Posts filed under ‘Politik’

Kemerdekaan Indonesia jilid II

Untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia jilid I
Kita membutuhkan banyak pahlawan revolusi
Sehingga kita bebas dari penjajahan bangsa lain
Untuk mewujudkan Kemerdekaan Indonesia jiid II dari ;
Kemiskinan,kebodohan, kematian balita sia sia
Mencerdaskan bangsa, mejaga budaya luhur kita
Kita butuh banyak pahlawan revolusi mental bangsa
Karena ketika kita gegap gempita membangun fisik
Maka kita di jaman ORBA lupa membangun JIWA
Sehingga korupsi,kolusi dan nepotisme merajalela
Dalam lagu kebangsaan kita “Indonesia Raya”
Bangunlah JIWA-nya,baru Bangunlah BADAN-nya
Belum terlambat untuk lebih memilih ORANG BAIK
meminjam dari perkataan Bapak Anis Baswedan
Menjadi pemimpin negeri ini ke depan pada PILPRES
Untuk Indonesia yang LEBIH BAIK dan lebih baik lagi

 

Iklan

Mei 28, 2014 at 2:59 pm Tinggalkan komentar

Pilih mana, Capres & Cawapres yang didukung “Koalisi Ramping Profesional- Merakyat atau Koalisi Tenda besar Merah Putih” ?

Pilpres sudah diambang pintu tinggal menghitung hari, sementara persaingan memperebutkan kursi kepresidenan sudah dimulai dengan berbagai cara yang dilakukan oleh timses masing masing untuk menyusun startegi pemenangan.
Berbagai analisa para pengamat semakin banyak dijumpai di media tv yang sayangnya juga tidak bisa netral karena masing masing koalisi memanfaatkan media yang dimilikinya untuk memenangkan koalisi yang didukungnya.
Tidak mudah bagi rakyat untuk memilih pasangan Capres & Cawapres karena masing masing pihak timses selalu mencari jalan untuk menyampaikan informasi yang menguntungkan pihak yang didukungnya, dan yang sangat disayangkan banyak partai politik kita yang terjebak dalam politik transaksional demi mengejar ambisi untuk dapat menduduki jabatan dan dapat terus berkuasa meski kita semua tahu bahwa kekuasaan yang ditangannya tidak lagi dipersembahkan untuk kesejahteraan rakyat, namun lebih bagaimana mengamankan kepentingannya serta menumpuk sebanyak banyaknya kekayaan/harta benda.
Sebenarnya dalam memilih Capres – Cawapres, kita harus mendasarkan pada kriteria yang diharapkan mampu mensejahterakan rakyat melalui visi, misi dan program kerja selama 5 tahun menjabat dan juga mendasarkan pada rekam jejak prestasinya yang menunjukkan cara pandangnya,kapabilitas,kompentensi, integritas pribadi serta untuk mengetahui apakah sebelumnya Capres &Cawapres mempunyai masalah terkait hukum baik berupa korupsi,nepotisme,kolusi atau juga pelanggaran hukum lainnya seperti tindak kriminal dsb.
Rakyat saat ini dihadapkan pada dua kubu yang sangat kontras yakni Koalisi Ramping Profesional-Merakyat versus Kolaisi Tenda Besar Merah Putih sehingga dengan pembedaan yang sangat nyata sebenarnya lebih memudahkan rakyat untuk menentukan pilihan, meski kedua pihak sama sama memakai baju warna putih namun beda jumlah saku.

Secara pribadi saya tetap memilih pemimpin dengan mendasarkan pada kriteria ;

