang senang memakai kosa kata “sonde, jangan pele  dan akhiran kata sa”. Terkenang rute gerilya untuk mengantar setiap pagi anak pergi ke sekolah dengan motor meski hujan badai sedang berlangsung.

Kembali ke tugas rutin saat ini untuk melaksanakan pendampingan bagi para petani, maka meluncurlah dengan transportasi  menggunakan bus umum  menuju Kefamenanu Kab TTU.

Perjalanan yang cukup panjang selama 6 jam untuk seusiaku yang sudah menembus angka 50 tahun ternyata tidak mudah karena cukup menguras tenaga,  tidak lagi seperti kondisi sepuluh tahun yang lalu meski saat itu harus menempuh jarak yang lebih jauh dan waktu yang lebih lama menuju Atambua, kota kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Terasa senang rasanya bisa kembali bertemu dengan wajah-wajah tak asing yakni para petani TTU dampingan sebuah NGO lokal terkemuka di TTU yang telah lama bersama sama untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan berupa wanatani (Agroforestry) untuk meningkatkan produksi para petani, mencegah kegagalan panen yang dapat berakibat rawan pangan yang berujung kelaparan. Sudah sejak 2003 kami bersama sama mengembangkan pertanian berkelanjutan  tidak hanya wilayah HULU yakni bangaimana meningkatkan produksi melalui wana tani, namun telah melangkah lebih jauh masuk dalam wilayah HILIR yakni pengembangan program pemasaran bersama untuk memperkuat petani dalam meningkatkan  posisi tawar dengan pedagang pembeli komoditi sehingga memperoleh harga yang layak.

Masih ingat dibenakku, betapa para petani begitu mudah dipermainkan harga komoditinya oleh para pengijon, tengkulak, pedagang lokal tanpa dapat berbuat banyak, sehingga solusi jalan keluarnya agar petani dapat berdaya melalui program pemasaran bersama kami menfasilitasi para petani untuk  mencoba membangun kekuatan melalui asosiasi petani agar dapat mengakses pasar sehingga dapat memperoleh harga yang layak. Perjalanan panjang yang terjal penuh onak dan duri, melelahkan secara fisik dan psikis karena betapa tidak mudah untuk mengajak teman pendamping dari NGO lokal untuk mau mendampingi petani mengakses pasar. Saya dapat memaklumi karena memang tidak mudah mengubah paradigma dan mau keluar dari zona nyaman dimana pendampingan yang dilakukan selama ini lebih  fokus pada peningkatan produksi, dan program pemasaran bersama dalam rangka mengakses pasar bagi teman pendamping adalah sesuatu yang sama sekali baru dan penuh resiko.

Puji Tuhan, akhirnya kami bersama teman teman mitra mulai melakukan program pemasaran bersama dengan melalui berbagai aktivitas yang telah dirancang.

Salah satu kegiatan yang penting adalah para pendamping ditingkatkan pemahaman dan ketrampilannya mengakses pasar melalui berbagai training seperti konsep pemasaran bersama, marketing, penumbuhan jiwa bisnis, penjajagan pasar secara cepat, manajemen usaha, kepemimpinan  dll untuk kemudian mereka menfasilitasi petani untuk mampu melakukan hal yang sama yakni melakukan pemasaran bersama.

Melalui trial and error dan jatuh bangun, maka kemudian para petani terus didampingi dan difasilitasi teman mitra dari NGO lokal untuk mau menyatukan diri dalam wadah organisasi petani guna mencari informasi harga komoditi yang mereka pasarkan, mencari tahu apa saja permintaan dan kemauan  pasar, melakukan negosiasi dan transaksi dengan pengusaha pedagang hasil bumi di ibukota kabupaten.

Tidak mudah mengajak petani mau terjun ke pasar karena seringkali dalam diri mereka mereka belum terlalu percaya diri, ada rasa perasaan kawatir dan ketakutan untuk bertemu langsung dengan pengusaha, namun setelah ditingkatkan kapasitasnya terkait pemasaran serta didampingi mitra, perlahan namun pasti penghambat mental (mental block) yang ada di diri petani mulai terpecahkan dan berganti dengan antusiasme dan semangat yang tak kenal menyerah dari para  petani untuk terus bergerak mencari pasar sehingga mendapat harga yang lebih layak dari hasil kerja keras mereka yang penuh dengan cucuran keringat dan air mata.

Kadang rasa haru campur bahagia menyergap dalam jiwaku mendengar dan melihat pendar mata para petani yang berbinar dan senyuman yang tersungging ketika mereka memperoleh harga yang lebih tinggi meski sebenarnya masih belum sebanding dengan hasil kerja mereka. Itulah salah satu ironi dinegeri agraris dimana petani tak berdaya menghadapi permainan  pasar yang sering tega bersenang senang dan menari nari diatas penderitaan petani yang telah berjasa menyediakan bahan pangan dan bahan mentah untuk kebutuhan industri. (lebih…)

November 11, 2012 at 7:02 am Tinggalkan komentar

Kacang Tanah Berubah Menjadi “SAPI”

Desa Fatusane masuk dalam wilayah kerja Kecamatan Miomafu Timur Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan salah satu desa dari keseluruhan 15 desa yang tergabung dalam Asosisasi BITUNA. Jarak desa Fatusene dari pusat kota Kefamenanu tidak terlalu jauh, namun jalan menuju Desa Fatusane dan desa-desa lain yang tergabung dalam Asosiasi BITUNA masih jalan berbatu dan belum beraspal dimana pada saat musim hujan sulit dilewati kendaraan.