 Kepribadian dan integritasnya yang tercermin dari sifat kejujurannya, kesederhanaannya yang tanpa polesan dan pencitraan serta apa adanya meski terlihat lugu dan kurang meyakinkan, tidak arogan tetapi dekat dan dapat disapa langsung oleh rakyat kebanyakan, yang terlihat ramah meski tidak terlihat gagah dll.
 Anti kekerasan terhadap rakyat sendiri melalui pembangunan yang mengedepankan kemanusiaan dan dilakukan secara partisipatip dengan solusi yang tak bikin emosi rakyat meledak, mampu melakukan rekonsialisi dan rujuk nasional, mampu menjadi penengah dalam berbagai konflik yang melanda negeri ini.
 Mau dan mampu membangun ekonomi kerakyatan melalui penataan PKL, pembangunan pasar tradisional berstandar mall/supermarket,menggunakan produk dalam negeri untuk mengurangi serta kedepan menghilangkan ketergantungan pada impor dalam memenuhi kebutuhan rakyat melalui kerja sama dengan propinsi lain untuk membeli produk bangsa sendiri karena kita merupakan negara yang berdaulat baik dalam hal pangan, energi,budaya, ekonomi dll.
 Mau berteman dengan siapa saja termasuk lawan politiknya, yang tidak mau membalas meski diejek dengan berbagai puisi yang menyakitkan, yang terbebas dari sikap diskriminasi SARA.
 Mau bekerja membangun negeri ini dengan ketulusan dengan mau datang ke berbagai pelosok nusantara meski membutuhkan waktu dan energi yang besar.
 Mampu bergaul dan diterima dikalangan internasional .

Saatnya rakyat berdaulat untuk menentukan pilihan memilih Presiden dan Wakil Presiden yang akan menjadi nahkoda bagi kapal bernama Indonesia dengan selalu menerapkan sila sila Panca Sila sebagai dasar negara untuk mampu menuju dan berlabuh di pelabuhan Indonesia RAYA yang adil, sejahtera dan damai.
Salam untuk sesama anak bangsa yang rindu perubahan mendasar.

Mei 24, 2014 at 6:18 am Tinggalkan komentar

Semoga rakyat bisa masuk ke “Rumah Indonesia”

Dalam pembukaan UUD 45 tertulis;
“Menghantar Rakyat indonesia kedepan
pintu gerbang kemerdekaan Indonesia ”

Semoga Pilpres kali ini setelah 69 tahun merdeka
Kunci “rumah Indonesia” sudah kembali ditemukan
sehingga Presiden dapat menghantar rakyat Indonesia
masuk ke dalam Rumah Indonesia Raya yang jaya

Tambang kita kelola sendiri oleh ahli2 muda
Hasil pertanian & sapi tidak perlu lagi impor
Hasil laut tidak lagi dicuri para nelayan asing
Hutan lestari hijau selalu ada dimana mana
Mata air mudah didapat dibumi pertiwi tercinta
Tiada lagi banjir, longsor dan kekeringan
Perumahan untuk rakyat mudah diperoleh
Bukan hanya rumah mewah seperti di iklan TV

April 19, 2014 at 5:03 am Tinggalkan komentar

PEMILU, Antara JANJI – JANJI & ILUSI ?

Pemilu legislatip sudah diambang waktu dan hanya tinggal menghitung hari yang akan dilaksanakan di bulan mendatang (April) yang pada awal pemilu sudah ditandai dengan pemasangan baliho para caleg di sepanjang jalan diseantero nusantara, ditambah iklan yang bertubi tubi,membosankan  dan menjengkelkan oleh media tayang nasional, apalagi bagi empunya pemilik stasiun tv nasional yang ikut terlibat politik praktis dengan tanpa malu malu telah dengan sengaja dan sadar diri menggunakan media yang dimilikinya untuk ikut memenangkan dirinya dengan berbagai jalan.

Seolah tak mau belajar dari kesalahan dan pengalaman PEMILU sebelumnya, maka PEMILU tahun ini juga diawali dengan keributan mengenai uji kelolosan partai, ke-sahih-an/ validitas data dari DPT,dll.

Dan yang tak kalah mencengangkan, ternyata para CALEG nasional kita menurut berita media 90% muka lama alias kembali lagi untuk mencalonkan diri  dan hanya 10 % yang benar benar muka baru. Hal ini berarti kita akan lebih banyak memilih diantara para caleg yang sebelumnya telah gagal ketika menjadi anggota DPR karena kinerjanya yang rendah, suka membolos, suka jalan jalan ke luar negeri atas nama studi banding, suka sensasi dan yang paling parah ternyata sebagian anggota DPR aktip sangat doyan korupsi dengan bukti nyata mereka para oknum anggota DPR telah tertangkap oleh KPK dan tengah menjalani hukuman di rutan KPK. Lalu, dengan memilih caleg yang 90 % muka lama, perubahan apa yang bisa kita harapkan dari mereka?????

Kita sebagai rakyat pemilih sebenarnya juga perlu mempertanyakan sanksi apa yang dapat dilakukan oleh rakyat apabila anggota DPR terpilih, kemudian ternyata mengingkari amanah rakyat, melakukan tindakan tak terpuji, asusila dll? Apakah rakyat dapat melakukan mosi tak percaya atau menurunkan para anggota DPR yang sudah tak terhormat dan penuh cela?

Sistem perpolitikan kita melalui sistem kepartaian sehingga wajar jika caleg yang diajukan tidak mampu memenuhi aspirasi dan harapan rakyat karena menurut kabar yang beredar ternyata sistem perekrutan caleg yang dilakukan partai sebagian besar tak transparan, beraroma setor modal,  nepotisme, tanpa kriteria yang jelas seperti profesionalisme, kemampuan intelektualitas yang tinggi, integritas , rekam jejak dalam berkarya untuk rakyat dll.Kewenangan partai yang begitu besar untuk menempatkan kadernya di DPR dan tidak adanya  sistem yang memungkinkan rakyat melakukan “CANCEL” untuk para anggota DPR yang suka bolos, selingkuh, menelantarkan istri dan anaknya , asal omong, suka sensasi dll telah membiarkan anggota DPR berlaku seenaknya meski telah ada kritik bahkan caci maki dari rakyat yang memilihnya. (lebih…)

Maret 12, 2014 at 6:10 am Tinggalkan komentar

Dicari, PRESIDEN Republik Indonesia yang merakyat, nasionalis dan visioner

Pelaksanaan PEMILU yang dilanjutkan dengan pemilihan PRESIDEN sudah semakin mendekat di tahun politik yang sangat menentukan arah bangsa dan negeri kita tercinta Indonesia. Hiruk pikuk dan gonjang ganjing politik telah mewarnai kehidupan keseharian kita, karena momen penting Pemilu dan Pemilihan Presiden diharapkan mampu membawa perubahan besar bagi rakyat jelata, apalagi pemberitaan media massa yang gencar memberitakan mengenai tertangkapnya para koruptor oleh KPK dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan legiislatip (DPR/DPRD), eksekutip (para bupati dan gubernur serta bawahannya), juga dikalangan yudikatip(tertangkap tangannya beberapa hakim dan mantan Ketua MK Akil Mochtar) telah membuat rakyat semakin marah, geram dan muak dengan para pemimpin nasional yang menjadikan panggung politik nasional penuh dengan sandiwara dan pencitraan.

Saatnya rakyat menunjukkan keberdaulatannya sebagai pemilik republik ini dengan memperlihatkan sikap yang cerdas untuk tidak lagi salah dalam memilih pemimpin terutama pimpinan nasional yakni Presiden.

Pemimpin yang sederhana & melayani

Di era demokrasi yang semakin transparan karena semakin berfungsinya kontrol oleh berbagai komponen bangsa terutama oleh kalangan pers, maka tipikal pemimpin yang selalu jaga image (jaim), dikawal ketat oleh banyak ajudan, dibawakan tasnya, dibukakan pintu mobilnya, bersikap angkuh/arogan dll sudah mulai ditinggalkan dan tidak lagi disukai oleh rakyat. (lebih…)

Maret 8, 2014 at 11:22 am Tinggalkan komentar

Litani kondisi perpolitikan negeri tercinta

Mengapa PANCASILA dilupakan ????

Ketika melakukan korupsi berjamaah, mereka lupa Pancasila
Ketika memboroskan uang negara, mereka lupa Pancasila
Ketika membiarkan rakyat terus susah, mereka lupa Pancasila
Ketika melakukan tawuran, mereka lupa Pancasila
Ketika melakukan berbagai pungli, mereka lupa Pancasila
Ketika banyak balita mati kurang gizi, mereka lupa Pancasila
Ketika terlambat bayar gaji pemain bola, mereka lupa Pancasila
Ketika melukai yang berbeda keyakinan, mereka lupa Pancasila

Ketika pemimpin tidak bertindak tegas, mereka lupa Pancasila
Ketika pemimpin tidak peduli rakyatnya, mereka lupa Pancasila
Ketika pemimpin minta dilayani, mereka lupa Pancasila
Ketika banjir & longsor terus saja terjadi, pemimpin lupa Pancasila

Dimanakah PANCASILA sekarang berada ?????