Dalam suatu kunjungan yang dilakukan oleh DPRD ke Desa Fatusene, Bapak Ruben sebagai salah satu kader pemasaran  pernah menyampaikan pada pihak DPRD  soal jalan raya yang kondisinya sangat rusak. Semua masyarakat desa mengharapkan jalan raya yang baik sehingga mendukung kegiatan  di desa dan harapan ini sudah sejak lama hanya saja belum terealisasi. Janji  dan sejuta harapan lain selalu disampaikan pada saat kampanye tetapa tidak pernah terealisasi. Seperti kehidupan desa-desa lainnya di TTU yang terus berbenah mengejar ketertinggalan dan mmewujudkan impian untuk sejahtera seperti diamanatkan dalam Pembukaan UUD 45, maka semangat warga desa untuk terus meningkatkan pendapatan dan membangun sarana dan prasarana di desa terus dilakukan. Salah satu kegiatan yang tak lepas dari kehidupan masyarakat adalah bercocok tanam. Setiap desa memiliki komoditi unggulan dan untuk Desa Fatusene komoditi unggulan untuk dijual adalah kemiri, asam dan kacang tanah.

Namun seperti halnya nasib petani pada umumnya, petani di Desa Fatusane juga mengalami nasib yang sama ketika menjual hasil pertanian. Seperti ungkapan Mama Fenti seorang kader pemasaran Desa Fatusene, mengatakan sebelum ada Asosiasi yang melakukan pemasaran bersama, kami sangat tergantung pada pengusaha. Bahkan kadang komoditi seperti asam yang sudah dipetik tidak lagi berharga dan dibiarkan terbuang percuma. Lebih lanjut dikatakan oleh Bapak Beatus seorang  kader pemasaran, seorang temannya pernah membuang asam sebanyak kira-kira 300 kg karena hanya dihargai Rp. 200/kg harga komoditi asam yang diterima tidak seimbang dengan pengorbanan yang diberikan. Ceritera lain datang dari Mama Be’a ,salah  seorang anggota kelompok tani yang dengan sangat antusias menceriterakan pengalamannya terkait dengan pemasaran bersama. (lebih…)

November 18, 2011 at 9:31 am Tinggalkan komentar

Petani Sejahtera, Bangsa Berjaya, sekedar slogan atau benar-benar jadi kenyataan ?

Kalau anda termasuk orang yang gemar dan betah berlama-lama di depan layar kaca TV maka slogan tersebut hampir selalu muncul dengan berbagai varian iklannya hasil persembahan dari Departemen Pertanian. Sebuah iklan layanan masyarakat yang patut diapresiasi meski masih dipertanyakan perwujudannya,mengapa ?

Mari kita lihat kehidupan nyata kebanyakan petani diseputaran kita, apakah benar hasil jerih mereka dihargai dan peran mereka dalam menyediakan pangan bagi negeri ini dalam ikut serta mewujudkan kedaulatan pangan dianggap hal yang strategis? Belum hilang dari ingatan kita bagaimana kebijakan impor garam tetap dilakukan sementara pengrajin garam didalam negeri menjerit karena tak mampu memasarkannya, begitu pula dengan  kasus impor sayuran berupa wortel dan kentang dari China yang membanjiri pasar di kota besar di Indonesia.

Begitu ironi ketika Indonesia mengklaim sebagai bangsa agraris namun justru tingkat kehidupan petaninya tidak semakin membaik namun justru semakin terpuruk, generasi muda dan bahkan anak petani sendiri tidak mau lagi jadi petani karena melihat kesengsaraan dan penderitaan orang tuanya ketika menghidupi keluarganya dari jerih payah bertani dan semakin banyak generasi muda yang memilih pergi ke kota maupun jadi TKI di sektor informal. Pedesaan semakin sunyi dan lahan-lahan mulai terlihat murung karena hanya disentuh tangan-tangan renta yang sudah tidak lagi bertenaga. Kalaupun mereka masih bertani, itu bukan merupakan pilihan bebas namun hanya terpaksa untuk sekedar menyambung hidup yang harus terus berputar meski mereka tahu bahwa bidang yang digelutinya tidak punya prospek masa depan kecuali untuk para petani tuan tanah yang memiliki lahan cukup untuk bertani dan menyewakan maupun menyakapkannya dengan bagi hasil.

Kebijakan yang tidak berpihak pada petani

Memang kita dapat terkecoh kalau melihat data hasil pertanian dalam artian luas  termasuk didalamnya hasil perkebunan terutama kelapa sawit yang begitu mnggiurkan hasilnya namun sebenarnya lebih banyak dikelola pemodal besar dalam bentuk perkebunan besar dan padat modal. Andaikan ada petani sawit yang menjadi model iklan sebuah bank dan sukses dalam usaha sawitnya namun sebenarnya tidak mewakili sebagian besar petani kelapa sawit yang ada. Petani saat ini terus diburu oleh tingginya biaya utnuk penyediaan input sarana produksi yang terus naik sementara harga jual produk pertaniannya tidak menjamin akan memperoleh keuntungan yang dapat digunakan untuk memenuhi penghidupan yang layak. Kebijakan reforma agraria yang didalamnya termasuk land reform hanya sempat terjadi dan dilaksanakan di masa pemerintahan Gus Dur dan tidak berlanjut sampai saat ini. Kebijakan yang digulirkan pemerintah di bidang pertanian masih bagaikan pemadam kebakaran yang hanya mematikan api di permukaan tanpa menyentuh bara sekam yang masih terus ada dibawahnya. Penyelesaian yang cenderung setengah hati telah membuat pertanian semakin dijauhi dan semakin tidak punya prospek masa depan meski kita berharap akan semakin banyak generasi muda terdidik yang mau melanjutkan profesi orang tuanya sebagai petani yang sukses dan sejahtera. (lebih…)

November 14, 2011 at 12:50 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kategori

September 2017
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Tamu Adikarsa

  • 53,619 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tidak ada