Perseteruan yang membawa kehancuran bangsa

Perseteruan PSSi vs KPSI yang berkepanjangan
Hasilnya Timnas sepakbola kita jadi korbannya
Dipermalukan oleh negeri serumpun yg suka menghina

Perseteruan KPK vs POLRI berkelanjutan
Hasilnya pasti koruptor akan tertawa senang
Negeri kita semakin rapuh, lemah dan lapuk
Semoga RI tidak jadi negeri kenangan.

S O S Narkoba ???????????

Setelah pemberian kasus grasi OLA yang ternyata bandar narkoba
Dan sudah ada hampir 5.000.000 (lima juta) rakyat terkena narkoba
Setelah para oknum aparat penegak hukum juga terlibat narkoba
Baik sebagai pengguna, pengedar maupun menjadi bandar narkoba

Apa tindakan pemerintah bersama penegak hukum untuk mengatasinya?
Bukankah mencegah lebih mudah dan murah daripada mengobati ?

Ada yang aneh dengan pemberantasan narkoba di Indonesia
Jangan-jangan mafia narkoba yang begitu banyak duit/dananya
Sudah mulai menggunakan dananya untuk mempermudah operasinya
Dan negeri kita jadi ladang pembantaian bagi generasi muda harapan bangsa
Melalui peredaran dan penggunaan NARKOBA yang masif & berkelanjutan.

Masih relevankah peringatan di negeri ini ?

Kegiatan memperingati momentum hari bersejarah
Terlihat mulai dipertanyakan kegunaannya di negeri ini
Mulai dari Hari Kartini, Lahir dan Kesaktian Pancasila,
Hari Kemerdekaan, Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan dst

Negeri ini terlihat tidak semakin membaik dg peringatan
Meski kita terus memperingati berbagai momentum bersejarah
Meski kita terus telah digoncang gempa, tsunami dan banjir
Kita tetap saja negeri yang subur dan makmur koruptornya
Negeri yang bebas & penuh peredaran alkohol, narkoba
Negeri yang penuh dengan tawuran & dendam antar elit politik
Negeri yang bangga dengan hutang luar negeri yg menggunung

Negeri ini butuh pemimpin yang benar benar berjiwa kesatria sejati
Bukan hanya sekedar kesatria yg berasal dari hasil penobatan
Kita butuh pemimpin yang meneladankan kejujuran dlm keseharian
Bukan hanya yg berteriak akan memimpin pemberantasan korupsi
Kita butuh pemimpin yang turun ke rakyatnya & mau mendengar
Dan meilhat kondisi rakyat yang dipimpinnya secara langsung
Tidak hanya membaca angka statistik & percaya laporan bawahannya

Pahlawan terus dibutuhkan negeri ini disepanjang jaman
Untuk mewujudkan Pancasila sebagai filosofi bangsa
Sehinggga menjadi bangsa yang sejahtera, berharkat & bermartabat
Sehingga para pahlawan bangsa dapat tersenyum bahagia
Dalam peristirahatan yang abadi dalam damai & ketenangan.

Semoga Indonesia semakin bersih

 Tetap optimis Indonesia semakin baik

Dimulai dengan kemenangan Bp Jokowi
Yang mengandalkan koalisi dengan rakyat

Saat ini ditambah lagi dengan Bp Dahlan Iskan
Yang mau dan berani melaporkan pada KPK
Para pemeras yakni “oknum” DPR pada BUMN

Semoga gerak KPK tidak terus melambat

Karena terkooptasi oleh mafia para koruptor

Saatnya Indonesia bersih semakin jadi kenyataan
Sehingga para pahlawan kemerdekaan kita
Dapat beristirahat dalam kedamaian abadi
Karena perjuangannya para pahlawan tidak sia-sia
Dimana Indonesia tidak tergadai & tetap berdaulat

Gaya kepemimpinan JOKOWI – AHOK

Jokowi & Ahok di hari pertama menunjukkan diri sbg pemimpin
Datang pagi-pagi, rapat secara cepat dan terbatas
Turun ke bawah langsung ke lapangan lihat fakta
Langsung aksi perintah kepada Kadis-Kadis terkait
Untuk cari solusi dan langsung aksi nyata di lapangan

Coba kalau pemimpin negeri ini juga melakukan
Hal yang sama dengan Jokowi dan Dahlan Iskan
Pasti negeri ini akan cepat berubah menjadi lebih baik
Melayani, melayani dan melayani rakyat kecil
Kerja, kerja, untuk kebaikan rakyat yang lama menderita
Saatnya “Ora et labora”, satunya kata dan perbuatan
Bukan dengan konferensi pers dan pencitraan diri

Himbauan normatif bukan solusi

Kalau kita amati di media sekarang ini
Banyak pejabat publik yang suka menghimbau
Himbauan yang bersifat sangat normatif
Mulai dari Presiden, Kapolri sampai anggota DPR

Contoh, Ketua Komisi III DPR menghimbau
Polri dan KPK agar bersinergi memberantas korupsi

Stop himbauan normatif, kita butuh langkah nyata
Saatnya pemimpin didepan untuk memberi teladan
Satunya kata dan perbuatan yang ditunggu rakyat
“Saya akan memimpin di garda depan pemberantasan korupsi” kata Presiden

Benarkah DPR semakin kekanak-kanakan ?

Setelah tertangkap basah ada oknum DPR yang terlibat selingkuh
Setelah tertangkap basah ada oknum DPR yang nonton konten porno
Dan meski sudah ada daftar hadir dengan menggunakan mesin sidik jari
Namun tetap saja banyak oknum anggota DPR yang mangkir dari sidang

Setelah gagal membangun gedung baru karena diprotes rakyat
Namun tetap saja merenovasi ruang Banggar dengan dana hampir 20 milyar
Da terus membangun fasilitas yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan

Studi banding DPR yang terus dikritik namun tetap saja berlanjut
Meski rakyat terus mempertanyakan efektivitas dan kegunaan studi banding

DPR memberi tanda bintang untuk pembangunan gedung baru KPK
Sehingga rakyat bergerak saweran dan akhirnya tanda bintang dicabut
Dan banyak ulah kekanak kanakan DPR dlm berhadapan dg KPK
Seperti saat ini memanggil mantan para penyidik KPK untuk dimintai keterangan

Kalau DPR benar benar bersih , seharusnya tidak perlu takut dg KPK
Dan justru harus berupaya sinergi dalam bekerja sama memberantas korupsi
Tapi nyatanya banyak anggota DPR yang tersangkut kasus korupsi
Mulai dari anggota DPR periode lalu sampai anggota DPR aktip saat ini
Nasaruddin, Anggie, Wa Ode, dan yang siap siap berurusan dengan KPK
Quo vadis DPR ?
Dimana suara hati nurani rakyat yang katanya diperjuangkan ?

 

 

 

Desember 6, 2012 at 10:26 pm Tinggalkan komentar

Quo vadis DPR ????

Mari kita saksikan drama haru biru DPR kita
Dari batalnya rencana bangun gedung baru super mewah
Yang telah menelan dana milyaran rupiah untuk persiapannya
Renovasi toilet, parkir, parfum,  kalender, multivitamin dll
Yang selalu memakan biaya dengan nilai milyaran rupiah

Mari kita lihat berkelitnya orang pandai yang telah mati nurani
Pemborosan yang sudah sesuai prosedur dianggap tak salah
Menghamburkan milyaran rupiah yang tak menyentuh sama sekali
Upaya perbaikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat
Yang terus ditunggu dengan gelisah namun tak kunjung tiba

Pemborosan uang negara namun sesuai prosedur dianggap hal biasa
Hanya melanggar kepatutan atau halusnya kepantasan ????????
Kalau sudah tidak patut dan pantas dalam memakai uang rakyat
Masih patutkah mereka mewakili rakyat dan duduk di Senayan?

Quo vadis hati nurani ,kepekaan dan kepedulian anggota DPR
Masih patutkah anda menyebut diri Anggota Dewan yang TERHORMAT?

(Masih ingat ketika ORBA mau runtuh, selalu menyatakan ” Sudah sesuai prosedur dan tidak melanggar UUD 45)

Januari 19, 2012 at 1:38 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kategori

September 2017
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Tamu Adikarsa

  • 53,619 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tidak ada